
Zidan tidak terpancing sama sekali atas ucapan Mahesa. Dia tidak akan menyerah untuk memberi tahu sebuah kenyataan yang mungkin saja akan membuat Mahesa dan keluarganya terkejut.
Zidan meminta izin pada teman-teman Mahesa untuk membantu membawa Mahesa ke mobilnya, dan menyakinkan pada teman-teman Mahesa jika dia adalah kerabat Mahesa. Zidan tak lupa meninggalkan kartu identitasnya untuk membuat teman-teman Mahesa yakin jika dia tidak akan melakukan hal aneh ataupun berbuat jahat.
Murni dia meminta pertolongan Mahesa.
"Lo mau bawa gue kemana an*ing?" maki Zidan di setengah sadarnya, saat telah dalam mobil Zidan.
"Kasih kejutan, anggap ini ucapan rasa terima kasih karena selama ini kamu sudah bantu aku."
"Gue nggak ngelakuin apa-apa to*ol, jadi turunin gue." Mahesa coba membuka pintu mobil Zidan. Tapi karena dia sedang dalam pengaruh alkohol, Mahesa merasa kesulitan.
"Lo mau culik gue kan? Biar gue nggak kawin sama Marsha," hahaha Mahesa tertawa seperti orang gi la "tapi lo duluan yang ngawinin dia, gue iklas kok kalo harus ngakuin bahwa anak yang dikandung Marsha anak gue," racaunya malah memberi tahu yang sesungguhnya pada Zidan.
Mobil Zidan yang tengah melaju sedang itu dibuat berhenti mendadak.
"Apa katamu? Marsha hamil?" Zidan bertanya dengan mata melotot, dia sudah mengira ini.
"Iya, tapi lo nggak mau tanggung jawab, lo tau? Dia bahkan mau gugurin kandungannya."
Mendengar penuturan Mahesa Zidan mengusap wajahnya. Hatinya begitu sakit mengetahui kenyataan yang sesungguhnya, Zidan semakin merasa berdosa dan bersalah pada Marsha.
Zidan kembali melajukan kendaraan roda empatnya itu tatkala klakson dibelakangnya sudah saling bersahutan dan memaharahinya.
Zidan membawa Mahesa ke rumah kontrakannya.
Tidak mudah membawa orang yang tengah mabuk, Zidan bahkan kesusahan memapah Mahesa hingga keruang tamu, dan menidurkanya di sofa. Laki-laki setengah mabuk itu terlihat tak berdaya.
Zidan kemudian masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel cadangan yang tak bisa disadap atau diketahui oleh Nasyat ataupun Naima. Zidan mencoba menghubungi nomor Marsha, namun sayang ponsel Marsha kini tak aktif lagi. Berkali-kali Zidan mencoba menghubungi Marsha, tetap sama, nomor itu diluar jangkauan.
Zidan melempar ponselnya diatas kasur, berkacak pinggang, duduk ditepian kasur menjambak rambutnya keras, seakan ingin mencabut seluruh rambutnya yang kini kepalanya terasa sangat pusing. Zidan menyesali dia yang begitu lemah, tidak bisa melawan kakek dan mamanya sendiri.
Zidan menyambar kunci mobilnya, keluar kamar, dilihatnya Mahesa yang kini sudah terpejam di sofa. Tak menimang, Zidan melangkah keluar, menuju mobil, menstarter dan menjalankan mobilnya membelah jalanan menuju kediaman Marsha.
Tekat Zidan sudah bulat, dia harus menemui Marsha, meminta Marsha untuk tak menggugurkan anaknya.
Jalanan cukup lengang karena memang sudah menjelang dini hari, dan kurang dari lima belas menit, mobil Zidan kini telah terparkir di depan pagar tinggi rumah Marsha.
Zidan menggedor pagar rumah Marsha hingga menimbulkan suara bising agar didengar oleh penjaga disana. Dan benar saja tak lama laki-laki paruh baya denga seragam putih terlihat berlari tergopoh-gopoh menuju pagar untuk melihat siapa pelakunya.
"Woiii ada apa malam-malam ganggu orang istirahat?" Seketika penjaga rumah itu terperangah ternyata Zidan pelakunya. "Pak Zidan."
"Pak bisa saya mau bertemu Marsha. Ini penting, ada sesuatu yang harus saya jelaskan." pinta Zidan begitu panik.
"Maaf Pak Zidan, bapak bilang, Pak Zidan tidak boleh datang lagi kesini."
"Pak ini penting, kalau tidak panggilkan saja pak Rasya." Zidan berpegang pada pagar itu masih berdiri diluar.
"Tidak bisa Pak, anda sudah tidak diterima lagi disini apapun alasannya."
"Pak, saya mohon, ini sangat penting." pintanya tak menyerah.
__ADS_1
"Ada apa ini?" keduanya melihat pada suara Rasya, ya Rasya yang memang belum tidur mendengar suara bising dari luar, dia melihat apa yang terjadi.
"Oh kamu! ada keperluan apa lagi kamu kesini?" Seringainya begitu mengejek atas kedatangan Zidan.
"Pak saya tahu saya salah, tapi biarkan saya bertemu Marsha. Satu menit saja, ada yang ingin saya bicarakan pada Marsha."
"Jangankan satu menit, satu detik saja kamu saya haramkan untuk melihat putri ku, dia terlalu berharga untuk diberikan pada buaya seperti mu."
"Pak, saya ini ayah yang dikandung Marsha, jadi saya ingin bertanggung jawab atas anak saya."
"Jadi kamu sudah tahu? Sayangnya aku menyetujui Marsha untuk membuang anaknya, karena keluarga kami tidak ingin memiliki keturunan seperti keluarga kalian yang pendendam."
"Pak! Kenapa anda melakukan itu? Sama saja kalian sudah membunuh bayi yang tidak berdosa, kenapa bapak tidak mengizinkan dia untuk lahir kedunia dulu. Lalu berikan pada saya, saya akan mengurusnya. Kenapa anda kejam?"
"Kamu pikir Marsha sudi mengandung anak dari mu? Dari pada bayi itu lahir cacat dengan keadaan ibunya yang depresi berat, lebih baik kami mengiklaskanya sekarang, mempertahankannya sama saja menyiksa Marsha dan bayi itu."
"Aku rasa penjelasan ku sudah cukup, bocah tengik. Marsha juga sudah aku kirim lagi keluar negeri untuk melanjutkan S2-nya. Dan melupakan laki-laki bejat tak bertanggung jawab seperti mu." Rasya berbalik masuk kerumahnya.
"Tidak Pak, tidak mungkin itu terjadi? Marsha wanita kuat, aku yakin dia tidak setega itu melakukannya. Tolong Pak, biarkan saya menjelaskan Marsha tentang keadaan saya, jangan pisahkan aku dengan Marsha. Aku sangat mencintainya."
Rasya menghentikan langkahnya, kemudian berbalik, melihat Zidan yang masih memegangi besi tinggi pagar rumahnya.
"Cinta mu palsu. Keluarga mu menginginkan anakku gila seperti ibu mu. Tapi mereka tak tahu, jika anaknya yang akan gila. Kamu tahu? gila bisa menular pada keluarga yang lainya."
"Pak usir dia, jangan membuat keributan dirumah. Mengganggu yang lainnya." Pesan Rasya pada penjaga rumahnya, sebelum menghilang dibalik pintu besar rumah miliknya.
Zidan menyandar lemah dimobilnya, menendang ban mobil yang tak bersalah. Dia tak sanggup membayangkan keadaan Marsha jika memang Marsha depresi akibat ulahnya, jika sudah seperti ini, dia bukan hanya kehilangan Marsha, tapi juga anaknya.
Namun seketika dia ingat Mahesa, Mahesa bia ia jadikan kunci untuk bisa menembus kembali keluarga Marsha. Semua belum terlambat, dia bisa memperbaiki semuanya.
* * *
Keesokan paginya. Mahesa memijit keningnya yang terasa pusing. Keningnya berkerut menyesuaikan cahaya yang sudah nampak terang. Mahesa melihat sekeliling, kecil, dia berada dirumah yang tak terlalu besar, dia berada diruang depan, dilihatnya tidak ada apapun, hanya sofa dan satu televisi yang tertempel di dinding. Cukup rapi dan bersih.
Kemudian matanya langsung berpindah menatap pada ruang yang merupakan dapur dan kamar mandi. Mahes langsung bangkit saat ia ingat jika semalam di melihat Zidan, dan Zidan membawanya.
"Udah bangun?" Zidan keluar dari kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Najis, keadaan macam apa ini? Gue kayak habis party terus tidur sama patner ranjang gue. Ngapain lo bawa gue kesini?"
"Aku mau m menawarkan kerja sama."
"Apapun itu gue nggak tertarik."
Zidan melempar map coklat ke meja dihadapan Mahesa, menunjuk dengan dagunya agar Mahesa melihat isi amplop tersebut.
"Nggak penting."
"Sangat penting karena ini ada hubungannya sama Misya, cewek yang hampir tidur sama kamu. Dan dia adalah tunangan ku, terpaksa." Zidan kemudian kembali masuk ke kamarnya.
Mahesa menatap map itu tak minat. Dia berjalan menuju pintu ingin keluar.
__ADS_1
"Buka pintunya an*ing." Mahesa menendang pintu itu.
"Buka dulu amplop itu. Baru kamu aku izinin keluar." Teriak Zidan dari salam kamar.
"Lo pikir gue go*lok mau nurutin perintah lo."
"Setidaknya kamu tahu jika di dunia ini kamu nggak sendiri, masih ada kakek mu yang bisa menyembuhkan nenek kamu yang sama seperti ibu ku." Sahutnya lagi berteriak.
Masih memegang handle pintu, Mahesa mengerutkan kening mencerna ucapan Zidan. Zidan tahu neneknya yang berada dirumah aman?
"Kalau aku jelasin kamu tidak akan percaya, tapi setelah tahu kenyataan ini. Aku yakin kamu tidak akan menyesal."
Zidan menaikkan sebelah satu alisnya "Apa mau lo? Gue nggak mau bikin kesepakatan." Mahesa seakan tahu tujuan Zidan.
Zidan keluar kamar, dia sudah rapi dengan pakaian santai, celana jeans dan kaos hitam polos berkerah.
"Terserah sih, yang penting aku sudah memberi tahumu yang sebenarnya. Karena aku tidak mau kamu jatuh ke perangkap wanita ular itu. Apalagi kalau terbukti jika dia adalah-" Zidan menjeda ucapannya, "aku tidak tahu, aku takut salah."
Mahesa berjalan mendekati Zidan, Mahesa yang memang masih muda gampang sekali terpancing emosinya.
"Dia siapa?" cengkram Mahesa kerah kaos Zidan.
Zidan terlihat santai tersenyum penuh kemenangan "Baca dan lihat isi map itu."
* * *
Dilain tempat, Valent Xavier sudah sampai di kantor Mahardika. Kantor utama Mahardika corp.
Dia datang dengan kursi roda yang di dorong sekretarisnya dan diiringi dua bodyguard.
Kedatangan mereka disambut oleh anak buah Mahardika. Dan langsung dipersilahkan memasuki ruang milik Mahardika itu.
Mahardika yang sedang duduk di kursi kebesarannya berdiri saat Valent sudah masuk ke ruanganya.
"Senang bisa bertatap muka langsung dengan anda tuan Mahardika, pantas anda memiliki cucu yang begitu cantik. Diusia anda yang sudah memasuki usia senja masih terlihat sangat tampan dan gagah." Puji Valent apa adanya.
"Saya cukup tarsanjung dengan pujian anda tuan Xavier." Tak ada jabat tangan. Mahardika duduk di sofa yang diperuntukkan untuk menyambut tamunya.
"Saya sangat menyesali yang terjadi antara cucu kita. Semua salahku yang terlalu antusias ingin bertemu cucu ku. Sampai aku harus duduk di kursi dorong-dorong seperti ini."
"Sangat pas untuk anda diusia sekarang." Mahardika tertawa.
"Ya, memang pas sekali." Valent tampak ingin langsung pada pembahasan inti "Kedatangan ku hanya untuk membahas kelanjutan hubungan cucu kita. Zidan tidak bersalah dalam hal ini. Dia dijebak oleh orangtuanya yang gila, jadi aku harap kamu masih bisa memaafkannya."
"Apa buktinya jika dia cucu mu? Nyatanya dia adalah anak dan cucu dari Nasyat. Aku tidak sudi cucuku menikah dengan keturunannya. Lagipula semua sudah berakhir, Zidan memilih keluarganya, aku pikir itu bukan pilihan mudah untuk dirinya."
Valent menghembus nafasnya berat. "Berikan satu kesempatan untuk cucu ku. Aku yang akan menjamin jika dia anak yang baik."
"Aku serahkan pada Marsha, dan takdir yang akan menentukan, sebab sekuat apa Marsha menjauh, jika memang mereka harus bersatu, aku bisa apa?"
"Kalau begitu mari kita sama-sama membuat Nasyat jatuh, karena dia memiliki satu orang partai politik yang sangat berpengaruh di negeri ini."
__ADS_1