Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Perhatian Susan


__ADS_3

Belanja ke Singapur langsung memang gagal, tapi tak menggagalkan Marsha untuk membeli berbagai keperluan calon anaknya melalui online. Barang branded untuk keperluan bayi maupun keperluannya sendiri dia impor langsung dari Hongkong, Paris, dan Singapur itu sendiri.


Marsha menghitung jumlah pengeluarannya yang hampir mencapai ratusan juta dolar. Dia menggigit bibirnya takut Zidan marah.


Ceklek.


Pintu kamarnya terbuka, menampilkan wajah lelah Zidan.


"Zidan, kamu udah pulang?" diletakkannya ipad diatas tempat tidur menyambut kepulangan sang suami.


"Hai, are you okey hari ini?" Zisan duduk di sofa ujung ranjang melepas sepatunya. "Aku bersih-bersih badan dulu ya?" Marsha mengangguk, melipat bibir melihat punggung Zidan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tak lebih dari sepuluh menit Zidan sudah kembali keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit dipinggangnya. Hal itu membuat Marsha gagal fokus, dan tanpa terasa dia menelan air liurnya melihat perut sixpack Zidan yang dialiri air yang menetes dari rambutnya. Zidan tersenyum melihat wajah menggemaskan Marsha yang menatapnya liar.


"Awas iler kamu banjir." ejeknya dengan kekehan kecil. Marsha memberenggut, namun tak ada rasa malu lagi dia langsung mendekat dan menempelkan tubuhnya ditubuh tegap Zidan. Istri mana yang kuat menahan melihat tubuh atletis suaminya yang begitu menggoda ini.


Marsha pun berjinjit untuk bisa menempelkan bibirnya pada bibir merah sangat suami, beruntungnya dia mendapatkan suami yang tak perokok. Zidan pun langsung menyambut pinggang kecil istrinya, kemudian tanganya merembet keatas melewati gunung kembar dan meremasnya, memberikan sensani nikmat dan memancing. Kamudian tanganya berpindah melepaskan dress tali spaghetti yang dikenakan Marsha hingga teronggok dibawah tempat tidur mereka, bersamaan dengan handuk yang ia kenakan.


Paduan suara kini lebih sering terdengar dikamar mereka, membuat lelahnya Zidan sehabis mengais rejeki pun sirna dan beban dipundaknya terasa berkurang dengan sambutan hangat dari sang istri.


"Baby and Mommy baik-baik aja kan hari ini?" usap Zidan perut Marsha. Keduanya kini menyandar pada kepala ranjang setelah upacara paduan suara panas mereka dengan Marsha menyender dibahu tegap Zidan.


"Baik Daddy."


"Hem, kenapa hari ini nggak jadi belanjanya?" Zidan mengecup kening Marsha sambil mengusap pundak polosnya.


"Aku tadi pergi ke suatu tempat. Eh nggak jadi deh." Marsha nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya. Kemudian dia mengambil ipad miliknya tadi.


"Tapi aku udah belanja lewat online tadi, nih. Hee." Kembali nyengir memperlihatkan total belanjaanya.


"Kenapa harus impor sih, produk lokal kan juga bagus-bagus."


"Aku kan pengusaha kaya, istri pengusaha kaya juga. Aku juga influencer, masa kalau posting di sosial media pakaian yang dipakai anakku biasa aja." jawabnya seraya memanyunkan bibirnya.


"Justru itu, nanti kamu bakal dapat banyak pujian dari pengikut kamu, selain cantik, kamu rendah hati, pegiat pecinta produk lokal, itu juga kan membantu perekonomian masyarakat kecil kita. Nggak perlu branded atau semacamnya." Jelas Zidan memberitahu istrinya.


"Ckk, Zidan kamu tuh bilang begitu karena jumlah tagihanya yang gede ya?"


Zidan tersenyum tipis. "Enggak sayang, bukan masalah itu. Coba kamu bayangin jumlah tagihan yang kamu belanjakan, kalau untuk beli produk lokal jumlahnya nggak akan habis segitu, sisa uangnya bisa kamu sumbangin bagi yang membutuhkan."


"Bilang aja kamu pelit," Marsha mencebik, "kamu kan tahu Zidan, kalau keluarga aku juga punya yayasan khusus anak yang kurang beruntung, untuk itu aku juga tahu. Kalau masalah ini, aku juga punya hak, aku harus menikmati hidup."


Zidan menarik nafas. "Oke, nikmatilah sayang, tapi janji jangan pakai uang kamu atau kamu minta sama keluarga kamu. Kamu harus belanjakan semua menggunakan uang ku."


"Ternyata service malam ini banyak buntutnya ya dibelakangnya."


Marsha menatap kedepan, berpikir apakah dia harus jujur pada Zidan, jika dia menemui Naima?


"Ada apa hem? apa ada yang kamu pikirin? maaf kalau ucapan ku menyinggung kamu." Marsha menoleh, menatap Zidan.


"Zidan, kalau suatu saat mama minta dibebaskan, apa kamu bakal bebasin mama?"


Zidan diam hanya menatap Marsha, hampir setiap hari istrinya itu menanyakan perihal ini.


"Kita bahas nanti."


"Tapi aku mau dia merasakan kebahagiaan kita sebelum aku melahirkan," rengeknya sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Zidan.


"Kamu udah makan, ada yang anak kita pengenin misalnya."


Marsha mengerucutkan bibirnya manja. "Selalu mengalihkan, aku maunya nenek disini."


"Kita bahas lain kali. Sudah malam, kalau mommy tidak pengen apa-apa, kita tidur." Bawa Zidan kepala istrinya untuk rebahan. Mengecup kening istrinya terlebih dahulu, mengatur suhu ruangan agar tidak terlalu dingin, lalu memeluk punggung Marsha yang membelakanginya. Keduanya pun mulai tenggelam ke alam mimpi bersama.

__ADS_1


*


*


*


Disuatu lembaga kemasyarakatan khusus wanita.


Wanita tua itu terus menatap kertas bergambar bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu. Walau bayi itu belum lahir, namun dengan adanya kemajuan teknologi, bayi dalam perut pun sudah bisa terlihat wajahnya. Jemarinya yang sudah keriput itu mengusap wajah sang bayi, air asin itu merembes dari pelupuk matanya yang dulu kencang, dan tiba-tiba tubuhnya bergetar mengingat dosa-dosa yang telah dia lakukan.


"Ma, aku bisa membebaskan Mama kalau Mama mau. Sebagai istri aku mau membahagiakan Zidan, aku sedih melihat dia hidup sendiri, sampai dia membangun tembok tinggi pada kakek Valent, karena trauma hidup yang kalian berikan padanya."


Ucapan menantunya itu terus terngiang ditelinganya.


"Apa aku pantas bebas begitu saja atas apa yang telah aku lakukan?" Naima memeluk kertas usg milik Marsha sambil terguguh, dia mengingat dosa-dosanya pada Zidan dan papanya yang habis ditanganya sendiri. Naima mengangkat tangannya, melihat telapak tangan serta jemarinya, sejurus kemudian dia memukuli tanganya.


"Dasar bodòh, tangan sialan, kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu sampai bisa melakukan itu, dia papa ku, dia yang membesarkan aku dan anakku." Marahnya pada diri sendiri.


"Dasar perempuan sìnting! Ngapain sih Lo? jangan bilang lo odegeje ya biar lepas dari tanggung jawab, sini tugas lo belum selesai," seorang senior kamarnya langsung menarik rambut Naima, menyeretnya dan menghempas tubuh Naima hingga membentur tembok.


Dalam satu kamar Naima yang berukuran 1,5×2,5 m itu berisikan lima orang. Dan ketiga orang teman lainnya hanya melihat Naima tanpa mau membantu dan belas kasihan.


"Cepat, pijat kaki ku sekarang." perintah senior bertubuh gempal dan padat itu.


Naima berdiri tanpa menyahut ucapan seniornya, dan saat itu juga kakinya diselengkat oleh senior yang lainnya, membuat Naima kembali terjatuh.


Hahahaha, Naima pun hanya mendapat tertawaan.


* * *


Seperti biasa, saat akan berangkat ke kantor dan sudah rapih, kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu kembali melakukan aktivitas olahraga pagi mereka yang menguras banyak tenaga.


"Kamu tuh kebiasaan deh udah rapih gini bikin mandi lagi," omel Marsha pada Zidan yang baru saja bangkit dari atas tubuhnya. Zidan terkekeh dengan tubuh polosnya dan seketika mengangkat tubuh sang istri untuk dibawanya kedalam kamar mandi untuk mandi bersama kedua kalinya.


Setelah tiga puluh menit mereka selesai acara mandinya, kemudian Zidan langsung bersiap, lagi Zidan tak sempat sarapan bersama, Marsha yang cuek tak mempermasalahkan itu.


* * *


Dikantor Zidan. Susan masuk kedalam ruangan Zidan seraya membawa kotak bekal dan secangkir kopi pesanan Zidan.


"Bapak kan tadi minta dibelikan sarapan, kebetulan saya bawa bekal lebih, tapi hanya nasi goreng rumahan biasa, Pak. Semoga Pak Zidan suka." Susan meletakkan kotak bekal berwarna hitam polos itu.


Zidan yang sedang memeriksa berkas-berkas laporan mendongakkan kepala melihat Susan. "Terima kasih Susan. Kenapa nggak belikan sarapan ditempat biasa saja?"


"Saya yakin Bapak pasti bosen sama menu dikantin yang itu-itu aja, makanya saya berinisiatif bawakan Bapak sarapan, karena saya menebak Bapak pasti belum sarapan dari rumah."


"Kamu sampai tahu kebiasaan saya, Susan." ucap Zidan tanpa ada rasa curiga, dia mengambil kotak bekal pemberian Susan, membukanya yang langsung tercium aroma lezat khas nasi goreng.


"Hmmm dari baunya saja sudah enak, saya yakin rasanya juga pasti enak."


Susan tersenyum senang mendapat pujian dari Zidan. "Silahkan di coba, Pak. Saya yakin Bapak suka." sigap Susan menarik tissu dari atas meja, mengelap sendok lalu memberikannya pada Zidan.


Zidan menyendok nasi goreng itu, mengunyahnya sebentar, Susan melihat itu jadi deg-degan, seperti menunggu akan dinilai oleh chef Juna.


"Enak banget ini, Susan. Sumpah rasanya seperti abang penjual nasi goreng pinggir jalan, lebih enak malah."


"Benar kah, Pak?" Susan memiringkan kepalanya memastikan pujian Zidan tidak dibuat-buat atau dilebih-lebihkan.


Zidan mengangguk. "Iya, enak ini. Saya tuh udah lama banget nggak ngerasain masakan khas rumahan gini."


"Bapak kan punya istri, Bapak minta masakin aja sama istri Bapak."


"Marsha itu nggak pernah masak, saya nggak mau ngerepotin dia."

__ADS_1


"Besok kalau Bapak mau, saya bisa buatkan Bapak sarapan lagi, Bapak bilang aja mau dimasakin apa?"


"Nggak usah, pesanin seperti biasa saja." Susan hanya mengangguk, tapi dalam hatinya dia sudah memikirkan menu yang akan ia bawa besok.


Dan hari ini Zidan kembali disibukkan oleh pekerjaanya, melakukan banyak meeting, dan makan malam dengan para koleganya sampai lupa mengabari Marsha. Sudah pukul 12 malam, Zidan baru selesai dengan acara makan malamnya.


"Sudah malam, kamu saya antar saja Susan."


"Nggak usah, Pak."


"Anggap ini ucapan terima kasih saya, karena kamu sudah banyak membantu saya mengembangkan hotel ini. Kalau terjadi apa-apa pada kamu juga saya nggak enak."


"Yes." Susan bersorak riang dalam hati. "Emang istri Bapak nggak nanyain Bapak kalau pulang terlambat?" tanya Susan ingin tahu lebih mengenai rumah tangga Zidan dan Marsha.


"Marsha itu pengusaha, kamu tahu kan? Dia sangat pengertian, apalagi tahu kalau saya sedang membuka hotel baru."


Susan mengangguk, lalu menoleh pada Zidan yang sedang berkonsetrasi pada stir mobilnya, sumpah ya, setelah menikah, pesona Zidandua kali lipat dan semakin memikatnya. Kenapa baru sekarang dia terpikat dan tertarik pada Zidan.


Apa karena dulu Zidan jarang ada dikantor, dan lebih sering bersama Marsha? Jadi dia baru menyadari ketampanan yang dimiliki Zidan.


"Pak, minggu depan kita akan meninjau proyek di Surabaya. Sepertinya membutuhkan waktu lama. Bagaimana? Apa saya carikan hotel untuk kita menginap?"


Zidan diam tanpa menoleh. "Saya pikirkan nanti, sepertinya saya nggak bisa pergi terlalu lama, Marsha sedang hamil tua."


"Tapi ini penting loh, Pak."


"Nanti saya pikirkan lagi." Sahut Zidan.


Jam satu dini hari Zidan baru sampai dirumahnya. Saat membuka pintu kamar, dia langsung disambut wajah cantik Marsha yang sudah terlelap dialam mimpinya.


Zidan pun langsung berlalu ke kamar mandi guna membersihkan diri. Tak lebih dari lima menit dia sudah keluar dengan kaos dan celana rumahannya. Zidan pun ikut masuk dalam selimut istrinya, memeluk punggung Marsha.


Marsha pun terjaga. "Enggh, Zidan kamu sudah pulang?" tanyanya seraya membalikkan badan.


"Aku ganggu kamu ya?" Marsha menggeleng merapatkan tubuhnya pada Zidan mencari kehangatan. "Makan banyak nggak hari ini?"


"Nggak, besok pagi aku mau dimasakin mi instan."


"Siap nyonya, maaf belakangan ini aku selalu sibuk, dan nggak sempet masakin buat kamu."


"Nggak papa, kan semua buat kita." Marsha kembali memejam, diikuti oleh Zidan yang melingkarkan tangannya dipunggung sang istri.


Keesokan paginya, Susan sudah menghubungi Zidan di pagi buta, mengabari jika akan ada meeting dadakan dengan investornya yang dari luar negeri.


"Maaf ya sayang, aku buru-buru, nggak bisa buatin mi instan buat kamu." Kata Zidan tak enak sambil mengenakan jam tangannya.


Marsha mengangguk, dia memahami itu, dia pun dulu sangat sibuk dan sering ada meeting atau pertemuan mendadak seperti ini.


Tapi saat Zidan sudah sampai dikantor, ternyata investornya itu masih dalam perjalanan, dan akan tiba satu jam lagi.


"Maaf Pak, sudah membuat Bapak datang lebih awal," ucap Susan.


"Lain kali pastikan baik-baik Susan, saya sampai tidak sempat membuatkan sarapan untuk istri saya." sahut Zidan sedikit kesal.


"Bapak marah sama saya?" tanya Susan menunjuk dirinya membuat Zidan mengerutkan keningnya. "Maaf Pak."


"Saya nggak marah," ucap Zidan, "yasudah kamu boleh keluar." usirnya membuka ponsel ingin menghubungi Marsha.


"Saya bawakan Bapak sarapan, Bapak pasti belum sarapan kan?" Susan tak mau hilang kesempatan.


"Kamu letakkan saja di meja, nanti saya makan."


"Saya bawakan sandwich Pak. Saran saya Bapak makan sekarang, jadi nanti jika kita mulai meetingnya, Bapak sudah kenyang dan tidak terburu-buru."

__ADS_1


Zidan membenarkan saran Susan. "Kamu benar juga, makasih ya atas perhatiannya." Zidan pun mulai memakan sarapan yang dibuatkan Susan. Zidan menikmati sarapan yang dibuat Susan karena pas dilidahnya, dan itu kembali membuat Susan senang bukan kepalang.


__ADS_2