
Tiga bulan berlalu.
Usia kandungan Marsha sudah memasuki umur tujuh bulan, perutnya sudah makin terlihat membesar, rumah tangganya bersama Zidan semakin harmonis dan bahagia.
Sejak awal Marsha memang berbeda dari wanita lain, dia jarang melayani suaminya, kecuali dikasur, dia memeberi pelayanan terbaik pastinya.
Selian itu, tugas yang lain yang ia lakukan hanya menyiapkan pakaian yang akan Zidan kenakan ke kantor saja, sedangkan untuk urusan memasak, Zidan lah yang lebih sering memasakkan untuknya, atau pembantu dirumah yang menyiapkan makan, selebihnya Marsha 'lebih pintar memesan dari pada memasak'
Sebagai seorang suami yang sudah tahu akan kekurangan serta kelebihan istrinya, Zidan tak pernah menuntut dan mempermasalahkan itu. Yang terpenting hubungan mereka bahagia, 'kan?
"Zidan, kamu kapan libur? Kan katanya kalau udah tujuh bulan boleh belanja keperluan bayi?" ujarnya manja sambil merapikan dasi suaminya.
Zidan tersenyum merapikan rambut Marsha. "Sabar ya, aku lagi sibuk banget soalnya bulan-bulan ini. Padahal aku juga nggak sabar banget buat belanjain untuk keperluan anak kita."
Marsha tak marah, dia paham itu. Zidan sedang berusaha membahagiakannya dan menafkahinya dari hasilnya sendiri, bukan dari warisan perusahaan kakeknya, dan memang Zidan sedang membangun dua hotel baru sekaligus.
"Udah lama banget aku nggak kemana-mana, aku mau ajak Amam dan Bunda belanja ke Singapur aja ya? Sore pulang, aku pastiin sebelum kamu pulang, aku udah dirumah."
Zidan menunduk, mencium perut istrinya. "Hai baby boy dady, nanti Mommy mau ajak kamu jalan-jalan sama nenek, kamu jangan nakal ya sayang, jangan bikin Mommy repot." Zidan menempelkan telinganya ke perut Marsha seolah bisa mendengar jawaban anaknya didalam perut Marsha.
"Yes daddy, aku nggak akan ngerepotin mommy, aku kan anak daddy dan mommy yang baik." ujar Zidan dengan suara yang dibuat seperti suara bayi.
Marsha tertawa.
"Makasih ya sayang, temani mommy. Laporan sama daddy kalau ada yang lirik-lirik mommy." Kembali Zidan menempelkan telinganya, seakan berkomunikasi dengan sang anak.
"Iya daddy, nanti aku marahin kalau ada yang lirik-lirik mommy." Zidan mengusap perut Marsha sayang, dan menghujani perut itu dengan banyak kecupan.
"Kerja sama yang baik, daddy." usap Marsha rambut Zidan, "terus kalo daddy nakal diluar siapa yang laporain ke mommy?"
"Nggak ada, karena daddy nggak akan nakal, hati daddy sudah sepenuhnya daddy kasih ke mommy, nggak akan ada yang bisa merebut lagi dari daddy."
"Bisa dipercaya?"
Zidan berdiri menangkup wajah Marsha. "Bodohnya aku kalau sampai tergoda oleh wanita lain diluar sana. Sudah punya istri paket lengkap, cantik, pintar, aneh, galak, cerewet, baik, pandai memuaskan di kasur," Zidan mengaduh saat pinggangnya mendapat cubitan semut dari Marsha, "sakit sayang, itu poin utama bikin aku nggak bisa lepas dari kamu."
"Mèsum."
"Rumah tangga akan semakin harmonis kalau banyak kemesuman didalamnya, percaya deh. Dari pada banyak ributnya."
"Tapi kamu kelewat mèsum hei tuan Zidan terhormat."
"Oh ya? seperti ini bukan?" Kecup Zidan bibir Marsha yang maju karena tangkupan pipinya. Marsha menggeleng.
"Begini?" Ulangnya menyambar bibir Marsha, kali ini bukan hanya kecupan, tapi ciuman dalam yang saling berbalas, lidah mereka saling melilit didalam sana, dengan kepala yang bergerak kekanan ke kiri.
Pelan Zidan membuat tubuh Marsha mundur dan berhenti saat kakinya membentur kasur, bukan melepaskan tautan bibirnya, Zidan merebahkan tubuh Marsha dan mengungkungnya, kalau sudah posisi seperti ini, Zidan tak akan bisa berhenti, tangannya pun sudah menarik lepas dress hamil milik istrinya.
"Zidan kamu udah rapih loh." Ingatkan Marsha suaminya yang akan ke kantor.
"Sebelum kamu jalan-jalan, aku akan komunikasi langsung sama anak kita, kasih tanda tangan perjanjian."
Marsha tertawa. "Ada-ada aja." Kemudian tanganya membantu melepaskan jas milik suaminya itu. "Oke, tanda tangan sesuka yang kalian mau."
Akhirnya pagi itu mereka kembali mengulang aktifitas yang mereka lakukan hampir setiap malam, pakaian Zidan yang sudah rapih kembali tergeletak di lantai, suara desàhan dan èrangan saling bersahutan di kamar besar mereka.
Mereka yang sudah mandi, harus mandi kembali, dan Valent yang sudah menunggu di meja makan, harus dibuat menunggu lagi karena dua sejoli itu tak kunjung turun.
__ADS_1
"Perut kamu nggak papa kan, aku nengokin anak kita tiap hari gini?" Zidan bertanya saat mengeringkan rambut istrinya, menatap wajah cantik yang membuatnya tak bisa berpaling ke lain hati.
"Hem, kamu ngelakuinya hati-hati, jadi nggak papa."
"Jadwal periksa tiga hari lagi kan?" Marsha mengangguk. "Kita akan periksakan sama-sama."
"Zidan, kamu yakin nggak mau jenguk mama kamu?"
"Kalau aku pulang malam, kamu jangan tungguin aku, tidur saja duluan."
Marsha mencebik. "Mengalihkan saja terus, Zidan aku sudah sering izin sama kamu buat jengukin mama kamu, tapi kamu selalu nggak kasih izin dan kamu nggak pernah mau aku ajakin, nanti sebelum ke Singapur, aku mau besuk mama."
Zidan diam, menatap manik coklat dari pantulan kaca. "Kamu tidak mengerti perasaan ku, Marsha. Sudahlah biarkan dia menjalani hukumanya, kamu jangan cari masalah, mama aku bukanlah wanita berhati seperti amam Mawar dan bunda Indah."
"Sekeras apapun hati seseorang, kalau kita lembutin dia akan berubah, aku yakin itu, aku yang membenci kamu aja bisa berubah dan maafin kamu. Padahal kalau aku mau, aku tinggal tunjuk laki-laki yang mau menjadi ayah dan suami buat aku. Tapi aku masih kasih kamu kesempatan."
Zidan menarik nafas dalam, dia tahu kesalahannya akan diungkit, dan setiap membahas perihal mamanya, Marsha pasti menceramahinya dan mengingatkan itu. Itulah sifat Marsha yang sangat ia suka, walau Marsha terkadang terkesan ketus tapi jauh didalam lubuk hatinya dia begitu baik.
"Aku butuh waktu."
"Kelamaan."
"Aku sudah kesiangan, yuk kita turun."
"Selalu mengalihkan." Marsha berdiri, berbalik menatap Zidan kesal.
Zidan kembali membuang nafas kasar. "Aku akan pikirkan nanti, jangan diributkan, aku yang tahu sifat asli mama ku. Aku sudah sering kali dikhianati, aku anak kandungnya saja tak pernah ia pikirkan masalah kebahagiaan ku. Apalagi kamu yang menjadi target awalnya."
"Aku nggak takut," sahut Marsha, Zidan hanya menghela nafas. "Zidan kamu tahu nggak sih? Aku lagi hamil ini kadang berpikir, aku bisa makan dan tidur enak, tapi mama kamu disana nggak, apa kita bukan anak yang durhaka, setidaknya apa kamu nggak mau bebasin dia."
Zidan tahu itu, tapi dia membiarkan ini sampai Marsha melahirkan, dia tak mau terjadi apa-apa pada Marsha, karena dia tak bisa menjamin mamanya akan berubah dan akan membahayakan keselamatan Marsha dan anaknya.
*
*
*
Sesampainya dikantor, Zidan memesan makanan pada sekretarisnya, gal biasa yang ia lakukan, tak ingin membuat istrinya kerepotan, Zidan lebih sering meminta sekretarisnya menyiapkan sarapan paginya.
Wanita cantik bertubuh tinggi dengan body tak kalah aduhai dari model itu mengetuk pintu, dia membuka pintu saat terdengar sahutan dari dalam.
"Sarapan anda, Pak." ucapnya dengan suara dibuat seksi.
"Letakkan diatas meja saja, Susan." jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer dihadapanya.
Bukan langsung keluar, Susan sekretaris Zidan mendekat ke meja Zidan, kesal karena Zidan selalu cuek padanya.
"Setengah jam lagi kita akan meeting bersama investor yang dari Surabaya, Pak."
Zidan mengalihkan pandangannya dari komputer menatap Susan. "Oh oke, kamu sudah siapkan semua presentasinya kan?"
Susan mengangguk. "Saya sudah siapkan semua Pak. Demi kelancaran cabang kita yang baru." Susan memberikan senyum termanisnya.
"Terima kasih, Susan. Kamu sudah banyak membantu saya." Zidan berdiri, berjalan menuju meja akan menyantap sarapannya yang dibelikan Susan.
"Bapak sering banget sarapan dikantor, apa istri Bapak tidak pernah menyiapkan sarapan dirumah?" Zidan tersenyum mengingat kegiatan panasnya bersama Marsha tadi pagi, hahh, dia kembali ingin mengulang itu saat pulang nanti.
__ADS_1
"Marsha tidak pernah siapin aku sarapan, dia tidak sempat."
"Maksudnya? Istri Bapak tidak mau gitu melayani Bapak, apa karena dia anak orang kaya?"
Tangan Zidan bergerak melambai, menelan susah makanannya, sigap Susan memberikan air mineral pada Zidan. Zidan menerima botol air mineral dari Susan.
"Bukan, bukan karena itu, kamu tahu sendiri istri saya itu dulunya pebisnis dan pengusaha. Dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Aku tidak mau saja setelah dia menikah dengan saya, dia jadi kecapean."
"Tapi bukanya itu memang tanggung jawab istri walau sebelumnya istri Bapak tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu."
"Kamu tahu tidak Susan? terkadang wanita sebelum menikah tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, tapi setelah menikah dia mengerjakan pekerjaan rumah sendiri? Aku merasa jadi laki-laki egois harus menuntut dia melakukan itu, sedang dulu orang tuanya yang membesarkannya tidak pernah memintanya melakukan itu. Jadi aku akan memperlakukan dia sama seperti saat dia tinggal bersama orang tuanya. Maeratukan dia, bukan malah membuatnya seperti pembantu rumah tangga, itu menikah menurut saya."
"Saya tidak menyalahkan para suami yang apa-apa harus dilayani istri, rumah tangga menurut orang itu berbeda-beda, bagaimana cara mereka memandangnya. Sah-sah saja sih, yang terpenting rumah tangga itu tetap harmonis."
Susan tampak mendengus kesal.
"Enak sekali yang menjadi istri Bapak. Tapi seharusnya istri Bapak tidak bertindak demikian, melayani suami tetaplah tanggung jawabnya, meski Bapak tidak meminta itu. Apalagi yang saya lihat, istri Bapak tidak ada perhatiannya sama Bapak. Tidak pernah datang ke kantor seperti istri-istri lain."
"Aku tidak masalah, Susan. Marsha menemani kakek dirumah, dan tugasnya harus bahagia menjadi istri ku. Menghabiskan uang hasil kerja keras ku." Zidan telah menghabiskan makannya. Kemudian dia berdiri.
"Ayo, siapkan bahan meeting kita. Tinggal sepuluh menit lagi." lihat Zidan waktu ditanganya, Zidan berjalan menuju meja kerjanya, mengambil tablet miliknya, kemudian berlalu meninggalkan Susan yang kini bersedekap, mencibir Marsha yang tidak perhatian pada suami.
Menurutnya yang dilakukan Marsha salah, dia jadi kasihan pada Zidan.
* * *
Ditempat lain.
Seorang wanita yang mengenakan kaca mata hitam, dan dress hamil berwarna hitam semata kaki, berjalan anggun dengan perut besarnya. Rambut coklat bergelombang miliknya ia biarkan tergerai, makin memperlihatkan pesonanya yang selalu menjadi pusat perhatian dimana pun dia berada.
Bukan sedang berjalan di koridor pusat perbelanjaan Singapur, tapi dia sedang berjalan menuju tempat lembaga pemasyarakatan khsus wanita. Sebelum terbang ke Singapur Marsha memutuskan untuk mengunjungi Naima terlebih dahulu, seharusnya setelah pernikahannya dengan Zidan dia mengunjungi Naima, namun Zidan tak mau diajaknya, dan tak mengizinkannya, kali ini dia mencuri-curi dari Zidan, diam-diam mengunjungi Naima seoarang diri.
Marsha duduk di tempat yang dibatasi dengan kaca, menunggu kedatangan Naima. Saat Naima keluar dengan tangan yang diborgol dan dijaga dua petugas, Naima menghentikan langkahnya melihat siapa yang datang.
Tatapan mereka bertemu, dengan gaya anggun khasnya, Marsha melepaskan kaca mata hitamnya dengan gerakan slow metion, tak lupa rambutnya ia kibaskan bak model iklan sampo.
"Hai, Mama mertua," sapanya saat Naima sudah duduk dihadapanya. "Mama mertua apa kabar?" tanyanya.
Naima diam, menatap kosong Marsha dihadapanya, dia tak tahu harus bicara apa pada Marsha. Marsha tak perduli Naima yang tak membuka suara sama sekali.
"Ehem, Ma aku dan Zidan sudah menikah, Mama sudah tahu belum?" tanyanya memajukan wajahnya. "Sudah tiga bulan lebih sih, Ma. Maaf baru sempat mengunjungi Mama." meski tak ada respon apapun dari Naima, Marsha mendorong kursi yang didudukinya.
"Mama lihat, perut aku sudah besar." Marsha memiringkan tubuhnya, memegangi perutnya dengan kedua tangannya menunjukkan pada Naima. Kemudian dia kembali duduk.
"Kandungan aku sudah tujuh bulan, rencananya hari ini, aku sama Amam dan Bunda mau ke Singapur belanja keperluan anak kami, tapi kayaknya nggak jadi," ceritanya.
Naima tetap diam, Marsha tak bisa mengartikan diamnya Naima, namun Marsha tak perduli itu, sikap cueknya tak merasa kecewa dengan respon Naima. Marsha mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini foto hasil usg anak kami yang lalu," Marsha mendorong kertas yang menunjukkan wajah anak mereka yang masih dalam kandungannya.
"Ini hasil usg lima dimensi, Mama harus tahu, sekarang teknologi semakin canggih, jadi wajah anak kami sudah terlihat. Anak kami laki-laki, Mama bisa lihat, dia tampan seperti Zidan, dan baik hati seperti aku. Tiga hari lagi kami akan periksa, Mama harus mendoakan anak kami sehat selalu, harus ya Ma."
Masih tak ada tanggapan apapun dari Naima. Marsha berdecak.
"Hidup kami sekarang bahagia sekali, tapi kebahagiaan kami akan lebih sempurna jika ada Mama. Aku merasakan bahagianya hamil, dan aku berjanji akan membuat anak kami selalu bahagia."
"Ma, aku bisa membebaskan Mama kalau Mama mau," ucap memberi penawaran, Marsha memajukan wajahnya mendekat pada Naima. "Sebagai istri aku mau membahagiakan Zidan, aku sedih melihat dia hidup sendiri, sampai dia membangun tembok tinggi pada kakek Valent, karena trauma hidup yang kalian berikan padanya," ucapnya menohok.
__ADS_1
"Masih ada kesempatan jika Mama memang sayang sama Zidan. Pikirkan baik-baik, Ma. Aku akan datang lagi, ya ... semoga bisa bersama Zidan." Marsha berdiri, kembali memakai kaca mata hitamnya. "Jaga kesehatan Mama," ucapnya sebelum berlalu, sengaja Marsha meninggalkan kertas usg-nya agar Naima melihatnya. Dan benar saja, Naima membawa kertas usg cucunya kedalam ruanganya setelah kepergian Marsha.
Dari jauh, Valent tersenyum, melihat video Marsha dari anak buahnya. Sengaja dia mengirim orang untuk mengawasi Marsha dari jauh demi menjaga keselamatan Marsha.