
Suara alarm membangunkan wanita cantik yang masih bergelung dengan selimut putihnya, tangannya meraba kesamping, laki-laki yang sudah membuat badanya remuk itu sudah tidak ada ditempatnya.
"Zidann." panggilnya dengan mata menyipit, matanya masih terasa berat untuk terbuka. Dia kemudian mengangkat tubuhnya, dengan tangan menahan perutnya dengan mimik wajah meringis karena lapar. Dilihatnya jam sudah menunjukkan setengah delapan pagi.
Pandanganya menyapu seluruh ruangan kamar, kamar yang cukup luas dan besar. Setelah kemarin mereka berkeliling lantai bawah, dia tak jadi melihat yang ada dilantai atas, tiba-tiba saja sudah berada disini.
Marsha tersenyum geli saat mengingat kejadian semalam mereka mengarungi lautan cinta dengan begitu semangat. Tak lama suara pintu kamar terbuka, laki-laki tampan yang dicarinya datang membawa nampan berisi sarapan untuknya.
"Morning, my wife." Sapanya dengan senyum tulus penuh cinta.
"Kamu udah rapi, mau ke kantor?"
"Hem, aku sudah hampir satu bulan libur." Zidan meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur. Duduk di samping istrinya, mengecup keningnya lama. "Kamu kelihatan kecapean," Zidan mengusap pipi Marsha, mata keduanya saling tatap, sudah ada cinta dari pandangan itu.
"Maaf sudah buat kamu kecapean," ujarnya lagi, kemudian Zidan menunduk, menyingkirkan selimut yang menutupi perut Marsha, mengecup perut polos tak tertutup kain sehelai benangpun.
"Morning anak Dady, seneng kan sudah dijengukin Dady terus?"
Marsha mengusap rambut tebal Zidan yang sudah terkena gel rambut itu. "Bukan baby yang senang, tapi Dady-nya." Zidan terkekeh, "Zidan, kita belum kerumah Amam, pulang kita kesana ya?"
Zidan mengangguk. "Iya, nanti kita kesana," jawabnya, "mau sarapan dulu apa mandi dulu?"
"Mandi aja dulu, badan aku pada lengket banget, bau."
"Aku gendong."
"Nggak usah, nanti kamu nakal lagi."
Tak mengindahkan ucapan Marsha, Zidan langsung mengangkat tubuh Marsha yang sudah mulai berisi itu. Marsha terpekik terkejut.
Sampai didalam kamar mandi, Zidan langsung meletakkan Marsha didalam buth-up.
"Udah, kamu tunggu diluar aja, kamu udah rapi loh, Zidan."
"Bisa ganti lagi, baju pilihan kamu." Zidan mulai menyiram tubuh istrinya, dengan sangat telaten Zidan menyabuni tubuh Marsha.
"Kebalik, harusnya aku yang layani kamu."
"Apa salahnya? Aku melakukan semuanya karena aku sayang dan cinta sama kamu. Tugas istri bukan hanya melayani suami, tapi suami juga harus melayani istri."
Marsha mengecup bibir Zidan, dan menyemburkan busa sabuk ke wajah Zidan. Keduanya tertawa dengan Zidan yang jadi basah, seperti habis memandikan bayi.
"Kamu nggak telat?" tanya Marsha saat Zidan mengeringkan rambutnya.
"Perusahaan aku sendiri, siapa yang berani marah?" Zidan menatap istrinya melalui pantulan cermin. "Sayang, aku ingin membuka cabang baru untuk hotel ku di daerah Bandung dan Surabaya, mulai bulan depan mungkin aku akan sibuk."
"Hem, butuh bantuan?"
__ADS_1
Zidan menggeleng. "Ini tugas suami, ingat pesan ku, tugas kamu menghabiskan uang suami." Setelah istrinya rapih, dan dia sudah mengganti pakaian pilihan istrinya, Zidan mengambil sarapan untuk Marsha.
"No, Zidan. Kita sarapan dibawah sama kakek. Untuk apa kita tinggal bersama kalau sarapannya sendiri-sendiri." Tak pernah membantah, Zidan menurut apapun yang Marsha katakan.
* * *
Kedua pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu menuruni anak tangga bersama, dengan Marsha terus menggamit tangan suaminya, diatangan satunya membawa tas kerja Zidan.
Valent yang duduk di meja makan melihat itu menjadi mengharu, pemandangan ini yang ingin ia lihat. Sekelebat teringat dia akan Nasyat, Nasyat yang membesarkan Zidan, tapi dia yang menikmati pemandangan ini seorang diri, dalam hati dia berharap suatu saat Naima akan ikut berkumpul bersama.
"Selamat pagi, Kek." Sapa Marsha pada Valent.
"Selamat pagi, sayang. Kakek pikir kamu akan sarapan dikamar."
"Kakek mau sarapan sendiri? Tak akan enak jika sarapan sendiri kan, Kek?"
Valent tersenyum. "Kakek sudah biasa."
"Dan sekarang Kakek akan biasa melihat cucu menantu Kakek yang paling cantik ada di meja makan bersama Kakek, pagi, siang, malam. Siap-siap Kakek akan diabetes." Seperti biasa, Zidan sudah menyiapkan apa yang akan dimakan Marsha.
"Terima kasih sayang," ucapnya saat Zidan meletakkan piring dan segelas air putih dihadapanya.
"Sama-sama, makan yang banyak. Agar baby sehat." Kembali Zidan mengecup kening Marsha.
"Kamu sudah memeriksakan anak kamu, Zidan?" tanya Valent.
Marsha dan Zidan saling pandang. "Belum Kek. Nanti pulang dari kantor akan kami periksakan." Marsha yang menjawab, "sejak bertemu banyak hal yang dihadapi Zidan, jadi kami belum sempat."
"Aku mau laki-laki," jawab Marsha cepat.
"Apa saja sayang, yang penting sehat," ujar Zidan.
"Aku tidak mau munafik, Zidan. Tapi aku mau anak laki-laki yang menjadi anak pertama kita. Biar dia bisa menjaga aku dan adik-adiknya nanti."
"Iya-iya, aku berharap anak kita perempuan." Marsha mencebik atas jawaban Zidan.
"Tuh kan, kamu aja maunya cewek, susah pasti kita punya keinginan, walaupun lahir nanti perempuan atau laki-laki kita tetap menerimanya."
* * *
Marsha mengantarkan Zidan sampai didepan pintu, tangannya melambai saat Zidan menbunyikan klaksonya, Zidan memilih membawa kendaraannya sendiri, setelah mobil Zidan tak terlihat lagi, Marsha pun melangkah masuk kedalam rumah, mengajak Valent mengobrol, bertanya apapun tentang Valent.
Memiliki menantu yang cukup cerewet, terkesan ketus, dan apa adanya dalam ucapannya, Valent merasa hidupnya kembali berwarna, kehadiran Marsha membuat dia merasakan hidup yang bahagia sesungguhnya, apalagi Marsha merupakan wanita yang supel dan mudah berbaur, ditambah Marsha yang pernah terjun dunia bisnis, menjadikan obrolan mereka cukup nyambung.
Pukul lima sore, Zidan sudah kembali menjemput Marsha, mereka sudah janjian bersama Mawar dan Indah dirumah sakit untuk menemani Marsha memeriksakan kehamilannya.
Wajah tegang, Mawar, Indah, Marsha dan Zidan yang melihat layar lima dimensi yang sudah memperlihatkan wajah anak Marsha dan Zidan.
__ADS_1
Indah dan Mawar saling berpegangan, Zidan sendiri tak henti menggenggam tangan istrinya dengan air mata yang terus membanjiri pipinya. Dia menatap haru wajah anaknya, apalagi saat dokter memperdengarkan suara detak jantung anaknya, membuat Zidan semakin haru penuh bahagia.
"Ini usia kandungannya sudah memasuki usia 20 minggu ya. Beratnya pas, detak jantungnya juga bagus."
"Dok, jari-jarinya lengkap kan?" potong Marsha penjelasan dokter.
Dokter perempuan itu tersenyum. "Alhamdulillah lengkap, semua lengkap."
"Jenis kelaminya Dok?" tanya Indah tak sabar sejak tadi ingin tahu.
"Sebentar, kita lihat jelas-jelas, biar tidak ada kekeliruan," sang dokter menggeser-geserkan tongkat tranducer miliknya diatas perut Marsha. "Bayinya nutupi loh ini, malu dia." antusias dokter itu. "Wah, ada dua kantung dibawah, ada monasnya juga," ujar sang dokter akhirnya.
"Berarti anak saya laki-laki, Dok?" Marsha memastikan, walau pemeriksaan yang mereka lakukan lima dimensi, dan dia sudah melihat jelas alat kelamìn anaknya yang ditunjuk dokter, dia tetap harus mendapat jawaban pasti dari dokter tersebut.
"Iya." Dokter itu mengangguk.
Senyum terus terpatri diwajah Zidan, raut bahagia sangat jelas terlihat. Walau keinginannya memiliki anak perempuan belum terkabulkan, dia tetap bahagia, apalagi ini merupakan anak pertama mereka. Sebenarnya Zidan tidak masalah, justru dia senang karena melihat Marsha yang terlihat begitu bahagia karena keinginannya terkabul, apalagi Marsha yang terus menyandar manja dibahunya.
Kini mereka dalam perjalanan menemui Rasya dan Abdi yang telah menunggu mereka di resto. Memakirkan mobilnya di slot yang kosong, Zidan mematikan mesin mobilnya diparkiran, mobil yang membawa Indah dan Mawar belum sampai.
Terlihat, didepan pintu masuk, Rasya dan Abdi sudah menunggu kedatangan mereka. Zidan turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Marsha, lalu membantu istrinya turun dari mobil.
"Apap." Marsha menyalami dan memeluk Rasya, kemudian berpindah pada Abdi.
"Mobil Amam belum sampai sayang?" tanya Rasya pada sang putri.
"Tadi terpisah saat lampu merah, Pap."
Saat Zidan akan menyalami tangan mertuanya, Rasya menarik tanganya dan memeluk pundak Marsha untuk masuk.
"Dia memang seperti itu, nanti juga baik sendiri. Yang terpenting sekarang, kamu dan Marsha sudah bersatu kan?" Abdi yang melihat itu menenangkan Zidan.
"Iya, aku tahu ayah." Mereka masih berdiri didepan pintu masuk, menunggu kedatangan Indah dan Mawar. Tak lama mobil yang membawa Indah dan dan Mawar pun tiba.
Sepanjang makan malam yang mereka adakan, Rasya terus mengacuhkan Zidan, apapun yang dikatakan Zidan, tak ditanggapi sama sekali oleh Rasya.
Apalagi saat membahas bayi mereka, Rasya tampak acuh tak ikut bergabung. Hingga saat mereka akan pulang pun, Rasya menunjukkan wajah masam pada Rasya.
"Jadi kalian tinggal dirumah kakek Valent?" tanya Abdi.
"Iya, Ayah. Kakek memberikan hadiah pernikahan rumah itu untuk kami, tapi Marsha yang minta Kakek untuk tinggal bersama." Jawab Zidan.
"Sebagai suami yang bertanggung jawab, seharusnya tidak menerima harta warisan. Walau kecil tapi hasil sendiri akan lebih nikmat." timpal Rasya tak mengenakkan.
"Pap, itukan rejeki, masa ditolak," sahut Marsha "harusnya juga Zidan menerima warisan perusahaan kakek Valent, tapi Zidan menolak, karena dia mau kembangin bisnisnya sendiri. Lagian Apap juga mewarisi perusahaan apo. Masih hebat Zidan punya perusahaan yang dirintis sendiri." uajr Marsha memajukan bibirnya, Zidan menggenggam tangannya agar Marsha tak marah pada Rasya.
"Eh, Apap juga punya bisnis sendiri dulu. Apap kan baik hati, makanya menyumbangkan cafe Apa pada yang membutuhkan."
__ADS_1
"Kàmpret nih emang cecunguk satu, udahlah ya, orang kalo lagi nggak suka, mau dia benar sekalipun, dan nyaris sempurna. Mau benar sekalipun, kalo nggak suka ya tetap salah dimatanya," ujar Abdi, "biarin saja Zidan, yang penting sekarang kalian bahagia."
"Tau nih, Apap." ujar Marsha merajuk, dia kesal Rasya terus memojokkan Zidan.