
Zidan merasa sangat senang, hari ini dia bisa melakukan perjalanan keluar kota bersama Marsha, hanya berdua, ya hanya berdua, Zidan terus membayangkan hari-harinya bersama Marsha, dia akan mengajak Marsha berkeliling pantai, menaiki speadboad, dan banyak kejutan lainya. Dan akan terus menjaga wanita itu, tak perduli Marsha menolaknya, tapi dia akan menjaganya sepenuh hati.
Pagi sekali Zidan sudah sampai dirumah Marsha, menyiapkan segala keperluan boss-nya.
Marsha turun dari kamar dengan penampilan rapih seperti biasa, dan tentu sangat cantik dimata Zidan. Zidan sampai tak berkedip olehnya, dan itu tak luput dari perhatian Mawar.
"Belum terlambatkan sayang? Kita sarapan dulu, ajak Zidan juga," Mawar yang sedang menata makanan melihat Zidan menyambut koper mini Marsha dari sang art.
"Terima kasih, Nyonya. Saya sudah sarapan." Tolak Zidan halus, dia melirik Marsha yang sama sekali tak melihatnya, entah Marsha tidak perduli atau sengaja menghindar darinya.
"Jangan panggil Nyonya, saya tidak terbiasa," ucap Mawar sembari menyiapkan sarapan sang suami, "panggil Tante saja biar lebih akrab, anggap saja seperti keluarga," ujarnya.
Hati Zidan berdenyut, seperti keluarga? Dia yang tidak memiliki keluarga besar rasanya sangat ingin masuk dalam keluarga besar Marsha, namun terkadang sekelebat bayangan mama yang menderita sendiri disana mengingatkannya.
"Kemarilah Zidan, ikut bergabung, meja makan ini sudah lama sepi, adik kembar Marsha jarang dirumah, ayo santai saja. Keberangkatan ke Batam masih tiga jam lagi," Rasya melihat jam yang melingkar ditanganya, laki-laki yang masih tampan itu sudah rapih dengan setelan kantornya.
"Ayo bergabung sama kami, kita berbincang ringan bersama," ajaknya lagi.
Tak elok rasanya jika menolak, tapi Zidan juga merasa tak pantas, dia dia tahu posisinya, walau sebenarnya dia sepadan dengan Marsha. Mawar terus mendesaknya untuk sarapan bersama, namun Zidan menunggu Marsha yang menawarinya, sayangnya boss-nya itu nampak cuek dan tak peduli sedikit pun dan enggan melihatnya sama sekali.
Padahal yang sebenarnya terjadi Marsha begitu gugup setelah pernyataan Zidab kemarin, semalam dia tak bisa terlelap sama sekali, video Zidan yang menciumnya selalu terlintas, bahkan dia menyimpannya diponsel pintarnya, Marsha terus memutarnya, dan memperhatikan Zidan begitu tulus dan lembut melakukannya.
"Zidan, jangan terus berdiri disitu, ayo sarapan bersama, tidak baik menolak rejeki, tmTante yakin kamu belum sarapan, datang sepagi ini, apa orang tuamu sudah memasak?" Mawar kembali mengajaknya.
Zidan yang masih setia berdiri diambang pintu terlonjak "Saya tinggal sendiri Nyonya, tinggal dirumah kontrakan."
"Oh ya, orang tua mu dimana?"
"Mereka tinggal di Surabaya."
"Anak mandiri, makanya ayo sarapan." Mawar menghampirinya dan menarik Zidan, mau tak mau Zidan menurut dan mengambil duduk dideselah kiri Rasya, sebagai kepala keluarga, berseberangan dengan Marsha dan Mawar.
Ketika Mawar ingin mengambilkan roti panggang untuk Zidan, namun refleks Marsha melarangnya dan berdiri, padahal sejak tadi gadis itu tak perduli sama sekali pada Zidan.
"Biar Marsha saja Mam," Marsha langsung mengambilkan potongan roti dan menuangkan secangkir teh untuk Zidan.
Sontak Rasya, Mawar dan Zidan tercengang, Mawar sampai mematung dibuatnya, tanganyapun masih menggantung. Namun Marsha tak perduli, setelah menyajikan sarapan dihadapan Zidan, Marsha kembali duduk, dengan tenang dan biasa saja.
Rasya berdehem "Apap belum pernah merasakan dilayani anak gadis Apap saat sarapan." Sindir Rasya.
Marsha menatap Rasya sekilas, sebelum memasukkan potongan roti kedalam mulutnya "Kalau Zidan tidak dilayani, nanti dia ambil banyak Pap." Jawabnya santai tanpa beban.
"Marsha," tegur Mawar, sedang Zidan hanya tersenyum simpul atas apa yang Marsha lakukan.
Mawar menatap Zidan tak enak "jangan tersinggung ya Zidan, Marsha memang suka bicara seperti itu."
"Tidak apa Nyonya, saya sudah biasa." Zidan melirik Marsha, Marsha balik meliriknya dan mengangkat sudut bibirnya mencibir, sedang Mawar dan Rasya hanya tertawa.
__ADS_1
"Terima kasih Zidan, sudah bisa mengerti sikap Marsha, tidak banyak yang bertahan dengannya."
"Memang Marsha seperti apa Mam? Bukannya memang harus sabar jika orang bekerja, Marsha juga membayar Zidan tidak sembarangan, sesuai ketentuan, uang diabyar lembur sesuai. Dia harus bersyukur masih bisa bekerja, diluar sana banyak yang kesulitan mencari kerja, jaman sekarang memang seperti itu, setelah sudah dapat pekerjaan mengeluh, padahal jika mau sukses memang harus kerajaan keras." Marsha seperti mengungkapkan isi hatinya karena selama ini orang-orang hanya menilainya sebagai atasan yang otoriter.
"Apap setuju dengan apa yang dikatakan anak Apap. Jadi Zidan, kamu harus bersyukur bisa bergabung diperusahaan kami. Bekerja dimana saja harus kuat banting." Rasya membela karena dan Marsha memang bak pinang dibelakang dua sifatnya.
"Iya Pak, saya sangat mengerti." Hanya itu yang bisa Zidan ucapkan, karena memang benar adanya.
Mawar tersenyum "Saya titip Marsha ya Zidan, jaga dia dari orang-orang yang akan menyakitinya, saya percayakan sama kamu, saya yakin kamu anak yang baik, bisa bertahan sejauh ini bersama putriku. Hari-harinya habis untuk bekerja, kamu yang lebih banyak memiliki waktu bersamanya ketimbang kami orang tuanya, Saya tahu dunia bisnis tidaklah murni, saya takut ada yang ingin berbuat jahat padanya." Pinta Mawar tulus membuat hati Zidan merasa tercubit.
Iya, saya pasti akan menjaganya setulus hati, karena saya mulai mencintainya.
"Iya Nyonya, saya pasti akan menjaga Miss Marsha sekuat tenaga saya, saya berjanji akan selalu setia pada Miss Marsha juga perusahaan."
"Terima kasih Zidan, jangan sia-siakan kepercayaan kami." Zidan mengangguk hormat, tak menyangka jika keluarga Marsha akan mempercayainya.
Marsha tak merespon pembicaraan Zidan dengan kedua orangtuanya, dia berdiri, membersihkan mulutnya "Amam, Apap, Marsha berangkat sekarang, sudah terlambat."
Marsha berpamitan, kemudian masuk kedalam mobil menuju kebandara, diikuti oleh Zidan yang mengambil duduk disampingnya.
* * *
Kini mereka telah menaiki armada besi yang akan membawa mereka terbang untuk sampai ketempat tujuan. Keduanya duduk berdampingan, Marsha berada disisi jendela, dia terus menunduk, fokus pada i-padnya, namun dia dibuat terkejut karena Zidan secara berani merampas i-pad itu, menyembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Zidan apa yang kamu lakukan, aku sedang mengecek proyek yang sudah dirancang anak buah Matthew."
"Kita sedang dijalan Marsha, bersantailah sedikit," Zidan duduk menghadap Marsha, mendekatkan wajahnya pada Marsha. "Sejak tadi kamu menghindari ku, kenapa? Apa karena pernyataan ku kemarin? Jangan terlalu memikirkannya."
"Jangan terlalu percaya diri Zidan, kenapa aku harus memikirkannya, itu tidak penting, kembalikan ipad Ku." Marsha memberanikan melihat Zidan, membalas tatapan mata Zidan.
"Tidak! Aku ingin kamu bersantai sejenak, nikmati waktu perjalanan ini, Marsha."
Marsha bergidik ngeri, sunguh dia memang menghindari Zidan, perasaanya selalu tak menentu, dia takut dia terpancing, bagaimanapun dia juga wanita normal, nayatanya Zidan memilki magnet yang bisa saja meruntuhkan pertahanannya. Zidan selalu bisa membuatnya tidak bisa berpikir waras, lihat saja sekarang, dia begitu ingin Zidan memaksanya untuk menurut.
Marsha kemudian melihat sekeliling, dia baru menyadari jika didalam kelas bisnis ini hanya mereka berdua. Sial, akibat dia tak bisa konsentrasi dia sampai tak memperhatikan sekitarnya.
"Kenapa disini sepi Zidan?"
"Kenapa? Aku hanya ingin kamu nyaman."
"Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu inginkan Zidan?"
"Tadi sudah aku katakan, aku hanya ingin kamu nyaman." Zidan tak lagi mempedulikan jika Marsha akan curiga padanya, untuknya saat ini hanya ingin membuat Marsha tenang dan mereka hanya berdua.
Tak lama datang seorang pramugari mengantarkan makanan untuk mereka, bukan mereka, hanya untuk Marsha sebenarnya. Lemontea hangat dan kue chees cake kesukaan Marsha.
"Silahkan Miss," Zidan menyambut yang diberikan pramugari itu, untuk diberikan pada Marsha.
__ADS_1
Hanya hal kecil, tapi Marsha begitu merasa diperhatikan dan dispesialkan oleh Zidan. Marsha meneguk lemontea itu tanpa berucap sama sekali, kemudian memakan potongan kuenya.
"Beristirahatlah, perjalanan kita masih jauh, kamu harus cukup beristirahat." Zidan mengatur letak duduk Marsha, kemudian menyelimuti Marsha. Marsha menurut, padahal biasanya dia akan memprotes jika diatur oleh Zidan. Marsha berpura-pura memejam, berharap jika Zidan akan kembali menciumnya, nyatanya walau dia marah saat Zidan secara diam-diam melakukan itu terhadapnya, dia menginginkannya lagi.
"Marsha apaan sih, murah banget." Rutuk Marsha dirinya sendiri.
Lama Marsha menunggu Zidan melakukan itu, matanya juga terasa pegal karena harus berpura-pura, didalam hawa pendingin dari pesawat, tapi Marsha merasa berkeringat, didalam pikirannya berharap Zidan mengulang hal yang sama, nayatanya tidak, sampai diapun merasa lelah sendiri, kemudian tanpa terasa terpejam dengan sendirinya.
Sampai kemudian dia mendengar suara Zidan membangunkanya, Marsha ingin berlama-lama sampai keluar kata-kata ancaman dari Zidan.
"Jika Miss tidak bangun, maka aku akan mencium Miss lagi."
Tapi kenyataannya tidak, Zidan malah mengatakan hal sebaliknya.
"Jika Miss terlambat bangun, Miss akan saya tinggal dipesawat."
"Kurang ajar sekali kamu Zidan." Maki Marsha, kurang tidur membuat Marsha benar-benar mengantuk. Zidan hanya terkekeh.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam untuk sampai dipengininapan mereka, Marsha langsung mengecek lokasi yang akan dijadikan tempat diselenggarakannya show mobil mewah yang akan dihadiri dari berbagai negara itu.
Marsha bertemu dengan Matthew, lelaki berparas tampan khas Eropa itu mengajaknya berkeliling lokasi yang sudah siap delapan puluh persen itu.
"Bagaimana Sweety, kamu puas?"
"Puas, sesuai yang aku inginkan, lokasi ditepi pantai memang sangat diminati, terutama para touris asing, kita harus sering melakukan show seperti ini diberbagai tempat do Indonesia setiap tahunnya, sekaligus memperkenalkan pariwisata tempat tersebut agar semakin dikenal selain Bali."
"That's rigt, Sweety. Aku setuju, banyak temanku yang berminat, oh ya, nanti malam datanglah keacara ulang tahun temanku."
"Terima kasih Matt, tapi aku tidak janji."
"C'mon Sweety, akan banyak pengusaha yang datang, ini untuk sekedar memperluas relasi."
* * *
Malam hari, Marsha datang sendiri ke pesta ulang tahun teman Matthew tanpa mengabari Zidan, Marsha ingin menghindari sekretarisnya itu. Padahal jika Marsha menghampirinya sekretarisnya, Marsha akan tahu jika ada orang lain didalam kamar Zidan.
Misya mendatangi kamar lelakinya itu, mengajak Zidan minum bersama.
"Kenapa kamu bisa disini Misya?" Zidan memandang gelas berisi wine yang ada ditanganya.
"Aku menghadiri acara ulang tahun teman, aku melihatmu bersama boss racun mu itu, jadi aku mengikuti ingin tahu tempat menginap mu."
Zidan mengangkat sudut bibirnya, dia ingat Marsha yang diajak oleh Matthew untuk menghadiri acara ulang tahun temanya.
"Pergilah Misya, temui acara teman mu, sebentar lagi Marsha pasti datang untuk mengajakku menghadiri ulang tahun teman Matthew." Namun seketika pandangan Zidan meredup, badanya terasa panas, sesuatu dibawah sana bangkit saat melihat tubuh seksi Misya yang hanya dibalut gaun yang begitu memperlihatkan kedua gundukan dadanya. Mata Zidan terus menyorot pada benda menyembul yang minta disentuh itu.
"Apa yang kamu lihat Zidan?"
__ADS_1
Misya mendekat pada Zidan, membusungkan dadanya dihadapan Zidan, Zidan semakin terpancing ingin menyentuh benda yang terpampang didepanya, sampai tanpa terasa Misya duduk dipangakuanya, membawa tanganya untuk menyentuh aset sensitif miliknya itu.
Zidan sungguh tak kuasa lagi, dia kemudian mendekatkan wajahnya, menyatukan benda lembut mereka dengan tangan yang terus mere mas milik Misya, cecapan bibir mereka terdengar karena Zidan meraup bibir Misya begitu rakus, namun seketika dia teringat Marsha, dia rindu rasa cherry milik Marsha, namun tak bisa melepaskan pagutann itu.