
Zidan dibuat bingung, Marsha tiba-tiba mendiaminya sejak diperjalanan pulang dan sampainya mereka dirumah. Sikap Marsha berubah 180 derajat, saat dikantor istrinya itu terlihat begitu ceria dan banyak bicara, kini diam seribu bahasa, ditawari makan dan diajak makan pun dia hanya menjawab dengan gelengan kepala tanpa bersuara.
Sungguh membuat Zidan bingung.
Benar kata orang, sebagai seorang lelaki harus memiliki ilmu cenayang, agar bisa tahu apa yang sedang dipikirkan wanita tanpa disalahkan.
Dari pada menebak-nebak, Zidan memilih bertanya langsung.
"Sayang, kamu kenapa? Aku ada salah? Kok kamu jadi diam begini? Apa ada yang kamu rasa?" Zidan menutup pintu kamar, melepaskan jas yang sejak pagi membungkus tubuhnya, berjalan mendekat dan memeluk Marsha dari belakang saat istrinya itu melepaskan sepatunya.
"Awas, aku mau mandi." tepis Marsha tangan Zidan.
"Mandi bareng." Zidan tak melepaskan pelukanya, malah mengecupi leher Marsha.
"Awas, aku nggak mau mandi bareng pembohong," Marsha mendorong kepala Zidan untuk menjauh.
"Pembohong apa hem? aku mana berani bohong sama kamu," coba memancing agar istrinya mau jujur apa sebenarnya kesalahannya tanpa menghentikan aksinya.
Marsha membalikkan badan, melepaskan pelukan Zidan. "Kamu nggak pernah cerita kalau sekretaris kamu suka nyiapin sarapan dan bawain makanan buat kamu, kamu juga suka nganter dia pulang kan? terus kamu juga mampir dan makan malam dirumahnya," Marsha tak bisa memendam apa yang tak ia suka, berujung dia menangis dan sakit hati.
Masalah tak akan selesai jika hanya diam dan menangis, dia bukan tipikal wanita yang seperti itu.
Zidan terdiam, itu memang benar.
"Apa yang diceritakan Susan padamu?" Marsha mendengus, membuang muka, sakit sekali rasanya mendengar pengakuan Zidan, dan lebih sakit dia tahu itu dari mulut Susan sendiri.
"Aku memang suka minta dibelikan sarapan, jika aku tidak sempat sarapan dirumah, tapi soal dia membawakan makan, hanya beberapa kali, katanya dia bawa makan lebih, dan tak sempat turun karena memang pekerjaannya banyak."
__ADS_1
"Tapi aku nggak suka, kalau dia nggak sempat turun kamu bisa minta tolong sama OB," ketusnya tanpa menatap Zidan.
"Iya, maaf soal itu. Aku akan berusaha sarapan dirumah, kalaupun tidak sempat aku minta mba siapin untuk aku bawa bekal."
Marsha sadar seharusnya itu tugasnya sebagai seorang istri. Marsha memejam, meredam emosional, setelah mengatur emosinya Marsha kembali menatap Zidan.
"Kamu harus cerita semua apa yang kamu lakukan diluar sana tanpa aku tanya, Zidan. Apalagi mengantar wanita lain, kamu harus izin dulu sama aku," Marsha mengungkapkan keinginannya, jujur sejak siang tadi dia menahan diri untuk tidak marah, tapi justru memperlihatkan kemesraan pada Susan.
Jika dia memperlihatkan pertengkaran dengan Zidan karena perbuatan wanita ular itu, sudah pasti wanita ular itu akan senang.
"Iya, aku berusaha akan mengatakan apapun yang aku lakukan diluar sana, termasuk dengan sekretaris ku. Tapi kamu tahan emosi kamu, kamu sedang hamil," Zidan mencoba mengambil tangan Marsha, tapi Marsha segera menepisnya,
"Sayang, jangan seperti ini. Aku akui salah memang pernah mengantarkan dia pulang. Tapi itu juga cuma sekali, karena sudah larut malam kami pulang dari meeting, dan aku merasa bertanggung jawab atas dia, kalau terjadi apa-apa padanya aku akan merasa bersalah, karena tidak pernah kami pulang selarut itu."
"Tapi kamu nggak kasih tau, harusnya kamu kasih tau aku," bicaranya sudah sedikit melemah.
"Kamu sayang aku kan, Zidan?"
"Kamu menanyakan itu, sayang?"
"Kamu tinggal jawab."
"Iya, aku sayang kamu dan anak kita."
"Aku minta ganti sekretaris kamu, bisa? kamu ganti sekretaris laki-laki saja, atau wanita tua nenek-nenek, aku nggak suka sekretaris kamu." Aku Marsha jujur, dia sangat mengenal siapa Susan.
Sedikit cerita tentang Susan. Susan dan Marsha dulu merupakan teman satu kelas saat sekolah menengah atas, tapi Susan tak pernah menyukainya, karena banyak laki-laki yang mengejar-ngejar Marsha, termasuk Axcel.
__ADS_1
Padahal Marsha itu terkenal sebagai siswi judes, tidak ramah, angkuh, dan juga sombong. Tapi heranya, mengapa laki-laki banyak yang menyukainya? Dia memang cantik, tapi bukankah attitude lebih utama dibandingkan fisik?
Sedang Susan merupakan murid teladan, pintar, cantik dan juga ramah. Susan juga aktif dalam kegiatan keorganisasian di sekolah, tapi setiap laki-laki incaranya, justru menyukai Marsha.
Marsha sadar betul jika banyak yang tidak menyukainya, maka dari itu dia tidak memiliki teman. Teman disekolahnya hanya, Mahesa, Puma, dan kedua adik kembarnya. Sedang laki-laki yang terang-terangan menyukainya, harus berhadapan dengan Mahesa, karena Mahesa juga sangat menyukai Marsha.
"Sayang, mana bisa aku memecat karyawan aku tanpa alasan, lagian kerja dia bagus, kok. Susan nggak pernah buat masalah juga, kasihan Susan kalau dipecat, dia itu anak yatim piatu, sebatang kara juga, apa alasan aku memecatnya?"
Marsha mengangkat sebelah alisnya. "Sebatang kara?"
"Iya. Orangtuanya meninggal dalam kecelakaan tunggal saat ia pertama kerja disini. Aku dulu tidak terlalu tau penyebabnya, aku hanya dengar saja. Kan saat itu aku sudah mulai sibuk kerja jadi sekretaris kamu."
"Aku tidak mau ada alasan, yasudah kalau kamu tidak mau memecatnya. Besok kamu makan saja apapun yang dia kasih, terus cerita juga sama dia, kalau aku nggak pernah nagapa-ngapain dirumah, bisanya cuma menghabiskan uang kamu saja."
Zidan menahan Marsha. "Please, kasih aku waktu. Susan sudah banyak berjasa dalam usaha ku, aku tinggal kemana saja dia yang menghandle semuanya, mana mungkin aku memecatnya begitu saja tanpa alasan," Zidan sudah sangat lelah, banyak masalah yang ia hadapi membuat kepalanya terasa mau pecah, ditambah Marsha mengajaknya berdebat dan meminta sesuatu hal yang tidak masuk akal.
"Oh ya, satu lagi, aku tidak pernah menceritakan apapun, tugas mu kan memang menghabiskan uang ku, jika masalah kamu tidak pernah membuatkan masakan karena aku rasa itu bukan suatu kewajiban yang harus kamu lakukan. Makanya aku mengatakan itu padanya."
"Iya, terserah kamu Zidan. Tapi dia senang tahu kejelekan ku. Keluarlah, aku lelah harus debat sama kamu. Bela saja dia dari pada aku istri mu."
"Marsha, please. Oke, aku akan memecatnya jika hotel di Surabaya dan Bandung sudah selesai, karena dari awal dia yang mengurusi." keputusan akhir Zidan ambil, dia tidak bisa memecat Susan begitu saja, dia tidak yakin bisa menemukan sekretaris secekatan Susan.
"Benar?" Marsha tersenyum, senang dengan keputusan Zidan.
"Iya." Zidan merentangkan kedua tanganya, Marsha berhambur kedalam dekapan suaminya itu.
Setelah ada perdebatan, pasti ada aktivitas panas setelahnya, Zidan masih menikmati indahnya pengantin baru, tak bisa melewatkan jika ada kesempatan.
__ADS_1
Valent yang mendengar perdebatan cucunya itu jadi penasaran dengan sosok sekretaris Zidan. Diapun memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu tentang Susan.