Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Kehebatan Misya.


__ADS_3

"Susan, oh may ghost kamu memang hebat. Kenapa kamu tidak cerita akan melakukan ini?" Misya sangat girang saat melihat ramainya orang-orang menghujat Marsha di media sosial. Maka dari itu ia langsung mengajak Susan merayakan keberhasilan mereka menghancurkan Marsha.


"Ini juga karena kebodohan wanita sombong itu. Dia mengikuti kami saat kami meeting, aku mengambil kesempatan mendekati Zidan, dan Zidan tak menolak saat aku melayaninya, sepertinya Zidan sudah masuk ke perangkap ku, karena setelah dia memecat ku, dia memanggil ku lagi, katanya dia tak bisa tanpa aku." Susan tersenyum jahat, lalu menenggak wine-nya.


"Aku sangat berterima kasih padamu Susan, sebentar lagi Marsha pasti akan nangis termehek-mehek, dan kandunganya akan bermasalah." Misya dan Susan tertawa terbahak, mereka sangat senang bisa menghancurkan hidup Marsha. Lalu Misya menoleh, menatap Susan yang duduk disamping kananya.


"Aku punya kabar baik, Susan." Susan jadi menoleh, menatap serius Misya, "beberapa hari lalu Mahesa mencari ku, dan dia ingin melamar ku."


"Oh ya?" Susan membelalakkan matanya terkejut. "Woww, seriusly?" Tanya Susan memastikan jika ia tak salah dengar, Misya mengangguk, "Kamu tahu aku sangat senang mendengarnya? Kita berdua memang wanita hebat bestiie, laki-laki yang kita incar sudah masuk dalam perangkap kita." keduanya berpelukan.


"Hem, kita tidak akan hidup was-was lagi. Dan kamu Susan, kamu harus benar-benar menjaga Zidan setelah ini, jangan sampai dia kembali dengan wanita sombong itu. Dia memang harus diberi pelajaran sekali-kali. Zidan itu memiliki otak udang, mudah dihasut." mereka melerai pelukan. "Kita harus merayakan keberhasilan kita, dan sebelum melepas masa lajang kita, kita harus berpesta hingga larut." Tangan kiri Misya menarik tangan Susan menuju lantai dansa, sedang tangan yang satunya membawa gelas berisi wine.


Keduanya membaur dengan orang-orang yang menari, meliukkan badan mengikuti dentuman suara musik yang diiringi oleh dj, bahkan Susan tak memperdulikan buah dadanya diremas oleh orang yang tak dikenal.


* * *


Pukul dua dini hari Misya pulang, saat dia membuka pintu kontrakanya, ada Burhan yang sepertinya juga baru pulang. Laki-laki itu terlihat seperti sedang banyak pikiran.


"Papa baru pulang?" Misya menghempaskan tubuhnya disamping Burhan karena merasa sangat kelelahan. Misya menoleh, melihat wajah Burhan. "Papa kenapa? Ada yang Papa pikirin?"


"Naima ada yang membebaskan. Papa sudah mencari tahu kepada penjaga, tapi sepertinya mereka tidak ingin memberi tahu." jawab Burhan tanpa menoleh, ia menyugar rambutnya, wajahnya terlihat sangat pusing.


"Apa? Wanita itu ada yang membebaskan? Bukanya saat kita menemui dia beberapa hari lalu dia mau ikut dengan kita?" Misya yang menyandar, menegakkan duduknya.


"Itu yang membuat Papa bingung, dia sudah sepakat dengan yang kita tawarkan, dan mengabaikan menantunya," Burhan menarik nafas, menoleh ke Misya. "Sepertinya orang yang membebaskan Naima orang yang sangat berpengaruh. Papa ingin melihat cctv siapa yang membebaskan saja, petugas tidak mengizinkan, padahal Papa menjanjikan uang lebih lima kali lipat."

__ADS_1


Misya jadi ikut berpikir. "Sudahlah Pa. Jangan dipikirin, dia sudah tak penting, kita juga tak harus mengeluarkan uang banyak hanya untuk membebaskan wanita setengah gila itu. Mari kita menyambut hari bahagia Misya, Mahesa sudah mau melamar Misya." Misya tersenyum bahagia.


Burhan menatap putrinya ikut tersenyum senang. "Papa ikut senang, selamat ya, iya kamu tidak perlu memikirkan Naima, biarkan Papa yang mencarinya." Bukan karena banyak rahasia yang sudah Naima ketahui, tapi Burhan merasa dia tertarik pada wanita yang sudah lama menjanda itu, lumayan untuk menemani hari tuanya setelah ia ditinggalkan Misya nanti.


Ponsel Misya bergetar, menandakan jika ada panggilan. Ia melihat siapa yang menghubunginya ditengah malam seperti ini.


"Mahesa Pa." ucapnya sangat girang, Misya meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya meminta Burhan tak bersuara.


"Halo, Ma-he-sa." Misya menjadi gugup, dadanya berdebar hebat.


"Halo Misya, kamu belum tidur?"


Misya berdehem, saking senangnya dia lupa ini jam berapa, dan langsung mengangkat panggilan Mahesa begitu saja.


"Aku tiba-tiba kangen kamu, dan susah tidur. Aku coba hubungi kamu saja, ternyata kamu mengangkatnya." Mereka saling diam sesaat. "Misya, aku senang bisa mendengar suara kamu."


Misya mengulum senyum, sumpah demi apapun ucapan manis Mahesa membuat dadanya meletup-letup saking senangnya, dia sampai tak bisa berkata apa-apa.


"Misya, kamu masih disana?"


"Ehem, iya Mahesa."


"Aku mengganggu mu?"


"Ah tidak.

__ADS_1


"Misya." panggil Mahesa mesra.


"Iya, Mahesa." sahut Misya dengan suara lirihnya.


"Aku sepertinya tidak bisa menahan lagi, bagaimana kalau besok aku datang kerumah mu sekaligus membawa orang tuaku."


"Ap-apa Mahesa?" Misya terkejut, bukan tidak mau, dia belum sempat mencari rumah kontrakan baru yang lebih mewah.


"Maaf ini terkesan buru-buru, tapi rasanya aku tidak sabar, ingin tidur ditemani kamu. Misya."


Geer, sudah pasti Misya geer dengan rayuan gombal receh laki-laki setampan dan sekaya Mahesa.


"Jadi, bagaimana Misya. Apa boleh besok aku melamar kamu dan menikahi kamu?"


Misya menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu menanyakan pada Burhan jawaban pertanyaan Mahesa.


"Gimana Pa?" tanyanya tanpa suara.


"Iya kan saja." kata Burhan tanpa suara sama seperti Misya.


Misya kembali menempelkan hape ditelinganya. "Kapan kamu akan datang?"


"Siang, pukul dua sore." Jawab Mahesa tegas.


Disisi lain, Naima yang sedang mereka cari-cari sedang tertidur pulas di sebuah kamar hotel.

__ADS_1


__ADS_2