
Mahesa terus diam sepanjang perjalanan pulang, ia sedikit tak percaya dengan kenyataan yang terjadi, ingin sekali dia berteriak, melampiaskan kekecewaanya. Jiwanya kini begitu rapuh mengetahui kematian tragis papanya, beruntung ada Indah dan Abdi yang menjadi orang tuanya, dua orang baik yang hidupnya dulu disakiti itu telah menyelamatkanya dan mendidiknya dengan baik.
Sedikit ia tahu sejaharah kelam ibunya, entah dia harus senang atau sedih atas kepergian ibunya, dan dibesarkan oleh dua orang berhati malaikat seperti Abdi dan Indah, tapi Mahesa sangat berterima kasih dan berjanji akan membalas semua jasa-jasa orang tua angkatnya itu seperti orang tua kandungnya sendiri.
Dania cukup heran atas perubahan Mahesa, ia melihat Mahesa seperti sedang dalam masalah yang cukup berat. Wajah sedihnya begitu menyedihkan untuk dipandang, membuat Dania yang awalnya sangat marah dan benci karena Mahesa membawanya entah kemana selama dua hari ini, hingga membuatnya harus izin ke pihak kampus dan berbohong jika dia sedang sakit.
Ia tidak tahu hal apa yang telah Mahesa cari, dia hanya menemani tanpa bertanya, Mahesa hanya menyuruhnya membeli makan, dan minum saja.
Mereka singgah disebuah makam yang Dania tak tahu makam siapa? Sebab Mahesa hanya diam dan memejamkan matanya saat berdoa, tapi ... Dania menebak mungkin itu papa Mahesa, dari nama dan tahun kematiannya, seperti seusia Mahesa, Dania hanya menebak.
Dania juga menemani Mahesa ke kantor polisi, dan kerumah beberapa warga, namun Dania tak tahu sama sekali apa yang dilakukan laki-laki itu.
"Bapak kalau ada masalah mending cerita, biar entengan di kepala. Kalau di endepin sendiri bisa beku di otak, bisa memicu kanker otak loh Pak." Ucapnya seperti menakut-nakuti anak kecil.
"Gue udah bilang jangan ikut campur masalah gue. Tugas lo cuma buat gue suruh-suruh." Dania mengerucutkan bibir, kemarin Mahesa bisa lembut aku kamu, sekarang jadi lo gue lagi.
"Orang yang gampang emosian cepat tua loh Pak. Bapak nggak takut mati cepet? Kasihan pacarnya belum ijab kabul Bapak udah pergi duluan. Tar dia stress loh Pak. Kalau nggak, dia nikah sama orang lain, apa Bapak mau."
Mahesa yang sedang menyetir menoleh, menyentil kening Dania membuat Dania mengaduh dan mengusap keningnya.
"Anak kecil diem aja. Wanita juga kalau terlalu cerewet cepet tua dan gendut." Balas Mahesa, tapi dia suka dengan kecerewetan Dania, sedikit mengalihkannya dengan masalah yang menimpanya.
Dania meraba pipinya, kemudian menunduk, melihat badanya yang dikatai Mahesa seperti itu. Padahal Mahesa tidak mengatainya, hanya bilang kalau wanita cerewet cepat tua dan gendut, tapi Dania merasa jika Mahesa menyindirnya.
"Tapi saya masih imut kok Pak. Kata teman-teman kampus saya muka saya itu baby face, mata Bapak katarak nih." tudingnya mengada-ngada.
"Baby face, berarti teman kamu pembohong."
"Emang gitu apa?" Tanpa izin Dania memutar kaca tengah mobil Mahesa, itu membuat Mahesa melotot. Mahesa mengembalikan kaca ke posisi semula.
"Pinjam sebentar Pak. Saya mau ngapain, apa iya saya tua?" Dania kembali menarik kaca menghadapnya, namun Mahesa juga membalikkan lagi ke posisi semula.
"Bapak tuh pelit banget sih, saya kan cuma mau numpang ngaca, nggak bikin Bapak miskin dan rugi."
"Gue nggak bisa lihat belakang, oneng." Lagi-lagi Mahesa mengetuk keningnya, Dania hanya mengusap kening bekas ketukan Mahesa.
__ADS_1
"Kalau saya geger otak, Bapak harus tanggung jawab, dan donorin otak Bapak ke saya."
"Mana ada donor otak, dan kalau pun ada, gue nggak mau donor ke elo."
"Alergi banget Bapak sama saya, padahal Bapak sengaja ngurung saya biar bisa lihat muka saya yang cantik dan gemesin kan? Inget Pak, Bapak mau nikah." Lagi Mahesa mengetuk kening Dania.
"Pede banget lo tuh ya, siapa juga yang mau liat muka pasaran kayak lo, kalo gue mau sekedar cuci mata, pengunjung cafe gue banyak yang gurih-gurih. Kalo mau icip-icip juga tinggal booking, ngapain harus ngurung lo."
"Ihhh awas hati-hati, aku sumpahin Bapak bucin. Banyak loh yang kayak gitu." goda Dania dan itu membuat Mahesa geleng kepala, ada ya wanita sepede itu?
Mengajak serta Dania dalam mencari informasi tentang kematian papanya membuat perjalanan Mahesa yang cukup jauh itu tidak terasa, gadis itu kadang pintar mencairkan suasana, tapi terkadang oneng, terkadang juga menyebalkan, tapi bisa diandalkan saat dia sedang tidak nafsu makan, karena Dania paling bisa mencari tempat makan yang membuat selera makanya naik, karena Dania memiliki nafsu makan yang tinggi, diusia Dania yang ke 21 tahun, dia memang terlihat awet muda, seperti masih anak sekolah menengah. Benar, dia baby face.
Mahesa mengakui itu.
Mobil Mahesa berhenti diparkiran apartemen, dia melihat Dania yang duduk disampingnya sudah tertidur dengan mulut yang sedikit menganga dengan kepalanya menyandar pada pintu, lehernya pasti terasa sangat pegal itu.
* * *
Jam dua belas malam Mahesa melangkah memasuki rumah besar milik Abdi dan Indah. Suara deru mobilnya terdengar oleh Indah yang kamarnya memang terletak dilantai bawah dan tak jauh dari garasi.
"Anak bujang Bunda akhirnya pulang juga." Sambut Indah kepulangan Mahesa, Mahesa mencium punggung tangan Indah.
"Sengaja nungguin kamu, kangen tahu. Jangan pindah ke apartemen ah, Bunda kesepian."
Indah menuangkan air putih yang selalu tersedia diatas meja makan untuk Mahesa, sesuatu yang biasa ia lakukan setiap Mahesa pulang, lalu memberikan pada Mahesa. Mahesa menerima air putih itu lalu menenggaknya hingga tandas. Indah ikut duduk dihadapan Mahesa.
"Cuma sementara Bun. Sampai urusan Mahesa selesai," memberikan cangkir pada Indah.
"Udah makan belum?"
"Udah." jawabnya, "Bun, Papa dulu meninggalnya karena kecelakaan tunggal?" tanyanya menatap Indah serius.
"Iya, katanya sih gitu. Bunda tuh nggak pernah ketemu papa kamu, saat kita cari dan ketemu alamatnya, ternyata papa kamu sudah nggak ada. Dan menurut cerita nenek kamu, papa kamu meninggalnya karena kecelakaan tunggal, karena saat itu jalan licin habis hujan."
"Dan Bunda percaya itu?" Indah mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya begitu?"
Mahesa diam, dia menarik nafas dalam sebelum mengatakan hal yang sangat penting itu. "Bun, bukan begitu kejadiannya," Mahesa lalu menunduk, meredam dadanya yang terasa penuh dan sesak, Indah tentu terkejut.
"Maksudnya bagaimana?"
"Papa bukan kecelakaan tunggal, tapi korban tabrak lari oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Mahesa melipat bibirnya, menahan sesuatu yang ingin merembes keluar.
"Dua hari Mahesa pergi untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, dan mencari tahu tentang kematian papa."
"Mahesa kamu ke Banten?"
Mahesa mengangguk. "Dan Mahesa tahu siapa pelakunya?"
"Siapa Mahesa?"
"Nanti akan Mahesa bawa dia kesini Bun. Bunda dan nenek kunci dari segalanya."
Indah mengambil tangan Mahesa diatas meja dan menggenggamnya. "Mahesa apa maksud kamu Bunda dan nenek kunci segalanya?"
"Karena hanya Bunda dan nenek yang mengenalnya."
"Bunda mengenalnya, siapa Mahesa? Jangan membuat Bunda berpikir, Bunda sudah tua, jika harus mengingat-ngingat Bunda udah nggak bisa."
"Bun, seminggu lagi Mahesa ingin melamar perempuan yang Mahesa sayangi, izinin Mahesa dan restui Mahesa ya Bun." Bukanya menjawab pertanyaan Indah, Mahesa malah memberikan kabar mengejutkan lagi.
"Mahesa, kamu ini apa-apaan? Kenapa pulang-pulang jadi aneh begini? Tadi bilang Bunda kunci segalanya, sekarang malah bilang mau melamar perempuan, belum juga dibawa kesini kenalin sama Bunda dan Ayah. Malah mau melamar anak orang. Kamu nggak buntìngin anak gadis orang kan?"
"Bun, apa sih malam-malam berisik?" Abdi keluar sambil mengucek mata, ia memakai kain sarung yang digulung sebatas lutut.
"Mahesa, kamu sudah pulang?"
Mahesa berdiri mencium punggung tangan Abdi. Mahesa mengangguk.
"Mas, Mahesa pulang ternyata pulang dari Banten. Dan dia juga bilang sama Bunda, kalau seminggu lagi mau melamar perempuan."
__ADS_1
Abdi duduk disamping istrinya. Menatap Mahesa meminta penjelasan. Mahesa pun menjelaskan tujuannya ke Banten, dan menceritakan niatnya ingin melamar wanita yang ia cintai.
Abdi diam, ini sangat mengejutkan dan tiba-tiba, Mahesa bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta, sejauh ini, wanita yang dicintai Mahesa adalah Marsha. Dia jadi ingat perkataan Zidan yang mengatakan pada Mahesa, ingin melibatkan dia atau tidak? Dan ada sesuatu rahasia yang mereka sembunyikan darinya.