
Kembali pada Zidan dan Marsha, dimana setelah menemui Rasya Zidan langsung pulang kerumah untuk bertemu Marsha. Saat tiba dirumah, Zidan melihat Marsha akan memasuki mobilnya, dengan seorang supir sedang memasukkan koper besar ke bagasi.
Zidan memakirkan mobilnya asal, berlari menghampiri istrinya.
"Marsha tunggu." Panggilnya sedikit berteriak.
Marsha menoleh seraya menghentak nafas kasar.
"Aku mohon jangan pergi!" diambilnya pergelangan tangan Marsha.
Marsha mendengar membuang muka. "Selesaikan masalah kamu Zidan, selamat karena kamu telah berhasil membuatku di caci maki dan di benci banyak orang?"
"Marsha dengarkan penjelasan ku dulu."
"Jelaskan saja dipengadilan Zidan, karena tak ada lagi kesempatan untuk kamu." Marsha kini menatap suaminya.
"Marsha jangan seperti ini, beri aku waktu. Aku punya rencana lain, kumohon bertahanlah sebentar dan tetap disamping ku."
Marsha menghentakkan tangan Zidan. "Jangan seperti katakmu? Tapi kamu yang membuat aku seperti ini, Zidan. Waktu apalagi yang kamu minta? Bukankah ini merupakan kesempatan kedua, dan kamu meminta kesempatan kedua lagi? Nyawa manusia saja hanya ada satu."
Mata Marsha sampai memerah, dadanya kembang kempis menahan sesak di dadanya, sekuat tenaga ia tak mengizinkan cairan bening yang sudah tertumpuk dipelupuk matanya dihadapan Zidan. Meski dia tahu Zidan memiliki rencana yang dia sendiri tak tahu, tapi dia sakit mengingat Zidan membiarkan Susan menunjukkan perhatiannya didepan para klienya.
"Biarkan aku pergi, aku sudah cukup tahu sifat asli kamu. Apalagi yang kamu inginkan dari seorang istri yang tak menghargai dan menghormati suaminya? Kamu memang pantas dengan sekretaris kamu itu."
"Marsha tolong jangan seperti ini, maafkan aku, aku salah. Tapi percayalah, apa yang aku lakukan untuk melindungi kalian."
"Aku tidak butuh alasan kamu Zidan, buktikan semua dipengadilan, dan tanda tangani surat yang sudah Apap berikan padamu." teriak Marsha dengan sebal, mukanya sudah sangat merah karena marah.
Marsha segera masuk kedalam mobil, perutnya terasa menegang karena terus menarik urat dan menahan kesal, dia tak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganya, lama-lama berdebat dengan Zidan, membuat tekanan darahnya naik, ia harus menjaga kewarasanya.
"Marsha tunggu aku, ada banyak yang harus aku jelaskan, tolong jangan tinggalkan aku Marsha, aku tidak bisa hidup dengan kamu." Zidan mengetuk-ngetuk kaca mobil Marsha yang tertutup rapat. Zidan sampai mengimbangi langkahnya, karena mobil udah perlahan berjalan.
Marsha diam menatap kedepan, tak ingin menoleh kearah Zidan, dia tak ingin jika dia berubah menjadi bersimpati pada Zidan. Dari sekian banyak laki-laki didunia ini, ia sangat menyesal, kenapa harus dipertemukan dengan lelaki menyebalkan seperti Zidan, adakah lelaki hebat yang tak akan menyakitinya yang tersisa, hingga ia harus mendapat produk laki-laki baik di dunia ini? Marsa mengusap air matanya. Mengingat nasib buruknya sejak awal bertemu Zidan, hingga ia terpaksa menikah dengan Zidan?
"Buktikan dipengadilan Zidan, aku akan ikuti permainan jika seperti ini, jika apa rencana mu itu masih bisa aku terima, kamu aku maafkan, karena aku tak ingin anak kita lahir tanpa ayah." Marsha mengusap perutnya, sedih sekali, jika wanita lain sudah mendapat perhatian lebih diusia kehamilannya yang sudah besar, tapi tidak denganya, dia justru harus menghadapi banyak masalah yang menguras air mata.
Valent Xavier yang mengetahui apa yang Zidan rencanakan, hanya memandang kasihan pada kedua cucunya itu, bukan ia tak ingin membantu, tapi ia mempercayakan Zidan untuk melakukan sendiri, jika nanti Zidan kalah dan terseret ke jalan yang salah, baru ia dan Mahardika bertindak.
* * *
Dalam hidup Zidan, satu hal yang sangat ia takuti, dia tak ingin kehilangan Marsha dan anaknya. Ia mengakui ini salahnya bergerak terlalu lambat dan bertele-tele padahal sudah mengumpulkan semua bukti kebusukan Susan dan Misya, kali ini dia tak akan mengampuni keduanya sedikitpun, ia akan menghancurkan Susan hingga ke akar-akarnya karena telah menghancurkan perasaan Marsha dan membuat hubungan mereka menjadi hancur.
__ADS_1
Zidan kembali menghubungi Mahesa untuk mengubah strategi yang telah mereka atur sebelumnya. Mereka harus menjalankan rencana mereka secara bersamaan, dikhawatirkan salah satu target mereka akan kabur. Jadi jika mereka melakukan dalam waktu bersamaan dan di tempat yang terpisah, mereka tak akan bisa kabur, karena Zidan sudah bisa membaca akal licik Susan dan Misya serta papanya.
Malam ini Zidan mengikuti kemanapun Susan pergi, dan dia menunggu Susan pulang hingga larut setelah ia bersenang-senang dengan Misya merayakan keberhasilan mereka.
Susan terkejut saat tiba-tiba Zidan ada didepan pagar rumah kontrakannya.
"Pak Zidan!" Mata Susan sampai ingin copot dari tempatnya saking terkejutnya.
"Susan, ah maaf, aku sengaja menunggu mu." Zidan menggaruk pelipisnya pura-pura gugup. "Emm, aku sedang banyak pikiran, aku butuh teman untuk mengobrol. Bolehkah aku masuk?"
Susan diam karena tak percaya. Apa ini ada kaitannya dengan postingan ku ya? gumam Susan. Tapi sepertinya Pak Zidan biasa saja, Susan meneliti wajah Zidan yang memang terlihat santai.
"Tapi jika kamu keberatan, aku tak apa." ucap Zidan karena Susan hanya diam.
"Ah tidak Pak. Ayo masuklah. Maaf karena aku terkejut Bapak malam-malam kerumah saya." Susan melangkah membuka pintu pagar, mengizinkan Zidan untuk masuk, kemudian dia mengikuti langkah Zidan dari belakang. Zidan berhenti didepan pintu rumah Susan. Susan melewatinya untuk membuka kunci pintu.
"Silahkan masuk Pak." persilahkan Susan Zidan untuk masuk. "Bapak tunggu disini, saya buatkan kopi untuk Bapak." Zidan mengangguk dan duduk disofa ruang tamu Susan.
Tak berselang lama, Susan kembali membawa segelas kopi untuk Zidan.
"Sebenarnya aku membawa wine untuk kita minum berdua, tapi aku juga butuh kopi." Zidan mengeluarkan sebotol wine dari saku dalam jas abu-abu miliknya dan meletakkan diatas meja.
"Bukanya Bapak tidak pernah minum alkohol?" Susan mengernyit heran melihat Zidan membawa wine. Susan duduk bersebrangan dengan Zidan, menatap Zidan, wajah tampanya terlihat sangat lelah.
"Bapak terlihat sedang banyak masalah Pak."
"Aku sudah tahu tentang postingan kamu, Susan. Marsha dan keluarganya marah padaku, padahal jika aku pikir-pikir, postingan kamu ada benarnya. Mereka itu mentang-mentang kaya, bukanya introspeksi diri, tapi malah menyalahkan ku atas kesalahan anaknya."
"Bapak benar, seharusnya mereka introspeksi diri. Bapak yang sabar," Susan sengaja menyentuhkan tangannya pada tangan Zidan yang bebas diatas meja.
"Ini baru awal, Pak. Aku yakin Bapak pasti akan tahu lebih banyak keburukan keluarga itu, mereka sangat arogant dan dominan. Tak ingin diatur, tapi inginya mengatur. Dan selalu menyalahkan orang lain." Ungkap Susan mulai mengeluarkan isi hatinya.
"Ya, kamu benar Susan. Kamu tahu sendiri sikap Marsha padaku akhir-akhir ini, selalu marah-marah." Zidan menarik tanganya, menarik nafas, lalu menyandar badan lelah.
"Susan, bisakah kamu mengambilkan aku satu gelas. Aku ingin minum wine."
"Boleh Pak, sebentar saya ambilkan." Susan beranjak dari duduknya, beranjak kebelakang.
Zidan melihat Susan datang membawa dua gelas. "Kamu minum saja kopinya, Susan. Aku tahu kamu dari klub malam. Jangan sampai kamu mabuk." Zidan memperingatkan sok perhatian.
"Temani aku malam ini, aku ingin menghabiskan wine ku, aku tak pernah minum ini, mencobanya sedikit saja pasti aku akan mabuk."
__ADS_1
"Ahh Bapak benar, akan bahaya jika kita mabuk berdua."
Zidan membuka minumanya, lalu menuangkan dalam gelas. Ia mengangkat gelas yang telah berisi wine itu ke udara mengajak Susan bertos ria menggunakan gelas.
Susan paham maksud Zidan, lalu mengambil cangkir kopi buatanya, menabrakkan botolnya dengan gelas milik Zidan.
Mereka mengobrol banyak hal setelahnya, semuanya mengalir begitu saja. Hingga tak kurang dari lima belas menit, Susan sudah mendengkur diatas sofa.
Sudut bibir Zidan terangkat, Susan telah terpengaruh dalam obat tidur yang Zidan masukkan kedalam cangkir kopi saat Susan mengambilkan cangkir untuknya.
Cepat Zidan bangkit dan menghampiri Susan, dia mengambil handpone Susan yang tergeletak diatas meja. Zidan membuka password handpone Susan menggunakan scan wajah Susan untuk mencari nomor seseorang.
Lama Zidan mencari nomor orang tersebut, namun dia tak menemukan kontak orang yang dicarinya. Kemudian Zidan membuka aplikasi pesan milik Susan, mencari kontak tersebut disana.
Hingga Zidan berhenti pada kontak yang hanya diketik tanda satu titik kecil. Dan ternyata itu nomor kontak orang yang dicarinya.
Setelah mendapatkan nomor itu, Zidan segera menghubungi temanya yang bisa meretas nomor-nomor orang.
Tak lama, masuk pesan ke ponsel Susan, dan itu dari nomor orang itu, tapi yang mengirim pesan adalah teman Zidan.
Zidan segera mengabari, jika pesan itu telah masuk ke handpone Susan, dan orang diseberang sana juga mengabari jika pesan Susan telah masuk ke nomor itu.
Setelah semua beres, Zidan pura-pura tidur diatas sofa yang bersebrangan dengan sofa Susan tertidur.
* * *
Pukul sepuluh pagi, Susan terbangun, suara berisik diluar sudah terdengar, suara kendaraan berlalu lalang pun sudah berisik saling bersahutan. Susan menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri karena merasakan lehernya pegal. Ia terkejut saat melihat Zidan tertidur di sofa.
"Astaga, aku ketiduran dan membiarkan pak Zidan tidur disini." Susan menyelipkan rambutnya kiri dan kanan bersamaan. Lalu Susan mengambil ponselnya untuk melihat jam, ternyata sudah siang, untung hari ini hari minggu, jadi ia tak akan kesiangan untuk ke kantor.
Susan melihat ada pesan disana, ia membukanya, isi pesan itu mengajaknya untuk ketemuan.
"Duh bagaimana ini? Sayang sekali aku harus kehilangan momen berduaan sama Pak Zidan." Pandangan Susan beralih pada Zidan yang masih tertidur lelap. Suan melangkah mendekati Zidan, menekuk kakinya didepan wajah Zidan.
"Bapak sedang tidur saja kelihatan tampan sekali Pak." Susan mengusap pipi Zidan hati-hati menggunakan punggung tangannya. "Bapak pasti akan jadi milikku, jika Bapak jadi milikku, aku janji akan mengurus dan menjaga Bapak, sampai kita menua bersama." Susan berdiri tak berniat membangunkan Zidan.
Tak berselang lama, ia keluar dengan wajah bersih dan sudah mandi siap pergi.
"Aku tinggal dulu ya Pak. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Bapak." Susan mencuri kecupan di bibir Zidan. "Tidak lama lagi, aku pasti bisa melihat Bapak setiap membuka dan menutup mata." Susan tersenyum sendiri. Ia membayangkan betapa bahagianya ia bisa hidup bersama Zidan.
Susan melihat lagi makanan yang telah ia siapkan diatas meja, diatas meja, lalu ia beranjak keluar menemui orang yang mengajaknya bertemu tanpa membangunkan Zidan, tapi ia telah mengirimkan memo didekat makanan itu.
__ADS_1
Sangat romantis bukan?
Lalu ia memoto Zidan dan mengirimkanya pada Marsha.