
Setelah mendengar penjelasan dari pengawal Valent Xavier, Marsha terus berpikir, ancaman apa yang didapat oleh suaminya itu dari sang sekretaris.
Marsha mengusap perutnya, dia bicara pada anak didalam kandunganya untuk bersabar, semoga suaminya itu bisa menyelesaikan masalah secepat mungkin, agar Zidan tak terlalu lama mengabaikan anaknya.
Ada kelegaan setelah mendengar penjelasan pengawal Valent, tapi sedikit kesal kenapa ia tak diberi tahu? padahal jika harus berakting, Marsha lebih pintar dari seorang aktris sekalipun.
"Kenapa hidup ku semakin lama semakin rumit saja? Apa begini hidup setelah menikah? Akan ada banyak cobaan dan masalah. Dasar si wanita kuntilanak, kenapa dia datang lagi setelah aku menikah? dan hadir diantara rumah tangga yang aku jalani, apa dia memang diciptakan untuk menjadi setan?" Marsha bicara pada dirinya sendiri.
Pengawal Valent yang duduk didepan menahan tawa, cucu menantu kesayangan tuanya seperti orang gila bicara sendiri.
"Tertawa sekali lagi, kamu tidak akan mendapat gaji." Ancam Marsha tahu jika dia ditertawakan, pengawal Valent langsung diam seketika.
Berdasarkan perintah sangka ratu, mobil pengawal Valent sampai di rumah tahanan tempat Naima berada.
Setelah mobil berhenti, seperti biasa, Marsha turun dari mobil, mengenakan kaca mata hitam, tas branded berharga ratusan juta tersampir dilenganya, lalu ia melepaskan topi dan masker yang ia kenakan, ia berjalan dengan anggun menuju tempat pendaftaran sambil mengibaskan rambutnya, Marsha selalu bisa menarik perhatian orang-orang disana, dan membuat orang-orang lupa berkedip melihat pesonanya.
"Maaf Nona, ibu Naima telah dibebaskan beberapa hari yang lalu." ucap seorang petugas.
"Apa? Kenapa bisa? Siapa yang membebaskanya?" Mata sampai ingin keluar dari tempatnya, saking terkejutnya dia. Beberapa minggu tidak menjenguk Naima, ia jadi kehilangan jejak dan tak tahu jika Naima sudah dibebaskan.
"Kami diminta untuk merahasiakan ini pada Nona?"
Marsha mendengus, kenapa sejak tadi ada banyak yang dirahasiakan darinya, dia seperti seorang bodòh yang tak tahu apa-apa. Berbulan-bulan dia merayu Naima untuk mau ia bebaskan tapi tidak berhasil, rapi tiba-tiba Naima sudah dibebaskan seketika, siapa orang itu? Apa orang itu lebih hebat darinya sampai bisa membuat Naima keluar?
Sepanjang perjalanan Marsha terus terpikirkan Naima, dia merasa menjadi istri yang gagal karena tidak bisa membuat Zidan dan Naima bersatu, jika orang yang membebaskan Naima orang baik, Marsha tidak mempermasalahkan itu, tapi jika yang membebaskan Naima orang yang akan membuat Naima seperti dulu lagi, Marsha tidak rela, dia ingin suami dan mertuanya hidup bersama, seperti keluarganya yang saling melindungi.
Marsha melangkah gontai memasuki rumah, dia tak jadi ke kantor Zidan karena sudah merasa lemas, karena tak tahu siapa yang membebaskan Naima, tapi Marsha tetap mengirim pengawal Valent untuk mematai Zidan dan Susan, ia takut jika Zidan akan terperangkap oleh permainanya sendiri, jadi dia yang terjebak oleh permainan Susan, si wanita kuntilanak yang akan merusak rumah tangganya.
"Kamu kelihatan lemas, Marsha." Suara Valent membuat Marsha menoleh, Valent berdiri menggunakan tongkat, berjalan menghampiri Marsha.
"Kamar mu sekarang berada dilantai bawah, Kakek menukarnya, karena kasihan jika kamu harus naik-turun tangga."
"Apa? Kenapa Kakek tidak izin Marsha dulu?" setelah merasa tak tahu apa-apa, kini Marsha merasa Valent juga seperti tak menghargai privasinya, baru ditinggal sehari, tapi Valent berani memindahkan kamarnya, bukankah kamar merupakan tempat dan barang yang tak boleh disentuh siapapun?
"Kakek sudah izin Zidan, karena kamu susah dihubungi."
Hah, Marsha tertawa mendengus, alasan klise yang selalu dipakai seseorang untuk menghindari kesalahanya, padahal nomornya selalu aktif, dan dia bukan orang yang tak mampu membeli pulsa, bahkan paket datanya akan tetap menyala sampai satu tahun kedepan.
Marsha tak mampu berkata apa-apa lagi, ia pikir Valent orang yang sangat menyayanginya, tapi memindahkan kamar tanpa seizinya terlebih dahulu, itu merupakan sifat yang sangat tidak menghargai seseorang dan sangat tercela, jika tahu Valent seperti ini, Marsha tidak akan mau tinggal dirumah Valent.
Dari pada melihat Valent akan membuatnya semakin emosi, Marsha memilih masuk ke kamar yang ditunjuk Valent. Warna cat dan tata letaknya memang sama seperti kamarnya yang diatas, tapi tetap saja itu membuat Marsha marah, memindahkan kamar tanpa seizinya.
Marsha kemudian menghubungi Zidan, padahal dia sangat anti yang namanya menghubungi terlebih dahulu disaat dia masih marah.
"Iya sayang, ada apa?" Suara Zidan terdengar sangat lembut dan mesra.
"Kenapa kamu mindahin kamar kita tanpa seizin ku?" Marsha menyemprot Zidan mambuat Zidan menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Marsha yang cukup memekakkan telinga.
"Maaf, aku lupa memberi tahu mu, sayang. Karena sejak kemarin kamu diami aku."
"Apa seperti caramu membalas ku Zidan? Kamu selalu membuat ku marah, memancing emosi ku dengan kalian bertindak semau kalian?"
"Sayang, maaf aku benar-benar lupa."
__ADS_1
"Aku bosan mendengar kata maaf kamu Zidan! Maaf mu seperti barang obral yang tak berharga. Kau tahu aku sedang hamil, tak bisa membuat mood ku selalu bahagia setidaknya jangan membuat aku marah."
Diseberang sana Zidan diam.
"Kenapa diam?"
"Ya, aku mendengarkan kamu."
"Tapi itu membuat aku kesal."
"Terus aku harus apa sayang?"
"Entahlah Zidan, aku benci. Semua sudah terjadi, kalian selalu melakukan apa yang tidak aku sukai, lebih baik aku pergi saja jika terus disakiti oleh kalian."
"Marsha, jangan bicara seperti itu. Tahan emosi kamu, ini sedikit lagi, bertahanlah dan jaga kestabilan emosi kamu, kasihan anak kita."
"Aku tidak tahu apa yang kamu rencana kan dibelakang ku Zidan, tapi harus kamu tahu, jika itu membuat aku terluka."
"Pak Zidan, ini laporan yang Bapak pinta tadi. Dan villa yang Bapak mau untuk kita menginap saat kita berada di Bandung dan Surabaya nanti. Semua sesuai kriteria Bapak." Terdengar suara Susan, membuat dada Marsha kembang kempis menahan emosi.
Meski dia tahu, jika Zidan sedang merencanakan sesuatu, tapi dia tetap cemburu dan marah mendengar suara wanita itu, katanya Susan sudah dipecat, tapi wanita kuntilanak itu masih kembali bekerja dengan suaminya. Dan apa tadi? Villa? Mereka berdua akan menginap di villa, dan kata-kata 'kita' itu berarti mereka akan menginap berdua saja?
Marsha meremas ponselnya erat, Zidan sangat menguji emosinya.
Tut Tut.
Panggilanya dimatikan oleh Zidan seketika.
"Kurang ajar kamu, Zidan. Aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kamu melakukan kesalahan sedikit pun kali ini. Lakukan semua rencana yang kamu mau, dan aku akan membuat rencana ku sendiri."
"Ini villa dua kamar bukan Susan?" tanya Zidan menunjuk gambar villa yang ada dalam ipad yang Susan berikan padanya tadi, "aku tidak mau kamar kita terpisah, akan kerepotan jika kamar kita terpisah, aku pasti akan banyak bertanya masalah pekerjaan dengan kamu."
Susan mendekat dan berdiri disamping Zidan, sengaja ia menempelkan dadanya ke lengan kokoh Zidan yang hanya dibalut kemeja, sebab jasnya sudah ia lepaskan dan sampirkan di sandaran kursinya. Membuat Zidan bisa merasakan dada Susan yang menempel itu.
"Iya Pak. Saya pilihkan Bapak villa yang sangat privat, demi kenyamanan Bapak saat kerja nanti, tapi tidak jauh dari lokasi hotel Bapak."
"Hem, cara kerja mu selalu membuat ku puas, Susan. Terima kasih," ucapnya menoleh, membuat jarak wajah mereka sangat dekat, dan itu membuat dada Susan berdebar, apalagi hembusa nafas hangat Zidan yang menerpa wajahnya, membuat sekujur tubuh Susan meremang.
"I-iya Pak. Du-dua kamar." Susan sangat gugup apalagi Zidan memberikannya senyuman yang sangat manis. Kaki Susan terasa lemas, dan dia bisa pingsan saat ini juga jika tidak bisa mengendalikan diri.
"Maaf atas perkataan ku kemarin yang menyakiti kamu Susan, karena belakangan ini, istriku selalu marah-marah, dan itu membuat ku lelah." Zidan mendesahkan nafasnya, lalu kembali melihat ipad Susan yang masih berada ditanganya.
"Bapak sabar saja, tapi jika istri Bapak masih seperti itu, Bapak tinggalkan saja. Bapak tampan dan mapan, meski istri Bapak kaya dan cantik, tapi sudah seharusnya dia menurut pada Bapak dan menghargai Bapak sebagai seorang suami."
Zidan tersenyum, lalu meletakkan ipadnya diatas meja, dia memutar kursinya menghadap Susan sambil melipat tangan dada.
Susan menggigit bibir, dia salah tingkah dengan tatapan Zidan, tidak salah memang Zidan menjadi target incaranya, tampan, kaya, mapan, baik. Kurangnya apa coba Zidan? Dan dia juga tak salah sampai harus menjelekkan Marsha demi mendapatkan Zidan, mendapat predikat pelakor pun dia tak masalah, karena istri seperti Marsha memang tidak layak dipertahankan, egois, tidak bisa mengerti keadaan suaminya.
"Kamu benar Susan, seharusnya mau sesukses apapun istri, dia tetaplah istri yang harus tunduk pada suami, apalagi tuduhan dan kecurigaanya tidak mendasar. Suka marah-marah tidak jelas."
"Aku harap istriku bisa berubah, beruntung sekali laki-laki yang bisa mendapatkan kamu, Susan, selain pintar, kamu juga sangat bisa menghargai laki-laki, sangat langka wanita seperti kamu dizaman sekarang ini. Aku pikir istrikulah wanita yang langka dan menggemaskan, tapi ada lagi dan itu kamu."
"Ahh Bapak bisa aja." Susan menunduk, Zidan telah masuk keperangkapnya, sedikit lagi, usahanya akan berhasil, apalagi Zidan memesan villa untuk mereka berdua, dia tak akan mennyiakan-nyikana kesempatan ini. Tubuh Susan tiba-tiba memanas, membayangkan dia bisa dicumbu mesra oleh Zidan.
__ADS_1
Susan menyandar di pintu ruang Zidan setelah ia keluar, dia memegangi dadanya yang masih berdebar akibat tatapan Zidan dan pujian Zidan tadi. Cepat-cepat Susan kemejanya, dia harus memberitahu kabar gembira ini pada Misya.
"Halo Mahesa, kamu segera menuju ke tkp, semua harus cepat terungkap. Dan kita harus bergerak cepat." Zidan menghubungi Mahesa setelah Susan keluar.
* * *
Dikampus, Dania kembali dibuat kesal saat Mahesa datang ke kampusnya, entah apa yang laki-laki itu katakan pada dosen hingga dia diizinkan pulang bersama Mahesa.
Apalagi Mahesa datang menggunakan mobil mewah hingga kedatangannya menjadi pusat perhatian para mahasiswa, dan terlihat dari tatapan mereka terhadap Mahesa dengan pandangan memuja.
"Bapak kenapa datang kesini sih? Ini kan jam kuliah aku, bukan jam kerja."
"Suka-suka akulah mau memerintah kamu kapanpun. Disini aku yang jadi bos, dan kamu sebagai bawahan harus menurut."
Sebal-sebal, Dania menghentakkan kakinya, seharusnya saat dikampus dia bisa bersenang-senang dengan teman-temanya, bukan malah selalu mengikuti kemauan laki-laki sìalan ini, lagi pula kenapa dia mau-mau saja menuruti perintah Mahesa? Apa di minta bantuan saja pada kakak iparnya ya? Ah tidak, jika berhubungan dengan kakak iparnya, semua masalah jadi runyam, Dania juga tak tega jika harus memenjarakan orang gara-gara hal sepele.
Eh, tapi kan Mahesa juga mau memenjarakanya hanya gara-gara masalah sepele? Apa dia pinjam uang saja ya pada kakak iparnya itu? Tapi uang sebanyak sepuluh juta untuk apa dia? Pasti Kakak iparnya atau kakaknya akan bertanya-tanya. Bukankah dia mendapat beasiswa?
Ahhh Dania jadi pusing sendiri memikirkanya.
"Pak ini kita mau ngapain?" tanya Dania saat mobil Mahesa berhenti disebuah butik bertuliskan 'G & A boutique'
"Cari gaun, cincin, dan seserahan untuk melamar wanita yang aku cintai. Kamu ingat kan wanita malam itu? Aku ingin melamarnya."
"Kenapa harus ajak saya?"
"Kalau tidak mengajak kamu, lalu siapa yang akan membawakan belanjaaan saya ke mobil dan membawanya ke apartemen?"
"Apa? Jadi saya disuruh pulang cuma buat bawa-bawa belanjaan Bapak?"
"Aku rugi donk kalau tenaga kamu tidak dimanfaatkan. Udah turun jangan banyak tanya." Mahesa bergegas turun dan tanpa menunggu Dania dia masuk ke butik terlebih dahulu, menyadari Dania yang tak segera menyusul, Mahesa menghentikan langkahnya. "Buruan, bukain pintunya." ucapnya membuat Dania semakin kesal, membuka pintu saja harus dia?
Benar-benar tidak masuk akal.
Belum juga diizinkan istirahat setelah capek membawakan barang milik Mahesa ke apartemenya, kini Dania harus menemani Mahesa melakukan perjalanan ke luar kota, padahal banyak tugas kuliah yang harus ia kerjakan.
"Semangat Dania, ini hanya sebulan. Setelah itu kamu akan bebas dari laki-laki tak berprikemanusiaan ini." gumam Dania menarik nafas dalam mereda emosi yang akan meledak.
"Halo Misya sayang. Bagaimana apa kamu sudah bicarakan rencana ku pada papa kamu?" Dania menoleh saat Mahesa menghubungi Misya.
"Mahesa, kamu serius dengan rencana kamu?"
"Iya donk sayang. Aku ini laki-laki yang bertanggung jawab, tidak mungkin aku bermain-main dengan ucapan ku."
"Mahesa tapi kita baru beberapa kali ketemu."
"Aku tidak masalah sayang. Aku hanya ingin segera memiliki kamu, dan hidup bahagia bersama kamu, aku ingin saat membuka dan menutup mata, kamu yang aku lihat."
Sudah pasti yang diseberang sana girang bukan kepalang atas gombalan maut Mahesa. Misya sampai mengulum senyum, hatinya sangat berbunga-bunga, laki-laki setempat dan sekaya Mahesa bisa tergila-gila padanya.
Howekkk sungguh Dania ingin mùntah mendengar gombalan Mahesa. Mahesa melihat Dania, dia tahu Dania sedang mengejeknya. Dan seketika Mahesa menginjak pedal remnya membuat Dania terbentur dengan dashboard.
"Aduh Pak, jangan ngerem mendadak donk. Ini kepala difitrain."
__ADS_1
"Sengaja." Jawab Mahesa tanpa merasa bersalah, dan tetap fokus pada jalanan.