
"Apa yang bisa dicintai dari diri Marsha?" meski mengatakan hal demikian, tapi Zidan tak berani menatap mata Marsha, karena hatinya begitu sakit mengatakan itu. "Dia terlalu rendahan untuk dijadikan istri."
Jleb.
Marsha tak ingin membalas ucapan Zidan, tapi dia merekam jelas didalam otaknya Sedang kedua adik kembarnya sudah maju untuk memberikan hadiah pada Zidan, namun Mawar menahananya.
"Amam tidak mengajarkan kalian melakukan kekerasan."
Hingga datanglah Naima bersama kakeknya denga senyum bahagia penuh kemenangan, yang mengenal mereka sudah pasti dibuat terkejut, tak menyangka jika Zidan merupakan anak Naima, karena setahu Rasya, informasi yang dia dapat jika Zidan merupakan cucu tunggal dari Valent Xavier, bukan dari keluarga Nasyat.
"Naima." Lirih Indah.
"Masih ingat dengan kami?" Kakek menatap Abdi dan Indah "tidak menyangka jika kita akan bertemu dalam situasi yang tidak diduga, ini bagai memutar kaset dua puluh tahun silam bukan? Apa kalian pernah tahu setelah peristiwa dua puluh tahun lalu? Dan ini cucuku," Kakek merangkul pundak Zidan.
"Apa kalian tidak berkaca pada kesalahan kalian dulu? sudah diberi kesempatan kedua seharusnya anda memperbaiki diri, bukan malah menjadi-jadi seperti ini." Ucap Abdi.
"Kamu ingat dia Abdi? Dia anak kecil yang harus berjuang hidup sendiri karena setelah peristiwa itu dia harus kehilangan kasih sayang dari keluarganya, anak kecil yang menjadi korban kamu yang tidak mau bertanggung jawab, lihatlah dia sudah sebesar ini."
Marsha tertawa miris, tak menyangka jika dia hanya dijadikan alat balas dendam. Bodoh, dia merasa bodoh karena mudah terbuai oleh dongeng manis yang Zidan berikan tanpa tahu asal usul Zidan sebenarnya, disisi lain Zidan memberanikan melihat Marsha yang sejak tadi hanya diam tak menatapnya, diamnya Marsha justru membuat hati Zidan seperti diremas, ingin dia memeluk Marsha saat ini juga, membawa gadis yang teramat dicintainya itu pergi jauh.
"Brengsekkk, jadi kamu hanya menjadikan anakku sebagai balas dendam mu Zidan?" Rasya menanyakan itu pada Zidan langsung, "katakan jika kamu merasa ditekan oleh ibu dan kakek mu yang gila ini, aku masih memberi mu kesempatan jika kau memohon dan mengatakan jika kau mencintai putriku."
Sangat, sangat ingin, Zidan bahkan rela bersujud di kaki Marsha dan semua orang tua Marsha.
Marsha dan yang lainya diam, menunggu jawaban Zidan.
"Aku melakukan ini tanpa ada paksaan dari siapapun. Karena aku mencintai keluarga ku melebihi apapun, wanita bukanlah prioritas ku."
Jawaban Zidan kembali membuat Marsha tersenyum miris, hatinya begitu ngilu.
Seluruh anggota keluarga Marsha sudah maju ingin menghajar Zidan, namun Mahardika menahan tangannya diatas.
__ADS_1
"Kek, anggota keluarga kita lebih banyak, jangan takut," Maheswari sudah begitu geram.
"Kakek tidak ingin ada pertumpahan darah dirumah kita." Karena Mahardika sudah tau jika kakek Zidan membawa pasukan yang cukup banyak, kakek Zidan seperti sudah sangat memperhitungkan ini.
Hahaha Kakek Zidan tertawa begitu kencang "Kenapa memaksa? Apa anak mu hamil? Hukum tabur tuai Tuan Rasya terhormat, seharusnya kau menyalahkan laki-laki itu," tunjuknya Abdi "karena perbuatannya putrimu harus menanggung akibatnya. Semoga setelah ini putri mu baik-baik saja, dia tidak menjadi wanita-"
"SUDAH CUKUP," semua terkejut, Mawar wanita lemah lembut dan tak pernah meninggikan suaranya, kini bersuara lantang membela putri semata wayangnya, "WANITA APA YANG ANDA MAKSUD? ANDA MENGINGINKAN ANAKKU SEPERTI APA HAH? Pergi dari sini, kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau kan? Mengahancurkan keluarga kami, menjadikan anakku sebagai alat balas dendam? Sekarang pergilah dan bawa anak kalian, aku tak sudi rumah ku diinjak oleh orang-orang berhati iblis seperti kalian."
Mawar memegangi dadanya, dadanya terasa sesak ada orang yang menginginkan anaknya hancur.
"Aku bersyukur anakku tidak jadi dipersunting oleh cucu mu, Tuhan maha baik, dia melindunginya agar tidak tertular sifat iblis yang kalian miliki." ucap Mawar.
Kali ini Marsha tak bisa menahan laju air asin yang sejak tadi ditahanya, dia sudah membuat semua keluarganya ikut terluka akibat kebodohannya.
Zidan memejamkan mata melihat tangis Marsha, hatinya sakit dan seperti diremas karena telah membuat wanitanya menitikkan air mata, Zidan mengepalkan tangan menahan emosi, ingin dia berkata bahwa dia begitu mencintai Marsha, memeluk dan menghapus airmatanya.
"Aku bisa menjamin anakku tidak akan mengalami apa yang terjadi dikeluarga terkutuk kalian, karena kami tidak pernah menuntut apa-apa padanya, kami membesarkannya dengan penuh kasih sayang, bukan penuh drama untung menarik simpati orang lain."
"Bagus kalau begitu, pastikan anak mu tidak gantung diri atau meminum racun tikus." Naima menyahut.
"Sebaiknya anda menjaga anak anda nenek peyot, aku tidak yakin Zidan melakukan ini kalau bukan karena kalian mengancamnya," kini Marsha berpindah melihat kakek Zidan
"Sudah siapkan tanah kubur pak tua? Aku rasa usia anda tidak lama lagi, sebelum bangkrut dan jatuh, sebaiknya anda membeli kain kafan, karena dimasjid jarang menyediakan kain kafan untuk orang seperti anda, kain kafan juga enggan membungkus tulang anda yang sudah alot. Anda tidak tahu jika kain kafan sekarang pemilih jika ingin membungkus tubuh seseorang."
Tangan kakek Zidan sudah terangkat ingin menampar Marsha, namun dengan cepat Zidan menahananya.
Marsha hanya melirik tak peduli pada Zidan, setelahnya dia berlalu meninggalkan tempat pertunangannya menuju kamar. Dia muak jika harus mendengar perdebatan dan berdebat, meninggalkan orang-orang yang sebagian bersimpati padanya, namun tak banyak yang salut atas ketegaranya, dan rasa hancur yang begitu dalam untuk Zidan.
Rasya mengusir keluarga Zidan, rasa hancur Marsha membuat hatinya hancur dua kali lipat dari yang Marsha rasakan. Namun sebelum keluarga Zidan pergi, Mahesa mengungkap kenyataan yang tak banyak diketahui orang.
"Kamu memang laki-laki paling bodoh di dunia ini Zidan, karena telah dibohongi oleh kenyataan, nyatanya wanita yang mengaku telah melahirkan mu kedunia ini, dia tidak sakit seperti yang kamu lihat," Mahesa tertawa mengejek "aku bersimpati padamu, karena telah dibohongi oleh keluarga mu sendiri."
__ADS_1
Kakek dan Naima menarik lengan Zidan agar tak mendengar ocehan tak berguna Mahesa.
Setelah kepergian keluarga Zidan, tanpa disangka Rasya menarik baju Abdi, dia mengahdiahi bogeman diwajah Abdi.
"Apa yang kamu lakukan Rasya?" Mama Rika tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Karena kelakuannya dulu Ma, Marsha harus menanggung akibatnya."
"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak melakukan itu tadi pada Zidan? Atau pada kakeknya? Kamu sadar apa yang terjadi pada Marsha akibat ulah kamu juga? Masih ingat apa yang kamu lakukan pada Mawar dulu? mungkin kamu sedang memetik hasilnya sekarang Rasya," Mama Rika menggeleng.
"Lihatlah, ini hasil dari perbuatan kalian semua, tidak seharusnya kejahatan dibalas kejahatan, karena itu seperti rantai yang akan terus berputar hingga anak keturunan kalian yang akan menanggungnya."
Abdi dan Rasya tertunduk, menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan dulu.
"Tapi kalau Marsha tidak menjadi anak angkatnya, ini tidak akan terjadi Ma." Rasya tetap tak terima.
"Apapun alasannya, itu akibat yang kamu lakukan dimasa lalu, mau kecil atau besar, akan ada akibatnya."
Mawar beranjak, dia akan melihat putrinya kekamar, ia terpikirkan perasaan Marsha, pasti anaknya sangat terluka dan terpukul. Indah menarik tangan Mawar.
"Aku ikut mba." Mawar tersenyum dan mengangguk kecil. "Mba maaf atas yang dulu pernah terjadi, Marsha harus merasakan-"
"Sudahlah Indah, mungkin ini takdir yang harus Marsha jalani, dia anak yang kuat, ayo kita lihat dia bersama."
Setelah mengetuk tiga kali, pintu kamar Marsha terbuka, Marsha sudah mengganti pakaiannya. Ketiganya duduk di tepi ranjang Marsha duduk ujung ranjang besar Marsha.
"Marsha-"
"Mam, i'm okey," potong Marsha, melihat ketegaran anaknya, justru Indah dan Mawar yang menagis. Mereka memeluk Marsha.
"Maafkan Amam dan Bunda."
__ADS_1
Marsha mengangguk, mengusap lengan kedua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya, memaksakan untuk terlihat baik-baik saja, dia tak ingin menambah beban orang tuanya, atas apa yang terjadi sebenarnya, dia sangat terpukul, istana cinta yang baru saja coba dia bangun harus runtuh seketika.