
Susan masuk kedalam cafe dengan wajah yang ditekuk, dia terlihat sangat kesal sekali. Matanya menyapu seluruh ruang cafe mencari orang yang bertemu janji padanya. Kemudian matanya menangkap wanita berkaca mata hitam, duduk paling pojok cafe, wanita itu menggunakan masker, jika dia tidak teliti melihatnya, dia tidak akan mengenali jika wanita itu Misya. Misya melambaikan tangan agar Susan pun menghampirinya.
"Wajah mu tidak enak dilihat, Susan," cetus Misya menarik maskernya keatas.
"Aku kesal, Marsha membuatku seperti pembantunya." Susan mengambil duduk berhadapan dengan Misya, dia memanggil waiters dan memesan kopi.
Misya berpenampilan seperti itu, karena dia tidak mau jati dirinya diketahui banyak orang, meninggalnya Nasyat, dan gagalnya dia menikah dengan Zidan, membuat perusahaan Burhan bangkrut, tak ada yang bisa membantu mereka, hutang mereka sudah terlalu banyak, jadi Misya dan Burhan bersembunyi.
Kantor dan rumah mereka kini di sita bank, mereka meninggalkan banyak hutang, dan tidak membayar gaji para karyawan mereka. Misya dan Burhan menjadi buronan. Tapi ini sudah berlalu lama sejak kejadian itu, tak ada berita yang meliput, Misya pikir jika dia sudah aman, Misya memberanikan diri untuk keluar, ia bosan terus bersembunyi.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti itu?"
Susan menceritakan, dia yang ditelepon menggunakan nomor Zidan, tapi yang menelponya justru Marsha, Marsha memintanya datang ke sebuah pusat perbelanjaan, setelah dia melakukan pertemuan dengan pak Robert, dan meminta Susan membantu membawakan semua belanjaanya.
Yang membuat Susan lebih kesal lagi, Zidan hanya diam, membiarkan Marsha melakukan semuanya, memang bukan barang-barang berat, tapi itu sangat melecehkan profesinya sebagai seorang sekretaris, itu bukan tugasnya.
"Bukanya sebentar lagi kalian akan meninjau hotel Zidan yang ada di Bandung bukan? manfaatkan itu, Marsha sebentar lagi melahirkan, kamu bisa menahan Zidan lama disana, buat Marsha melahirkan tanpa suaminya."
"Hem, aku sudah merencanakan itu, tiga hari di Bandung, tiga hari di Surabaya." Obrolan mereka terjeda saat waiters mengantarkan kopi milik Susan.
"Apa kamu akan melakukan yanh dulu pernah aku lakukan pada Zidan?" tanya Misya.
Susan menggeleng. "Itu terlalu murahan," jawab Susan menyesap espresso miliknya. "Kamu dulu pernah melakukan itu dan gagal kan? membuat Marsha mengandung benih milik Zidan? Aku akan melakukan cara lain."
Misya manggut-manggut. "Aku percaya kamu, Susan. Sejauh ini saja Marsha nampaknya sudah mulai kepanasan dengan apa yang kamu lakukan. Buat dia semakin panas, dan hubungan mereka hancur secara perlahan."
"Itu mudah sekali sebenarnya, apalagi papa Marsha belum sepenuhnya menerima Zidan, itu yang aku tahu," sahut Susan, kemudian dia melihat arloji ditanganya, "sudah larut, aku ada pekerjaan yanh belum aku selesaikan, kamu juga jangan terlalu lama diluar, aku belum yakin posisi mu aman, Misya."
"Hem, terima kasih. Aku bosan terus bersembunyi sebenarnya, dan aku sedang mengincar satu laki-laki yang dulu hampir aku dapatkan."
"Siapa?"
"Kamu pasti tahu dia, Mahesa."
Mata Susan membola. "Mahesa saudara Marsha?"
Misya tersenyum seraya mengangguk, dia teringat Mahesa, Mahesa tak kalah tampan dari Zidan, dan jika dia lihatdari rumah Mahesa saat mengantarnya pulang, Mahesa berasal dari keluarga kaya, jadi dia bisa memanfaatkan Mahesa dan menjadikan Mahesa suaminya.
"Kami pernah hampir tidur bersama waktu itu, tapi aku gagal karena ibunya meneleponya, aku harus menemui dia lagi, mengajaknya minum bersama, dan menjeratnya."
"Semoga rencanamu berhasil, dan rencana ku juga berhasil. Kita hancurkan keluarga mereka sama-sama."
"Aku tidak berencana menghancurkan Mahesa, aku hanya ingin membuat dia bergantung hidup padaku saja, menjadikan aku istrinya. Karena dia tidak tahu jika aku pernah menjadi tunangan Zidan."
Tak jauh dari tempat mereka duduk, Mahesa sedang memperhatikan keduanya, ini cafe yang dulu didirikan Rasya bersama Abdi. Dan malam ini Mahesa tengah mengunjungi cafenya menggantikan Abdi. Mahesa mengamati wajah Misya, dan mencoba mengingat wajah Misya di balik kaca mata hitam dan masker itu.
"Aku seperti mengenalnya?" gumam Mahesa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
* * *
"Zidan, ini masih ada yang kurang, besok kita beli lagi ya? Strolerrnya tadi kelupaan sama tempat tidurnya." Marsha bicara sedikit berteriak karena Zidan sedang memakai baju di walk in kloset. Marsha tengah mengecek kembali belanjaanya.
"Iya, sayang. Besok kamu nggak usah ke kantor, biar aku aja yang jemput kamu." Zidan keluar hanya mengenakan kolor rumahannya. Menghampiri Marsha dan memeluknya dari belakang.
"Disebelah kan ada kamar kosong, kita buat pintu penghubung aja ya buat kamar baby, biar enak. Terus ganti cat sama wallpaper yang lucu-lucu. Kamu maunya wallpaper karakter apa?" Marsha mengusap rambut Zidan yang setengah basah. "Kok nggak pake kaos sih, nanti masuk angin." ujar Marsha merasakan dada keras Zidan tanpa penghalang dipunggungnya
"Ada kamu yang bisa ngeluarin anginya." Zidan mulai menelusuri leher jenjang Marsha dengan bibirnya, mengecupnya kecil-kecil, memberi rangsangàn pada Marsha.
"Malam ini libur dulu, kita hampir tiap malam ngelakuinya, perut aku sudah mulai nggak enak."
Zidan sedikit kecewa, mengangkat bibir menyudahi aksi nakalnya, tapi dia mengerti yang dirasakan Marsha. Usia kandungan Marsha sudah memasuki 32 minggu. "Kita sudah cek seminggu sekali kan sayang?" tanyanya kemudian mengusap perut Marsha yang sudah besar.
Marsha membalikkan tubuhnya, "Kamu tuh belum tua sudah lupa, dua minggu sekali, nanti seminggu sekalinya kalau umur 36 minggu." Ingatkan Marsha lagi, ia merajuk, padahal belum lama mereka memeriksa kandungannya.
"Kamu terlalu sibuk dengan sekretaris kamu, jadi lupa sama kewajiban kamu sebagai suami. Ini saja kalau bukan aku yang cerewet ajak kamu belanja, kamu lupa, sibuk sama pekerjaan kamu."
"Maaf." Zidan tahu jika istrinya mulai marah. Sebenarnya dia bingung kenapa Marsha sangat tak menyukai Susan, Susan baik padanya, tadi saja Susan mau menuruti apa yang Marsha perintahkan. Tapi salah lagi jika dia memperdebatkan itu, lebih baik dia mengalah dari pada harus ribut dengan istrinya.
Ingat, suami mengalah bukan karena kalah, tapi mengalah untuk menang.
"Besok aja beresinya, seharian ini kamu banyak jalan. Ayo aku pijat kaki kamu, aku tahu kamu pasti pegal," dibimbingnya tangan Marsha menuju tempat tidur dengan sangat mesra. Jika sudah seperti ini, Marsha luluh, amarahnya yang hampir meledak menguap begitu saja.
Marsha mengulum senyum, beruntung dia memiliki suami yang sangat pengertian, Zidan selalu bisa meredam amarahnya. Marsha mulai rebahan ditempat tidur dengan posisi miring ke kiri.
Zidan mulai menuangkan minyak telon kesukaan Marsha ketelapak tangannya, kemudian menangkupkan kesebelah tangannya, Zidan mulai memijat kaki istrinya dengan lembut.
"Bagaimana? Apa begini enakan?" tanya Zidan sambil mengelus punggung bawah Marsha.
"Hemm," Marsha hanya menjawab dengan gumaman, saking menikmatinya. Hampir setengah jam Zidan memijat kaki, punggung, dan tangan Marsha secara bergantian.
Tapi, istilah tak ada yang gratis di dunia ini juga berlaku pada Zidan.
Dengan perlahan tangannya menyusuri pangkal paha Marsha, sangat lembut dan perlahan, masih memijat, namun sesekali jemarinya menyentuh titik sensitif sang istri dibawah sana. Tanpa sadar Marsha mengeluarkan suara desàhan nikmat tak tertahan. Yes, Zidan bersorak dalam hati, pancinganya berhasil, tapi dia masih melakukan itu terus menerus sampai Marsha yang membuka lebar sendiri kakinya untuk ibadahnya pada suami.
Dan sepuluh menit kemudian, suara itu hilang berganti suara nafas Marsha yang teratur. Zidan melihat mata Marsha yang sudah terpejam, dia terkekeh sendiri, dia yang memancing istrinya, kini dia sendiri yang terpancing.
Tak tega jika harus memaksakan sang istri untuk melayaninya, akhirnya Zidan memutuskan pergi ke kamar mandi, dari pada dia tak bisa tidur semalaman karena tersiksa.
* * *
Esok harinya.
Jam delapan pagi Zidan sudah sibuk dengan pekerjaannya. Dia kembali mengecek keuangan kantornya. Ponsel Zidan bergetar tanda pesan masuk.
"Pak, maaf. Hari ini saya izin masuk, tiba-tiba kepala saya puding, dan badan saya sakit semua. Ini mungkin efek saya naik turun eskalator membawakan belanjaan istri Bapak." Susan.
__ADS_1
Kemudian pesan dari Susan kembali masuk. "Pak maaf saya kembali mengingatkan, jika siang ini kita ada meeting dengan investor, Maaf sekali lagi Pak. Saya tidak bisa menemani Bapak meeting untuk hari ini. Tapi saya sudah mengirim e-mail ke Bapak untuk bahan meeting kita."
"Tidak apa-apa, Susan. Kamu istirahat saja, kamu sudah berusaha keras untuk perusahaan saya selama ini, dan beberapa tahun ini kamu tidak pernah absen. Jangan lupa berobat, supaya kamu cepat sembuh." balas Zidan pesan Susan.
Kemudian Zidan menghubungi nomor Marsha.
"Sayang, maaf siang ini aku tidak bisa jemput kamu."
"Kenapa?"
"Susan tidak masuk, jadi aku harus menghandle pekerjaan ku sendiri. Maaf sayang, bagaimana kalau kita ganti hari lain."
"Hem, yaudah. Besok aja."
"Kamu jangan menyusul kesini, aku tidak mau kamu kelelahan."
"Hem." hanya menjawab dengan gumaman."
"Sayang kamu marah?"
"Enggak!"
"Aku minta maaf."
Aku bosan dengar permintaan maaf kamu
"Marsha, sayang. Jangan marah, aku janji besok kita jadi belanja."
"Hem."
"Sekali lagi aku minta maaf, tolong mengerti posisi ku. Marsha, aku lanjut kerja ya, kamu jangan telat makan." Panggilan berakhir, Zidan kembali melanjutkan pekerjaannya, sesekali dia menelepon Susan menanyakan pekerjaan.
Lihatlah, baru sehari Susan tidak masuk dia sudah kerepotan, begitu bergantungnya Zidan pada Susan, bagaimana dia memecat Susan, sedangkan pekerjaan Susan selama ini begitu baik.
Hingga jam makan siang, Zidan pergi kesebuah restoran melakukan meeting. Turun dari mobil menentang tas kerja, Zidan memasuki restoran tersebut dengan terburu-buru, dia sudah terlambat sepuluh menit. Namun Zidan dibuat terkejut, tiba-tiba ada Susan disana.
"Susan, bukannya kamu sedang tidak enak badan?"
Susan tersenyum manis, berdiri didepan pintu Vip restoran tersebut yang sudah di reservasinya. "Saya tidak tega meninggalkan Bapak meeting sendiri, selama ini saya yang menyiapkan segala sesuatunya untuk Bapak."
"Tapi kamu tidak apa-apa?"
"Sebenarnya masih sedikit pusing, Pak. Tadi saya sudah urut dan berobat, jadi agak mendingan."
"Selesai meeting kamu boleh pulang Susan, saya tidak mau kamu jadi tambah parah, saya agak kerepotan tidak ada kamu."
Sungguh senang bukan main hati Susan mendengar perkataan Zidan, Zidan sudah sangat bergantung padanya, akan semakin mudah baginya masuk ke kehidupan Zidan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Zidan keluar dari ruang vip restoran sambil memapah Susan masuk kedalam mobilnya. Susan terlihat tengah memerangi kepalanya, dan secara kebetulan mobil Marsha datang, dia bersama seorang wanita muda yang usianya tak jauh darinya.
Dada Marsha naik turun melihat itu, dadanya terasa mendidih, Zidan membohonginya? Bukankah katanya Susan tidak masuk? Lalu apa ini?