
Zidan menyipitkan matanya "Apa Zidan tidak salah dengar Kek? Tidak mungkin kita meninggalkan semua yang telah kita lakukan." Sebisa mungkin Zidan tak langsung percaya begitu saja, kakek terkadang tak bisa terbaca jalan pikirannya, Zidan menegakkan duduknya, menatap lekat kakek yang menatap televisi didepan mereka.
"Kakek sudah tua Zidan, apa yang akan Kakek bawa saat tua nanti? Kakek hanya ingin melihat kamu bahagia di sisa hidup Kakek, Kakek sudah membuat mama kamu menderita, dulu. Itu cukup untuk dijadikan pelajaran buat Kakek, tak ingin itu terulang padamu." Kakek menoleh, membalas tatapan Zidan.
"Terserah kamu mau percaya pada Kakek atau tidak, Kakek juga tidak memaksa. Yang penting Kakek sudah menyampaikan yang saat ini Kakek rasakan, Kakek ingin hidup tenang dan damai."
Tak ada sedikitnya keraguan dari ucapan kakeknya, Zidan tak tahu harus percaya atau tidak, tapi berharap apa yang kakek ucapkan benar dari lubuk hatinya, karena memang yang kakek ucapkan benar adanya.
*
*
*
Esok harinya Zidan mengambil cuti, sudah lama dia tak mengunjungi mamanya, biasanya dia selalu bersama kakek, tapi kali ini dia akan mengunjungi sendiri, walau semalam dia tidur dirumah kakeknya, Zidan tak mengatakan jika dia akan mengunjungi mamanya.
Masih seperti biasa, dari jauh Zidan menatap sang mama duduk sendiri didepan kamarnya, termemung, memandang kosong dihadapanya. Zidan menghembuskan nafas kasar lalu membuang pandangannya.
Tidak mungkin mamanya pura-pura mengalami gangguan jiwa. Bukankah dia akan terkurung disini? Tidak bisa menikmati udara segar dan bebas menikmati hidup bersama keluarganya. Mamanya bisa dikategorikan wanita karier yang sukses, tidak mungkin dia akan menyiksa dirinya sendiri tidak membeli barang brandad.
Semua yang dituduhkan Mahesa tidak masuk akal. Zidan melangkahkan kakinya memasuki ruangan Bu Sri, seorang dokter yang menangani mamanya sejak awal. Setelah mengetuk dan terdengar suara dari dalam, Zidan memutar handle, senyum ramah wanita itu menyambut kedatangan Zidan.
"Halo Zidan, selamat pagi." Dokter berusia lima puluh tahun itu berdiri, mengulurkan tangan pada Zidan.
Zidan membalas tangan dokter Sri "Selamat pagi juga Dok."
"Silahkan duduk Zidan," wanita itu melepaskan kaca mata bacanya "gimana-gimana, ada apakah gerangan? Kamu sehat Zidan? Bisanya seminggu sekali kesini, tapi sudah hampir empat bulan kamu absen jenguk mama kamu. Kakek kamu sampai menangis tiap kesini." Cerocosnya karena memang sudah biasa dan begitu dekat.
Zidan tersenyum tipis "Saya sehat Dok, memang empat bulan belakangan saya sedikit sibuk," Zidan meletakkan tangan diatas meja, memajukan letak duduknya, menatap dokter Sri.
"Semalam saya kesini Dok, mau menjenguk mama, ya-salah saya datang terlalu malam, kata security yang jaga, mama sudah ada perubahan lebih baik,"
"Benar, memang benar Zidan, mama kamu mengalami kemajuan yang cukup signifikan, entah apa yang diceritakan kakek kamu, sampai dia bisa berubah secepat itu. Dia mengalami kemajuan tiga puluh persen selama tiga bulan ini, ini sangat bagus. Makanya juga sangat bernafsu, dan dia sudah bisa diajak ngobrol serta merspon apa yang kita ucapkan."
Zidan mengangguk, seorang dokter sudah disumpah untuk tidak melanggar ketentuan hukum, tidak mungkin dokter ini mau mempertaruhkan profesinya. Mahesa pasti hanya mengarang dan membuatnya marah, lagi pula tahu apa Mahesa tentang keluarganya?
Setelah menemui dokter dan mendengar penjelasan banyak dari dokter mengenai mamanya, Zidan membuka pagar bercat putih yang memisahkan kamar khusus pasien yang mendapatkan perawatan khusus dengan ruang dokter.
Saat sudah berada didekat sang mama, Zidan tak lantas menyapa, dia hanya berdiri memandang mamanya.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama memandang lawan jenis, nanti bisa jatuh cinta." Naima menoleh pada Zidan, dia tersenyum, senyum yang tak pernah dilihat oleh Zidan selama mamanya berada dirumah aman.
"Apalagi memandangnya dari samping, terkadang wanita terlihat dua kali lipat lebih cantik."
Zidan mematung, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar suara mamanya, dan melihat senyum wanita yang sudah lama tak dilihatnya itu, walau berada dirumah aman, namun wanita itu tetap terlihat cantik sesuai dengan usianya, rambut Naima dipotong yang awalnya sebahu, kini dibawah telinga, terlihat lebih muda dan fresh. Bibir Zidan keluh tak bisa berucap, kakinya seakan terasa berat untuk melangkah.
"Apa kamu yang bernama Zidan? Yang katanya anak ku?"
"Hah?" hati Zidan mencelus
Katanya anakku? Mama tak mengenal ku?
Zidan menelan ludahnya susah payah.
"Maa ..." Bibir Zidan bergetar, perlahan kakinya melangkah ingin memeluk mamanya.
"Jangan," tangan Naima menahan agar Zidan tak memeluknya, "aku belum mengenal kamu, aku hanya diberi tahu kalau aku memiliki anak laki-laki yang tampan, apa benar kamu anakku?" Naima memiringkan kepalanya.
Mata Zidan berkaca-kaca, hanya tiga bulan belakangan ini dia absen tak menjenguk mamanya, tapi mamanya tak mengenalinya.
Sakit? Jangan ditanya lagi.
Tidak mungkin mamanya tak mengenalinya? Mama bukan amnesia. Sebisa mungkin Zidan menguatkan hatinya, dia harus menerima kenyataannya ini.
Zidan memaksakan senyumnya. "Iya ini aku Zidan, anak mama." Ucap Zidan dengan suara serak.
"Kamu tampan, jadi aku percaya kamu anak ku, kamu mirip sama ayahmu, namanya Abdi, benar kan?"
Abdi? Nama itu?
Bukan Ma, bukan. Nama papa ku bukan itu.
"Iya, Ma. Nama papa Abdi." Terpaksa Zidan berbohong.
Naima nampak berbinar mendengar nama itu disebut. Dia berdiri langsung mengambil tangan Zidan "Mana papa kamu? Kenapa dia tidak ikut menjenguk mama? Zidan, bawa papa kamu kesini."
Zidan tersentak, dia ingin merasakan hangat telapak tangan yang menggenggamnya, namun semua terasa ambyar saat mamanya lebih semangat menyebut nama Abdi dari pada namanya.
*
__ADS_1
*
*
Marsha mengetuk-ngetukkan pulpenya diatas meja, kemudian dia melihat kearah meja Zidan sambil bertopang dagu, meja itu kosong, tak ada wajah tampan yang duduk disana yang menatap serius pada layar laptop dengan kaca mata anti radiasinya.
"Ck, Zidan ngapain cuti sih? Apa jangan-jangan dia bohong, bilangnya mau tanggung jawab, dan sekarang bilaganya cuti padahal mau menghindar dari masalah?Laki-laki memang tak bisa dipegang ucapannya."
Marsha mengangkat tanganya, melihat jarum pada arloji mahal yang melingkar dipergelangan tanganya, masih jam sepuluh pagi, perasaan dia sudah lama duduk dan semua pekerjaannya sudah selesai, pinggulnya pun sudah terasa sangat pegal, Marsha merasa jam berputar begitu lama.
Kemudian dia melirik pada lemontea hangat dihidangkan untuknya kini sudah berubah sedingin air es karena pendingin ruangan itupun masih utuh tak tersentuh, kasihan dan sangat mubazir. Marsha beranjak dari duduknya, mengambil tas dan keluar.
"Bu Melati, jika ada yang mencari ku, bilang aku sedang mencari mobil baru, tidak perlu menunggu karena aku akan kembali malam." Pesannya sebelum pergi.
"Eh Miss, tapi Mister Matthew mau datang sebentar lagi."
"Batalkan saja jika dia sudah datang."
Bahu Melati merosot, dia harus mencari alasan yang tepat agar Matthew tak kecewa dan tetap akan menjalin kerjasama.
"Miss, anda lebih baik cekik saya sampai mati." Akkkghhh Melati berteriak frustasi.
* * *
Zidan yang sudah memejam dibuat kesal karena ketukan keras dipintunya, siapa yang berani datang ke kontrakannya? Zidan melangakah malas, dia akan mengusir tamu tak tahu diri itu karena sudah mengganggu hari liburnya.
Ceklek
"Kamu lama sekali sih Zidan!" Marsha dibuat terkejut dengan penampilan Zidan yang begitu kacau, mata laki-laki itu terlihat sembab, rambutnya acak-acakan tapi tetap terlihat tampan dan cool dimata Marsha.
Marsha menelisik penampilan Zidan dari atas hingga bawah, dan ....
"Aaakhhh ZIDAN KAMU KENAPA HANYA PAKAI KOLOR??" Marsha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sedang Zidan refleks melakukan hal yang sama, tapi bukan wajahnya, melainkan bagian bawah tubuhnya.
Saat menyadari yang dilakukannya, Zidan kemudian menarik tangan Marsha dan membawanya masuk.
"Zidan kenapa pintunya di kunci?" Mata Marsha membola, saat tahu Zidan memutar kunci.
"Biar aman." Seringainya, kemudian memutar posisi, mendorong tubuh Marsha menempel pada pintu.
__ADS_1