
Zidan masih setia menunggu Marsha bangun, laki-laki tampan itu sesekali mengecek suhu tubuh Marsha yang berangsur turun, dia begitu perhatiannya, tak sedikitpun Zidan lengah dalam menjaga Marsha. Zidan merasa lega, tapi juga takut saat Marsha bangun wanita itu masih belum menerima apa yang terjadi.
Dalam lamunannya muncul, Zidan membayangkan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Marsha, mungkinkah akan ada makhluk kecil nan menggemaskan sedang berjuang mencari indung telur untuk dibuahi didalam perut Marsha.
Zidan tertawa kecil, kemudian tangannya terulur mengusap perut rata Marsha.
"Semoga kalian ada dan tumbuh didalam ya sayang, ayah menembak banyak, semoga salah satu diantara kalian ada yang menetap untuk menguatkan ikatan dan mempersatukan ayah dan ibumu kelak tanpa ada yang bisa memisahkan." Zidan sungguh berharap itu terjadi.
"Eunghh." Marsha menggeliat, membuat lamunan Zidan terputus kala Marsha terbangun.
"Marsha kamu sudah bangun?" Zidan begitu ingin tahu keadaan dan yang dirasa Marsha, dia duduk disisi Marsha, sigap membantu wanita itu bangun.
"Zidan? Kamu masih disini?" Marsha seketika bangkit dari pembaringanya padahal nyawanya juga belum terkumpul sempurna saat mendengar suara bariton yang begitu ia kenali memanggilnya. Marsha menepis tangan Zidan yang akan memeganginya.
"Kenapa terkejut? Susah pasti aku disini, aku akan selalu disamping kamu," Zidan menjawab begitu santai.
"Jangan menggombal, kenapa kamu masih disini? Aku sudah mengusir mu, aku benci kamu ada disini. PERGI!" usir Marsha lagi. Marsha melihat pada dirinya, kini dia sudah memakai pakaian lengkap hingga dalaman.
"ZIDANNN! Apa kamu yang memakaikan aku baju." Pekik Marsha, dia merasa malu sendiri membayangkan Zidan memakaikan dia pakaian dalam, "kamu selalu saja mengambil kesempatan, apa kamu melihat semuanya?"
"Siapa lagi yang disini? Apa kamu mau aku panggilkan tukang parkir atau security depan untuk menggantikan mu pakaian? Dan jika aku tidak melihat aku yakin tangan ku pasti akan menyasar kemana saja."
"Alasan, aku semakin benci kamu Zidan, kamu mengambil kesempatan lagi?"
"Aku tidak mengambil kesempatan Marsha, tadi ada dokter datang memeriksa mu, tidak mungkin aku membiarkanmu tanpa memakai apapun. Lagi pula aku bukan hanya melihat tapi-"
"Sudah jangan diteruskan, kamu memang sekretaris kurang ajar, kenapa kamu selalu menang banyak sih?"
Zidan tak mengindahkan itu, dia kemudian mendekat pada Marsha, memegang pundak gadis yang semalam begitu agresif jika diingat tapi jika mengingatkannya itu sudah pasti Marsha akan kembali marah dan malu.
__ADS_1
"Sudah, jangan marah-marah, tangan kamu masih sakit, lihat kamu sedang diinfus, jika seorang pasien marah-marah sedang diinfus nanti darahnya naik ke selang infusan dan akan membuat iritasi dimana-mana," titahnya seperti menakuti anak kecil, namun cukup berhasil karena Marsha diam dan menurut. Zidan selalu sukses membuat Marsha mengikuti kata-katanya. Zidan kembali membuat Marsha berbaring.
"Apa masih pusing? Apa yang kamu rasakan sekarang? Mau minum atau kamu merasa lapar? Jangan banyak bergerak dan marah-marah, kamu masih demam, tadi kamu pingsan dikamar mandi." Zidan menunjukkan perhatiannya.
"Kamu kok cerewet sih? Kenapa kamu sekarang jadi ngatur-ngatur aku sih Zidan? Aku masih boss kamu loh ini."
Angkuh dan pedas, namun nayatanya itu hanya sebentar, kemudian Marsha seolah dibawa kealam sadar, matanya memanas dan mengabur kembali mengingat jika dia sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya, Marsha memalingkan wajahnya menutup wajahnya dengan lengan yang bebas saat Zidan menatapnya.
"Aku harus apa Zidan? Bagaimana aku menjelaskan pada Amam dan Apap? Aku ini anak perempuan mereka satu-satunya, tapi tidak bisa menjaga kehormatan ku sendiri."
Hiks, akhirnya pertahanannya kembali runtuh didepan Zidan, tak ada lagi rasa sungkan, Zidan sudah tahu kelemahannya, bahkan Marsha tak pernah menunjukkan kelemahannya didepan orang tuanya sendiri. Marsha mulai mengingat kepingan puzzle kejadian semalam, dia begitu malu saat mengingat bahwa dia begitu agresif pada Zidan, dan dialaah yang memaksa untuk Zidan melakukannya, membantunya lepas dari obat terkutuk itu.
Hati Zidan serasa diremas mendengar isakan Marsha, dia ikut merasakan sakit yang Marsha rasakan, sebenarnya sudah mencapai tujuannya, namun tetap Zidan tak bisa membohongi perasaanya yang tumbuh tanpa ia minta, Marsha berhasil membuatnya berbelot dari sang kakek.
Zidan mengambil kedua tangan Marsha dan meletakkan diwajahnya "Kamu boleh pukul aku Marsha, benar katamu, seharusya aku bisa menghindar agar hal ini tak terjadi dan akhirnya membuatmu menyesal."
Marsha menatap Zidan berucap tulus, hatinya terenyuh selalu menjadikan Zidan pelampiasan, Zidan selalu ia salahkan tapi laki-laki itu tak pernah marah atau menjauh, Zidan tetap bertahan disisinya.
Zidan malah tertawa atas permintaan Marsha "Kenapa harus izin? Kamu selalu memukulku walau aku tak bersalah."
Marsha mendengus memajukan bibirnya "Setiap aku memukul mu pasti kamu selalu salah Zidan, aku bukan wanita gila yang memukuli orang yang tidak bersalah."
Seketika Zidan berdehem dia ingin mengatakan sesuatu namun ragu, "jika kamu mau mengikuti saran ku, aku ada ide, tapi terserah kamu mau apa tidak? Aku hanya mencari jalan keluar," masih dengan menggenggam tangan Marsha.
Marsha diam menunggu Zidan melanjutkan ucapannya.
Zidan nampak berpikir sesaat "Sebenarnya ini bukan permintaan pertama ku, tapi inilah jalan yang terbaik saat ini," Zidan menjeda ucapannya "jadilah kekasihku Marsha, jangan katakan apa-apa pada kedua orang tuamu, mereka pasti akan sangat sakit dan kecewa jika tahu ini. Dan kamu tidak akan mendapatkan jabatan mu lagi. Aku akan mengatakan pada mereka jika kita menjalin hubungan, kemudian aku akan melamar mu, setelahnya kita akan menikah, mengsahkan hubungan kita."
Marsha begitu tersentuh pada permintaan Zidan, ini memang bukan hal yang romantis, tapi bisa meluluhkan hati Marsha, tapi tetap, Marsha pada gengsinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat percaya diri Zidan? Kamu pikir mudah meluluhkan hati Apap, bukan hanya Apap, tapi juga ayahku. Apa kamu sanggup menghadapi keduanya?"
"Kenapa aku harus takut? Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu," Zidan menjawab dengan begitu yakin.
Zidan kemudian menatap lekat wajah Marsha, membuat Marsha malu atas tatapan Zidan, Marsha bisa merasakan tatapan itu tatapan penuh cinta.
"Kenapa menatap ku begitu?"
"Jadi kamu menyetujui ide ku, Marsha Mahardika?"
Marsha menggigit bibir bawahannya lalu mengulummnya, "aku tidak menjawab iya, tapi akan aku pertimbangkan, jika memang itu dibutuhkan."
Zidan tersenyum, walau Marsha tidak mengatakan iya, tapi tidak marahnya Marsha berarti secara tidak langsung Marsha menyetujui itu.
"Baiklah, ayo makan, kita harus segera pulang, tak perlu ikut dalam show itu, kamu harus banyak istirahat, biar aku yang mengirim orang terpercaya untuk memantau acara disini nanti."
Zidan mengambil makanan yang sudah dia beli, lalu menyuapkan pada Marsha. Dalam diam Marsha memperhatikan Zidan, Zidan cukup baik, wajahnya juga lumayan, pantas para karyawan kantornya banyak yang tergila-gila pada Zidan, satu lagi, Zidan memilkki dua lubang dipipi kiri kanannya saat dia tersenyum. Marsha takut dia benar-benar jatuh cinta pada Zidan, dia sangat benci itu, dia tak ingin merasakan terluka dan sakit.
"Tetaplah disini, aku sudah mengirim beberapa pengawal diluar, aku ada urusan sebentar, mencari tahu dalang dari semua ini." Marsha mengangguk, Zidan sangat bisa diandalkan, dia begitu terbantu dengan kehadiran Zidan.
"Hubungi amam mu, sejak tadi terus menghubungi mu, aku tidak berani menjawabnya."
* * *
Zidan kembali kekamarnya, mencari keberadaan Misya, karena Zidan melihat puluhan panggilan dan pesan dari wanita yang dijodohkan kakek dengannya.
"Zidan, aku mencarimu." Zidan terkejut sebab Misya langsung memeluk tubuhnya dari belakang.
"Misya, aku juga mencari mu, aku pikir semalam aku akan tidur bersama mu, tapi kenapa aku bisa berada ditempat lain."
__ADS_1
Degh
Ditempat lain? Misya sangat takut jika Zidan tidur bersama Marsha sebab keduanya sama-sama menghilang, urusannya bersama Matthew sudah selesai, dia harus mengakui jika itu ulahnya, beruntung Matthew tidak marah, dan lelaki itu juga mencari keberadaan Marsha.