
Marsha terperangah saat Zidan mendorongnya kebelakang pintu, ia kira Zidan akan mencumbunya atau mencuri kecupan dibibirnya lagi, dan melakukan adegan seperti di drama-drama. Namun ternyata tidak, Zidan malah ambruk menimpa tubuhnya.
"Zidan, astaga. Ada apa?" Marsha sangat panik, dan dia baru merasakan tubuh Zidan begitu panas, Marsha bersusah payah membawa tubuh tegap Zidan ketempat tidur. Setelahnya Marsha sibuk mencari-cari kaos atau apa saja yang bisa ia pergunakan untuk mengompres Zidan, dia mengacak lemari dua pintu berwarna hitam, salah satunya memiliki kaca, dan dia menemukan sapu tangan putih bercorak kotak-kotak milik Zidan, disaat bersamaan, dia menemukan foto Zidan bersama seorang wanita yang wajahnya agak mirip dengan Zidan diantara tumpukan pakaian Zidan.
Marsha memperhatikan wajah perempuan itu dengan sesama. "Apa ini mamanya? Kok seperti nggak asing ya?" Marsha mencoba mengingat, "tapi dinana?" Mereka segera tersadar, kembali meletakkan foto itu, dan beranjak ke buffet dispenser untuk menuangkan air hangat, kemudian dia mengambil duduk disisi kepala Zidan, mengompres kening Zidan dengan sangat hati-hati.
"Ck, ini kalau aku tidak datang, berarti kamu sakit sendirian." Marsha menghembuskan nafasnya berat. Kemudian dia menatap lekat wajah Zidan, semakin lama dia tatap wajah laki-laki itu, Zidan terlihat semakin sangat tampan.
"Kamu kok bisa jadi sekretaris aku sih Zidan?" Marsha membelai lembut pipi Zidan, namun cepat-cepat ia menarik tangannya, entah mengapa dia tiba-tiba saja teringat jika mereka pernah tidur bersama, dan ada rasa kekhawatiran timbul begitu saja, takut dia hamil dan Zidan akan lari dari tanggung jawab.
"Semoga ini tidak terjadi," Marsha menunduk mengusap perutnya, walau Zidan nampak terlihat serius akan tawarannya, dan rasanya tak mungkin Zidan akan pergi, namun dia masih ragu untuk menjalin sebuah komitmen, ini zaman modern, wanita karier sepertinya belum memikirkan untuk berumah tangga, apalagi usianya yang masih begitu muda, namun dia cukup khawatir tentang segel keperawanan yang tak ia miliki lagi.
Marsha melipat bibirnya, "apa aku menyetujui saja ide Zidan waktu itu?" desah Marsha, dia takut mengecewakan perasaan Mawar yang selalu mewanti-wantinnya untuk selalu bisa menjaga diri, dan dia menyesali tawaran Aponya untuk menggunakan bodyguard.
Hampir setengah jam Marsha menunggu, namun belum ada tanda-tanda Zidan untuk bangun, Marsha menegakkan duduknya, tanganya terangkat menutup mulutnya saat kantuk menyerang, dia melihat makanan yang sudah dipesanya tadi, sengaja dia mempersiapkan untuk Zidan dan telah membeli obat secara online dari dokter pribadinya.
Hingga tanpa dia sadari ikut terlelap dengan tubuh menyandar di headboard ranjang.
Nyaman, hangat, wangi maskulin kayu-kayuan yang sangat Marsha sukai masuk ke indra penciumanya, Marsha mengendus-endus, lalu dia semakin menempelkan tubuhnya memeluk hangat tubuh seseorang yang membuatnya sangat nyaman, dalam bayangan Marsha dia tengah memeluk tubuh Zidan.
Zidan?? Bukankah tadi dia memang bersama Zidan, seketika Marsha bangkit namun tak bisa karena lengan kekar Zidan memeluk erat tubuhnya.
"Astaga, kok bisa?" Marsha memejam, menggigit bibirnya, kenapa dia malah berpindah dan ikut tidur dalam pelukan Zidan, padahal seingatnya dia tadi duduk disisi kepala Zidan. Marsha mendongak, Zidan masih menutup mata, dan dia melihat jam dipergelangan tanganya, sudah jam tiga siang, Marsha terbelalak, berarti dia tertidur selama dua jam, pelan-pelan Marsha bangun, jangan sampai Zidan tahu dia tidur dalam pelukan lelaki itu.
"Mau kemana?" Zidan malah kembali menarik tubuhnya saat dia belum sadar dari keterkejutanya, dan membuatnya jatuh didada bidang Zidan.
"Zidan lepasin," Marsha mendorong dada Zidan untuk bangkit.
Zidan kembali menarik tubuhnya "Jangan kemana-mana, aku butuh kamu Marsha." Zidan mengeratkan pelukanya, suaranya serak seperti menahan tangis, "sebentar saja." Ujarnya lagi dengan memohon.
Jujur saja, posisi seperti sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Namun Marsha cepat-cepat mengatur perasaanya. Marsha mengangkat kepalanya, kemudian meraba kening Zidan "Kamu sudah sembuh Zidan?" tanyanya kemudian saat merasa tubuh Zidan tak sepanas tadi.
"Sudah, kan dokternya sudah datang." Walau berucap tenang, namun Marsha adalah seorang wanita yang terkadang memiliki ilmu telepati dadakan, dia merasa Zidan sedang memiliki masalah yang cukup besar untuknya.
Marsha kembali dibuat terkejut saat Zidan menggulingkan tubuhnya disamping lelaki itu membuat dia berbantalkan lengan Zidan. "Makasih sudah merawat aku Boss," Zidan tersenyum devil menyebalkan.
"Kenapa tersenyum begitu?"
__ADS_1
"Nggak papa, cuma seneng aja kamu datang."
Plakkkk
Tangan Marsha memukul bahu Zidan "Jangan ngegombal, itu nggak bikin kamu kaya, lagian ngapain kamu ambil cuti?"
Zidan terkekeh, dia menganggap kalau dirinya adalah laki-laki paling aneh karena selalu suka dimarahi Boss-nya ini, sampai dia lupa jika tujuannya menjadi sekretaris Marsha adalah agar bisa membalas dendam pada Marsha dan keluarganya, tapi jawaban Naima tadi yang mengatakan jika papanya adalah Abdi, dan itu seperti sedikit membuka tabir yang sebenarnya, jika sang mamalah yang terobsesi pada Abdi, dia akan mencari tahu lagi yang sebenarnya.
"Memang gombal nggak akan bikin aku kaya, tapi aku berusaha buat bikin hati kamu luluh, agar kamu mau menjadi kekasih ku. Menjadi belahan hati ku." Jawabnya lagi dengan gombalan garing ala kadarnya, dan itu mampu membuat darah Marsha berdesir.
"Kamu tidak ada bakat buat ngegombal Zidan, sudah kamu cukup jadi sekretaris aku, dan simpan bakat terpendam kamu itu."
"Jadi sekretaris, atau jadi patner hidup? Aku sanggup menjalani keduanya." godanya lagi.
"Tapi aku bukan wanita yang bisa luluh sama gombalan receh kamu. Kamu nggak ada bakat buat meluluhkan hati wanita."
"Oh ya?" Zidan mendekatkan wajahnya "terus, ngapain kamu kesini?"
Sial, iya juga ya? Kenapa juga aku sampai kesini? Marsha merutuki dirinya sendiri.
"Bukan karena kamu rindu?"
"Rindu bagaimana?" Elaknya dengan mata melotot.
"Ya, rindu karena nggak ada aku, kamu rindu kan? Nggak mungkin kalau bukan karena rindu kamu bisa sampai kesini? Jujur saja Marsha, aku senang kalau kamu jujur."
Tukk
Marsha mengetuk kening Zidan yang terlalu dekat dengan wajahnya " Seharusya kamu bersyukur, mana ada Boss yang menjenguk karyawanya yang sedang sakit, kalau aku tidak datang, mungkin kamu sekarang sudah kaku dan tinggal dikafani," ucapan tak berakhlak itu dia turunkan dari sang ayahnya "sudah ahh, bangun, kamu makan dan minum obat biar cepat sembuh, belum ada cuti khusus untuk karyawan baru seperti kamu."
*
*
*
Kini keduanya duduk disofa, Zidan baru saja selesai makan, dia begitu manja minta disuapi Marsha, dan setelahnya minum obat yang dibelikan Marsha.
__ADS_1
Marsha yang sedang menatap gadged mengecek pekerjaannya terlonjak kaget saat Zidan tiba-tiba merebahkan kepala dipahanya.
"Zidan!" pekik Marsha.
"Hemm," Zidan hanya bergumam, kemudian mengambil kedua tangan Marsha tanpa izin, meletakkan ponsel wanita itu diatas meja.
"What are you doing? Aku lagi kerja, you know?"
"Iya, aku tahu," Zidan menjawab begitu santai, membuat Marsha berdecak marah, "kamu tahu Marsha? Aku seneng dapat perhatian seperti ini. Terima kasih sudah mau merawat aku, aku berasa punya pacar sungguhan," ujarnya melihat Marsha yang menunduk balas menatapnya, amarah wanita itu yang akan meledak menguap begitu saja mendengar lirih Zidan.
"Kamu kenapa sih? Lagi banyak banget masalah kayaknya." Mencoba memancing agar Zidan mau bercerita padanya.
Zidan menggeleng, "nggak, cuma emang aku nggak pernah dapat perhatian seperti ini, dan aku nggak nyangka, wanita pertama yang memberi perhatian padaku adalah Boss ku sendiri. Dan kamu wanita pertama dan akan aku anggap satu-satunya wanita yang yang bisa perhatian seperti sama aku."
"Jangan lupa ada ibu kamu Zidan, dialah wanita pertama yang selalu perhatian padamu," balas Marsha langsung, dan Marsha teringat foto wanita yang bersama Zidan difoto yang dilihatnya tadi.
"Kamu tidak merasakan ada sesuatu yang aneh belakangan ini Marsha, pengen sesuatu gitu?" Zidan mengalihkan pembicaraan, sesak jika harus mengingat masalah keluarganya, Marsha mengangkat sebelah alisnya tak paham "mangga muda atau rujak? atau kamu merasa ada rasa mual?" Zidan mengusap perut rata Marsha.
Tubuh Marsha menegang, dia menegakkan duduknya karena sentuhan kecil Zidan seperti menampik api dalam dirinya, dan akan menghasilkan setruman-setruman kecil, dan ingin sentuhan lebih, sebisa mungkin dia menahan diri.
"Aku akan melamar mu dalam waktu dekat, apa kamu siap?"
"Whatt? Buat apa?"
Zidan bangkit dari tidurnya "Buat apa katamu? Marsha, kamu ini wanita seperti apa? Kamu sudah- kita maksudku" ralat Zidan ucapannya "sudah melakukan itu, mana mungkin kamu tidak meminta pertanggungjawaban dariku, aku tidak mau tahu, bilang pada keluarga mu, minggu depan aku akan melamar mu."
Marsha berdiri "Aku mau pulang Zidan, hentikan omong kosong mu itu, aku tidak mau berkomitmen,"
Zidan menarik Marsha untuk menghadapnya "Aku laki-laki, jadi aku tidak akan lepas dari tanggung jawab ku."
"Kamu pikir ini mudah? Aku bahkan tidak mengenal keluarga mu, apa yang aku bisa percaya darimu."
"Maka dari itu aku akan mengenalkan mu dengan keluarga ku pada malam lamaran nanti. Marsha, tunggulah aku akan datang, banyak orang yang keluarganya sudah saling mengenal tapi tetap mereka tidak bisa bersama, sedang aku, aku akan datang langsung membawa keluarga ku, dan setelah itu kita akan mengikatkan janji cinta kita."
"Apa yang bisa buat aku yakin dengan kamu Zidan?"
"Nilailah aku dan keluarga ku dimalam acara lamaran nanti Marsha."
__ADS_1