
Dengan berat hati, Mahesa harus mengantarkan kakeknya sendiri masuk kedalam jeruji besi atas apa yang ia lakukan, setelah Mahesa menunjukkan banyak bukti kejadian dua puluh empat tahun yang lalu, dimana Burhan menabrak ayahnya.
Selain itu juga, Burhan harus bertanggung jawab atas penipuan karena telah membawa kabur uang Disa yang ia gunakan untuk membuka pertambangan ilegal. Belakangan Burhan juga terlibat menjadi pengedar obat terlarang karena selama bangkrut, Burhan dan Misya tak bisa bekerja diperusahaan manapun, karena mereka menjadi buronan, dari situlah ia dapat mengais rejeki demi sepiring nasi.
Bukan perkara mudah bagi Mahesa memutuskan ini, apalagi usia Burhan tak muda lagi. Mahesa berharap, hal ini dapat memberikan efek jera untuk Burhan dan Misya. Burhan telah menyebabkan ia tak bisa merasakan kasih sayang orang tua. Karena keserakahanya, Selly, ibunya, harus menghembuskan nafas terakhir akibat keterlambatan penanganan, semua karena Burhan telah mengambil harta yang dimiliki Selly dan Disa waktu itu.
Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah, disakiti oleh orang terdekat, terlebih, orang yang seharusnya bisa mengayominya.
"Ayah bangga padamu, Mahesa. Kamu anak yang kuat. Tak terasa kamu sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalah sendiri." Mahesa merangkul pundak Mahesa berjalan keluar dari kantor polisi menuju parkiran mobil.
Mahesa tersenyum menatap Abdi, Abdi selalu bisa memberikan rasa tenang dan nyaman. Sosok ayah angkat yang begitu mengayomi melebihi Ayah kandung sendiri.
"Terima kasih Yah. Semua karena dukungan dari Ayah."
Mereka menoleh kebelakang, dimana Indah dan Masnah tertinggal jauh karena masih syoch dan merasa sedih. Tak menyangka jika akan kembali bertemu Burhan dalam keadaan seperti ini.
"Biar Mahesa yang dorong Nenek, Bun." Mahesa mengambil alih tangan Indah yang mendorong kursi roda Masnah. Memberi kesempatan untuk Abdi menghibur Indah.
"Kamu tahu dari mana tentang Burhan, Mahesa?" tanya Masnah.
"Zidan." jawabnya cepat, "dulu Misya pernah menjadi tunangan Zidan. Dan saat itulah tanpa sengaja Zidan menyelidiki siapa Misya sebenarnya. Sudah lama sekali sejak saat itu, tapi Mahesa lupa untuk menyelidikinya lagi, Nek. Maaf." Mahesa menyesal, andai saja dulu ia langsung menyelidiki Misya dan Burhan, mungkin sudah lama hal ini terbongkar.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Mahesa. Berkat kamu kami bertemu lagi dengan Burhan, Nenek dan Bunda sudah lama mencari keberadaannya, tapi kami tak menemukanya."
Mahesa membuka pintu penumpang, lalu membantu Masnah berdiri dan masuk. Setelah Masnah duduk dengan nyaman Mahesa melipat kursi roda meletakkannya di bagasi belakang.
Hape yang ia simpan di saku celana bagian depan berdering. Nama Zidan muncul sebagai pemanggil.
"Halo, apa? Zidan kritis?" Suara Mahesa yang cukup keras membuat Abdi dan Indah menoleh kearahnya.
* * *
Marsha, ditemani Mawar berjalan terburu-buru saat mendengar kabar dari Mahesa jika Zidan kritis akibat tertembàk orang tua Susan.
"Sayang, jalannya pelan-pelan. Kamu lagi hamil." Mawar mengingatkannya, ia malah khawatir dengan putrinya. Marsha mengangguk tapi tak menyurutkan langkah kakinya.
Hingga mereka sampai diruangan VIP dimana Mahesa, Abdi, Indah dan Masnah telah lebih dahulu. Dan yang membuat dada Marsha semakin terasa berdenyut, melihat wajah sedih mereka.
"Dimana Zidan?" tanyanya dengan raut begitu khawatir.
"Kamu yang sabar ya sayang. Semoga ada keajaiban untuk Zidan." Jawaban Indah justru membuat hati Marsha menjadi tak karu-karuan.
Indah menghampiri Marsha dan merangkulnya. Membukakan pintu ruang dimana Zidan terbaring lemah dengan tangan yang sudah tertancap selang infus.
Marsha diam ditempat untuk beberapa saat, lalu melangkah pelan menghampiri suaminya.
"Dasar bodòh, kenapa bisa tertembàk sih? Apa kamu nggak mikirin perasaan aku?"
Marsha duduk dikursi yang sudah disediakan, mengambil tangan Zidan dan menggenggamnya. Air matanya tak bisa tertahan lagi, tadi dia sampai tak bisa menangis, setelah bertemu dan melihatnya langsung, baru cairan bening itu keluar dengan begitu derasnya. Segala emosi berkecamuk didalam dadanya, antara marah dan kesal, karena ini terjadi disaat hubungan mereka sedang kurang baik.
"Zidan, bangun. Jangan tinggalin aku, aku cinta dan sayang sama kamu. Kalau kamu bangun, aku akan mengatakan pada Apap, untuk mencabut gugatanya." Marsha mencium tangan Zidan, lalu meletakkannya di pipi.
Air matanya mengalir begitu deras, sedih jika Zidan harus pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia belum sanggup kehilangan Zidan, hingga saat ini, meski Zidan menyebalkan dan banyak membuatnya menangis, hanya Zidan yang ada dalam hatinya dan mampu merebut hatinya.
"Zidan. Andai kamu tahu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, jauh dari kamu, aku tidak bisa makan dan tidur," isaknya lagi sambil menciumi punggung tangan Zidan dengan penuh sayang, lalu menatap wajah suaminya yang masih terpejam.
"Jangan biarkan anak kita lahir tanpa kehadiran seorang ayah, Zidan. Aku mohon, bangunlah! Aku tidak bisa membayangkan jika hari-hari ku tanpa kamu, mengurus anak kita seorang diri. Aku tidak bisa, jadi bangunlah." pintanya lagi dengan sungguh-sungguh.
Tak dapat menahan diri, Zidan membuka mata sambil tersenyum. Dia lalu bangun dari tidurnya dan melepaskan infusan yang ada ditanganya.
"Zidan, kamu bangun?" Marsha jadi terkejut, "itu kenapa infusnya dilepas, biar aku panggilkan dokter." Marsha ingin menekan tombol darurat dibelakang Zidan, tapi Zidan langsung mencekal tanganya dan memeluknya.
"Semua yang kamu ucapkan tadi, benar kan? sungguhan?"
__ADS_1
Marsha jadi bingung sendiri. "Maksud kamu?"
"Kamu tidak bisa hidup tanpa aku, kamu sayang aku, cinta. Dan mau meminta Apap untuk mencabut gugatanya? Marsha aku senang mendengarnya." Zidan melepaskan pelukanya dan menghapus air mata Marsha.
Marsha diam menatap wajah Zidan, suaminya itu terlihat baik-baik saja, tak ada yang mengkhawatirkan, biasanya kan jika orang baru bangun dari sekarat, dia akan lemas, jangankan untuk bangun, berbicara saja mereka sulit.
"Zidan kamu bohongi aku?" Marsha menyingkirkan tangan Zidan di wajahnya.
"Maaf, aku cuma ingin tahu, apa kamu benar-benar ingin berpisah atau tidak dari ku."
Marsha mengerutkan wajahnya kesal, tahu begini dia tak akan ada drama menangis, dan mengungkapkan isi hatinya. Panik membuatnya tak bisa berpikir jernih, harusnya dia sadar dari awal, jika memang Zidan kritis, pasti sudah banyak alat yang terpasang ditubuh Zidan, ada EKG yang mengontrol detak jantungnya, dan ada oksigen yang membantu pernapasan Zidan.
Marsha menatap sekeliling.
Memalukan.
"Aku benci kamu, Zidan." Marsha memukul tangan Zidan, Zidan mengaduh, karena yang dipukul Marsha adalah bekas luka tembakan tadi.
"Au, sayang. Sakiiiit."
"Bohong!"
"Ini benaran," Zidan menyincing lengan bajunya dan memperlihatkan tanganya yang diperban. "Sekarang percaya?"
Marsha diam menatap lengan Zidan yang terluka. "Apa itu bekas luka tembakan?" tanyanya lalu menatap Zidan.
"Bukan, luka yang membuat hubungan kita membaik." jawabnya dengan senyum jahil menggoda, "andai ini tidak terjadi, aku tidak tahu drama apa yang akan aku buat untuk membuatmu kembali padaku, aku sedikit berterima kasih dengan Susan."
Marsha jadi menatap tajam Zidan. "Masih memujinya?"
"Cuma bercanda, sayang. Kalau serius aku takut kamu tidak akan kembali padaku lagi." Zidan menarik Marsha dalam pelukanya. "Padahal aku dari tadi menunggu kata-kata puitis dari bibir kamu yang membuat aku terenyuh, tapi sejak tadi kamu gombalin aku," Zidan mengeratkan pelukanya, tapi sayangnya dia mendapat cubitan kesal dari Marsha dipinggangnya.
* * *
Abdi mengajak Rasya ke rooftop rumah sakit, dan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Sebab Rasya datang untuk menjemput Marsha pulang, dia marah saat tahu Marsha pergi untuk menjenguk Zidan.
"Aku tidak peduli, nyatanya dia sudah membuat anakku menangis berkali-kali."
Abdi jadi menyentak nafas, sahabatnya ini masih keras kepala seperti dulu. "Kan sudah aku jelaskan alasannya, berkat menantu kamu juga, kami bisa bertemu Burhan." Abdi menatap Rasya yang kini membuang muka, manatap pemandangan disekitar rumah sakit.
"Akan aku pikirkan." jawabnya pada akhirnya.
Abdi tersenyum, dia yakin, sekerasnya Rasya, dia pasti akan memaafkan Zidan.
* * *
Karena luka Zidan yang tidak terlalu parah, Zidan diperbolehkan pulang hari itu juga. Mawar, Indah, Abdi dan Masnah ikut mengantar mereka pulang sampai kerumah, tapi Rasya tidak, rasa gengsinya terlalu besar, semua orang sudah paham itu.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Valent Xavier. Namun hal yang lebih mengejutkan ada Naima disana.
"Mama?" lirih Marsha namun dapat didengar banyak orang.
"Selamat datang sayang." Naima melangkah menghampiri Marsha dan langsung memeluk menantunya itu. Kemudian, Naima melepaskan pelukanya, menatap Marsha yang menatapnya penuh keheranan. Pandangan Marsha berpindah pada Zidan yang berdiri disampingnya meminta penjelasan.
"Aku tahu selama ini kamu rajin menjenguk Mama. Jadi aku yang ajak mama pulang. Karena ada orang lain yang ingin memanfaatkan mama, aku sengaja membebaskan mama diam-diam." Jelas Zidan apa adanya.
Marsha kembali menatap Naima.
"Kamu menantu terbaik, Mama sudah menceritakan semuanya pada Zidan niat baik kamu selama ini. Karena kamu, Mama jadi bisa membuka diri, Zidan juga sudah memaafkan Mama."
"Sayang, kamu pasti lelah, ayo kita istirahat dulu." Ajak Zidan membimbing istrinya yang terlihat masih sangat syoch dengan apa yang terjadi. Marsha berjalan menuju kamar barunya dilantai bawah, tapi Zidan mengajaknya ke lantai atas.
Sedang Naima kemudian menyapa para besanya, dan meminta maaf atas yang terjadi selama ini, karenanyalah kekacauan ini terjadi.
__ADS_1
Zidan mengajak Marsha lewat dapur, disana ada tempat baru yang Marsha tak tahu selama ini.
"Lift?" tanya Marsha menatap Zidan. Zidan hanya mengangguk, tersenyum jail mambuat Marsha mengernyit penuh curiga.
"Ada apa lagi ini, kemarin tiba-tiba dipindahin ke bawah, sekarang pindah lagi ke atas. Memusingkan." Gerutuk Marsha, Zidan hanya terkekeh menanggapi.
Lift telah sampai dilantai atas, lalu terbuka. Marsha melangkah lebih dahulu, ia terngaga melihat pemandangan dihadapanya, lantai atas yang dulu memiliki tiga kamar, kini berubah total.
Tak ada lagi kamar disana, bukan, maksudnya hanya tersisa satu kamar, yaitu kamar mereka. Selebihnya adalah ruang polos tanpa sekat yang diubah layaknya mall didalam rumah, yang isinya pakaian bayi, macam-macam mainan, tempat tidur, dan berbagai keperluan bayi laki-laki lainnya seperti alat mandi.
"Kita belum sempat belanja bukan, kamu bebas memilih apa yang kamu suka."
Marsha tak bisa berkata apa-apa lagi, dia melangkah pelan, melihat dan menyentuh satu persatu perlengkapan bayi dari berbagai merek brand terkenal kesukaanya.
"Zidan, kapan kamu melakukannya?"
Zidan tersenyum, berjalan mendekati istrinya.
"Kamu kalau lagi marah, nggak bisa bedakan jika sedang ada yang aku sembunyikan." Zidan memeluk Marsha dari belakang. "Mulai saat ini kamu harus belajar mengenal siapa suami kamu yang sebenarnya. Bukan laki-laki tidak peka dan tidak sayang. Mala, aku sangat bucin sama istri aku." Zidan mencium pipi Marsha dari samping.
"Zidan." Entah, Marsha bingung harus berkata apa?
Suara berisik ibu-ibu membuat keduanya menoleh kearah tangga. Mawar, Naima, dan Indah muncul disana.
"Wahhhh, ini sih mall pindah kerumah." ujar Indah takjub dengan pemandangan kamar Marsha sekarang.
Dibelakang Indah, Mawar tersenyum haru.
Rasya andai kamu melihat ini, kamu akan menangis dalam hati, anak kita bahagia, dia mendapat suami yang tepat.
Mawar memotret kamar baru Marsha yang disulap seperti mall, lalu mengirimkan pada suaminya.
Pesan itu terkirim, Rasya yang sedang duduk termenung di meja kerjanya karena ternyata menantunya itu tidak bersalah, langsung membuka pesan dari istrinya.
"Lihatlah, dia membuat anak kita bahagia. Restuilah mereka."
Rasya menyadarkan tubuhnya si sandaran kursi kebesarannya. Dia telah menentukan pilihan.
"Marsha, kapan perkiraan cucu Oma lahir?" Naima bertanya sambil melihat-lihat pakaian untuk cucunya, rasa bangga karena Zidan dapat memberikan ini untuk Marsha.
"Sekarang, sekarang cucu kalian mau lahir." jawab Marsha, mereka hanya mengangguk. Tapi sejurus kemudian menatap Marsha.
"Sekarang?" Zidan yang bertanya.
Marsa mengangguk. "Ini udah mules, tadi juga waktu aku pipìs udah ada fleknya." Marsha menjawab dengan sangat santai, bukan seperti wanita mau melahirkan pada umumnya.
"Sayang kamu jangan bercanda." Indah yang bicara.
"Siapa yang bercanda, ini aku benaran mules loh. Anak aku minta keluar."
Mereka diam, saling tatap satu sama lain.
"Ayo kita kerumah sakit sekarang." Zidan menggendong Marsha menuju lift. Dan para ibu-ibu turun lewat tangga dengan tergopoh-gopoh.
...~TAMAT~...
Alhamdulillah, akhirnya tamat pas diujung tahun.
Selamat tahun Baru 2023 untuk semuanya. Terima kasih tak terhingga untuk dukungan kalian selalu.
Tetap di favorit ya, akan ada bonchapnya.
__ADS_1