
Dirumah sakit di Singapura.
Seorang laki-laki tua bernama pasien Valent Xavier baru saja keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dia dirawat akibat serangan jantung yang diakibatkan dia terlalu antusias ingin bertemu cucunya.
"Bagaimana kabar cucuku?" tanyanya pada sang sekretaris yang mendorong kursi rodanya.
"Dia baik-baik saja Pak. Sebaiknya anda jangan memikirkan itu, kesehatan anda lebih penting, sebab jika anda tidak sehat, anda tidak akan bisa melakukan tes DNA. Anda belum pernah bertemu dengan cucu anda sama sekali, jadi saya rasa akan banyak rintangan anda untuk menemuinya. Apalagi besan anda itu sangat licin seperti belut."
"Dari ucapan mu aku yakin acara pertunangan itu kacau."
"Semua masih belum terlambat Pak, hanya saja kita harus menjalankan plan B, karena plan A kita sudah gagal." Dia mengangkat tubuh boss-nya kedalam mobil, " tapi setelah anda benar-benar telah sehat seperti semula. Maka plan itu baru akan kami laksanakan."
"Ck, semakin tua usiaku, kau suka mengatur ku seenak hati mu." Valent Xavier melihat jalanan Singapura, mobilnya mulai melaju menuju hotel tempatnya menginap.
"Semua demi kebaikan anda dan cucu anda Pak, anda akan mendapatkan hak asuh cucu anda."
"Dia bukan anak dibawah umur, setelah kita bisa melakukan tes DNA itu, dialah yang akan menentukan sendiri, akan ikut siapa? Aku juga tak ingin berdebat dengan mantan besan ku itu," Valent Xavier mengakkan duduknya menatap depan "menurut mu, terlihat lebih muda mana aku dan mantan besanku?"
Sekretaris itu menahan tawa, ingin rasanya dia menggunduli licin kepala atasanya yang hanya tinggal beberapah helai berwarna hitam itu.
* * *
Tangan Marsha bergetar melihat garis dua pada benda tipis berwarna putih biru itu, ini sudah alat yang kesepuluh yang ia coba dengan merek yang berbeda, dari yang murah, sampai ke yang paling mahal, hasilnya tetap sama.
__ADS_1
Ini bagai mimpi buruk untuknya, dimana ada malaikat kecil tak bersalah yang tumbuh dalam perutnya. Marsha tak dapat lagi menahan tangisnya, setelah satu minggu terus mengeluarkan isi perutnya setiap pagi, akhirnya dia memberanikan diri mencoba alat tes tersebut.
Ingin rasanya dia berteriak sekencang mungkin, meluapkan segala beban yang mendera hidupnya. Segera mungkin Marsha memunguti benda-benda yang berserakan dilantai kamar mandi kantornya. Diluar nampak sudah gelap, sebagian karyawanya sudah ada yang pulang, termasuk Melati yang sudah ia suruh pulang lebih awal. Tujuan Marsha saat ini adalah sebuah bar mewah yang ada di kawasan PIK.
Marsha melajukan kendaraan roda empatnya sekencang mungkin, dengan buliran bening terus mengalir dari pelupuk matanya. Pikiran Marsha begitu kacau saat ini, dia ingin mengakhiri semua, termasuk sebagian diri Zidan yang kini ikut hidup di dirinya.
"Aku tidak mungkin membuatnya hidup Zidan, aku benci kamu, aku tidak akan sanggup melihat wajahnya." Marsha terus melaju kencang dengan terus menangis.
Entah sudah berapa gelas ia menenggak Martel Cordon Blue, duduk seorang diri di ruangan vip yang ia pesan khusus. Dia tak suka ditemani orang lain jika sedang sedih seperti ini, dalam setengah kesadaran jiwanya yang melayang, Marsha masih sempat mengingat nasib janin yang ada dirahimnya, sekelebat rasa bersalah menggelayuti hati Marsha, namun tak menghentikannya untuk kembali menenggak minuman yang tersisa pada botolnya, berharap memang dia tak hidup didalam dirinya, ikut menghilang bersama hilangnya Zidan dalam hidupnya.
"Maafkan mama sayang, tapi mama nggak bisa menerima kamu." Lirih Marsha melihat perutnya yang masih rata.
Di luar, sejak kedatangan Marsha seorang laki-laki bermata sipit terus memandang pintu vip yang Marsha masuki, dia terus mengawasi kapan Marsha keluar atau mungkin saja ada teman Marsha yang ikut bergabung didalam, namun sejak tadi tak ada seorang pun yang menghampiri.
Laki-laki menggaruk kepala, rasa rasa ingin tahu membuatnya bertanya langsung pada seolah barista yang sedang berjaga, dia takut jika wanita yang dilihatnya itu bukanlah Marsha, sebab setahunya, Marsha tak pernah ke bar atau datang ke tempat hiburan malam atau semacamnya.
"Boleh aku tahu siapa didalam ruangan itu?" tanyanya dengan mendorong beberapa lembar dolar diatas meja bar panjang itu.
Sang barista yang merupakan seorang wanita itu menyipitkan mata. "Dia sangat privasi, maaf." tolaknya mendorong kembali tangan sang laki-laki.
"Aku ini dulu kakak kelasnya, tidak mungkin akan melakukan kejahatan padanya."
"Semua orang jika ingin tahu pasti membuat banyak alasan," ujarnya "jika anda bisa menggadaikan senjata anda saya baru bisa memberi tahu itu." lanjutnya sombong tak takut sedikitpun, jika terjadi apa-apa padanyapun, Marsha sudah pasti memback-upnya.
__ADS_1
Laki-laki bermata sipit itu terkekeh, dia menggelembungkan pipi menggerakkan lidahnya didalam, memutar otak agar bisa mendapat informasi yang dia mau, rasa penasarannya sangat tinggi. Pilihan terakhir, dia kemudian mengeluarkan kartu namanya, memberikan pada sang barista.
Barista itu melihat pada kartu nama yang ditunjukkan laki-laki itu, kemudian menatap wajah laki-laki itu, dan kartu nama miliknya secara bergantian. Ternyata laki-laki itu adik pemilik bar tempatnya bekerja, dia berdecak menghela nafas.
"Telepon kakak mu, aku tidak mungkin melanggar peraturan yang sudah dibuat, jika beliau mengizinkan, aku akan memberitahunya."
Kini giliran laki-laki itu yang mengehela nafas, "pantas kakak ku sangat menggilaimu, kau cukup keras kepala rupanya." Kemudian dia menempelkan benda pipi ketelinganya, setelah panggilan tersambung, dia menekan tombol spekaer agar wanita seksi didepanya bisa mendengar. Dan setelah mendapat izin, akhirnya barista itu membenarkan jika yang ada didalam adalah Marsha Mahardika, cucu konglomerat pemilik kerajaan bisnis yang tersebar hampir keseluruh pelosok negri ini.
"Pastikan kau tidak menyentuhnya sedikitpun, karena harta keluarga mu tak sebanding dengannya."
"Kamu cukup kurang ajar ternyata," dia menggerakkan tubuhnya pura-pura takut, "dan aku takut ancaman mu." Kemudian dia tertawa meninggalkan barista yang menatapnya tajam menuju ruang dimana Marsha berada.
Laki-laki itu menekan kartu cadangan yang diberikan barista tadi untuk masuk keruang Marsha, dan dia dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya.
* * *
Ditempat lain.
Sudah beberapa hari ini Zidan tak melakukan aktivitas apapun, dia hanya mengikuti keinginan mamanya menemani Misya berbelanja, atau pergi ke suatu tempat yang Misya mau. Zidan akan mencari kebusukan Misya, serta membongkar kebohongan yang ia duga dilakukan oleh kakek dan mamanya, setelah dia mendapatkan banyak bukti, dia akan kembali menyakinkan Marsha dan keluarganya.
Namun saat ini Zidan hanya mengikuti keinginan mama dan kakeknya, dia sangat yakin jika Marsha saat ini benar sedang mengandung buah hatinya, dia akan menjaga Marsha dari rencana dan ancaman keluarganya, jika dia terus mengawasi Marsha.
"Zidan, thank you udah temani aku seharian ini," ucap Misya saat telah sampai dirumahnya. Dan Zidan hanya menjawab dengan gumaman. "Aku nggak enak udah dibayarin banyak banget sama tante Naima."
__ADS_1
Zidan tak menjawab lagi, dia ingin cepat pergi, sebab begitu penasaran, ada apa Marsha menghubunginya sejak tadi.