Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Kabar Buruk


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Pagi ini Misya dan Burhan akan menggelar rapat bersama para eksekutif dan para penanam saham diperusahaannya.


Tak lupa Naima dan Nasyat juga ikut bergabung untuk kerja sama baru mereka setelah pertunangan Misya dan Zidan.


Tapi tiba-tiba saja para eksekutif dan investor menarik diri dan tak menghadiri rapat penting ini.


"Ada apa ini? Kenapa mereka jadi menarik diri seperti ini? ini tak bisa dibiarkan, mereka tidak menghargai kita, kemarin mereka sudah menyetujui dan menerima proposal yang Misya ajukan," Misya berdiri, menunjukkan rasa kesalnya.


Dia malu pada Naima dan kakek Zidan karena hal ini, takut jika kakek Zidan menganggapnya tak becus dengan cara kerjanya, dan kalah pada Marsha yang sudah cukup terkenal handal dalam dunia bisnis, padahal Marsha merupakan anak baru dan belum genap satu tahun menjalankan bisnis keluarganya.


Terdengar kasak kusuk dari para pemimpin perusahaannya yang bisik-bisik.


"Kita tunggu tiga puluh menit, siapa tahu mereka berubah pikiran, Misya." Burhan mencoba membuat putrinya tenang, walau dia sudah merasa risau dan suasana menjadi tegang.


"Pa! ini bukan rapat main-main, mana mungkin mereka mengambil keputusan berharga tanpa berpikir panjang."


"Kamu benar sayang tapi kita coba berpikir positif saja, siapa tahu mereka akan datang," masih berusaha membuat Misya tenang, dan meminta para pemimpin perusahaannya untuk keluar dulu, karena akan membahas hal sensitif dan tak mungkin didengar para pegawainya.


"Maaf Pak Nasyat, Bu Naima, ini di luar kendali kami." Burhan meminta maaf pada kakek dan mama Zidan.


"Tidak apa, tenang saja Burhan, ini hal biasa dalam dunia bisnis." Nasyat begitu tenang dan santai masih duduk dikursinya.


Naima, Burhan, dan Misya menjadi sangat panik, tapi tidak dengan Nasyat, sebagai orang yang memiliki pikiran licik, dia tahu rencana licik lawanya, dan dia sudah memiliki jalan keluar sebelum lawan coba menghancurkannya.


Tak lama ponsel Nasyat dan Naima secara bersamaan bergetar, menandakan ada pesan masuk. Dan itu tidak hanya satu, bahkan puluhan rentetan pesan itu seolah berbondong-bondon antri memenuhi ponsel mereka.


Kedua anak dan ayah itu sama-sama melihat pada gadgednya masing-masing, dan betapa terkejutnya Naima karena secara tiba-tiba semua pengusaha yang bekerja sama dengan mereka selama ini juga menarik diri.


Mata Naima membola membaca pesan itu.


"Pa, apa papa juga mendapat pesan dari sekretaris papa? semua investor menarik diri dari perusahaan kita juga?"


Naima melihat papanya yang hanya diam menunduk, menatap ponselnya juga, kemudian memasukkan kembali ke bagian dalam jas-nya dengan begitu santai.


"Ini pasti ulah Mahardika. Papa sudah menduga dari awal kita membatalkan pertunangan itu, dia tak akan tinggal diam melihat cucunya tersakiti." Nasyat menangkup kedua tangan diatas meja.

__ADS_1


Misya dan Burhan saling pandang, "jadi Kakek sudah tahu?" Misya seakan tak percaya, "apa rencana kakek kedepannya?"


Nasyat mengangguk "Kalian sudah menarik uang perusahaan seperti yang telah aku perintahkan 'kan?", tanyanya pada Burhan dan Misya, keduanya mengangguk kompak, "kita akan selamat jika kalian mengikuti trik ku. Jangan khawatir, kita tidak akan jatuh miskin, makanya aku tidak mengajak serta Zidan dalam rapat dan rencana ini, karena aku yakin dia sudah terdokrin oleh wanita bau kencur itu, dia akan merusak semua rencana kita."


Ada getir di hati Naima mendengar itu, karena anaknya tak sejalan dengannya.


Nasyat menatap Misya. "Sekarang tugas kamu Misya, menarik Zidan dari jerat keluarga Mahardika. Buat dia jatuh cinta padamu, temani dia saat-saat jatuhnya sekarang."


"Misya akan berusaha membuat Zidan mencintai Misya, Kek. Rencanakan pernikahan kami secepatnya," pintanya tanpa ragu, karena semua demi perusahaannya.


* * *


Sejak mamanya kembali normal, seharusnya itu menjadi momen kebersamaan untuk Zidan maupun Naima, namun kedua ibu dan anak itu seperti orang asing. Mereka bahkan tak bertegur sapa saat berpapasan di tangga atau saat di meja makan.


Zidan tak pernah menanggapi apa yang Naima ucapkan dan tanyakan, ia menganggap itu hanyalah angin lalu.


Biarlah dia menjadi durhaka, anak mana yang tak sakit hati mendapati orang tua yang ia tunggu bertahun-tahun itu nyatanya membohonginya, padahal dia bahkan sampai membalas dendam yang membuatnya mengenal Marsha.


Tak tahukah mamanya, jika selama ini ia berusaha bahagia sendiri, merasakan betapa sepinya dia? Terlintas dalam benak Zidan jika ia bukanlah anak kandung Naima atau bukan anak yang diharapkan lahir dari rahimnya, mengingat jika sang mama sempat mengatakan jika dia anak dari Abdi, bukan dari papanya.


Zidan menyibukkan dirinya di kantor, dan diam-diam mencari keberadaan Marsha, karena sudah berapa hari ini dia selalu menanyakan keadaan Marsha pada Melati namun Marsha sudah tak menjabat lagi menjadi direktur utama disana.


Namun laki-laki yang biasanya dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi tentang apapun itu, mengabari jika tak ada nama yang Zidan maksud keluar dari negara ini, dengan kata lain, berarti Marsha masih di negara yang sama dengannya.


Penyusuran Zidan kali ini tertuju pada pulau-pulau seberang terpencil Indonesia.


Namun demikian, Zidan tetap mengharapkan informasi dari Mahesa, laki-laki yang sempat menjadi rivalnya namun memang tak ada apa-apanya dibanding dirinya itu sebab Marsha tak pernah menganggap perasaannya ada.


Baru saja Zidan beranjak dari kursi kebesarannya, sekretaris cantiknya bernama Cantika itu masuk.


"Pak, perusahaan milik kakek anda terancam bangkrut. Semua pengusaha yang bekerja sama dengan kakek anda memutuskan hubungan kerja mereka."


Zidan sempat terdiam, cukup terkejut, namun dia tak perduli itu.


"Biarlah, bukan urusanku," ucap Zidan dingin tanpa ekspresi, melenggang pergi tak mempedulikan jika sekretarisnya akan mengatakan sesuatu.


"Pak, tapi-"

__ADS_1


"Jika aku tidak perduli, kenapa kamu harus khawatir? usaha ku tidak ada sangkut pautnya dengan usaha kakek." Itulah salah satu keuntungan jika tidak mengandalkan usaha milik keluarga.


Mobil Zidan telah sampai di gerai lele milik Mahesa. Dia meneliti gerai yang selalu ramai itu, banyak sekali antrean, antrian untuk pembeli biasa dengan antrian para pengemudi ojol mengular. Zidan cukup kagum atas usaha milik ayah angkat Mahesa ini.


Zidan mendorong pintu kaca itu, kedatangannya disambut senyum ramah oleh pegawai laki-laki tampan dan wanita yang pastinya memiliki look yang sangat-sangat good looking untuk menarik pelanggan dan membuat pelanggan betah digerai mereka, cuci mata gitulah.


Zidan mendudukkan pantattnya di kursi kosong yang tak jauh dari meja Mahesa yang sedang sibuk melayani para pelanggan cafenya. Ini belum masuk jam makan siang, tapi gerai itu sangat ramai.


"Terima kasih Bu telah singgah di gerai kami," ujarnya seraya memberikan senyum termanisnya.


Tak sengaja mata Mahesa menangkap Zidan, dia menghela nafas jengah. Dia harus menghindari Zidan, laki-laki itu pasti akan menanyakan perihal pernikahannya dengan Marsha, dia berbohong akan hal itu, sedang dia sendiri kini tak tahu dimana keberadaan Marsha sebenarnya.


Mahesa melepaskan apron yang melekat ditubuhnya, kemudian keluar dari table service dan naik ke ruanganya.


"Aku tahu kamu coba menghindar. Tenang, aku tidak akan menanyakan kapan pernikahan mu dengan Marsha digelar, karena aku sudah tahu Marsha pasti akan menolak mu." Ucapan Zidan membuat langkah Mahesa yang sudah menaiki anak tangga terhenti.


"Terus mau apalagi lo kesini?" Mahesa melanjutkan langkahnya, Zidan mengikutinya dari belakang.


"Apa kamu benar-benar tidak mau menyelidiki Misya itu siapa? Kamu harus tahu sebelum terlambat Mahesa."


Mahesa tak menghiraukan itu, dia juga sedang mencari kebenaran yang sesungguhnya tentang hubungan dia dengan Misya, ini cukup menguras pikiran Mahesa, dan satu kunci yang tahu hanyalah Indah, bundanya.


Mahesa masuk keruanganya, tanpa sadar jika dia menyambut kedatangan Zidan, dan mengajak Zidan duduk di sofa panjang yang ada disana.


"Gue tahu lo datang kesini cuma buat nanya dimana Marsha, sebagai balasan karena lo sudah ngasih info itu, gue jawab jujur gue nggak tahu." Mahesa menyalakan korek dan mulai menghisap batang tembakaunya.


"Kamu yakin nggak tahu dimana Marsha? Jangan berbohong Mahesa."


"Terserah lo mau percaya apa enggak, itu kenyataannya, yang tahu hanya kakek Mahardika. Tante Mawar juga nggak tahu, ini permintaan Marsha."


Zidan menunduk lemah, Mahesa nampak tak berbohong, sekarang lawanya adalah Mahardika, dia tak yakin bisa mengalahkan Mahardika, tapi dia tak boleh menyerah.


"Saingan lo sekarang tambah berat bro," Zidan mengangkat kepalanya, Mahesa tersenyum mengejek, "jangan ge-er, bukan berarti gue dipihak lo ya? Gue tetep benci lo karena udah bikin Marsha jauh, ada Axcel cowok yang suka Marsha sejak sekolah, dia dekat sama Apap Rasya, dan orang tuanya sangat dekat dengan Apap Rasya. Aku cuma dengar, Apap Rasya akan menjodohkan Marsha dengan Axcel."


"Aku tidak yakin Marsha menerima perjodohan itu, Marsha wanita cerdas yang bukan lahir di zaman siti nurbaya, tapi ... Mahesa, apa kamu tahu Marsha benar menggugurkan bayi kami atau nggak?"


Mahesa menunduk lemah sebelum menjawab, dia menipiskan bibirnya, berat mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Marsha sudah melakukan itu, bayinya tidak berkembang dengan baik, karena kondisi Marsha yang cukup depresi."


Dada Zidan seakan terhimpit batu besar mendengar kabar buruk ini, hatinya sangat sakit karena semua ini salahnya.


__ADS_2