
"Susan, gimana kamu dan Zidan? apa ada kemajuan?" Misya menelepon Susan setelah diantar pulang Mahesa.
"Aku mengajukan resign, tapi sepertinya Zidan akan menolaknya. Saat ini dia dan istrinya yang keras kepala itu sedang bertengkar."
"Kamu yakin Zidan akan menghubungi mu?"
"Aku yakin, Zidan tak akan bisa bekerja tanpa aku."
"Bagus, tapi besok kamu harus memulai permainan lagi, jangan sampai Zidan terhasut oleh istrinya, dan dia melepaskan kamu, akan semakin sulit kita menghancurkan mereka. Buat mereka hancur-sehancurnya."
"Kamu tenang saja, aku akan membuat Zidan tak akan bisa melepaskan ku, karena tujuan hidup ku melihat Marsha hancur berantakan."
Keduanya sama-sama tersenyum sinis, merasa yakin bisa menghancurkan Marsha, tapi disini Susan tidak tahu, jika Misya telah bertemu Mahesa.
Susan mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat Zidan memintanya mencari pengganti untukya. Susan tak terima Zidan mengganti posisinya begitu saja, hingga Susan mengancam Zidan untuk lompat dari atas gedung, dan membuat video jika dia frustasi, karena bosnya mencampakkanya begitu saja karena istrinya, itulah sebabnya Zidan tidak mengadukan ini pada Marsha. Tak ingin Marsha banyak pikiran atas masalah ini, dan membuat nama Marsha menjadi tercemar.
Tanpa Susan ketahui jika Zidan telah menyelidiki tentangnya diam-diam yang dilakukannya.
Pintu rumah Misya terbuka, Burhan pulang. Laki-laki tua berusia lebih dari enam puluh tahun itu mengenakan pakaian serba hitam, serta topi hitam.
"Pa, Papa pulang?" Misya berdiri menyambut kedatangan papanya. Burhan duduk di sofa.
"Buatkan Papa teh hangat Misya, Papa sudah tua, tak terbiasa keluar malam seperti ini." Burhan melepaskan topinya.
Misya berjalan menuju dapur, dapur yang terhubung dengan ruang tamu. Ya kini mereka tinggal di rumah kontrakan jauh dari kota, rumah yang mereka sewa juga tak terlalu besar. Hanya ada satu kamar, dengan ruang tamu dan dapur menyatu, tapi memiliki kamar mandi didalam, cukup untuk mereka tinggal saat ini. Gagalnya mereka menjalin kerja sama dengan Nasyat, membuat Misya dan papanya benar-benar bangkrut.
Mereka pun bersembunyi karena tidak membayar gaji para karyawan, bahkan sahabat Misya saat dikantor pun mencari keberadaannya, kehidupan Misya dan papanya jauh berubah, mereka menjadi buronan dan terus bersembunyi.
"Gimana, Pa. Apa malam ini lancar?" Misya datang membawakan secangkir teh hangat pesanan Burhan.
"Lumayan, Papa bisa menjual banyak." Burhan mengeluarkan uang hasil pemburuanya malam ini.
"Misya punya kabar baik buat Papa." Misya terlihat sangat bahagia mengatakan itu.
Burhan meminum teh hangat yang masih mengeluarkan uap panas itu. "Apa itu? Papa sangat penasaran, kamu terlihat sangat bahagia." Burhan meletakkan cangkir diatas meja.
"Pa, Papa inget laki-laki bernama Mahesa yang pernah Misya ceritakan? Dia tadi datang mencari Misya di club. Dia bilang, sudah lama dia mencari keberadaan Misya, dan dia mengatakan ingin mengenal keluarga kita lebih dekat."
"Oh ya! Kalau begitu kita harus cari rumah sewa yang lebih bagus dari ini. Jangan sampai dua gagal menerima kamu karena keadaan kita."
"Hem, Misya akan mencari rumah yang lebih layak."
* * *
Pagi hari di kamar Marsha, Zidan bersiap akan ke kantor, Marsha masih mendiaminya. Zidan berpamitan pada Marsha, tapi Marsha tak menanggapi, dia masih kesal, ingin tahu, apakah Zidan masih mempertahankan Susan menjadi sekretarisnya, atau benar-benar memecatnya sesuai yang Zidan katakan.
Setelah mobil Zidan keluar dari halaman rumah Abdi, Marsha turun dan bersiap akan pergi juga. Marsha berpamitan pada Abdi dan Indah.
Marsha pergi bersama supirnya, dengan mobil yang berbeda yang biasa Marsha gunakan.
"Marsha mau kemana ya Mas? tanya Indah, mereka sedang sarapan bertiga bersama Masnah, "meski tidur disini, Marsha tidak cerita apa-apa tentang masalah mereka."
__ADS_1
"Biarkan saja sayang, mereka sudah pada dewasa, kita tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka."
"Marsha itu sangat independent, dia bisa melakukan semuanya sendiri, jika dia merasa butuh bantuan kita, dia akan bilang," lanjut Abdi.
"Tapi selama ini, anak itu tidak pernah meminta bantuan pada siapapun, termasuk mba Mawar ataupun Rasya, kecuali kakeknya."
"Berarti dia mempercayakan Mahardika untuk membantunya. Biarkan saja, Marsha itu berbeda, dari kecil dia sangat dominan, aku tau apa yang akan dia lakukan, tidak akan ada yang bisa menindas dia."
Dan benar saja apa yang dikatakan Abdi, meski terkadang menangis, dan butuh waktu sendiri untuk berpikir, Marsha tetaplah Marsha yang tidak bisa dibohongi, kemarin dia sempat menguping pembicaraan suaminya dan Mahesa, namun tidak begitu jelas, tapi Marsha merasa jika ada yang disembunyikan Zidan darinya.
"Apa saja yang kamu ketahui tentang suami ku dan sekretarisnya?"
Tanya Marsha pada pengawal Valent Xavier, setelah dari rumah Indah dan Abdi, dia menemui pengawal Valent Xavier, dan kini berpindah ke mobilnya. Marsha duduk bersedekap dada dibelakang kemudi, menuju kantor Zidan, Marsha mengenakan masker hitam dan topi untuk penyamaranya, ia berpenampilan seperti seorang intel.
Marsha kini bekerja sama dengan pengawal Xavier, semalam Valent Xavier menghubunginya dan memberi tahu, jika dia telah meminta anak buahnya untuk mengikuti Zidan dan Susan.
"Setahu saya, tuan Zidan sedang menyelidiki suatu kasus besar, dia pernah meminta sekretarisnya itu untuk keluar, tapi sekretaris itu mengancam tuan, Nona." jelas anak buah Xavier.
Marsha mengerutkan keningnya. "Kasus besar? Mengancam?" pengawal Valent Xavier mengangguk.
"Mengancam, mengancam apa? Kenapa kamu mendapat informasi setengah-setengah? Kakek Valent kan tidak menggaji mu setengah-setengah?"
"Untuk ini, saya tidak ikut campur Nona, tuan besar membiarkan tuan Zidan menyelidiki ini sendiri, karena kini taun Zidan juga bekerja sama dengan Mahesa, dan akan mengungkap masa lalu orang tua Mahesa yang sebenarnya.
"Apalagi ini? kenapa banyak yang tidak aku ketahui? Masa lalu orang tua Mahesa seperti apa?"
"Saya tidak tahu Nona, tapi ini atas perintah tuan Xavier, untuk tidak memberitahu Nona."
"Ini rahasia, Nona. Tuan besar mempercayakan tuan Zidan bisa menyelesaikan ini dengan cepat tanpa sepengetahuan, Nona."
"Tapi kamu sudah memberitahu ku!" bentaknya lagi, "jangan membuat ku jadi penasaran, dosa besar kamu membohongi wanita hamil. Kamu tahu Kakek Valent pasti akan menuruti semua yang aku mau, kan? Jika aku memintanya untuk memecat kamu, aku yakin Kakek akan memecatmu. Seribu orang penurut seperti mu mudah dicari, tapi satu menantu cucu seperti ku, tidak akan bisa Kakek temukan dibelahan dunia manapun, kamu tahu itu."
Pengawal Valent sampai menelan ludah atas ancaman Marsha. Dia yakin Valent akan menuruti apapun yang dipinta Marsha, dia jadi dilema, antara memberi tahu atau tidak, sebab jika diberi tahu, Marsha akan mengacaukan rencana yang telah disusun Zidan.
"Jika anda mengancam saya, maka anda akan mengacaukan rencana besar tuan Zidan, Nona."
Marsha mengerucutkan bibirnya.
"Aku benci rahasia-rahasia," ucapnya kesal, "tapi ... yasudahlah, aku biarkan kalian bertindak semau kalian, tapi mulai saat ini, kamu harus menurut padaku, kau pasang gps ini di mobil suami ku, agar aku tahu, kemana dia pergi."
"Baik Nona, akan saya lakukan. Tapi jika anda ingin ini terlaksana, anda harus pulang ke rumah taun besar."
"Kenapa kamu jadi mengatur ku?"
"Karena memasangnya, saya butuh waktu dan butuh mobil tuan Zidan."
Marsha berdecak, tapi setuju dengan apa yang dikatakan pengawal Valent itu.
"Hmm, yasudah kalau begitu, antar aku ke tempat mama Naima."
Dia jadi memerintah pengawal Valent, anak buah Valent hanya menuruti saja apa yang diperintahkan Marsha, ini menantu cucu kesayangan Valent, jadi apapun yang Marsha inginkan, harus dituruti.
__ADS_1
Dasar, kenapa sekarang pengawal-pengawal cara berpikirnya jauh lebih dulu dari pada atasan? pantas saja Kakek memakainya.
Marsha menyadarkan tubuhnya di sandaran, ternyata suaminya itu tidak sebodoh yang dia kira, tapi kenapa Zidan menyembunyikan ini padanya? Kasus besar apa yang sedang diselidiki Mahesa dan suaminya?
* * *
Di apartemen baru yang disewa Mahesa, pagi-pagi sekali Mahesa sudah membuat Dania kesal, sebab sebelum pergi ke kampusnya, Mahesa menyuruhnya untuk mencuci pakaianya terlebih dahulu, dan membuatkan makanan untukya.
Dania terus menggerutu, dia kerja dua puluh empat jam tanpa digaji sama sekali.
"Dania, kenapa sarapan gue lama?" teriak Mahesa sambil menahan senyum.
"Iya tunggu, ini lagi dibikin. Lagian punya cafe dan rumah makan, kenapa minta dibuatin nasi goreng?" sahut Dania mengomel sambil mengaduk nasi goreng buatanya dengan keras, hingga menimbulkan suara dentingan yang berisik.
Anehnya Mahesa tidak protes dengan suara itu, tapi dia justru senang membuat Dania kesal.
"Gue nggak mau denger omelan lo, cepet! Cepet gue udah kesiangan. Kalo sampe gue telat ketemu klien, lo harus ganti rugi."
Hufttt.
"Ganti rugi-ganti rugi. Sedikit-sedikit ganti rugi. Gini ya cara orang kaya, suka menindas orang lemah, biar nggak ngeluarin uang gaji."
Dania terus mengomel sembari memasukkan nasi goreng buatanya kedalam piring, lalu tanpa menunggu lama dia membawakanya ke hadapan Mahesa yang sudah menunggunya duduk di sofa.
Bugghh
Dania meletakkan piring dengan sedikit membantingnya. Tanpa menunggu jawaban Mahesa dia masuk ke kamar, mengganti pakaian untuk ke kampus.
"Halo Misya sayang, selamat pagi." Terdengar suara Mahesa menelepon Misya, suaranya terdengar sangat lembut dan ramah.
Dania jadi membatin, salah apa dia pada Mahesa, hingga Mahesa menghukumnya seperti ini?
"Kamu sudah bangun? Kalau begitu kirim alamat kamu, aku akan mengirimkan sarapan untuk kamu dan orang tua mu."
Saat Mahesa sedang menyantap nasi gorengnya, Dania lewat.
"Siapin sepatu sama dasi gue dulu, baru lo bisa pergi." Ucap Mahesa membuat Dania menghentikan langkahnya.
"Maaf Bapak Mahesa yang terhormat, saya juga sudah terlambat, saya bukan istri anda, jadi untuk itu anda bisa menyiapkan sendiri." Dania berbalik dengan mata mendekik.
Mahesa tampak cuek, karena diam-diam dia sudah mengunci pintu menggunakan repot, jadi Dania tak akan bisa keluar tanpa seizinya.
Dania kembali berjalan menuju pintu.
Ceklek ... Ceklek ...
"Pak, kenapa pintunya di kunci?"
"Kodenya hanya lo nyiapin apa yang gue pinta." ucap Mahesa membersihkan mulutnya dengan tissue, Dania menggeram kesal, Mahesa memanfaatkan kesalahanya.
Dania pun terpaksa harus kembali ke kamar dengan menghentakkan kakinya sebal. Mahesa hanya tersenyum simpul, selalu saja merasa bahagia membuat Dania kesal dan tersiksa.
__ADS_1