
Memiliki pasangan yang unik dan ajaib itu memang menyenangkan, membangun suasana rumah tangga tidak terasa membosankan, terkadang ia terlihat pintar dalam segala hal, namun juga mudah terkeco oleh sesuatu yang jelas-jelas ada yang disembunyikan oleh pasangannya, namun ia tidak paham dan peka.
Termasuk Marsha, wanita pintar, pernah memimpin perusahaan, namun ia tak cukup peka dengan hal ganjil yang dilakukan suaminya. Sudah terhitung dua hari Marsha sibuk mencari keberadaan ibu mertuanya yang tiba-tiba bebas, entah siapa yang membebaskan. Dia pun kini tengah membuntuti kemanapun suaminya pergi, berkat gps yang ia pasang di mobil suaminya.
Seperti saat ini, Marsha mengikuti Zidan yang sedang melakukan pertemuan dengan klienya di salah satu hotel bersama sekretarisnya, ia ingin tahu, apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Zidan padanya, dan ingin tahu, apa yang Zidan rencanakan bersama Mahesa, tapi, dua hari membuntuti suaminya, Zidan tak pernah bertemu dengan Mahesa.
Apa jangan-jangan hanya akal-akalan Zidan saja ingin berduaan selalu dengan sekretarisnya?
Marsha mengenakan dress hitam longgar untuk menutupi perutnya yang buncit, celana bahan panjang hitam, memakai topi serta masker berwarna senada. Dia duduk tak jauh dari meja Zidan, suaminya itu duduk satu sofa dengan sekretarisnya. Marsha mengintip melalui majalah yang sengaja untuk menutupi wajahnya agar ia tak ketahuan jika sedang menguntit.
Sekretaris suaminya terlihat begitu perhatian pada Zidan, setelah meeting, mereka melanjutkan makan siang, Susan begitu perhatian dan cekatan menyediakan makanan untuk Zidan, bahkan Susan mengambil irisan cabai dipiring Zidan, karena Zidan tak suka pedas.
Itu membuat dada Marsha panas, ingin dia mendamprat keduanya saat ini juga, tapi Marsha menahannya, ia tak mau jika kejelekan rumah tangganya diketahui banyak orang.
Tapi Marsha yang sekarang jarang melihat sosial media, tak menyadari jika apa yang dilakukan Susan itu, Susan posting di media sosial, dan Susan men-tag akun sosial milik Marsha.
Dan postingan itu tentu ramai yang berkomentar, karena Susan membubuhkan caption.
"Kasihan banget bos aku, semenjak menikah sama istrinya yang katanya horang kaya itu, dia gak pernah dilayani layaknya seorang suami. Gak pernah disiapin makan atau sekedar dibuatin kopi saat pulang kerja, justru dia selalu yang nyiapin semua keperluan istrinya saat ia pulang. Makanya saat aku memutuskan untuk resign kemarin, dia panggil aku lagi, sebab dia gak bisa jauh dari aku. Gak ada yang layani, dan perhatian sama dia." Emoji sedih diakhir caption.
Berbagai komentar miringpun akhirnya ditujukan pada Marsha, apalagi sebelum menikah dengan Zidan, Marsha terkenal selain sebagai pengusaha, dia juga terkenal sebagai selegram yang suka berbagi pada orang-orang kurang mampu di sosial medianya.
"Seharusnya, meskipun dia anak orang kaya, dia bisa menghargai suaminya, masa suami udah capek pulang kerja, harus ngurusin dia juga?" ujar deterjen berkomentar.
__ADS_1
"Nggak nyangka ya, ku kira biarpun dia kaya, dia baik, ternyata ..."
"Kasihan suaminya, nggak dihargai oleh istri sendiri. Mentang-mentang istrinya kaya."
"Aku bersyukur punya istri yang selain cantik, baik, dia juga menghargai aku sebagai suaminya. Setiap aku pulang kerja, udah disediain kopi, makanan selalu tersedia diatas meja, mau aku pulang malam sekalipun, dia tetep bangun dan temenin aku makan, padahal dia udah lelah seharian ngurus anak-anak kami, dia juga kelihatan ngantuk, tapi tetep nemenin aku makan. Salut buat istriku, makasih my wife, kamu memang istri terbaik. Padahal kamu juga dari keluar berada, tapi kamu tetep tahu kewajiban kamu sebagai seorang istri."
"Itulah jangan cari pasangan yang hanya modal tampang doank, benar-benar harus dilihat dari 3Bnya, bukan bibit, bebetnya doank, tapi bobotnya juga, jangan cuma dia cantik, anak orang kaya, tapi kepribadianya kualitas rendah. Orang kaya belum beradab. Miris."
Namun ada juga yang berkomentar baik.
"Dulu setahuku dia orang yang dermawan, aku rasa itu mah cuma akal-akalan pelakor aja buat ancurin rumah tangga mereka."
"Aku kenal mereka berdua, dulu kami satu sekolah, tapi emang sih cewek ini gak suka sama Miss Marsha sejak dulu, dia selalu iri sama Marsha. Aku yakin si Susan ini cuma mau ancurin rumah tangga Marsha."
"Tutorial memperlakukan diri sendiri, karena wanita baik gak akan umbar kemesraan dengan laki orang, itu tanganya, dia pelakor. Hati-hati guys."
Meski Marsha belum menyadari itu, tapi hal itu cepat menyebar dan diketahui oleh keluarga Marsha. Rasya yang sedang berada dikantor pun dibuat meradang dan marah mengetahui suami anaknya dekat dengan sekretarisnya, terlebih anak perempuan kesayangan dan satu-satunya mendapat cemooh dari orang-orang yang tidak mengenal putrinya.
Zidan yang sedang melakukan makan siangpun mendapat telepon dari ayah mertuanya, dan diminta bertemu sekarang juga. Zidan yang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya menurut saja, dan cukup heran mendengar suara Rasya yang terdengar sangat marah.
Mawar, mendapat laporan dari art-nya yang sedang ngerumpi dengan sesama Art tetangga pulang dengan tergopoh-gopoh dan memberi tahu sang majikan. Mawar tentu terkejut, ia langsung memanggil supir untuk mengantarnya menuju ke kantor sang suami, art Mawar termasuk aktif bermain disosial media dibanding dirinya, jadi wajar jika dia mengetahui lebih dulu.
Mawar yakin suaminya sudah mengetahui berita ini, dan dia takut, jika suaminya akan kehilangan kendali, lalu bertindak diluar batas pada menantunya itu, mengingat Rasya belum sepenuhnya merestui hubungan mereka.
__ADS_1
Melihat Zidan pergi karena sedang menerima telepon dari Rasya. Susan yang tahu jika Marsha sedang membuntuti mereka pun pergi dari sisi lain.
"Kamu tuh, nggak percaya ya sama suami sendiri? Makanya harus pura-pura jadi detektif buat buntutin suami kamu." Suara Susan mengagetkan Marsha, Marsha menurunkan majalah dan menatap Susan tajam.
"Kalau memang kamu istri yang baik, suami kamu juga nggak akan tuh tergoda sama wanita manapun, apalagi kalau istrinya perhatian, mau semenarik apapun wanita itu, jika dia dapat perhatian dan pelayanan yang baik dari istrinya, dia nggak akan cari perhatian sama wanita lain." Susan mencontohkan tubuhnya kearah Marsha menantang. "Lain lagi ... kalau istrinya nggak perhatian, dan maunya diperhatiin, mau secantik dan sekaya apapun istrinya, dia tetap akan cari perhatian diluar, jadi jangan salahin suami yang selingkuh, tapi istrinya yang gak becus jadi urus suami." Ucap Susan lantang, lalu menegakkan kembali tubuhnya.
Susan tersenyum puas malihat wajah marah Marsha, menaikkan satu alisnya sambil melipat tangan di bawah dada, dengan wajah menyebalkanya, sengaja membakar emosi Marsha yang sudah diatas ubun-ubun.
Marsha memejamkan mata guna meredam emosi, dia tahu jika Zidan memiliki rencana yang dia belum ketahui, namun dipanas-panasi seperti ini, dia terpancing juga.
Tapi Marsha cepat menguasai diri, sebisa mungkin ia membuat dirinya lebih santai. Marsha membalas tatapan Susan dengan tatapan merendahkan.
"Iya, memang aku akui jika aku kurang percaya dengan suami ku. Aku sekadar ingin tahu, sejauh apa kesetiaanya, kalau memang dia berselingkuh, berarti dia lelaki rendahan yang tidak pantas aku pertahankan dan pastas untuk perempuan rendahan seperti kamu, jadi untuk apa aku berlama-lama hidup dengan suami seperti itu. Aku akan dengan ikhlas memberikan dia untuk kamu, memang sakit diawal, tapi aku yakin aku akan mendapatkan pengganti jauh lebih baik dari itu, bukan bekas ataupun merebut milik orang lain."
Marsha berdiri, mengambil tas jinjingnya, dan meninggalkan Susan. Tapi ternyata Susan kembali membalas ucapan Marsha cukup menohok.
"Tapi jika dia sudah menjadi milikku, aku akan membuatnya takluk padaku dan tak akan berpaling, karena aku tahu kelemahan laki-laki terletak dilambungnya, jika lambungnya sudah terpuaskan, dia tidak akan terpikat oleh wanita manapun. Seperti halnya tanaman, jika dirawat dan dijaga, tak akan ia mencari tuan lain yang bisa merawatnya."
Marsha yang sudah melangkah menghentikan langkahnya.
"Dan laki-laki sejati yang sesungguhnya tidak akan menuntut apa-apa dari pasangannya, dia tetap akan meratukan istrinya mau seperti apa istrinya, bukan malah menjadikan istrinya babu untuknya."
Balas Marsha yang memang tak pernah mau kalah dari siapapun. Ia pergi dengan perasaan kecewa berat sambil menghapus air matanya. Kenapa Zidan membiarkan Susan perhatian padanya didepan para rekan bisnisnya? Mau itu hanya bagian dari rencananya, tidak sepatutnya Zidan menunjukkan pada orang lain.
__ADS_1