Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bab 34. Nyonya Xavier


__ADS_3

"Pak Zidan." Zidan tersentak saat Melati sedikit menggebrak mejanya, membuyarkan lamunannya yang secara berani mengatakan pada Rasya dan Abdi jika dia dan Marsha menjalin hubungan.


"Iya Bu Melati?" ujarnya sopan.


"Pak Zidan ngelamunin apa sih? Saya dari tadi loh manggil Pak Zidan."


"Eh maaf, ada apa Bu?"


"Saya mau menitipkan laporan buat Miss Marsha, tadi saya sudah keruang Miss Marsha, tapi sepertinya Pak Zidan dan Miss Marsha lagi nggak bisa diganggu didalam."


Zidan menggaruk ujung hidungnya, berarti saat dia bersama Marsha tadi, "kami sedang membahas masalah produk terbaru Miss Marsha, jadi tidak kedengeran."


Melati menjauhkan wajahnya dengan mata memicing "Yakin Pak Zidan sama Miss Marsha nggak ngapa-ngapain didalam?" ujarnya dengan suara berbisik tapi matanya melirik sekilas didalam ruangan Marsha, dan tatapannya bertubrukan dengan Marsha.


"Ngapa-ngapain gimana Bu?" pelaku selalu menyangkal.


Melati coba abai dengan tatapan sinis Marsha, dari tatapan itu dia semakin yakin jika Marsha juga memiliki rasa pada sekretarisnya "Saya sih setuju kalau Pak Zidan sama Miss Marsha, cocok." Bu Melati, wanita dengan segudang pengalaman hidup mencoba memancing dua ikan sekaligus.


"Benar cocok Bu?" Melati mengangguk cepat, sambil melirik pada Marsha didalam sana yang masih menyorot tajam padanya, Melati sangat senang melihat wajah cemburu Marsha "doakan saja yang terbaik kalau begitu."


Nah 'kan?


"Sejak kapan Pak?" jiwa kepo Melati meronta-ronta.


"Bu Melati mau tahu banget atau mau tahu aja?"


"Saya sangat-sangat-sangat ingin tahu ada kabar baik, dan ingat kita-kita para manusia pecinta gratisan ya Pak jika kabar baik itu benar?"


Zidan terkekeh "Siap Bu Melati,"


"Eh berarti beneran ini Pak Zidan ada apa-apanya sama Miss Marsha, padahal tadi saya cuma nebak loh Pak?"


Zidan tersenyum kecil "Ibu ini masih betah disini kan Bu? kalau saya mengadu pada Miss Marsha, siap-siap Ibu menyanyikan lagu sayonara."


Melati mencebik "Ihh Pak Zidan ini," Melati menghentakkan kakinya, dan berlalu kembali keruangannya, Zidan hanya geleng kepala melihat kelakuan Melati yang jiwa kepo khas emak-emaknya keluar.


Zidan melihat kedalam ruangan Marsha, wanita yang baru saja menerima cintanya itu terlihat sangat serius membahas sesuatu yang dia tidak tahu, jika Marsha sedang jujur tentang lamunannya.


"Apap harap kamu harus berhati-hati dalam bertindak Marsha, kedekatan kamu dan sekretaris mu bisa menjadi bahan gosip untuk karyawan mu sendiri." Rasya memperingati.


"Kami memang memiliki hubungan Pap."


Rasya, Abdi apalagi Mahesa sangat terkejut dengan pengakuan Marsha


"Maksud kamu?" tanya Rasya dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Marsha mengulum bibirnya "Aku suka sama Zidan Pap, Marsha merasa cocok dengan Zidan."


"Marsha," sentak Mahesa, dia tak habis pikir dengan yang Marsha lakukan.


"Kenapa? Kamu nggak suka? Seharusnya kamu mendukung apapun yang membuat Kakak mu senang Mahesa, jika kamu memang menyayangi Kakak mu dengan tulus." Marsha mendengus kesal, membungkam sikap Mahesa padanya selama ini, jujur saja dia sudah sangat risih dengan sikap Mahesa padanya, Marsha tak bisa membuka hati untuk laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.


"Apa benar itu sayang?" Rasya bertanya, menyakinkan perasaan anaknya, sudah sedewasa ini Marsha belum pernah dekat dengan lawan jenis, ada sedikit rasa senang sekaligus takut menelusup dalam hatinya.


Marsha mengulum senyum, menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga, "Banyak sikap Zidan yang membuat Marsha suka Pap, dia sabar menghadapi sifat Marsha, dan Zidan berbeda."


"Marsha kamu sudah masuk dalam jebakanya?" Mahesa berkata dengan suara tinggi.


Marsha tak perduli dengan sikap Mahesa "Apa Apap setuju kalau Marsha menjalin hubungan dengan Zidan?"


"Apa yang kamu ketahui tentang Zidan Mahesa?" bukannya menjawab pertanyaan anaknya, Rasya justru kini bertanya pada Mahesa.


Mahesa mengeluarkan beberapa bukti tentang Zidan yang dia ketahui, "Dia adalah pemilik Hotel Horse, dan beberapa anak perusahaan mesin untuk pabrik-pabrik yang bekerja sama dengan perusahaan asing," Mahesa melirik Marsha, ingin melihat ekspresi Marsha melihat kenyataan ini.


"Kamu tahu dari mana semua ini?" Rasya mengambil lembaran kertas yang diberikan Mahesa, Abdi ikut melihat itu.


"Dari sumber yang terpercaya," jawab Mahesa penuh keyakinan.


"Hotel ini buka sekitar enam tahunan, memang pemiliknya sangat low profil, aku hanya pernah dengar pemiliknya anak muda, tapi aku nggak tahu pasti pemiliknya," ujar Abdi, namun fokusnya teralihkan pada logo mesin yang ada didepannya "Nggak asing sama mesin ini, apa ya?" Abdi coba mengingat.


"Kamu 'kan sering beli mesin buat pabrik pak tua, pasti nggak asing sama logo-logo seperti ini," Rasya mengejek sahabatnya, dia tak sadar jika dia juga sudah sama tuanya. Namun Abdi bukan kesal atas ucapan Rasya, dia kesal karena tidak bisa mengingat logo mesin itu.


"Sudah," jawabnya kelewat santai, "Zidan yang mengatakannya sendiri."


"Jika kamu merasa nyaman, Apap tidak masalah,"


Marsha membeo mendengar jawaban Rasya "Apap benar tidak masalah?"


"Tapi kamu harus hati-hati dan tetap tahu batasan." Rasya mengingatkan, "Apap mendukung apa yang membuat kamu senang, anggap ini hadiah dari Apap atas kerja keras kamu selama ini, nikmati masa muda kamu sayang, asal tidak lupa dengan tanggung jawab kamu memegang perusahaan."


Marsha berkaca-kaca dan memeluk Rasya, dia mengucapkan rasa terima kasihnya "Apap memang yang terbaik."


"Hei sayang, Apap senang akan hal ini, Apap tidak pernah melihat kamu dekat dengan laki-laki, ini sedikit membuat Apap lega, Apap pikir kamu tidak tumbuh seperti wanita normal lainya."


"Apap ihh," Anak kurang raja (baca dibalik) itu menepuk pundak Rasya. Mahesa mengepalkan tangannya mendengar keputusan Rasya yang begitu mudah menerima Zidan, dadanya bergemuuruh menahan kesal, semesta tak mendukung perasaanya.


Abdi menepuk pundak gadis ketika kecil dulu sangat dekat denganya itu, dia ikut senang melihat ini "Ayah ikut saja jika kamu bahagia, tapi tetap jaga diri, jangan melewati batas."


Marsha menjadi lirih, tapi ia akan jujur jika sudah waktunya.


Zidan berdiri saat Rasya dan Abdi keluar, keduanya menghampiri Zidan "Saya percayakan Marsha pada kamu Zidan, jaga anak gadis saya." Rasya menepuk pundak Zidan sebelum berjalan menuju lift, tak mempedulikan ekspresi tak paham Zidan.

__ADS_1


"Kamu tidak pulang Hes? semua sudah beres bukan?"


"Aku harap pilihan kamu tidak salah Marsha." Mahesa bergegas keluar, saat didepan pintu dia berpapasan dengan Zidan, namun Mahesa memalingkan wajahnya, sangat tam sudi melihat wajah saingannya itu.


Marsha tersenyum lebar saat Zidan masuk keruanganya "Kamu harus membuktikan kalau kamu benar pemilik hotel Horse Zidan,"


Zidan mengernyit "Apa yang sudah terjadi? Kamu kelihatan sangat senang." Zidan menarik pinggang ramping Marsha mengecup bibirnya sekilas.


"Kamu suka banget sih cium-cium aku?"


"Rasanya manis, bikin aku kecanduan," kembali dia mengecup bibir itu, "katakan apa ada yang tidak aku ketahui, hem?"


"Rahasia, kalau kamu mau tahu, kamu harus ikut aku malam ini."


Jam tiga sore mereka keluar dari kantor, hal itu membuat para karyawanya heran, karena sangat jarang Marsha pulang bertemu dengan sinar matahari. Wanita yang memiliki hobi shopping ini ternyata meminta Zidan membayar semua belanjaanya, total belanjaan itu mencapai ratusan juta rupiah, Zidan tak mempermasalahkan itu, dia justru sangat senang, Marsha memang berbeda dengan wanita lain, jika wanita diluar sana, akan jaim meminta sesuatu, Marsha justru memperlihatkan sifat aslinya disaat belum genap 24 jam mereka resmi jadian.


Dan yang sangat membuat Zidan terperangah, Marsha mengganti pakaian yang dibelinya tadi untuk digunakannya mengikuti fashion show dijalanan yang saat ini sedang viral, Marsha bahkan mengundang para wartawan untuk meliput aksinya, tak lupa dia juga menghubungi beberapa model untuk menemaninya.


Wanita yang sangat Zidan cintai itu berhasil mengundang decak kagum para pengunjung disana, bahkan Marsha melakukan hal gila yang diluar dugaan Zidan. Marsha menbuat sayembara, ada dua model laki-laki terkenal disana, siapa pemenang yang banyak dipilih pengunjung, dia akan memberikan baju yang dikenakannya saat ini, baju yang Zidan bayar dengan harga fantastis.


Tidak hanya itu, Marsha juga memberikan hadiah uang tunai dolar, dan itu adalah uang milik Zidan.


"Sudah puas Nyonya Xavier?" tanya Zidan saat mereka sudah berada didalam mobil.


Marsha tersipu malu mendengar panggilan Zidan "Sangat puas."


"Aku sudah memenuhi semua keinginan kamu, sekarang saatnya kamu jawab pertanyaan aku tadi, apa yang sudah kamu katakan pada Apap kamu?"


"Kalau kamu mau tahu, ada satu persyaratan lagi,"


Zidan mengangkat alisnya "Apa lagi?"


"Bawa aku ke hotel mu, aku mau lihat, kamar terbaik disana."


"Baiklah, tapi jangan salahin aku kalau aku khilaf."


"Nggak masalah." tantang Marsha.


Disisi lain, Mahesa yang dibuat patah hati oleh keluarganya sendiri mekarikan diri, dia ikut bergabung dengan club motornya lagi, dan malam ini dia akan ikut balap liar demi melampiaskan kekesalanya.


"Gue baru lihat cowok itu," Misya yang juga ikut disana bertanya pada temannya.


Teman Misya mengikuti arah yang ditunjuk Misya, beruntung Mahesa belum mengenakan helmnya, jadi dia bisa mengenali wajah Mahesa.


"Oh Mahesa, dia sebenarnya anak lama, semenjak kuliah dia jarang kesini."

__ADS_1


"Boleh juga, keren, dia tipe ku banget," wajah Mahesa tak kalah tampan dari Zidan, bolehlah bermain sebentar sampai menunggu Zidan selesai dengan Marsha, pikir Misya.


__ADS_2