
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, ketika semua masih terlelap mengistirahatkan diri dari lelahnya aktifitas, Zidan keluar, dia mengendarai mobilnya menuju kediaman Marsha, tak ada yang tahu kepergiannya.
Dan tak lebih dari tiga puluh menit, roda empat yang dikendarai Zidan itu telah sampai dirumah wanita yang telah menetap di hatinya. Mata Zidan terus awas memandang diatas sana kamar yang masih terang itu, berarti Marshanya belum tidur.
"Kamu belum tidur Miss? Apa yang kamu lakukan? Istirahatlah ini sudah terlalu malam, kau bisa sakit." Zidan seperti orang tidak waras berbicara sendiri.
Lama dia menatap diatas, tak lama terlihat siluet wanita yang ia tunggu, Marsha terlihat sibuk mengemasi sesuatu, dari balik tirai tipis warna putih dari jendela kamar yang kacanya dibiarkan terbuka, Marsha hanya mengenakan handuk menutupi atas dan bawah tubuhnya. Refleks Zidan melepaskan jaket denim yang ia kenakan, lalu membuka pintu mobil, saat satu kakinya telah menyentuh aspal, Zidan tersadar dia tak bisa melakukan itu.
Zidan kembali berkaca-kaca mengingat betapa hancurnya hati Marsha saat ini, wanita itu hanya diam saat dia mengatakan hal-hal yang menyakitinya.
"Seharusya tadi kamu menampar ku Miss, seperti yang kamu lakukan jika aku melakukan kesalahan."
Bugghhhh
Bugghhhh
Bugghhhh
Kembali Zidan mamemukul kuat stir mobilnya, tangannya seperti mati rasa tak sedikitpun merasa sakit saat tangan yang bahkan masih mengeluarkan cairan merah bercampur bening itu belum kering. Sakit itu tak sebanding dengan sakit yang ia totehkan pada Marsha.
"Maafkan aku Marsha, maaf-" Zidan meletakkan kepalanya di stir, pundaknya bergetar tak kuat membayangkan hidupnya kedepan harus jauh dari Marsha, dan akan selalu bertemu dengan Misya.
"Keluarga mu harus tahu Zidan, betapa menakutkannya aku, aku bukan wanita lemah harus meratapi kesedihan terlalu dalam," Marsha terus menggunting gaun pemberian Zidan, namun tak lama kembali ia di buat sesak oleh kenyataan.
Dia kembali terduduk memeluk lututnya, ia begitu rapuhnya saat ini. "Kamu tega Zidan, kenapa kamu harus hadir dalam hidup ku," pukuli Marsha kakinya.
Tak bisa kalian bayangkan, saat seseorang menanam bunga, disiram dipupuk serta dirawat setiap hari, namun saat bunga itu baru tumbuh dan mengeluarkan pucuknya, bahkan bunga itu baru akan mekar harus dipetik sebelum waktunya. Ibarat kata sedang sayang-sayangnya, namun diputus dan ditinggal dijalan begitu saja.
Itulah yang saat ini Marsha rasakan.
* * *
Mawar yang terbiasa bangun lebih awal dibuat lebih dulu dari pembantunya, netranya dibuat terkejut karena Marsha saat ini tengah menyantap mi instan yang pernah Zidan masak untuknya, sudah lima piring didepanya namun tak ada yang ia habiskan hanya berkurang sesendok.
"Marsha! Astaga, apa yang terjadi sayang?" Mawar menghampiri sambil mengusap lembut pundak Marsha.
__ADS_1
"Rasanya tak ada yang sama Mam, tidak ada yang enak, entah apa yang ia campurkan saat membuatnya?"
Mawar begitu sadar apa yang dikatakan Marsha "Apa dia suka membuatkan untuk mu?"
Marsha baru tersadar apa yang dia lakukan "Lupakan Mam, tadi aku hanya lapar." Marsha mendorong kursi dan naik ke kamarnya.
"Amam akan coba membuat kan untukmu."
Marsha menghentikan langkahnya dan membalikkan badan "Tidak perlu Mam, Marsha harus bersiap ke kantor," kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.
Mawar terduduk lemas, merasakan sakit yang teramat melihat putrinya seperti itu. Ia tak tahu harus berucap apa untuk menghibur anaknya. Kenapa anaknya harus merasakan perih yang sama seperti yang ia rasakan dulu? Ia hanya berharap agar Marsha bisa melewati ini semua, ini hanya masalah waktu.
Setelah melaksanakan kewajibannya, Mawar terbiasa menyiram tanaman yang ada ditaman rumahnya, ia tak sengaja menangkap mobil mewah terparkir jauh diseberang jalan sana. Wanita yang selalu menggunakan hati saat melakukan hal itu menghampiri mobil tersebut.
Mawar mengintip melalui kaca mobil Zidan yang tak begitu gelap, batinya benar, Zidan tertidur dengan kepala masih berada distir, dan satu pintunya terbuka, penampilan Zidan begitu kacau.
"Apa yang terjadi Zidan?" Mawar kembali mengingat perkataan Mahesa yang mengatakan bahwa Zidan telah dibohongi keluarganya sendiri.
Mawar seakan diingatkan masa lalunya, "apa benar kau anaknya? Tidak mungkin ada orang tua yang tega membohongi anaknya sendiri?" karena yang Vivi lakukan padanya sebab memang dia bukan anak kandung Vivi.
Hari semakin terang, Marsha turun dengan membawa kardus besar ditanganya. Mahesa menghampiri ingin membantu.
"Aku bisa sendiri, nggak usah sok peduli."
"Aku hanya ingin membawakan sampai ke mobil mu."
Bugghhhh
Marsha menjatuhkan kardusnya menimpa kaki Mahesa, "aku bilang nggak perlu ya nggak perlu," bentaknya membuat seluruh anggota keluarga yang bermalam disana terkejut.
Mama Rika menghembuskan nafas perlahan "Sifatnya sangat menurun dari mu Rasya, untung Mahesa begitu sabar bertahun diperlukan seperti itu."
Mahardika bisa menilai, sangat pantas Mahesa menjadi pendamping Marsha, si sabar dan si pemarah, Mahesa bisa memadamkan api yang bergejolak dihati Marsha.
"Kau tidak libur sayang? Kakek bisa memerintahkan kantor tutup jika kau mau."
__ADS_1
"Marsha juga bisa membakar kantor jika Marsha mau." Jawab Marsha asal. Mahardika hanya menghembus nafas.
Marsha kemudian keluar menuju mobilnya, ia tak tahu jika Abdi mengikutinya. "Marsha boleh Ayah bicara sebentar?"
"Ayah, ada apa?"
"Ayah minta maaf Marsha," Marsha berjengit saat Abdi berlutut dikakinya.
"Ayah! Apa yang Ayah lakukan?" Netra coklat Marsha membulat dibuatnya.
"Karena masa lalu Ayah, kamu harus menanggungnya."
Marsha ikut merendahkan tubuhnya, matanya mulai memanas karena kejadian ini membuat semua orang merasa bersalah, terutama para orang tuanya.
"Ayah, i'm fine," Marsha membantu Abdi berdiri "Ayah aku masih hidup, jadi Ayah tak perlu merasa bersalah, they are stupid family, jadi Ayah bersyukur aku tidak menjadi bagian dari mereka,"
Abdi semakin tak kuasa menahan kesedihannya, entah Marsha hanya menutupi atau Marsha memang setegar ini, Abdi memeluk Marsha, bibirnya keluh tak bisa berkata apa-apa, Marsha satu diantara seribu wanita yang kuat saat dipermalukan di hari pertunangannya, dia bahkan lebih kuat darinya sebagai laki-laki.
"Kamu bisa memukul Ayah jika kamu merasa kecewa dengan semuanya, Ayah siap menerima kemarahan mu, tapi tetaplah seperti ini, jadi wanita kuat dan tegar."
"Marsha bahkan lebih tegar batu karang Ayah." Walau pada kenyataannya dia tak setegar itu.
Lalu lalang kendaraan mengusik indra pendengaran Zidan membuatnya terbangun, dia mengerjapkan mata, Zidan terkesiap menyadari tertidur dengan pintu mobil masih terbuka. Dia mengucek mata, mengedarkan pandanganya ke kediaman Marsha, dari jauh ia melihat Abdi menangis sambil memeluk Marsha.
"Apa dia akan pergi?" Keresahan menyelimuti hati Zidan.
Ia kembali melihat dari jauh, Marsha sudah masuk ke mobilnya, dia bahkan mengendarai sendiri, saat mobil Marsha menjauh Zidan segera menyalakan mobil mengikuti Marsha dari belakang.
Menyadari jika arah tujuan Marsha adalah kontrakannya, Zidan segera menyalip dan menghadang mobil Marsha.
Tiiiiiiinnnnnn
Hanya berjarak alis 90an, mobil Marsha hampir mencium mobil Zidan, dia terkejut dan segera turun. Namun Marsha sontak menghentikan langkahnya saat yang keluar dari mobil itu ternyata Zidan. Keduanya saling tatap dalam diam, baik Marsha maupun Zidan tak ada yang bergerak sedikitpun, mereka seakan saling melepaskan rindu.
Dan dari jarak jauh, Misya dan Mahesa menyaksikan pertemuan keduanya.
__ADS_1