Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bab 29. Kejujuran Hati Kakek


__ADS_3

"Sayang, kamu kok kelihatan nggak nyaman gitu duduknya, ada apa?" Mawar menyadari Marsha yang tidak menempelkan pantattnya pada kursi dan sedikit menahan. Marsha dan Zidan sontak saling lirik, keduanya terlihat begitu menegang.


"Nggak papa Mam, lagi ada tamu bulanan." Alasan yang cukup logika diambil Marsha. Zidan terlihat sangat kasihan pada Marsha, andai keadaan memungkinkan, ingin sekali dia mengakui perbuatannya, dan membantu Marsha.


"Kalo gitu istirahat saja sayang, kamu pasti sakit." Indah yang sedang menyiapkan bahan untuk bakar-bakar mereka melihat iba pada Marsha.


"Nggak papa Bun, sekali-kali Marsha ingin ikut gabung." Kembali dia beralasan, padahal dia ingin mencuri pandang sekretarisnya yang tampan dan yang bisa menjinakkan hatinya belakangan ini.


"Sakit nggak? Biar aku belikan jamu di minimarket depan." Mahesa yang tahu kebiasaan Marsha merasakan sakit perut saat ada tamu bulannya menimpali.


Zidan yang mendengar perhatian Mahesa terhadap Marsha sontak menghentikan jarinya yang sedang menjalankan kuda untuk memakan kuda lawan terhenti, beruntung Rasya tak menyadari itu.


"Nggak perlu." Jawab Marsha ketus.


Tidak ada rasa sakit hati dari diri Mahesa, baginya itu sudah biasa "Bukanya biasanya jadwal kamu tanggal sepuluhan, ini baru akhir bulan, sudah berubah?" Mahesa ingat betul jadwal datang bulan Marsha.


Telinga Zidan semakin sakit mendengar perhatian Mahesa, seberapa dalam dan dekat Mahesa pada Marsha, sampai sedetail itu dia tahu Marsha.


"Waww, Mahesa segitu perhatiannya lo sama nenek lampir ini, padahal dia judes banget sama lo, gue mah dikasih duit juga ogah nolongin nenek lampir ini, habis ditolong juga balik jutek lagi." Seloroh Maheswari menimpali.


Pukkkk


Gulungan tissu melayang dikepala Maheswari "Adik nggak tahu diri, harusnya kamu makasih sama Kakak, kamu nggak bakal bisa ambil kuliah kelautan kalo Kakak nggak ambil alih perusahaan Apo, kamu pasti dipaksa buat jurusan bisnis."


"Tuh kan, nggak ada manis-manisnya dia jadi cewek, lo masih ngarep dapat istri modelan begitu Hes? Ihh seremm." Maheswari yang lebih banyak bicara dari Mahendra senang sekali menggoda kakaknya.


"Benar Hes, kamu mau sama Marsha? Ayah sih setuju aja ya, cocok, kamu jago masak, Marsha kan nggak bisa masak sama sekali."


Zidan mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Abdi, namun dia segera mengontrol dirinya. Sedangkan ucapan Abdi, bak angin segar bagi Mahesa.


"Ayah apaan sih? Nggak ya, Marsha nggak doyan brondong." Jawabnya tak suka.


"Apap setuju aja sih, benar kata Ayah, sepertinya Mahesa cocok sama kamu, Mahesa lembut bisalah naklukin anak Apap yang bar-bar, jadi Apap nggak risau ngelepas kamu, Mahesa sudah ketahuan dia penyayang."


Zidan semakin tak kuat mendengar candaan keluarga Marsha, dia mengambil ponselnya.


My Miss : Cepat naik, istirahatlah, aku tahu kamu kelelahan.


Marsha melihat pada gawainya, dia menahan senyum membaca pesan Zidan, namun tak berniat membalasnya.


My Miss : Cepat naik Marsha, atau aku gendong paksa keatas.

__ADS_1


Marsha kembali hanya membacanya, dan itu semakin membuat Zidan kesal.


My Miss : Baiklah jika itu yang kamu mau, aku hitung sampai satu setengah.


My Miss : Satu.


Marsha mulai mengetikkan sesuatu.


Sekretaris cerewet : Kamu berisik Zidan (emoji marah)


Walau marah, namun tak ayal Marsha menurut, Zidan selalu berhasil mengancamnya. Marsha beranjak dari duduknya.


"Mam, Pap, Ayah, Bunda, Marsha naik dulu, perut Marsha nggak enak." Ujarnya berpamitan.


"Iya sayang, nanti Amam antar sosis bakarnya." Marsha mengangguk kemudian dia berlalu.


"Nggak pamit sama gerandong dulu?" Kembali Maheswari menggoda kakaknya, dan menyenggol bahu Mahesa. "Ciee Mahesa dapat lampu hijau dari Apap dan Ayah, Para anggota yang lain hanya geleng kepala.


Setelah Marsha berlalu, Zidan kembali mengirim pesan pada Marsha.


My Miss : Selamat malam Marsha, tidur yang nyenyak, sampai bertemu besok. Dan diakhiri emoji kiss dari Zidan.


Pukul sebelas malam Zidan baru pulang dari rumah Marsha, dia senang hati meladeni Rasya bermain catur, tak ia perdulikan matanya yang sudah sangat lelah. Tanpa disadari Zidan jika Marsha melihatnya dari atas.


Zidan langsung bertolak kerumah aman, walau tak menaggapi ucapan Mahesa, tapi dia terus terpikirkan apa yang Mahesa ucapkan. Sepanjang perjalanan perasaan Zidan dibuat tak menentu, apa mungkin sang mama dan kakek membohonginya? Apa tujuannya? Jika memang benar dia dibohongi, sulit bagi Zidan rasanya untuk memaafkan.


Diusianya sepuluh tahun dia memang belum mengerti apa-apa, yang dia tahu, mamanya dulu tak mengenalinya, sang mama hanya terus diam menatap kedepan, tak merespon apa yang dia ucapkan setelah sebuah acara dirumah Abdi dulu, hanya itu yang dia ingat.


Kemudian sang kakek yang terbujur diatas pembaringan tanpa bisa melakukan apa-apa, yang dia tahu, sang kakek hanya sakit, tanpa tahu apa penyakitnya, hingga usia Zidan memasuki lima belas tahun, dia baru mengerti, sang kakek mengalami kelumpuhan. Zidan harus menjalani hari-harinya bersama perawatnya yang kala itu sudah berusia renta.


Hingga suatu hari dia harus ditinggalkan oleh perawatnya itu untuk selamanya, Zidan seolah dipaksa keadaan untuk dewasa sebelum waktunya, dia harus mengurus kakeknya yang tak bisa apa-apa, hingga kakeknya sembuh. Beruntung pengacara keluarga kakeknya berlaku jujur, hingga perusahaan milik kakeknya tetap berjalan walau tak senormal biasanya, hanya cukup untuk membayar gaji karyawan yang awalnya berjumlah lima ratus karyawan, tersisa tinggal seratus karyawan, dan uang perusahaan kakek juga cukup untuk dia makan dan berobat kakek serta biaya pengobatan mamanya.


Setengah jam perjalanan Zidan sudah sampai dirumah aman dimana mamanya di rawat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rumah aman terlihat sepi, sudah pasti sepi, karena semua penghuni rumah aman pasti sudah kembali ke peraduanya, walau mereka tidak bisa hidup normal, tetap saja mereka harus bisa istirahat seperti manusia normal lainya.


"Mas Zidan, sudah lama tidak terlihat, kemana saja?" Ujar seorang security yang memang sudah sangat mengenal Zidan.


Zidan membuka kaca helmnya "Selamat malam Pak, iya, saya agak sibuk belakangan ini."


"Tumben malam Mas Zidan."


"Udah lama nggak jenguk mama, kangen."

__ADS_1


"Saya hubungi ibu ketua dulu ya Mas Zidan." Security itu masuk ke pos jaganya, menghubungi ibu yayasan. Zidan tak begitu mendengar yang dikatakan Security itu, namun Zidan tak menaruh curiga sama sekali.


"Mas maaf, kata ibu besok lagi aja kembalinya, mama Mas Zidan baru istirahat, kalo diganggu nanti bisa mengganggu kesehatan mamanya Mas, kata ibu mamanya Mas sudah ada perubahan yang lebih baik."


Zidan mengangguk "Oh gitu ya Pak, makasih kalau begitu besok saya balik lagi."


"Iya Mas, hati-hati." Zidan memberikan uang rokok untuk security itu sebelum kembali kerumah kontrakannya.


"Nggak usah Mas, saya kan nggak bantu apa-apa." Tolak si bapak


"Nggak papa Pak, anggap rejeki anak Bapak."


Tangan si bapak mengambil selembar uang kertas berwarna yang diberikan Zidan. "Maksih ya Mas, semoga Mas sehat terus."


Zidan hanya mengangguk kecil, kemudian melajukan motornya.


"Mas Zidan ini anak yang baik, tapi kok dimanfaatin gini ya, kasian." Security itu memandangi uang yang diberikan Zidan, dia mencium aroma uang itu, kemudian baru memasukkan kedalam dompetnya.


Tujuan Zidan kali ini adalah rumah kakeknya, dia harus memastikan sendiri pada kakek apa yang telah disembunyikan darinya.


"Kamu pulang Zidan? Ingat kalau kamu masih punya Kakek?" Kakek Zidan seperti biasa, masih duduk sendiri diruang keluarga menyambut kedatangannya.


Zidan merebahkan tubuhnya disebelah sang kakek, tak menghiraukan ucapan kakek yang menyindirnya.


"Zidan dari rumah aman, pengen ketemu mama," Zidan mulai menitikkan airmatanya, membayangkan jika memang dia dibohongi, alangkah sakit sekali hatinya, "sejak kecil Zidan pengen banget mama sembuh Kek, pengen ngerasain kasih sayang mama. Dulu Zidan selalu ingat mama suka bentak Zidan, marahi Zidan kalau mama lagi kesel sama orang. Tapi Zidan nggak mikirin itu Kek, yang Zidan mau mama bahagia. Kenapa sampai sekarang mama tidak mau sembuh? seharusnya mama bisa mencari kebahagiaannya sendiri."


Kakek Zidan menarik nafas, coba mengontrol amarahnya, sakit sekali mendengar ucapan Zidan yang mengatakan mamanya tak mau sembuh.


"Maafkan Kakek Zidan, Kakek tahu, sebagai orang tua kami tidak bisa memberikan kasih sayang untuk kamu." Kakek menoleh "sekarang Kakek tanya, kamu setuju Kakek jodohkan dengan Misya? Kakek baru menyadari, sepertinya Misya tidak cocok dengan kamu, dia bukan wanita baik seperti yang Kakek kira."


Zidan ikut menoleh pada Kakek, kemudian tersenyum "Kakek sudah menyadarinya?"


"Iya, Kakek sangat merasakan kesepian sejak kamu memilih pindah, tapi disana Kakek merenung dan menyadari, jika selama ini Kakek terlalu memaksakan kamu, Kakek merasa kehilangan, Kakek tak bisa jauh dari kamu," Kakek kembali menghela nafas "Kakek sudah memikirkan, bagaimana kalau kita coba untuk melupakan semua dendam kita, berdamai dengan keadaan?"


Zidan mengerutkan keningnya, tak paham maksud ucapan Kakek. "Maksud Kakek?"


"Kakek harus jujur, iya memang awalnya Kakek ingin menjebak kamu dengan Misya, tapi Kakek baru tahu sifat Misya yang sebenarnya, maka dari itu, Kakek membuat kamu melakukan itu bersama Marsha, karena Kakek tahu Misya wanita tak baik."


Zidan semakin mengerutkan keningnya dalam, tapi dia tetap diam, menunggu penjelasan Kakek selanjutnya.


"Lamarlah Marsha, jika kamu mulai menyukainya, kalian sudah melakukannya, tidak mungkin jika tidak ada yang tumbuh diperut gadis itu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Kakek tidak akan ikut dalam acara lamaran itu, karena pasti Abdi masih mengenal Kakek. Lakukanlah bersama orang-orang kita, lamarlah dia, buat rumah kita ramai dengan tangisan bayi."

__ADS_1


__ADS_2