Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Marsha diam termenung dikamarnya, dengan lutut ditekuk ditutup dengan selimut tebal, karena diluar baru saja turun hujan. Marsha memikirkan nasib pernikahannya yang berada diujung tanduk, jika Zidan tidak bisa membuktikan ucapannya, maka berakhirlah sudah pernikahan yang didapatkan penuh perjuangan dan lika-liku itu.


Semalam Rasya terlihat sangat murka, dan melihat kedatangannya dengan menyeret koper besar dengan perut besar sangat menggoreskan luka terdalam dihati Rasya dan Mawar. Meski begitu, laki-laki yang masih terlihat tampan dengan keriput di kulit wajahnya sudah terlihat dan rambutnya sudah memiliki dua warna yang berbeda itu tetap menyambutnya dengan pelukan hangat penuh kasih sayang, wajah sedih dan terluka jelas tergambar diwajahnya. Marsha terenyuh, dia menyadari, belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya tapi selalu menggoreskan luka untuk keduanya.


Suara getar hapenya tanda ada pesan yang masuk membuat Marsha menoleh kesamping kanan, dimana ia meletakkan ponselnya diatas nakas. Tangan Marsha terjulur untuk menjangkaunya. Marsha mengernyit, dari nomor baru, siapa?


Saat ia membuka, wajah lelah Zidan tengah terlelap langsung menyambutnya, dada Marsha terasa sangat sesak, matanya berkaca-kaca, apa maksud Zidan tidur disana? Apa seperti cara ia menyelesaikan masalah dengan menyakitinya terus menerus? Apa harus dekat dengan wanita yang jelas-jelas ingin menghancurkan rumah tangga mereka? Apalagi ini jelas sekali wanita itu sedang memanas-manasinya.


Zidan! Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya?


Ketukan di pintu kamarnya membuat Marsha cepat-cepat menghapus air mata yang sudah mengembeng, Marsha menarik nafas mengatur emosi.


Kepala Mawar menyembul seraya tersenyum lembut.


"Mama boleh masuk?" Marsha mengangguk mengiyakan.


Mawar berjalan menghampiri putrinya. Duduk disisi tempat tidur, mengelus rambutnya sayang.


"Mama dapat telepon dari Bunda, katanya Mahesa hari ini lamaran."


Marsha terkejut, mengerutkan keningnya. "Lamaran? Dengan siapa?"


"Bunda saja tidak tahu, apalagi Amam?"


"Memang ya tuh anak aneh. Mungut perempuan dari mana dia? Kenapa dia tidak mengabari Marsha?"


"Coba saja kamu hubungi dia." suruh Mawar. Marsha kembali melihat ponselnya dan itu jadi mengingatkannya lagi dengan pesan yang dikirim Susan. Marsha mendèsàh.


"Halo, Mahesa. Kamu ingin lamaran?"


"Iya, kenapa?"


"Kenapa tidak mengabari ku? kamu menganggap ku bukan saudara lagi?"


"Tidak, aku tidak menganggap kamu saudara lagi, karena kamu memilih laki-laki yang salah."


"Apa hubungannya, Mahesa?"


"Tentu ada, aku sakit hati." Jawab Mahesa sekenanya.


Marsha menarik nafas. "Siapa wanita itu?" desaknya ingin tahu.


"Kenapa mau tahu, cemburu? disaat hubungan mu dengan laki-laki itu memburuk, sedang aku kini bahagia. Anggap ini karma karena kamu telah menyakiti aku, Marsha and the bear."


"Percaya diri sekali kamu, aku yakin jika ini hanya main-main. Ayo jujur kalau tidak aku akan bilang pada Bunda jika kamu hanya main-main dengan wanita ini dan hanya menjadikannya pelampiasan."


Sial, selalu saja Marsha tahu jika dia berbohong. "Apa sih? Mau tahu aja urusan orang. Jangan ikut campur urusan ku, urus aja rumah tangga kalian. By." jawab Mahesa ketus dan segera mengakhiri telepon ini, jika tidak, kebohonganya akan terbongkar.


"Ayah tahu apa yang kamu bicarakan dengan Marsha." Suara Abdi mengagetkan Mahesa.


"Ayah?"


"Marsa selalu tahu kamu berbohong." Ucap Abdi, "apa ini ada hubungannya dengan ucapan Zidan tempo hari? Dan kamu memutuskan tidak melibatkan Ayah dalam masalah ini?"


Mahesa menggaruk keningnya, kemudian menatap wajah tua Abdi, laki-laki baik yang mau menerimanya, yang mengurusnya dari kecil seperti anak kandungnya sendiri. Tak tega jika tidak jujur, akhirnya dia mengajak Abdi ke taman belakang, menceritakan rencana dia dan Zidan.


"Apa? Jadi kamu mendapatkan semua buktinya?" Mahesa mengangguk.


"Aku sangat berterima kasih dengan Zidan, Yah, karena bantuanya, akhirnya semua terbongkar."


Abdi sampai tediam. Dia tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Bantu Zidan menjelaskan dengan Apap Rasya, Yah. Karena Apap Rasya hanya mau mendengarkan Ayah. Zidan melakukan ini untuk melindungi keluarganya. Dia begitu menyayangi Marsha."

__ADS_1


"Iya, itu pasti, Ayah pasti akan menjelaskan ini pada Rasya. Ayo kita cepat bersiap, Ayah sudah tidak sabar ingin melihat wajah orang itu."


* * *


"Mahesa bohong? Apa dia hanya bohong masalah lamaran ini?" Mawar yang mendengar obrolan Marsha dan Mahesa jadi ingin tahu.


"Entahlah Mam, lihat saja nanti. Amam tahu Mahesa tidak pernah dekat dengan wanita manapun, jikapun dekat, pasti akan butuh waktu lama."


Mawar mengangguk, memang agak aneh, Mahesa mau lamaran tapi Indah pun tak tahu wanita yang ingin dilamar Mahesa, bertemu pun belum pernah, dan ini terkesan sangat buru-buru, padahal kata Indah Mahesa ingin melamar wanita itu seminggu lagi, tapi secara mendadak Mahesa mempercepat lamaranya.


* * *


Ditempat berbeda, Zidan membuka matanya saat Susan sudah menutup pintu rumahnya, Zidan beringsut bangun, mengintip lewat jendela dengan menyibak tirai yang menutupi jendela. Susan naik taksi online, Zidan melihat nomor plat mobil itu dan menghubungi seseorang untuk mengikutinya.


Zidan sendiri langsung berlari ke kamar mandi guna menghapus bekas kecupan bibir Susan, dia sampai menggosok kuat dengan telapak tangannya, jangan sampai ada sedikit sisa yeng tertinggal, dia merasa sangat jijik.


Zidan sampai tak ingin menggunakan sabun atau apapun yang ada dirumah Susan, karena ia tak ingin ada bekas barang Susan sedikitpun yang menempel dikulitnya, hanya boleh ada jejak Marsha disana.


Kemudian Zidan berlari ke mobilnya, ia pun segera mengganti pakaianya yang selalu tersedia didalam mobil, lalu membuang baju bekas ia tidur disofa milik Susan.


"Andai bisa ganti bibir dan tenggorokan, aku akan mengganti tenggorokan ku." ujar Zidan karena ia tak membawa gelas sendiri untuk meminum wine.


Zidan segera melajukan mobilnya mengikuti arah gps yang sudah dikirim orang suruhanya untuk mengikuti Susan. Zidan pun tak lupa menghubungi Mahesa, memastikan Mahesa juga sudah memulai dalam rencana mereka. Dan Zidan bisa bernafas lega, saat Mahesa sudah dijalan menuju rumah Misya, dan Abdi akan membantunya bicara pada Rasya nanti.


Dari jauh Zidan sudah bisa melihat taksi online yang membawa Susan. Zidan hapal betul jalan ini menuju tempat penyeberangan sebuah pulau.


"Jadi selama ini dia menyembunyikan mereka disini?" Gumam Zidan. Zidan memperlambat laju mobilnya, jangan sampai Susan melihat ia mengikutinya.


Tak lama mobil Susan melambat dan berhenti, terlihat Susan turun, ia celingukan kekanan dan ke kiri, takut sampai ada yang melihatnya. Kemudian Susan masuk ke dalam salah satu speedboat yang bersandar diantara puluhan speedboat lainnya.


"Mama, Papa." Susan memeluk kedua orangtuanya.


"Susan. Kamu apa kabar?" tanya mamanya seraya melerai pelukan mereka.


"Baik. Mama sama Papa?"


Susan mengernyit. "Bukanya Papa yang menghubungi dan mengajak bertemu?"


"Tidak, Papa tidak ada begitu, apa Mama?"


"Mama juga tidak." sahut Mama Susan.


Mereka saling pandang.


"Susan, apa kamu mengajak seseorang kerumah mu?"


Susan terdiam.


"Zidan." ucapnya kemudian setelah menyadari bahwa dia mengajak Zidan masuk kerumahnya. "Ini tidak mungkin?" Susan menyugar rambutnya kebelakang dengan kedua tanganya frustasi.


"Siapa dia Susan?" Tanya papanya dengan tatapan mengintimidasi.


Susan tak menjawab, dia berbalik ingin keluar. Tapi didepan sudah ada petugas kepolisian mengacungkan senjata api kearahnya.


"Jangan bergerak, menyerahlah, tempat ini sudah kami kepung."


Susan mundur mengangkat kedua tangannya keudara menyerah. Mama dan papanya saling tatap, lalu diantara para polisi itu, muncullah Zidan.


"Hai Susan. Kita bertemu disini."


"Zidan kenapa kamu bisa disini?"


Zidan semakin melangkah mendekati Susan. "Bertemu kamu." Kemudian tatapanya berpindah ke kedua orang tuanya. "Dan mereka."

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


Zidan tersenyum menatap Susan. "Jangan ketus bicara pada atasan," ucapnya menyeringai. "Sejak kamu mengancam ku saat aku meminta mu keluar, aku sudah mencari tahu tentang kamu, Susan. Apalagi sampai kamu mengatakan ingin mencelakai anak dan istriku, kamu pikir aku akan diam saja?"


Zidan sampai mendekatkan wajahnya pada wajah Susan. membuat tubuh Susan bergetar, ia tak menyangka Zidan bisa semenyeramkan seperti ini.


"Tadinya aku hanya menyelidiki saja, ada hubungan apa kamu dan Marsha dulu. Ternyata kalian teman satu sekolah, tapi sejak dulu kamu membenci Marsa karena banyak yang menyukai Marsha. Dan kecelakaan orang tua mu," Zidan kembali melihat mama papa Susan yang saling merangkul menguatkan. "Hanya rekayasa kalian saja kan, agar asuransi mereka keluar?"


"Tidak! Itu tidak benar, aku tidak mengenal mereka." sangkal Susan berteriak.


"Iya, kami tidak saling kenal." Kedua pasangan itu juga menyangkal.


"Kalian jelaskan saja ini dikantor polisi," Zidan menatap Susan dan orang tuanya bergantian. "Andai kamu tidak mengusik Marsha lebih jauh, aku tidak akan melakukan ini karena aku memiliki perasaan, tapi kamu melewati batas, Susan." Sungguh, aura kharismatik Zidan entah melayang kemana? Zidan kini terlihat sangat menakutkan dan menyeramkan dimata Susan.


"Zidan aku tidak melakukan apa-apa pada Susan, yang aku lakukan itu sesuai fakta dan kenyataan jika istri mu itu tidak becus mengurusmu."


"Dan itu tidak menjadi urusan mu. Aku mencintainya lebih dari apapun di dunia ini, jadi aku tidak menuntutnya apa-apa, KENAPA JADI KAMU YANG REPOT?" Zidan sudah tak bisa menahan emosinya, sungguh dia kehilangan banyak waktu berharga hanya untuk mengikuti permainan Susan, dan mencari kebusukan Susan.


"Bawa mereka Pak. Jangan bebaskan mereka." Zidan menoleh sedikit kebelakang bicara pada polisi.


"TIDAK! Zidan, jangan lakukan ini, mereka bukan orang tua ku, mereka sudah meninggal, aku bisa menunjukkan makam mereka." Teriak Susan saat kedua tangannya diborgol oleh polisi.


"Lepaskan anakku, atau kalian semua akan mati?"


Papa Susan mengeluarkan senjata apìnya dari saku celana belakang, dan mengàcùngkan didepan petugas polisi dan Zidan. Tanpa ia sadari, jika ia telah mengakui Susan anaknya, Zidan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia berbalik ingin keluar, tapi Papa Susan menarik pelatuk pìstòlnya dan dòòr, peluru itu mengenai Zidan.


* * *


Mobil Mahesa dan keluarganya berhenti didepan rumah yang baru disewa Misya dan papanya. Rumah besar dua lantai yang mereka sewa beserta isi dalamnya dengan harga yang cukup tinggi. Ini juga karena Mahesa telah mentranfer sejumlah uang kepada Misya dengan nominal sepuluh juta. Bagaimana tidak Misya dan Burhan langsung menerima Mahesa dengan cepat walau terkesan mendadak?


"Pa, mereka sudah datang." teriak Misya pada sang papa dari depan pintu. Burhan sedang menikmati kudapan nikmat yang sudah jarang ia temui di ruang makan keluarga.


Burhan pun segera membersihkan mulutnya dan berdiri, untuk menyambut kedatangan calon besan. Ia dan Misya menunggu didepan pintu, sedang yang menyambut kedatangan Mahesa dan keluarganya, teman-teman Burhan dari bisnis barunya.


Mahesa dan Abdi melangkah dengan dada berdebar, ingin tahu respon Indah dan Masnah saat bertemu dengan Burhan. Mereka bersalaman dengan para penyambut tamu,lalu berjalan menuju rumah Misya.


Pandangan Indah, dan Burhan bertemu. Lalu pandangan Burhan berpindah pada Masnah yang duduk dikursi roda yang dorong Abdi. Indah, Masnah dan Burhan sama-sama saling tatap, untuk mengingat wajah didepan mereka.


Masnah dan Burhan masih berpikir keras mengingat siapa mereka, tapi Indah yang berusia lebih muda dan begitu melekatkan wajah Burhan dalam pikirannya karena memang dia menunggu, berharap dalam pertemuan tak sengaja bisa bertemu Burhan, mengingat siapa Burhan.


"Paman Burhan." Lirih Indah membuat Masnah mendongak menatapnya. Dada Indah terlihat naik turun karena ia yakin yang dilihatnya benar Papa Selly.


"Burhan suami Disa?" tanya Masnah, Indah mengangguk lemah. "Astagfirullahaladzim." Masnah langsung menatap Burhan tak percaya, lalu menatap Misya yang diam tak mengerti dengan keadaan yang terjadi.


"Pantas ibu tidak asing dengan mukanya. Burhan kamu masih hidup? Dan ini anak mu?"


Burhan baru mengingat siapa Indah dan Masnah hampir dibuat limbung jika ia tidak berpegangan tangan dengan Misya.


"Pa, ada apa?" Misya langsung memegangi tangan Burhan. Burhan tak dapat menjawab, dia ngebleng, pikirannya yang berharap mendapat besan kaya seketika musnah.


"Akhirnya Burhan, kita bertemu lagi setelah sekian lama." Suara Masnah meninggi, betapa tidak? Burhan telah menipu mereka habis-habisan dan meninggalkan Disa dan Selly, membuat hidup mereka menderita.


"Papa mengenal mereka?" tanya Misya, lalu memandang Mahesa.


"Sangat, sangat mengenal, Misya." Mahesa yang menjawab, "apalagi dengan kedua wanita ini." Mahesa menunjukkan foto keluarga ukuran 10×10'. Disana Misya melihat potret Burhan saat masih muda.


"Itu papa?" Misya bertanya pada Burhan.


"Iya, mereka anak dan istri Papa yang kita cari, Misya." Burhan mengakui.


"Lantas, kamu siapa Mahesa?"


"Aku anak dari anak papamu, dan anak dari laki-laki yang ia tabrak lari." Jawab Mahesa menggebu, dadanya sesak, sebisa mungkin ia menahan air yang berdesakan ingin keluar dari pelupuk matanya. Bukan hal mudah bagi Mahesa mengakui itu.

__ADS_1


Abdi menepuk pundak Mahesa menguatkan, ia tahu Mahesa sedang sangat rapuh. Sedangkan Masnah dan Indah terkejut dengan pengakuan Mahesa.


"Nggak, nggak mungkin, ini nggak mungkin?" Misya menggeleng, tak bisa menerima kenyataan ini, dia sudah berharap lebih hubungannya dengan Mahesa. Jika seperti ini, hidupnya dan papanya akan hancur.


__ADS_2