Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Menjebak Hatimu


__ADS_3

Zidan melepaskan pelukan Misya, menolaknya halus.


"Kamu semalam dimana Zidan?" Misya terus bertanya begitu penasaran, takut yang ia duga benar terjadi. Misya terus mengikuti Zidan yang sedang merapikan barangnya. "Aku terus mencari mu."


"Seharusya aku yang nanya sama kamu Misya, kemana aku semalam, bukannya kamu yang sama aku? Aku bahkan terkejut saat terbangun malah berada di gudang."


"Gudang?" Ulang Misya ucapan Zidan.


"Iya," Zidan berbalik melihat Misya yang mengekor dibelakangnya "lihat, aku habis jadi santapan lezat para hewan penghisap darah," tunjuk Zidan tangannya yang terdapat bintik merah dibeberapa titik yang dia sendiri tak tahu tiba-tiba saja ada, dan bisa dijadikannya alasan.


"Terus kenapa kamu membereskan semua barang-barang kamu?"


"Marsha marah karena semalaman dia juga terus mencariku, dia mengajakku pulang karena urusannya disini sudah selesai." Zidan akan merahasiakan ini, semua demi Marsha dan dia akan ikut bermain dalam sandiwara yang dibuat sang kakek.


Ada sedikit kelegaan di hati Misya, ternyata semalam Zidan tidak bersama Marsha, namun dia juga ingin tahu keadaan wanita itu, apa yang terjadi dengannya semalam?


"Kamu meninggalkan aku disini sendiri Zidan?"


"Kita datang kesini sendiri-sendiri Misya, sudahlah jangan dipermasalahkan, kita akan bertemu di Jakarta." Zidan telah selesai membereskan barangnya yang memang hanya sedikit, padahal sebenarnya dia ingin lebih lama bersama Marsha disini, mengajaknya berjalan keliling pantai dengan menggunakan motor, menghabiskan hari mereka menikmati kuliner disini, tapi semua diluar dugaanya.


Jujur Misya tak ingin dia disini sendiri, dia berada disini karena Zidan dan kakeknya. "Yasudah, aku ikut kamu ke berangkatan yang sama ya, pesankan aku juga tiket, biar kita satu pesawat."


"Nggak bisa Misya, aku nggak mungkin satu pesawat sama kamu."


"Kenapa? Kamu ada misi, buat bikin atasan kamu jatuh cinta sama kamu, aku curiga malah kamu yang jatuh cinta sama dia. Zidan kita ini sudah dijodohkan, aku cemburu kalau kamu terlalu dekat sama Marsha si singa betina itu."


Zidan sudah jengah akan sikap Misya, ini yang dikatakan kakek, Misya wanita kalem idamanya? Sangat jauh dari kata kalem, awal bertemu memang gadis itu seperti menjaga sikap, tapi makin kesini, makin terlihat sifat aslinya.


"Misya, ngertiin keadaan aku dulu, please, aku lagi pusing. Marsha dari tadi marah-marah terus dan ditambah kamu marah-marah, aku makin pusing."


"Aku tunggu kontrak kamu sama Marsha selesai Zidan, aku nggak mau tahu, kalau tidak. Aku akan paksa kamu buat nikahin aku secepatnya." Desis Misya tak terima.


Zidan menahan emosinya, untuk saat ini dia harus menahan semua, agar kakek tak memjauhkanya dari Marsha.


"Oke, kamu tenang saja Misya, tanpa menunggu kontrak ku selesai, jika apa yang aku inginkan sudah tercapai, aku akan meninggalkan Marsha, kamu dengar aku, percaya padaku."

__ADS_1


Zidan sangat berat hati mengatakan itu, agar Misya tak banyak lagi menuntutnya, dan Misya tak mengganggu Marsha, jujur saja, sikap Misya yang seperti ini justru dialah singa betina sungguhan karena akan memengsa lawanya tanpa rasa kemanusiaan.


Yang tanpa Zidan ketahui bahwa Misya telah merekam ucapannya barusan.


Misya tersenyum senang "Baik Zidan, lakukan apa yang ingin kamu lakukan sekarang, tapi jika kamu ingkar, aku tidak akan tinggal diam, aku tidak suka ada orang yang mempermainkan perasaan ku."


Zidan dibuat terperangah oleh Misya, "kamu mengancamku Misya? Apa sebenarnya tujuan mu?"


"Aku akan menghancurkan Marsha sehancur-hancurnya karena dia telah mengambil milikku, dan kamu adalah milikku," Misya memajukan langkahnya tepat dihadapan Zidan, ia mencondongkan dadanya "aku ingatkan lagi Zidan, kita telah dijodohkan, jadi jangan kira aku akan mengalah pada wanita singa itu jika memang kamu sudah memiliki rasa padanya, maka dari sekarang buang rasa itu jika kamu tidak ingin melihat dia hancur."


Zidan menyembunyikan wajah terkejutnya dengan sikap Misya, wanita macam apa sebenarnya Misya ini, kenapa baru beberapa kali bertemu sudah menunjukkan watak aslinya.


Zidan menggaruk depan hidungnya "Kamu ternyata lebih menakutkan dari yang aku kira ya, Misya. Oke, aku suka wanita yang berterus terang seperti mu, jarang sekali ada wanita yang menunjukkan sifat aslinya, kebanyakan dari mereka hanya menunjukkan topengnya didepan orang lain."


"Tapi maaf, untuk sekarang aku harus pulang bersama Marsha dulu, dia sepertinya sedang dalam masalah besar." Zidan mengambil tas miliknya kemudian berjalan keluar meninggalkan Misya.


Namun langakah Zidan terhenti saat Misya memanggilnya. "Zidan, tunggu!"


Misya berjalan mendekati Zidan, tanpa Zidan duga, Misya langsung menarik tengkuk Zidan membuat Zidan menunduk dan dengan mudah Misya menempelkan bibirnya pada bibir Zidan, lama Misya menempelkan bibirnya, berharap Zidan membalas ciumanya. Namun karena tak ada pergerakan dari Zidan, dia berinisiatif menggerakkan bibirnya, Zidan diam tak membalas, terpaksa Misya harus melepaskan ciumanya.


"I'm sory Misya, i can't."


"Why, apa kamu menjaga hatinya?"


"Bukan, aku hanya tidak bisa."


"I'ts okey, aku tahu aku murahan, tapi aku sudah berusaha buat mu." Zidan mengganggukan kepalanya, jika dia menuruti keinginan Misya, betapa brengseknya dia.


*


*


*


Setelah semua urusannya selesai, kini Zidan dan Marsha menuju bandara untuk kembali ke ibu kota. Tidak ada percakapan apa-apa antara Zidan dan Marsha, Marsha masih diam meanatap luar jendela menikmati lengangnya jalanan, pemandangan yang sangat jarang dia temui di ibu kota, seperti perkebunan karet dan sawit.

__ADS_1


"Aku ingin bermalam disini lagi Zidan, sepertinya menyenangkan jika kita melewati tempat ini hanya menggunakan sepeda motor." Marsha berkata tanpa menoleh pada Zidan.


Zidan ikut melihat arah pandang Marsha, memang sangat sejuk, jalanan yang begitu indah, lengang dan bersih. Lain kali kita akan kesini lagi, untuk saat ini keadaan sedang tidak bagus untuk kita."


"Apa kamu sudah menemukan orang yang menjebak kita Zidan?"


Zidan mengulurkan kertas pada Marsha. Marsha mengerutkan keningnya dalam.


"Ini perusahaan yang bergerak di batu bara?"


"Iya, dia berniat menjebak mu dan Matthew, tapi aku belum menemukan kenapa kamu berakhir bersama ku."


"Apa ada kaitannya dengan Matthew."


Zidan menggeleng "Tidak, dia tidak tahu sama sekali."


"Aku akan menghancurkan mereka, apa tujuannya menjebakku? Padahal kita tidak ada kerja sama dengan mereka."


"Biar aku yang melakukannya, kamu hanya tinggal menunggu hasilnya saja."


"Kenapa kamu? Dia menjebakku, dan aku yang harus mengahancurkanya."


Zidan mengambil tangan Marsha "Serahkan semua padaku Marsha, aku akan membuktikan jika aku pantas untukmu. Dan biarkan aku membuktikan ini pada ayah dan Apap mu." Zidan ingin Marsha mulai tergantung padanya.


"Jangan terlalu serius Zidan, aku belum bisa berkomitmen."


"Jika dia tumbuh disana, apa kamu masih akan bilang begitu?"


Marsha refleks melihat perutnya, "Kita baru sekali melakukannya, tidak mungkin dia langsung tumbuh."


Zidan menarik dagu Marsha agar melihatnya "dia ada atau tidak, aku tetap akan menikahi mu."


"Kalau aku tidak mau?"


"Aku akan menculik mu, mengurung mu sampai tak ada yang bisa menemukan mu. Karena kamu telah menjebakku dalam hatimu, maka aku juga akan menjebak mu dalam hatiku, hingga kau tak bisa keluar lagi."

__ADS_1


Marsha kembali dibuat tersentuh oleh Zidan, dadanya berdegup kencang dan darahnya berdesir, Zidan selalu bisa membuatnya serasa melayang. Sebisa mungkin Marsha menyembunyikan perasaanya, ingin tahu sejauh apa usaha Zidan ingin meraih hatinya.


__ADS_2