
Dada Zidan berdebar hebat saat mobil yang membawa mereka sudah akan sampai dikediaman Rasya. Bahkan Zidan merasakan ingin buang air besar, perutnya merasakan mulas, tapi saat dia beberapa kali berhenti dipengisian bahan bakar, tak keluar sedikitpun.
"Kau melebihi wanita hamil tua, sudah lima kita berhenti." pukul Puma lengan Zidan.
"Aku deg-degan, setelah berhasil meluluhkan hati anaknya, aku takut tidak berhasil meluluhkan hati orang tuanya."
Puma dan Mahesa tertawa. "Jadi mau mundur? Lima bodyguard berhasil kamu kalahkan, tapi satu orang seperti om Rasya kamu takut." ejek Puma.
"Restu orang tua itu penting buatku, agar rumah tangga kami langgeng selamanya, aku tidak ingin menjadi batu."
Kembali Mahesa dan Puma tertawa. "Itu deritamu, sepertinya aku harus merobek surat perjanjian kita, kalau kamu gagal mendapat restu dari om Rasya." ujar Mahesa mengingatkan perjanjian mereka saat diperjalanan menuju peternakan.
"Selama aku masih hidup, jangan harap bisa merebut Marsha dari ku. Kalian lupa siapa yang berhasil membuat dua makan? Hanya aku, hanya masakan ku yang bia ia makan, itu karena keinginan ku."
Puma dan Mahesa mengangkat kedua tangan menyerah, untuk hal ini memang tidak bisa dibohongi, Zidanlah pawang yang bisa menjinakkan singa betina seperti Marsha. ketiganya masuk kedalam mobil masing-masing saat sudah cukup beristirahatnya.
"Kamu tidak mau buang air kecil sayang?" tanya Zidan pada saat masuk kedalam mobil.
Marsha menggeleng. "Mungkin sudah diwakilkan kamu dari tadi,"
Zidan tertawa. "Aku grogi sayang, takut orang tua mu tidak menerima ku," ucap Zidan, "kamu pengen sesuatu? Aku belikan? atau anak kita menginginkan apa?" Zidan menundukkan kepalanya, mengecup perut Marsha.
Marsha mengusap kepala Zidan. "Nanti dirumah pengen mi instan, anak kita maunya itu."
Zidan mengangkat kepalanya menatap Marsha. "Oke baiklah, hari ini belum makan itu. Jalan Pak." perintahnya pada supir yang membawa mereka, Zidan menarik tirai pembatas antara penumpang dan supir, dia langsung menyambar bibir Marsha.
"Aku tidak sabar mau menjenguk anak kita." Marsha mengulum bibirnya, malu atas ucapan Zidan, karena dia belum terbiasa.
* * *
Mobil yang ditumpangi Marsha dan Zidan sampai didepan rumah orang tua Rasya. Ternyata kedatangan mereka telah sangat dinanti oleh keluarga besar Marsha. Sedang Puma dan Mahesa telah tiba lebih dulu.
"Sayaaang." Mawar langsung menghampiri putrinya saat Marsha baru menginjakkan satu kakinya ke tanah, diikuti Indah.
Zidan menepikan tubuhnya memberi akses untuk para wanita itu melepas rindu. Pemandangan yang begitu indah dipandang Zidan, dimana seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya, berbeda dengannya.
Marsha memeluk Mawar, dan Indah bergantian, tangis ketiganya pecah.
"Maaf, Marsha sudah membuat Amam dan Bunda khawatir." Mawar terus memeriksa tubuh anaknya dari atas hingga bawah, lalu mengusap-usap wajah Marsha.
"Kamu sehat kan? Sudah jangan bahas itu dulu kita masuk, kamu pasti kecapean perjalanan jauh."
Marsha menarik tangan Zidan, membawanya masuk, tapi Rasya langsung berjalan mendekat, melepaskan pegangan tangan Marsha.
__ADS_1
"Apa Apap dilupakan sayang?" Rasya merentangkan tanganya meminta Marsha memeluknya. Marshapun memeluk tubuh laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Maaf." kata itu yang Marsha ucapkan.
"Jangan ucapkan itu lagi, seribu kali kesalahan yang kamu perbuat, orang tua pasti akan selalu memaafkan anaknya. Berbeda jika orang lain yang berbuat salah, satu kali kesalahan yang ia lakukan, tak akan termaafkan sedikitpun." Dalam pelukanya Rasya menatap sinis pada Zidan.
Zidan menyadari itu, nyalinya jadi menciut, benar dugaanya jika Rasya tak merestuinya. Tapi disini walau dia seorang diri dia akan tetap berjuang.
Dari awal Mawar yang tahu jika Rasya tak merestui Zidan pun, menghampiri Zidan, tak bisa dipungkiri jika Zidan lah yang bisa menemukan keberadaan anaknya, dan membawa Marsha pulang.
"Kamj sehat Nak? terima kasih sudah membawa Marsha kembali berkumpul bersama kami." Zidan menyalami tangan Mawar, mencium punggung tangan wanita itu penuh takzim.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya atas kesalahan yang telah saya perbuat tante." Mawar mengusap kepala Zidan, membuat Zidan merinding, seingatnya selama hidup Zidan tak pernah diperlakukan demikian oleh ibunya.
"Kamu anak yang baik, tante percaya itu. Sudah ayo kita masuk." Dari belakang Abdi menepuk pundak Zidan, sambil merangkul pundak Zidan mereka masuk bersama.
"Terima kasih, Zidan. Aku yakin kamu tidak sama dengan Kakek dan mama mu." Zidan tersenyum bahagia, disaat seperti ini dia harus diingatkan oleh kakek dan mamanya yang telah membuatnya kecewa.
Didalam, diruang keluarga, Mahardika sudah menunggu kedatangan Zidan.
Saat semua sudah berkumpul, tak ingin mengulur waktu, Mahardika langsung mengajak membahas hubungan Zidan dan Marsha.
Mahardika mengamati wajah Zidan yang masih nampak bekas memar disisi wajahnya. Mahardika tersenyum, saat mengingat video cctv yang dikirimkan Puma, Zidan mampu mengalahkan para pengawal yang ia perintahkan, bukan sembarang pengawal, tapi kelima pengawal itu yang terbaik dari swfi ilmu bela diri.
Kemudian pandanganya beralih ke wajah Marsha yang sudah nampak segar dan lebih berisi, berbeda dari foto yang terakhir Puma kirim sebelum kedatangan Zidan.
"Kenapa Papa menanyakan itu padanya? Sudah sepantasnya dia melakukan itu, dia yang membuat anak ku pergi, dan dia juga yang harus membawanya pulang." Rasya langsung memotong Zidan yang ingin menjawab pertanyaan Mahardika. "Dari awal aku sudah membuat keputusan, tidak ada rencana apapun, tak ada pernikahan atau semacamnya, aku tidak masalah cucu ku lahir tanpa seorang ayah."
Mawar sudah sangat kesal sekali atas ucapan suaminya, namun dia menahan itu, tak mungkin dia memperdebatkan usulan suaminya didepan orang lain. Perselisihan dia dan suaminya, cukup orang-orang yang sudah sangat memahami mereka.
"Bisa kita tanyakan dulu itu pada Zidan, agar kita yakin atas apa yang dia lakukan." ucap Mahardika memandang Zidan.
Zidan menegakkan tubuhnya sebelum berkata. "Sebelumnya, saya minta maaf atas kekacauan yang saya perbuat, dan saya mengakui, saya pecundang tidak bisa melawan apa yang diperintahkan oleh kakek dan mama saya. Tapi setelah kejadian ini, saya menyadari, jika saya kehilangan Marsha, dan tidak bisa hidup tanpanya."
"Omong kosong, nyatanya kamu masih bisa hidup selama tiga bulan tanpanya." dengus Rasya tak suka.
"Karena saya harus memperjuangkan wanita yang saya cintai, jadi saya harus terus hidup demi Marsha dan anak kami." Rasya semakin bertambah kesal. Mahardika dan yang lain mengangguk setuju, dan senang atas jawaban Zidan.
"Kita tanyakan saja pada yang akan menjalani, bagaimana Marsha, apa kamu juga merasakan hal yang sama dengan Zidan."
Zidan kini memandang Marsha, tatapan keduanya beradu, Zidan menunggu jawaban Marsha dengan dada bertalu, sangat takut jika Marsha akan berubah pikiran, terkadang dia tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran wanita itu.
Marsha mengangguk malu-malu. Dan itu membuat Zidan tersenyum senang dan bernafas lega.
__ADS_1
"Kamu yakin, Marsha?" Abdi menyakinkan.
"Iya, ayah." Jawab Marsha yakin dan tanpa keraguan. Semakin membuat Zidan bahagia. Zidan mengucapkan terima kasih pada Marsha tanpa bersuara.
"Jika Marsha sudah yakin pada pilihannya, kita bisa berbuat apa? Kebahagiaannya yang utama, ya walau kita bisa mengurus anak Marsha tanpa kekurangan materi, tapi kita tidak bisa menggantikan sosok ayah yang sesungguhnya." Ujar Mahardika
Rasya mendengus tetap tak setuju. "Tapi Apap tak setuju, Marsha. Tak akan ada restu dan izin dariku, walau yang lain menyetujui ini, aku tidak akan memberikan perwalian ku." Tak ingin mendapat protes dari yang lain, Rasya berdiri. Dia masuk ke kamarnya dengan perasaan marah.
Semua yang disana membiarkan Rasya pergi tanpa ada yang mencegahnya, membuat Rasya semakin dongkol, dia ayahnya, dia yang memiliki hak penuh atas restu Marsha, tapi pendapatnya seperti tak dianggap.
"Amam dan Bunda tanya sayang, apa kamu benar-benar mencintai Zidan dan sudah memaafkannya?" Mawar bertanya pada Marsha.
"Iya, Mam. Aku dan anakku hanya bisa makan masakan yang dibuat Zidan." Aku Marsha pada Mawar.
"Kakek bisa memberikan perwalian mu, Marsha. Jangan khawatir, Apap pasti akan menerima ini." Mahardika kembali berujar.
"Dan kamu Zidan, kami sudah merestui mu, jangan sedikitpun kamu menyakitinya. Ingat, sedikitpun kamu membuatnya terluka, kamu tahu kamu berhadapan dengan siapa?" Lanjut Mahardika.
"Iya, Kek. Saya akan menjaga Marsha sepenuh hati, dan tidak akan menyakitinya sedikitpun."
"Pulanglah, izinlah terlebih dahulu pada ibu dan kakek mu. datanglah besok jika kamu serius ingin mempersunting Marsha, dan aku juga ingin bertemu Xavier."
Zidan tersenyum. "Terima kasih Kek."
Zidan pun berpamitan, dan Marsha ingin mengantarkan Zidan ke depan.
"Tidak perlu sayang, nanti kamu kelelahan, pergi bersitirahatlah." Cium Zidan kening calon istrinya.
Marsha memajukan bibirnya sebal. "Aku ingin mengantar mu."
"Ayo." Gandeng Zidan tangan Marsha dengan lembut dan kehati-hatian. Jika saja tidak ada orang tua Marsha, Zidan pasti sudah menggendong Marsha.
"Kamu hati-hati ya Zidan." ucap Marsha setelah sampai depan.
Zidan melihat sekeliling, dirasa aman, dia menarik pinggang Marsha, melvmat bibir Marsha yang selalu menggodanya itu. Marsha mengunci tangannya dileher Zidan, membalas pagvtan bibir Zidan yang sangat panas. Hingga keduanya mengakhiri saat dirasa cukup.
"Sehari setelah acara lamaran, kita menikah ya?" pinta Zidan pada Marsha, mengusap bibir Marsha yang memerah karena ulahnya.
Marsha nampak berpikir. "Apa tidak terlalu cepat? Kamu tidak sabaran Zidan, bagaimana nanti aku dikira hamil duluan?"
Zidan pun terkekeh atas ucapan Marsha. "Kita melakukannya bukan karena sengaja, tapi karena takdir. Jadi jangan pikirkan apa yang akan orang bicarakan tentang kita. Mereka tidak akan tahu yang sesungguhnya."
Marsha mengecup bibir Zidan sekilas lalu mengangguk. "Katakan kamu mencintai ku Zidan."
__ADS_1
"Aku mencintai mu Marsha, aku sangat-sangat-sangat mencintai mu, i love you, terima kasih sudah menerima ku dan memberi ku kesempatan, aku akan berusaha mendapatkan restu dari apap Rasya."
Marsha mengangguk, masih berpelukan. Hingga kemudian Zidan mencium kening Marsha, untuknya benar-benar pulang menemui Xavier, keluarga waras yang ia miliki saat ini. Lambaian tangan Marsha berikan saat mobil yang mengantar Zidan berlalu meninggalkan halaman rumahnya.