
Tak ada tanda-tanda Marsha akan membuka pintu atau menjawab panggilannya, segera Zidan mendobrak pintu kamar mandi itu, pikiran Zidan sudah begitu buruk takut Marsha melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidupnya. Beberapa kali mencoba dia gagal, hingga kemudian pintu itu terbuka, Marsha sudah tergeletak dengan pecahan kaca berserakan menyatu dengan lantai, masih dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya.
"MARSHA." Zidan begitu terkesiap mendapati wanita yang terlihat kuat itu ternyata begitu lemah.
Zidan segera menggendong Marsha, membawanya kekamar dan meletakkan diatas tempat tidur. Zidan menghubungi nomor resepsionis untuk memanggilkan dokter.
Tak lama datang seseorang mengantarkan pesanan Zidan pakaian ganti untuk Marsha.
"Cepat, tolong panggilkan dokter terbaik yang ada disini." Perintah Zidan pada kurir yang mengantarkan pakaian itu, dia tak tahu yang mana yang cepat datang, dia ingin Marsha segera ditangani.
"Iya Pak." Sang kurir mengangguk, kemudian berlalu, cepat memanggil dokter.
Zidan mengambil tangan Marsha yang lemah tak berdaya itu, tangan Marsha terasa begitu panas, raut khawatir tak bisa lagi Zidan sembunyikan? Dia panik, Zidan mengusap-usap tangan Marsha mengalirkan hawa hangat pada Marsha.
Apa kamu senang melihatnya seperti ini Zidan? Tidak? tidak sama sekali, Zidan justru begitu takut Marsha pergi. Harus seperti apa hidupnya tanpa Marsha? Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Marsha dengan segala celoteh dan marahnya, dia benar-benar tak bisa kehilangan Marsha.
"Marsha tolong bertahanlah, aku sayang kamu Marsha, aku mencintai mu." Zidan mengecupi berkali-kali tangan Marsha dan dia ingat jika Marsha tadi sempat mengalami demam akibat obat yang mungkin diberikan pada Marsha dengan dosis yang cukup tinggi.
"Aku berjanji akan menghukum orang yang telah melakukan ini Marsha, termasuk melawan kakek ku sendiri jika kakek benar ada dibelakang semua ini." Zidan memeriksa pergelangan tangan Marsha satu persatu, takut jika Marsha dengan berniat mengakhiri hidupnya dengan cara memotong urat yang ada disana.
Zidan menghela nafas lega, saat tak menemukan ada bekas luka disana, itu berarti murni Marsha pingsan karena dia demam tinggi, lalu kenapa kaca yang ada dikamar mandi pecah? Ahh itu tidak penting, yang terpenting sekarang Marsha harus segera ditangani.
Zidan dibuat terkejut saat ponsel Marsha terus mengudara begitu memekakan telinga, Zidan mengambil ponsel Marsha yang masih berada dalam tas yang semalam Marsha pakai, nama Matthew tertera disana, Zidan mengumpat kesal, dia mematikan sambungan telepon itu tanpa berniat mengangkatnya, tak perduli ini urusan pekerjaan atau dia sekedar ingin tahu kabar Marsha.
Zidan segera memakaikan pakaian Marsha, agar saat dokter datang dia sudah siap, dan tak curiga apa yang terjadi. Kemudian Zidan merapikan kamar mereka yang cukup berantakan, hingga kemudian terdengar suara ketukan dipintu, segera Zidan membukakan pintu, seorang wanita cantik datang dengan jas snellinya sambil mengulas senyum.
__ADS_1
"Dengan pak Zidan?" Tanya dokter itu memastikan.
"Iya," jawab Zidan cepat, dilihat dari seragamnya Zidan tahu jika wanita muda didepanya pastilah seorang dokter "tolong periksa istri saya Dok, dia mengalami demam tinggi." Zidan memberitahu gejala yang dialami Marsha, dia memundurkan langkah mempersilahkan dokter itu masuk dan memeriksa Marsha.
Sang dokter mulai mengeluarkan semua peralatannya, memeriksa Marsha. "Demamnya cukup tinggi, saya akan pasangkan infus untuk membantu agar demamnya cepat turun, sepertinya pasien mengalami dehidrasi. Apa tadi dia sempat pingsan?" Dokter wanita itu bertanya, dan Zidan menjawab iya, sang dokter segera mengeluarkan alat-alat penting yang biasa dibawanya, dia cukup sigap karena mungkin terbiasa dengan tempat yang cukup jauh dari rumah sakit ini.
Zidan memperhatikan apa yang dokter itu lakukan.
"Jika infusnya habis tapi demamnya belum turun, tolong segera bawa di kerumah sakit." Zidan mengangguk, Dokter itu duduk melantai tanpa risih, sambil menuliskan resep dikertas, kemudian dia menyerahkan resep itu pada Zidan.
"Tadi saya kelupaan membawa antibiotiknya, anda bisa tebus diapotik."
Zidan melihat tulisan yang sedikit ia mengerti, "terima kasih Dok," ucapnya "bagaimana saya membayarnya? Maaf saya tidak membawa uang cash."
"Atas nama Denisa Puspitasari?" Zidan mendongak melihat pada wanita bernama Denisa itu yang mengangguk. "Done, terima kasih atas bantuannya sekali lagi Dok, maaf mengganggu waktu pagi anda, pasti anda sudah bersiap untuk kerumah sakit."
"Tidak masalah, ini memang sudah menjadi tugas saya, kebetulan saya jaga malam, dan sedang dalam perjalanan pulang lewat sini."
Setelah sang dokter berpamitan dan pergi, Zidan menutup pintu. Zidan berangsur duduk ditepi ranjang disisi Marsha, menatap nanar wajah Marsha yang terlihat sembab karena wanita itu menangis, kembali ponsel Marsha bergetar, dan sekarang nama Amam terlihat disana.
Zidan tak tahu harus mengangkat panggilan itu atau tidak, dia risau. Akan berkata apa jika dia menjawabnya? Sedang Marsha masih belum sadarkan diri. Zidan memilih untuk tak menjawabnya saja.
* * *
"Marsha nggak angkat telepon aku." Mawar menatap lesu pada gandetnya, saat ini dia sedang bersama Indah melakukan perawatan treatment dan masasage diklinik kecantikan langganan mereka, tidak hanya berdua, suami mereka juga ikut untuk melakukan perawatan pada wajah mereka untuk mengurangi garis kerutan diwajahnya.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi meeting Mam, tahu sendiri Marsha itu worlholic banget, pasti disana dia tidak menyia-nyiakan waktu." Indah coba memberi tahu.
"Aku merasa ada yang nggak enak, takut terjadi apa-apa sama dia."
Indah nampak memikirkan ucapan Mawar, dia juga tiba-tiba merasakan hal yang sama, tapi dia coba menepis semua rasa itu.
"Kita doakan semoga Marsha baik-baik saja, satu jam lagi kita hubungi kembali, siapa tahu dia benar sedang sibuk." Indah jadi teringat dengan aduhan Mahesa yang mengatakan jika sekretaris Marsha begitu mencurigakan, Mahesa saat ini masih menyelidiki identitas asli Zidan, walau Mahesa beberapa kali gagal karena selalu kehilangan jejak saat mengikuti Zidan, entah mengapa kini Indah lebih mempercayai perkataan Mahesa.
"Di, aku seperti tidak asing ya sama nama Xavier, itu nama belakang sekretaris Marsha, aku seperti tahu itu nama seorang pengusaha, tapi aku lupa." curahat Rasya pada sahabat yang merupakan mantan patner kerjanya juga, mereka telah selesai melakukan perawatan wajah atas paksaan dari istri mereka, walau terpaksa tapi tetap menurut.
"Udahlah, jangan sok-sokan mengingat nama orang, faktor usia memang seperti itu, lebih baik terus ingat tanggal pernikahan kalian biar Mawar tidak ngambek lagi, dan ingat istri sudah minum pil KB atau belum."
"Sial, aku serius," Rasya ingin menendang kaki Abdi, beruntung Abdi sigap menghindar "coba kamu ingat, pernah tidak kita menjalin kerja sama dengan seorang pengusaha bernama Xavier? Jika tidak aku akan memecat mu jadi ayah angkat Marsha." Rasya masih saja mengancam Abdi walau mereka sudah tak bersama seperti dulu.
"Yang lima menit berlalu saja aku sudah lupa Rasya, sekarang kamu memaksa mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun lalu? Kau waras? Hei kita ini bukan patner kerja lagi, sudahlah jangan paksa aku mengingat apapun, kita sudah tua, jika dipaksakan rambut putih ku akan berubah abu-abu nanti." Selalu seperti ini, kedua laki-laki itu jika berkumpul tak pernah serius membahas sesuatu.
"Kamu terlalu berlebihan Abdi, cepat cari tahu siapa itu Xavier, ini juga buat kebaikan putri kita, apa kamu tidak menganggap lagi dia putrimu? Kamu ingin berpaling pada anak lain?"
"Jaga mulut mu pak tua, kalau Indah menangkap separuh ucapan mu dia akan salah paham."
"Aku malah akan mengatakan pada Indah, jika kamu sedang mencari sugar baby." Rasya terbahak, begitu senang membuat Abdi kesal.
"Sialan kau Rasya." Umpat Abdi tak terima, dia bergidik ngeri jika hal itu benar terjadi. "Amit-amit, Indah ku saja seperti sugar baby ku saat ini, lihat dia masih begitu cantik diusianya yang hampir setengah abad."
"Istri ku juga, Mawar justru semakin tua semakin menarik."
__ADS_1