
Meski benci dan marah tapi Marsha tetap mengobati luka diwajah suaminya akibat pukulan dari Mahesa. Dia sebenarnya tahu saat Mahesa memukul suaminya, tapi Marsha tak mencegah itu, sebab ia tahu, Mahesa tidak akan melebihi batas.
Zidan memperhatikan wajah cantik wanita yang ia dapatkan dengan penuh perjuangan itu, Marsha hanya diam, tanpa ingin menatap wajahnya.
Sungguh Zidan sudah lelah dengan segala masalah yang menimpanya, Zidan ingin kembali mesra dengan Marsha, hidup tenang, setelah berhasil mendapatkan Marsha ia pikir hidupnya sudah aman, tapi keadaan memaksa Zidan untuk seperti ini, dia ingin istrinya aman, tanpa tahu permasalahan yang ia hadapi, tapi tanpa sengaja dia telah membuat masalah bersama istrinya, dan membuat istrinya terluka lebih parah dan sering membuatnya menangis.
Seorang sekretaris yang sudah bertahun-tahun dan lama bekerja dengannya telah berkhianat, tak ia sangka jika Susan bisa senekat itu, dendam lama terhadap Marsha dan kini dia mendapat dukungan dari orang yang cukup kuat. Orang-orang yang ternyata masih ada hubungannya dengan keluarga Mahesa.
Hanya terdengar helaan nafas dari keduanya di dalam kamar yang luas itu.
"Auu, sayang. Pelan-pelan, sakit." Zidan meringis, Marsha menekan kuat luka dipipinya. Marsha hanya menatapnya dalam diam.
Zidan berdehem, jika Marsha sudah diam seperti ini, berarti Marsha sudah sangat marah padanya.
"Ehem, sayang. Berapa lama kita akan menginap disini?" Marsha tak menyahut, dia mengoleskan obat merah di tempat-tempat yang lebam.
"Kamu dulu sering nginep disini ya? Disini banyak barang-barang kamu." Masih tak ada sahutan dari Marsha, istrinya itu kemudian berdiri, dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun. Zidan hanya menghela nafas.
"Aku harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, aku tidak tahan jika harus seperti ini terus." Zidan memindai pandanganya keseluruh ruangan, dia melihat banyaknya foto-foto Marsha semasa kecil hingga dewasa.
Zidan tersenyum, dia bangkit untuk melihat lebih dekat. Satu persatu Zidan lihat, sedari kecil Marsha sudah sangat cantik, wajar jika banyak yang iri dan tak suka padanya karena Marsha menjadi primadona disekolah dengan sikap angkuh dan juteknya, rasanya akan sulit menemukan wanita seperti Marsha di dunia ini.
Pandangan Zidan jatuh pada laci lemari, Zidan menarik laci itu ingin melihat isi dalamnya, dan disana terdapat album foto. Zidan dibuat penasaran dan ingin melihat isinya. Zidan membuka satu persatu isi album tersebut, ada foto Indah dan Abdi saat masih muda dulu, pasangan yang serasi, cantik dan tampan, pantas saja Abdi dulu lebih memilih Indah dari pada mamanya, dan sifat mama dan kakeknya juga yang membuat Abdi memilih Indah.
Kini berpindah pada foto seorang anak wanita kecil sedang menyusui bayi, Zidan mengerutkan keningnya, ini seperti Marsha, tapi jika ini Marsha, siapa bayi yang sedang ia susùi? Apa ini Mahesa?
Rahang Zidan mengeras, dia tak suak melihat foto ini? Meski ini kejadian ketika mereka masih kecil dan tak tahu apa-apa, tapi dia tak terima melihat itu. Zidan kembali membalik album itu hingga akhir, semua berisi kedekatan antara istrinya dan Mahesa, dan itu semakin membuat dadanya terasa sesak, jika tidak dilihat membuat penasaran, tapi setelah melihatnya, malah membuatnya sakit.
* * *
Ditempat lain, Mahesa pergi ke sebuah klub malam, dia duduk di kursi depan barista.
"Lama nggak kelihatan, aku pikir lo udah insaf," ucap si barista yang mengenal Mahesa.
"Kemarin lagi banyak kerjaan," jawabnya.
"Mau minum apa?"
"Gue nggak pesan minum, cuma mau numpang duduk." Barista itu menggeleng. "Lagi cari seseorang?"
"Cewek yang dulu pernah ketemu sama gue, apa dia masih suka datang kesini?"
"Cewek yang mana?"
"Ck, emang gue pernah ketemuan sama banyak cewek?" Barista itu tersenyum.
"Itu bukan?" tunjuknya dengan arah mata. Dan Mahesa mengikuti arah pandang barista itu, Misya sedang duduk seorang diri di sofa.
Mahesa berdiri, dan menghampiri Misya, setelah meletakkan beberapa lembar uang berwarna biru di atas meja barista.
"Ish, nih orang ninggalin uang sembarangan," Dania yang Mahesa ajak ingin mengambil uang yang Mahesa tinggalkan itu.
"Eh, ini duit gue. Lo nyolong ya?" Barista menahan uang yang ingin diambil Dania.
Dania menggeleng cepat. "Enggak, jangan asal nuduh, ini duit bos saya."
"Maksud lo Mahesa?"
"Aku lupa namanya, tapi dia sekarang jadi bos saya." Dania salah menjawab.
Barista itu tertawa mendengus. "Aneh, bos tapi nggak tahu namanya, dasar maling ingusan, latihan lagi kalau mau jadi maling. Belajar dari Saef gimana jadi copet, ikut mata kuliah ABC dari dia."
"Ini orang ngeselin ya, saya bener anak buah bos saya. Dia nggak minum apa-apa, tapi ninggalin duit disini." kekeh Dania dan menarik uang itu, namun ditahan oleh si barista. "Lepas nggak?" Dania memelototkan mata.
"Ini duit gue, kalo lo ambil uang ini, gue teriakin maling nih."
"Teriak aja, saya tidak takut."
Barista itu mendengus, melihat kearah Mahesa, Mahesa sudah anteng duduk sambil merangkap pundak wanita yang dicarinya tadi, jika berteriak pun Mahesa tak akan mendengar. Lalu dia menatap Dania dengan penampilannya yang hanya mengenakan topi hitam, kaos oblong dibalut jaket denim berwarna senada dengan topi yang dikenakanya. Terlalu sopan untuk wanita yang biasa masuk ke dalam klubnya.
__ADS_1
"Lo tanya sama bos lo deh, apa nanti jawaban dia? Baru nanti lo kesini lagi." Dania mengerucutkan bibirnya dan mengendurkan tanganya dari uang itu. Tapi saat si barista lengah, Dania mengambil uang itu dan berlari kearah Mahesa.
"Heh!" Si barista meneriaki Dania. Tapi setelah melihat arah lari Dania, hanya tersenyum kecil.
"Bos, ini uang bos yang ketinggalan di meja sana tadi." Dania dengan nafas tersengalnya, dan memberikan uang itu pada Mahesa. Mahesa mendongak, kemudian menatap wajah Dania dengan kesal.
Mahesa berdiri. "Ck, uang apa sih? Ganggu aja, pergi sana?" usirnya dengan suara tertahan.
"Ini uang bos tadi, bos tinggalin disana."
Dania menunjuk meja barista, Mahesa menoleh kebelakang sebentar, takut Misya mendengar obrolan mereka, Misya tersenyum.
Kemudia Mahesa mengajak Dania menjauh, melihat arah meja barista, dan barista yang melihat itu mengendikkan bahu seraya tersenyum. Mahesa menggaruk rambutnya yang tak gatal, kemudian menatap Dania, menggeram kesal.
"Itu uang dia, aku memang ngasih untuk dia, balikin!" perintahnya, "dan lihat aku dari jauh sesuai yang aku perintahkan tadi." ucapnya lagi.
"Jadi ini uang bos yang bos kasih ke dia?"
"Au ah gelap." Mahesa kemudian meninggalkan Dania dan kembali lagi menghampiri Misya.
"Ada apa?" tanya Misya lembut.
"Nggak ada apa-apa, cuma terjadi keslaah pahaman aja, aku lupa mengambil kembalian uang, tapi aku kasih saja untuk mereka." jawab Mahesa, "Maaf, sejak malam itu, aku tidak menghubungi kamu lagi, aku sedang banyak urusan."
"No problem. Tapi aku seneng kita bisa ketemu lagi disini, dan kamu niat banget cari aku."
Mahesa melipat bibirnya. "Emm, Misya. Aku- ehem aku sebenarnya ... sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, maukah kamu mengenalkan aku dengan orangtua kamu?" Mahesa terlihat gugup.
Misya yang sedang menyandar di sofa menegakkan duduknya. Menatap tak percaya Mahesa mengatakan itu.
"Maaf, ini terkesan terlalu cepat, tapi ... aku takut kehilangan kamu lagi."
"Mahesa!" Misya benar-benar terkejut. Lalu dia memeluk Mahesa. Mahesa membiarkan Misya memeluknya.
"Kehidupan orang kota, baru kenal langsung peluk-peluk aja." Dania bergumam dari kejauhan.
"Jadi kamu mau mengenalkan aku dengan keluarga kamu, Misya?" Misya mengangguk, dia memajukan wajahnya, ingin mendekatkan bibirnya dengan bibir Mahesa, tapi Mahesa menahanya dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Misya.
"Aku sebenarnya juga sudah tidak tahan ingin melakukan ini, sayang, tapi tunggulah sebulan lagi. Setelah aku bertemu keluarga mu, aku ingin kita segera menentukan tanggal pernikahan kita."
Misya semakin melebarkan senyumnya, baru kali ini dia diperlakukan istimewa oleh laki-laki, dan dia yang merencanakan untuk menjerat Mahesa, nyatanya Mahesa datang sendiri padanya.
* * *
Dania menatap kesal pada Mahesa, bisa-bisanya Mahesa mengantar Misya pulang, sedang dia sendiri harus naik taksi ke apartemen Mahesa.
"Bikinin gue mi instan donk." Mahesa yang baru sampai langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
Dania yang berada di dapur sehabis minum air putih berlalu masuk ke kamarnya tanpa mengindahkan perintah Mahesa.
Mahesa bangun dan melihat Dania masuk ke kamar.
"Lo nggak denger ya apa perintah gue?" teriaknya.
"Aku ngantuk, Pak. Ini bukan jam kerja lagi." sahut Dania berteriak dari dalam kamar. Mahesa mengayunkan kakinya mengejar Dania.
"Siapa yang suruh lo tidur dikamar? Lo harus ikutin apa yang gue perintahkan, kalo nggak gue akan lapor polisi karena kelalaian-"
"Iya." sahut Dania cepat memotong ucapan Mahesa, Mahesa tersenyum penuh kemenangan.
Dania mulai menyalakan kompor, dan meletakkan panci kecil dengan kasar, sampai menimbulkan suara berisik.
"Kalo perabotan gue rusak, lo harus ganti." ujar Mahesa menoleh kearah Dania, dia tahu Dania kesal. "Gaji lo sebulan di cafe, nggak akan bisa gantiin perabotan gue yang rusak."
"Cih, dia pikir aku nggak tahu apa harga panci begini? Diabang-abang rongsok juga bisa dituker kardus atau plastik." Dania menggerutu.
Ponsel Mahesa bergetar.
"Iya, Bun."
__ADS_1
"Mahesa, kamu dimana?"
"Mahesa lupa bilang sama Bunda, Mahesa beli apartemen di dekat cafe Bun. Tadi Mahesa menghitung pendapatan bulanan kita, karena sudah malam, jadi Mahesa pulang kesini."
"Apartemen? Kapan kamu beli apartemen?"
Mahesa terdiam, apartemen ini ia sewa untuk Dania agar dia bisa menyuruh-nyuruh Dania sesuka hatinya, sebab kontrakan Dania jauh dari cafenya.
"Ehem, baru sih Bun. Makanya Mahesa belum bilang."
"Sharelock alamatnya sama Bunda, besok Bunda akan kesana."
"Jangan Bun!" Mahesa memejam, ini akan membuat Indah curiga.
"Loh, kenapa jangan? Kamu ngumpetin perempuan ya disana?"
"Ya-ya enggak lah Bun. Masa Mahesa ngumpetin cewek, cuma apartemenya masih berantakan."
"Justru itu Bunda kesana, biar Bunda bantu beres-beres."
"Ja-jangan Bun. Nanti aja kalau sudah rapi, Bunda baru kesini, banyak debu Bun. Nanti Bunda sakit."
"Semakin kamu melarang Bunda, Bunda makin curiga sama kamu."
Mahesa menggaruk kepalanya, dia menoleh kebelakang, Dania sudah tak ada, lalu dia dikejutkan dengan suara mangkok beradu sendok yang dibanting.
Dania sudah ingin membuka mulut tapi Mahesa kemudahan membekap mulut Dania dengan telapak tangannya.
"Suara apa itu Mahesa?"
"I-ini, Bun. Mahesa abis masak mi rebus. Udah dulu ya Bun. Mahesa mau makan dulu." Mahesa menutup panggilannya.
"Lo bisa nggak sih narok mangkoknya pelan-pelan?" marahnya.
"Bapak cepat makan, saya mau tidur. Besok saya ada jam kuliah pagi."
"Kok lo jadi ngatur gue?"
"Kata Bapak saya nggak boleh tidur dikamar, jadi saya tidur di sofa. Kalau nggak Bapak makan dikamar aja, saya mau tidur, saya udah ngantuk."
"Kamu duduk di situ, tungguin sampai aku selesai." tunjuknya pada sofa single.
Dania menghela nafas, tak ingin berdebat lagi karena dia sudah sangat lelah. Dania pun menghempaskan tubuhnya di sofa, melihat Mahesa memakan mi instannya dengan lahap.
Setelah mi instanya habis, Mahesa menatap Dania, wanita itu yang sudah terpejam.
"Heh." Mahesa membangunkan dengan menendang bagian bawah sofa. Dania masih belum bangun, sebenarnya dia kasihan, tapi melihat wajah kesal Dania, Mahesa suka.
"Heh, bangun." ditendangnya lagi sofa sampai tiga kali. Dania baru membuka matanya.
"Ada apa lagu sih, Pak?"
"Gue udah selesai, lo taroin mangkoknya."
"Ck, cuma narok mangkok doank nggak bisa apa Pak? sampai harus bangunin saya." meski menggerutu, tak ayal Dania menurut, dengan wajah kesalnya. Mahesa tersenyum penuh kemenangan.
"Kalo gue narok sendiri, apa gunanya lo disini?" Mahesa menyandar di sofa, dengan tangan dilipat dibawah kepala.
* * *
"Mas tahu Mahesa beli apartemen?" tanya Indah setelah telepon dari Mahesa terputus. Indah dan Abdi yang sudah tertidur, mereka terjaga saat menyadari Mahesa belum pulang, setelah berdebat dengan Zidan.
"Beli apartemen? Aku nggak tahu."
"Sepertinya ada yang Mahesa sembunyiin dari kita, mas."
Abdi teringat ucapan Zidan tadi sore.
"Biarin aja es teri sayang. Mahesa masih muda, aku yakin Mahesa bisa jaga diri. Yuk kita tidur lagi, kamu jangan mikir yang macam-macam." Abdi mencium kening istrinya, dan memeluk Indah, agar Indah tak memikirkan Mahesa lagi.
__ADS_1