
"MARSHA CEPAT BUKA! Apa yang kamu lakukan didalam?" Mahesa berteriak membuat Abdi dan Rasya makin terkejut heran, Mahesa bertindak seperti seorang sedang memergoki pasangannya berselingkuh.
Begitu juga yang didalam sana, Marsha yang masih duduk diatas mejanya ia begitu terkesiap mendengar suara Mahesa, cepat-cepat ia turun, merapikan, pakaian dan tampilanya.
"Tidak usah panik Marsha, kita tidak melakukan apa-apa yang berbahaya." Zidan menundukkan pandangannya melihat wajah Marsha dengan memegangi bahu Marsha membuat wanita itu sedikit tenang, kemudian Zidan membantu merapikan rambut Marsha.
"Kamu benar Zidan, tapi itu Mahesa, dia bisa membuat kekacauan dan mengundang perhatian para pegawai yang lain," ujarnya.
"Mahesa apa yang kamu lakukan? Kita bisa mengetuknya baik-baik," marah Abdi, dan Rasya mengusir para pegawai dengan menggerakkan tanganya, Melati dan yang lainya pun mengangguk undur diri, tapi mereka sempat saling senggol bahu.
"Apa Miss Marsha bakal digrebek ya?" tanya salah seorang dari divisi keuangan.
"Nggak lah, aku yakin Miss Marsha nggak ngapa-ngapain didalam sama Zidan, biar galak dia wanita terhormat," bela Melati, bagaimanapun juga dia harus membela Marsha, karena dia bisa makan dan memenuhi segala keperluan hidupnya dari perusahaan Mahardika corp.
"Apa Ayah nggak khawatir dia didalam bersama siapa? Ayah dan Apap nggak lihat kaca ruanganya gelap?" tunjuk Mahesa, Rasya dan Abdi pun baru menyadari itu.
"Aku percaya anak gadisku," ujar Rasya santai.
"Tapi kita tidak bisa mempercayai sekretaris Marsha Pap," tegas Mahesa.
"Ayah tidak mengajari mu kurang ajar Mahesa, sabar dan tunggu kakak mu keluar." Abdi kembali mengingatkan, walau dia mulai curiga dengan Zidan, dia harus menahan diri, bagaimanapun reputasi Marsha adalah yang utama.
"Ada apa sih Hes?" Marsha membuka pintu dengan wajah kesal langsung menyemprot adik angkatnya. "Apap? Ayah?" Mata Marsha membola melihat kedatangan dua laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
"Kenapa kaca ruanganya di gelapkan, Marsha?" Rasya langsung menekan tombol remot membuka kaca ruangan Marsha, memperlihatkan beberapa pegawai yang berhubungan langsung dengan Marsha. "Apa yang kamu kerjakan? Kenapa pintunya di kunci? Apa yang kalian berdua lakukan?" Rasya langsung mencecar banyak pertanyaan untuk Marsha, padahal tadi dia berucap jika dia mempercayai putrinya.
Rasya kemudian mengambil duduk disofa tamu bergabun dengan Mahesa dan Abdi yang sudah terlebih dahulu duduk disana. Kemudian pandangannya beralih pada Zidan.
__ADS_1
Marsha yang merasa tadi dia sudah membuka kaca ruanganya langsung paham, pasti Zidan yang melakukannya. "Marsha lupa belum membukanya Pap," kembali dia menemukan jawaban yang masuk akal, namun pandangannya tajam pada Mahesa, seperti ingin menguliti adiknya itu hidup-hidup, "Apalagi yang kami lakukan? Ya pasti kerjalah, kenapa ayah jadi curiga?" ujarnya sambil terus menandatangani berkas-berkas, padahal dalam hati dia merutuki bibirnya yang sudah mulai berbohong.
"Apap percaya jika kamu tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh Marsha, Apap saja dulu tidak pernah melakukan hal yang aneh ditempat kerja." Rasya melirik Zidan yang berdiri didepan meja Marsha, mengambil lembar demi lembar kertas yang sudah ditandatangani Marsha, sedang Zidan terlihat begitu santai.
"Kenapa Apap dan ayah kantor ku? Ada perlu apa?" ujarnya mengalihkan.
"Kamu tidak suka kami datang?" Abdi kini yang bertanya.
"Ayah dan Apap itu tidak akan ke kantor ku jika tidak terlalu penting." Marsha mengusir Zidan dengan mengibaskan tangannya karena pekerjaannya sudah selesai, Zidan menurut, sebelum keluar dia sempat melirik Mahesa yang juga meliriknya dengan tatapan tajam.
Rasya dan Abdi terkekeh, "kami bukan karyawan kamu, kenapa harus ketus juga?" Abdi menggeleng.
Marsha beranjak dari duduknya, menekan interkom memesan kue dan minum untuk kedua orangtuanya dan juga Mahesa.
"Mulai sekarang, yang menagih uang bulanan catering Mahesa, bukan karyawan yang biasa datang, Ayah sudah mulai menugaskan Mahesa, dia harus belajar dari bawah dulu." Abdi memberitahu.
Memang untuk makan siang Marsha menggunakan jasa catering Abdi untuk para karyawanya, namun jika ada pegawai yang tidak mengambil catering perusahaan akan diganti dengan uang yang masuk dalam gaji.
Mahesa pastilah dibuat terkejut, Marsha selalu ada cara untuk menghindar bertemu dengannya.
"Ayah tidak bisa merubah sistem tagihanya Marsha, harus tetap seperti itu." Abdi menyahut.
"Ayah mau aku memutus kontrak kerjasama?"
Abdi tertawa terbahak mendengar ancaman Marsha "Astaga, aku diancam putri ku sendiri?" dia kembali menggeleng "apa ini yang dinamakan buah jatuh tak jauh dari pohonya?"
"Bisnis tetaplah bisnis teman, mau dia putrimu, dia juga memiliki peraturan tersendiri," Rasya merasa bangga pada Marsha "itu namanya tegas, seorang pemimpin memang harus bersikap tegas."
__ADS_1
"Oke, oke, oke, apa tak bisa pengecualian untuk Ayah Marsha? Ayolah, biarkan adikmu belajar mengurus usaha Ayah."
"Ayah harus menjamin jika anak Ayah tidak membuat kekacauan."
Mahesa mendengus "Apa maksud kamu?"
Rasya dan Abdi dibuat bingung "Apa ada yang tidak kami ketahui diantara kalian? Marsha, Mahesa jelaskan pada Apap." Rasya meminta penjelasan, dari keributan keduanya Abdi dan Rasya bisa melihat jika ini bukan masalah biasa.
"Tidak ada Pap, tapi pastikan saja bahwa anak Ayah tidak membuat onar,"
"Kamu sudah kelewatan Marsha, aku tidak akan mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan." Mahesa membela diri, sikap Marsha sungguh membuatnya sakit hati, tapi karena rasa cintanya begitu besar, dia mengabaikan rasa sakit hatinya.
"Urusan pribadi?" tanya Rasya dan Abdi bersamaan "urusan pribadi apa?"
Marsha terlihat begitu santai, tapi tidak dengan Mahesa, dia belum siap jika keluarga mereka tahu tentang perasaannya terhadap Marsha jika Marsha sendiri belum membalas cintanya.
"Antara saudara Ayah, Apap, apalagi coba?" Marsha menyangkal.
"Marsha, Ayah dan Apap bukan anak paud yang bisa kalian bohongi, apa kalian menjalin hubungan?" Rasya sampai berdiri, membuat Mahesa panik bukan main, padahal dia tak perlu panik, karena Rasya dan Abdi pernah berujar jika keduanya mendukungnya jika memang mereka memiliki hubungan.
Beruntung seorang pegawai pantry datang menyelamatkannya, membawa minum dan kue pesanan Marsha diikuti Zidan dibelakangnya.
"Bisa meminta waktunya sebentar, Pak Abdi dan Pak Rasya, ada yang ingin saya sampaikan pada anda." Zidan menyela obrolan keluarga itu setelah petugas pantry keluar.
Masih belum hilang rasa terkejut Rasya dan Abdi, kini mereka dibuat terkejut karena Zidan kelihatan begitu serius atas ucapannya. Dan Marsha juga begitu penasaran, apa yang ingin disampaikan oleh Zidan.
"Astaga, Marsha Apap memang sudah tua, tapi Apap belum mau mati karena serangan jantung," Rasya kembali duduk, memijit pelipisnya pusing, "katakan apa yang inginkan kamu sampaikan Zidan."
__ADS_1
"Saya dan Marsha, mulai hari ini kami sudah resmi menjadi kekasih, dan saya ingin secepatnya melamar Marsha."
Marsha terkejut, tak menyangka jika Zidan memilkki keberanian untuk mengatakan hal ini secepatnya.