Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Keputusan Zidan


__ADS_3

Suasana ruang rapat menjadi tegang, netra Naima dan Nasyat membola melihat kedatangan seseorang yang tak disangka akan datang kembali dan menjadi orang yang akan menanam modal diperusahaannya.


Nasyat berbisik pada asistennya, meminta semua yang berada diruangan untuk keluar termasuk Misya dan Burhan.


"Zidan tetap disini!" ucap Valent Xavier menatap tegas Naima dan Nasyat.


Zidan yang sudah beranjak dari duduknya pun mendudukkan kembali bokongnya.


Misya dan Burhan berhenti, apakah mereka juga akan tinggal, namun Nasyat memberi isyarat agar keduanya meninggalkan ruang rapat.


Pintu rapat itu langsung ditutup dan dijaga oleh pengawal Valent.


"Jangan libatkan Zidan, dia anakku," Naima berucap lantang dan berani.


"Anak yang tak diperlakukan seperti anak?" Valent tersenyum miring, "dia bukan lagi balita yang kau kendalikan Naima. Kamu bahkan merusak kebahagiaannya."


Zidan memilih diam, menyimak saja, yang pasti dia inti dari pembahasan ini, sebab ada nada tak suka dari ucapan Naima pada laki-laki tua yang tidak dia tahu siapa itu.


"Dia ankku, aku ibu yang melahirkannya, jadi aku tahu mana yang terbaik atau tidak untuknya. Keluar sekarang Zidan!" perintah Naima kemudian menatap Zidan.


"Sepertinya pokok permasalahan disini adalah aku, Ma. Jadi aku harus tahu yang terjadi, yang tidak aku ketahui," tekan Zidan diakhir ucapannya.


"Zidan, dengarkan Mama. Mama yang melahirkan kamu kedunia ini, Mama mempertaruhkan nyawa demi kamu."


"Terima kasih Mama, tapi jika boleh memilih, jangan lahirkan Zidan."


"Jaga bicara mu Zidan, dia tetap ibumu terlebih dia ada salah atau tidak pada mu. Suka tidak suka turuti perintahnya," marah Nasyat, Zidan yang mulai kurang ajar.


Zidan memejam, menahan emosi, semua demi rasa hormatnya pada Nasyat, kemudian dia menatap Valent Xavier.


"Tolong jelaskan siapa anda, dan apa tujuan anda kesini? Saya tidak memiliki banyak waktu jika untuk hal yang tidak penting. Lihat, keberadaan ku sepertinya tidak diinginkan disini."


Bibir tua Valent melengkaung membentuk senyuman, dia menatap wajah tampan yang memang perpaduan wajah Naima dan anaknya.


"Perkenalkan nama ku Valent Xavier, senang bertemu dengan mu, Zidan Xavier."


Zidan mengerutkan kening menyadari kesamaan diakhir nama mereka, dia mendongak menatap Naima yang masih berdiri disampingnya, meminta penjelasan pastinya.


"Apa maksud tujuan mu datang kesini? Jika pun aku harus bangkrut dan kamu satu-satunya orang yang akan menyelamatkan kami, aku memilih mundur. Kami tidak butuh bantuan apa-apa dari mu."

__ADS_1


Valent Xavier tersenyum "Aku kagum dengan kesombongan mu walau nyawa mu diujung tanduk, tapi masih memiliki banyak nyawa," ujar Valent.


Naima gugup, tak tahu harus menjelaskan apa, dia tak menyangka tua bangka ini akan kembali dan menghancurkan segala rencananya, dan tak menyangka juga, jika mantan mertuanya bisa sekaya sekarang, padahal, terakhir mereka bersama, ayah mertuanya ini sedang diambang kebangkrutan.


Kematian suaminya membuat perusahaan keluarga Xavier goyah, keluarga yang lain tidak ada yang bisa diandalkan, hanya suaminya, dan semua keluarga Xavier seperti parasit yang hanya menghisap hingga dar4h si pemilik tubuh itu habis, membuat Naima muak dan memutuskan kontak karena tak ingin Zidan terkena virus tak baik itu.


Naima memijit kening. "Dia kakek dari papamu Zidan," aku Naima pada akhirnya, dia tak mungkin berilah lagi.


Zidan dibuat terperangah, "kejutan apalagi ini Ma? terlalu banyak rahasia yang kalian sembunyikan." Zidan benar-benar pusing.


"Semenjak papa mu meninggal Mama membawa mu pergi dari rumah mereka. Keluarga mereka seperti parasit, jadi Mama sengaja menjauh kan kamu dari mereka, demi kebaikan mu."


"Dan Zidan tak tahu lagi mana yang baik dan buruk untuk Zidan, Ma. Yang pasti aku sudah lelah."


"Mama juga lelah Zidan, maka berpihaklah pada Mama, jangan dengarkan apa kata orang diluar yang ingin menghancurkan hubungan kita. Jika kita bersatu, semua masalah kita akan cepat selesai, Mama bisa menjelaskan waktu kita yang terbuang."


Zidan mendengus, walau sudah mengetahui kebohongan Naima tapi dia tidak mau membongkar aib ibunya tersebut.


"Maaf Ma, terserah Mama dan Kakek akan menganggap aku anak seperti apa. Tapi aku rasa aku sudah menuruti semua yang Mama dan Kakek mau. Aku mundur dan minta izin akan mengejar masa depan Zidan."


Zidan melangkah akan meninggalkan ruang rapat, tapi dia menghentikan langkahnya saat melewati Valent Xavier. Dia hanya menatap laki-laki tua itu tanpa mengatakan apa-apa.


"Biarlah Naima, dia tinggal menunggu nama kita saja," tetap Nasyat mengancam.


Namun Zidan seolah tuli, dia sudah mati rasa, sudah cukup pengorbanannya, sekarang saatnya dia memikirkan hidupnya, kebohongan Naima dan Nasyat dan segala keriwetan keluarganya membuat sudah sangat membuat Zidan kecewa.


"Zidan berhenti Mama bilang!" tetap Zidan keluar tanpa menghiraukan panggilan Naima hingga Zidan menghilang dibalik pintu.


"Zidan berhenti kata MAMA."


"Biarkan dia mengejar masa depannya Naima, kamu sudah terlalu egois pada putramu," cegah Valent Naima yang akan mengejar Zidan.


Naima menatap benci pada Valent, dadanya naik turun saking emosinya.


"Semua gara-gara kamu tua bangka," tudingnya tepat didepan wajah Valent, "kenapa kamu harus datang dan menghancurkan semuanya yang sudah aku susun."


Mata Naima memerah, kali ini dia kalap seperti kerasukan setan, dia menyerang leher Valent secara membabi buta, serangan mendadak itu membuat asisten Valent tak siap, tapi kemudian dia bisa mendorong tubuh Naima karena tubuhnya yang lebih tinggi, hingga tangan Naima terlepas dari leher Valent dan membuatnya terjatuh.


"Kalian melukai anakku." Nasyat mengeluarkan senjatanya mengarahkan pada Valent.

__ADS_1


Dorrrr....


Dan serangan itu tak bisa dihindari.


Burhan yang masih didepan ruang rapat tentu mendengar suara gaduh dari dalam, walau ruang itu didesain kedap suara. Dia takut dan segera pergi dari sana, nanti dia akan menghubungi Nasyat.


Sedang Misya mengikuti mengekori kemanapun Zidan pergi.


* * *


Sementara di kantor Rasya.


Dia baru saja melakukan pertemuan dengan ayah Axcel, keduanya menjalin kerja sama untuk pembuatan pabrik susu, dimana Rasya menjadi penyalur susu ternak terbaik saat ini.


"Saya sangat berterima kasih, akhirnya kita memiliki produk susu sapi dari sapi ternak lokal, tanpa impor dari negara luar. Beberapa pabrik menolak tawaran ku, karena mereka memilih mengambil bahan baku dari luar, kata mereka lebih berkualitas dan menjual."


"Sayang sekali, untung Axcel memiliki ide ini, dia sedang semangat-semangatnya belajar bisnis," ujar Alex papa Axcel, dia menepuk pundak Axcel, bangga.


Rasya menatap Axcel, cukup tampan, diperkirakan tinggi pemuda itu 180cm cocok dengan Marsha, ujar Rasya dalam hati, sayang sekali Marsha sudah mengenal laki-laki brengs3k itu terlebih dahulu, sesalnya.


"Anak muda memang harus membangun usaha sendiri, kreatif, dan harus memiliki keahlian, agar bisa bersaing dengan yang lain. Jika mengandalkan mencari kerja, sulit sekali, apalagi persaingan sekarang begitu banyak."


Alex mengangguk "Ngomong-ngomong, bukannya pak Rasya memiliki putri cantik yang terkenal sukses memimpin perusahaan, dimana dia sekarang?"


Rasya menggaruk tengkuk, "Marsha, dia sedang melanjutkan pendidikannya diluar negeri, dia ingin mengambil gelar master," bohongnya, dia sendiri tak tahu keberadaan anaknya, Mahardika menyembunyikan keberadaan Marsha dan membayar semua penjaga peternakan untuk tutup mulut demi kenyamanan Marsha, sampai Mawar pun tak tahu.


Axcel melemah, padahal baru saja dia bertemu adik kelasnya itu, dan sekarang Marsha sudah kembali menjauh.


"Percuma aku merayu papa buat kerja sama dengan om Rasya," sesal Axcel.


"Hebat sekali anak anda, padahal dia sudah pintar dan sukses, tapi masih mau mencari ilmu, saya jadi minder ingin mengenalkan dengan Axcel."


"Oh ya!" Rasya pura-pura sumringah, "kalau tahu begitu saya pasti melarang Marsha untuk sekolah ke luar negeri," kemudian kedua bapak itu tertawa, " semoga anak kita masih ada celah untuk berjodoh." Rangkul Rasya pundak Alex akrab.


Mereka berjalan menyusuri koridor kantor Rasya, Rasya hendak mengantar clienya ini menuju lift.


Dan Axcel mengaminkan panjang dalam hati.


"Oh ya Axcel, besok datanglah kepeternakan untuk melihat sendiri sapi-sapi disana, dan jika perlu kamu tunjuk dokter untuk memastikan kualitas susu sapi milik kami. Disana nanti kamu bisa bertemu keponakan saya bernama Puma."

__ADS_1


Axcel mengangguk. "Iya Pak, besok saya akan lihat sendiri," tapi dia sudah tidak bersemangat, karena penyemangatnya sudah tidak ada lagi.


__ADS_2