Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bab 35. Cucu Old Money


__ADS_3

Marsha benar-benar meminta Zidan membawanya ke hotel miliknya, bahkan Zidan memperlihatkan kamar miliknya, sebuah kamar yang berada dilantai paling atas, dimana satu lantai itu dikhususkan untuk ruangan pribadi Zidan, dari ruang gym, kantor, studio mini bioskop, bahkan kamar pribadi Zidan memilkki view langsung ke kolam renang.


"Aku nggak nyangka ternyata kamu salah satu anak muda old money di negeri ini Zidan," Marsha yang tadi berdiri menghadap kolam membalikkan badan menatap Zidan yang datang membawakan minuman lemontea hangat untuknya. Marsha menerima lemontea itu, "pernah denger nggak? Kalau kita menerima minuman dari pasangan kita, dia harus terlebih dahulu mencobanya." Marsha meminta Zidan meminta mencoba terlebih dahulu minuman miliknya.


Zidan tertawa mendengar permintaan Marsha "Jadi kamu takut aku campurin sesuatu diminuman kamu gitu?" Zidan menyesap minum milik kekasihnya.


"I don'n know," Marsha mengendikkan bahunya "cuma kamu dan sang pencipta yang tahu." Marsha menerima kembali minum miliknya.


"Tunggu lima menit baru diminum, obat bukan cabe rawit yang dimakan langsung terasa pedas," Zidan memberitahu "aku suka kamu yang berhati-hati seperti ini, lakukan saat kamu bersama siapapun itu, dunia bisnis memang keras, kamu sudah mengalaminya waktu kita ke Batam.


"Aku nggak bisa bayangin andai malam itu bukan kamu," Marsha menatap Zidan sendu.


"Memang kenapa kalo bukan aku?" Zidan meletakkan minumannya dan mengambil lemontea ditangan Marsha, menaruhnya di atas buffet, Zidan menarik Marsha dalam pelukanya, mengusap rambutnya lembut.


"Kalo bukan kamu, aku nggak tahu orang itu akan tanggung jawab atau nggak."


"Apa yang bikin kamu percaya kalau aku bakal tanggung jawab?"


Marsha menggeleng dalam pelukan Zidan. "Jawabanya ya sekarang, kamu kasih bukti buat aku."


"So, apa yang kamu katakan, aku sudah memenuhi semua keinginan kamu."


Marsha menjarakkan tubuhnya, lalu mendongak. "Apap sudah tahu hubungan kita, aku sudah memberi tahu Apap dan Ayah."


"Apa?" Zidan terlihat begitu terkejut "kenapa tidak tunggu aku yang memberitahukan sendiri." Zidan menarik hidung Marsha membuat Marsha mengadu, dan Zidan langsung menciumnya sebagai obat, modusnya.


"Nggak Papa, aku tahu kamu pasti takut buat bilang sama Apap, jadi biar aku yang kasih tau dulu, Apap pasti curiga pas datang ruang kaca aku di gelapin, orang bodoh juga pasti bakalan curiga, laki-laki sama perempuan dalam ruangan tertutup dan hanya berdua pasti bakal ngelakuin itu."


"Itu apa?" tanya Zidan masih merengkuh pinggang Marsha "emangnya kita ngapain? Kita cuma ciuman biasa, nggak lebih, lagian tangan aku juga nggak ngapa-ngapain, padahal pengen banget tangan aku dikasih kerjaan."


"Zidan kamu tuh ya!"


"Apa Marsha Xavier?"

__ADS_1


"Ih nyebelin."


"Tapi kamu suka," godanya "mumpung ditempat yang aman, yuk praktekin. Tempatnya mendukung loh ini."


"Awas lepas, aku mau pulang." Marsha coba melepaskan tangan Zidan dipinggangnya, terlalu lama bersama Zidan membuat jantungnya tidak sehat, dan dia takut bisa melakukan hal lebih, karena tubuhnya memang merespon ingin sentuhan lebih lagi.


"Kiss dulu." Zidan memonyongkan bibirnya.


"Nggak mau, nanti kamu minta lebih."


"Kan udah pernah ngerasain."


"Zidan, lepas nggak, aku bakal pecat kamu ya ngelawan sama Boss."


"Curang, mainnya ngancem," wajahnya dibuat sedih.


Walau begitu Zidan melepaskan tangannya dari pinggang Marsha, dan dia mengantarkan Marsha pulang tepat pukul delapan malam, dia tak ingin Marsha pulang terlalu larut walau Marsha sendiri lebih sering pulang dari kantor bahkan menjelang pagi. Dia ingin kekasihnya itu cukup istirahat, apalagi mengingat pesan Rasya saat dikantor tadi yang meminta untuk menjaga anak gadisnya.


Zidan tak tahu saja, saat dirinya pulang, Marsha justru keluar lagi untuk menemui seseorang. "Aku ingin kamu cari identitas sekretaris ku, cari tahu seluruh tentang keluarganya." Perintah Marsha.


"Bagaimana David, udah kamu dapatkan tentang keluarganya?"


"Sudah, laki-laki itu adalah cucu tunggal dari pengusaha sukses dan kaya juga cukup terpandang, kita memang belum pernah melakukan kerja sama dengan mereka, sebab perusahaannya lebih banyak bekerja sama dengan perusahaan asing." David memberikan data keluarga dan bisnis milik kakek Zidan "dia tinggal sendiri disebuah rumah kontrakan, dan mendirikan usaha sendiri. Hotel Horse yang dia miliki adalah hasil kerja kerasnya, bukan mendompleng hasil usaha keluarganya."


Rasya mengangguk dan membaca sekilas data keluarga Zidan, kini dia bernafas lega telah memberikan anaknya pada laki-laki yang tepat.


"Terima kasih atas bantuannya David, aku ingin Marsha memiliki pasangan yang baik untuknya."


"Ngomong apa sih kamu, Marsha itu keponakan aku, aku juga ingin yang terbaik untuknya, mana rela aku Marsha jatuh ke tangan laki-laki yang salah, cukup dulu ibunya yang merasakan sakitnya disakiti laki-laki tak bertanggung jawab."


"Kamu menyindir ku David?" perkataan David membuat sakit telinganya.


"Aku bicara sesuai fakta, bukan menyindir."

__ADS_1


"Tapi sekarang aku sudah membuat hidup Mawar ku bahagia, aku menebus semua dosaku padanya."


"Tetap tak bisa menghapus jejakmu sebagai laki-laki brengsek, kamu pikir aku tidak tahu kelakuan mu dulu."


"Ahhh sudahlah, itu sudah berlalu, pulanglah istrimu pasti mencarimu, aku mau mengajak Mawar jalan-jalan ke surga malam ini."


David berdecih tak suka, "beruntung adikku wanita baik yang mau menerima kamu." David beranjak dai duduknya, keluar dari ruang kerja Rasya.


* * *


Setelah malam Misya melihat Mahesa, dia begitu dibuat penasaran dengan sosok Mahesa yang tertutup, dan beredar kabar jika Mahesa sudah mencintai wanita lain. Dia dan temanya sedang makan siang di resto tak jauh dari kantornya.


"Aku tuh kenal Mahesa dari jaman kuliah, banyak banget yang ngeidolain dia, tapi dia nggak pernah tertarik sama cewek manapun, dia cuma setia sama satu cewek, yang aku nggak tahu itu cewek siapa?" tutur teman Misya.


"Tapi dia nggak suka terong sama terong kan?" tebak Misya.


"Waduh, bisa jadi ya, apa jangan-jangan dia cuma buat pengalihan aja sudah suka cewek."


"Ck, info lo nggak falid banget deh," Misya menopang dagu menggunakan tangannya diatas meja kerjanya.


"Bukanya katamu kamu udah dijodohin sama cucu pengusaha hotel dan permesinan itu ya?"


"Ini cuma buat selingan aja, lagian aku penasaran sama cowok tertutup kayak dia, bikin gemes tahu nggak, ntar kalo aku udah bisa taklukin juga bakal aku tinggalin."


"Woahhhh ampun suhu." teman Misya menangkup kedua tangannya didepan dada membuat keduanya tertawa.


Sore menjelang, Misya pulang kerumah. Mobilnya berpapasan dengan mobil papanya yang baru sampai rumah.


"Sore Pa,"


"Selamat sore sayang Papa," Burhan merangkul pundak Misya, mereka berjalan bersama menuju rumah.


"Papa kelihatan lelah banget kayaknya, gimana pencarian anak Papa udah ada titik terang?" Misya menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.

__ADS_1


"Belum, jejak mereka tidak ada sama sekali, rumah mereka dulu sudah dijual untuk modal Papa mengembangkan usaha kita, seingat Papa dulu kakak kamu berpacaran dengan anak Prasasti, tapi sepertinya mereka tidak jadi menikah."


"Semoga Papa bisa segera menemukan anak Papa, Misya udah nggak sabar buat ketemu kakak Misya."


__ADS_2