
Bughhh
Bugghhh
"Brèngsek, gue jagain dia dari kecil nggak pernah bikin dia nangis, tapi lo yang gue kasih kesempatan buat memiliki dia, tapi lo malah seenaknya bentak dia dan nyakitin dia."
Bughhh
Bughhh
Mahesa terus melayangkan tinjunya dipipi Zidan, membuat pipi Zidan memar dan mengeluarkan cairan merah segar di sudut bibirya. Saat ini posisi tubuh Zidan dibawah Mahesa, dengan Mahesa menarik kerah kemejanya. Mahesa emosi saat mendengar pertengkaran keduanya, dan melihat Marsha keluar dari kamar sambil menangis, Zidan tak melawan, membiarkan Mahesa melakukan apa yang dia mau sampai Mahesa puas.
Semenjak mengenal Zidan, Mahesa jadi sering melihat Marsha menangis. Padahal Marsha merupakan wanita yang kuat, itu berarti, Zidan telah berhasil merebut hati Marsha, tapi laki-laki itu tidak bersyukur karena telah bisa mendapatkan Marsha.
"Mahesa aku bisa jelasin."
"Apa yang mau lo jelasin? Hah? Lo selingkuh sama sekretaris lo?"
Zidan menggeleng. "Mana mungkin aku menduakan Marsha."
"Bùlshitt, jika Marsha sudah semarah itu, itu berarti dia udah tau belangnya lo."
"Mahesa, stop." Abdi datang menahan tangan Mahesa yang kembali siap menghantam pipi Zidan. "Bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah, Ayah tidak mengajarkan kamu melakukan kekerasan."
__ADS_1
Mahesa menurut pada ayah angkatnya itu, dia melepaskan cengkraman tanganya dikerah baju Zidan.
"Biar urusan rumah tangga mereka berdua, mereka yang menyelesaikan, Mahesa. Marsha belum menceritakan apa-apa, berarti dia masih bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia sudah dewasa."
"Tapi aku tidak terima dia selalu bikin Marsha menangis, Yah."
"Iya Ayah tahu. Tapi kita juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Abdi menatap Zidan. "Kedatangan Marsha kesini untuk menenangkan diri, jadi biarkan dia tenang, setelah itu Ayah yakin Marsha bisa menyelesaikan semuanya."
Mahesa membenarkan ucapan Abdi. Dia menatap Zidan yang kini duduk ditepi ranjang.
"Awas saja aku melihat lo bikin Marsha menangis lagi, lo bisa habis ditangan gue."
"Mahesa." tegur Abdi.
"Mahesa ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Suara Zidan membuat Mahesa menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Ini penting, aku butuh bantuan kamu."
"Apa kamu tidak butuh bantuan Ayah?" Abdi jadi merasa dia tidak dibutuhkan. "Ayah jadi tersinggung sebagai laki-laki tapi tidak ikut dilibatkan." ujarnya dengan wajah dibuat sedih.
Abdi mencoba mencairkan suasana, meski dia cukup kesal atas penjelasan Mahesa yang mengatakan Marsha menangis, dia belum bertemu Marsha. Saat akan menemui Mahesa dikamarnya ingin menanyakan tentang cafe dan gerai mereka, Abdi justru melihat perkelahian keduanya.
"Ini tergantung pada Mahesa Yah. Dia ingin melibatkan Ayah atau tidak." ucap Zidan menyeringai, dia yakin sekali Mahesa pasti penasaran atas apa yang akan disampaikannya.
Dan dia berhasil, Mahesa memutar badann menoleh padanya. "Gue tunggu di taman belakang." ucapnya, lalu pergi begitu saja. Dan Abdi dibuat penasaran dengan apa yang Zidan katakan, ini sepertinya penting.
__ADS_1
"Ayah menunggu penjelasan kamu yang sebenarnya terjadi." Abdi menepuk pundak Zidan kemudian keluar.
* * *
"Apa yang mau lo bicarakan sebenarnya?" suara Mahesa masih terdengar ketus.
"Aku butuh bantuan mu, Mahesa. Aku sedang dalam masalah besar, apa yang aku lakuin saat ini semata-mata untuk melindungi Marsha."
"Apa? Apa ada yang mengancam hidup Marsha? jangan membuat alasan demi menutupi kebusukan lo."
"Sekretaris ku, sebenarnya sejak Marsha meminta aku untuk memecatnya, aku sudah memecatnya. Tapi dia mengancam ingin bunuh diri, karena dia yang membantu ku dalam pembangunan hotel sejak awal."
"Hah!"
"Terus dia juga mengancam akan melakukan hal yang membahayakan Marsha dan anakku, jika sampai aku memecatnya."
"Terus? Lo diem aja, dan nggak bilang ini ke Marsha?"
"Aku sedang mengatur strategi untuk membuat dia masuk kedalam perangkap ku dulu. Aku juga sudah mengirim orang untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat dengannya, dan itu adalah Misya. Aku harap kamu bisa bekerja sama untuk melawan mereka, sebab, aku yakin, mereka juga didukung oleh Burhan."
Mahesa diam, dia sampai lupa jika dia harus mencari tahu kebenaran siapa Burhan dan Misya sebenarnya.
"Apa rencanamu?"
__ADS_1