Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Kembali Gagal


__ADS_3

Selepas Zidan berangkat ke kantor, Marsha bersiap untuk mengunjungi Naima. Dia bercengkrama terlebih dahulu bersama Valent ditaman belakang, duduk bersisihan yang dipisahkan meja bulat menghadap kolam.


"Kamu mau pergi, Nak?" tanya Valent. Pura-pura tak tahu kemana Marsha akan pergi.


"Iya Kek. Ada urusan sebentar."


"Mau ke kantor Zidan juga?"


Marsha menggeleng. "Katanya Zidan mau jemput, belanja keperluan baby, sekaligus makan siang diluar. Kakek ikut yuk."


Hahaha "Tidak, kalian saja, nikmati waktu bersama kalian, Kakek cukup menikmati waktu dirumah." Valent mengamati perut Marsha. "Berapa lama lagi kamu melahirkan?"


Marsha menerawang, mengingat hpl-nya. "Kira-kira tujuh mingguan lagi."


"Apa yang kamu butuhkan? Ini cicit pertama Kakek, Kakek ingin ikut andil memenuhi kebutuhannya."


"Apa ya, Kek? Banyak sebenarnya, aku menunggu inisiatif Zidan, tapi dia selalu sibuk. Zidan memang tidak peka," Marsha memanyunkan bibirnya.


"Hem, dia terlalu bekerja keras. Menolak bantuan Kakek juga."


"Aku sebal dengan sifatnya yang seperti itu, tapi aku salut, dia laki-laki sejati, tidak mau menerima harta warisan begitu saja, kebanyakan laki-laki hanya berfoya-foya, menikmati hasil jerih payah orang tua mereka, tapi Zidan berusaha membangun usahanya sendiri. Sebenarnya aku tidak masalah dia bekerja keras seperti itu, aku mendukung apapun yang dia lakukan, tapi ada yang tidak aku suka," Valent menatap Marsa dengan seksama, mendengarkan dengan serius cerita cucu menantunya itu.


"Sekretarisnya, Kek. Aku merasa sekretaris Zidan ada niat tak baik, aku mencium bau-bau pelakor dari dia. Aku meminta Zidan memecat wanita itu, tapi dia tidak mau. Dengan alasan wanita itu sudah bekerja bersamanya sejak hotelnya berdiri. Kenapa Zidan tidak memakai sekretaris laki-laki saja? Apap Rasya aja memakai sekretaris laki-laki demi menjaga perasaan Amam."


"Kalau kamu tidak suka, Kakek bisa menegur Zidan."


"Jangan, Kek." Marsha langsung menolak. "Biarlah urusan ini menjadi urusan ku bersama Zidan. Hubungan Kakek dengan Zidan belum baik, aku tidak mau membuat hubungan Kakek dan Zidan jadi memburuk, aku curhat sama kakek, karena tidak mungkin aku menceritakan masalah ini pada keluarga ku. Nanti keluarga Marsha masih benci tapi kami sudah akur lagi."


Valent mengangguk, dia kagum dengan kepribadian Marsha yang cukup dewasa menanggapi sesuatu.


Saat berbincang-bincang dengan Valent, Marsha mendapat telepon dari Zidan.


"Sayang, maaf siang ini aku tidak bisa jemput kamu."


"Kenapa?"


"Susan tidak masuk, jadi aku harus menghandle pekerjaan ku sendiri. Maaf sayang, bagaimana kalau kita ganti hari lain."


"Hem, yaudah. Besok aja."


"Kamu jangan menyusul kesini, aku tidak mau kamu kelelahan."


"Hem." hanya menjawab dengan gumaman."


"Sayang kamu marah?"


"Enggak!"

__ADS_1


"Aku minta maaf."


Aku bosan dengar permintaan maaf kamu


"Marsha, sayang. Jangan marah, aku janji besok kita jadi belanja."


"Hem."


"Sekali lagi aku minta maaf, tolong mengerti posisi ku. Marsha, aku lanjut kerja ya, kamu jangan telat makan."


Panggilan berakhir, wajah Marsha berubah suram.


"Ada apa?" tanya Valent melihat perubahan wajah Marsha.


"Tidak apa-apa, Kek." jawabnya bohong, "Kek aku jalan dulu, Kakek hati-hati dirumah."


Valent mengangguk, dia membiarkan Marsha pergi sendiri, tapi tetap mengirimkan orang untuk melindungi Marsha dari jauh.


Marsha duduk termenung, kepalanya ia tempelkan di jendela mobil, pikirannya menerawang tak tahu arah, dia merasa sepi, Marsha ingin Zidan memiliki waktu yang banyak untuknya. Baru dirasakan olehnya, jika dia bukanlah prioritas Zidan, dan dia butuh perhatian lebih dari suaminya.


Setelah mengunjungi Naima, kini dia bingung harus kemana? Marsha merasa bosan dirumah, ingin ke kantor Zidan pun dia malas, dia kecewa.


Marsha terus termenung, membuat supirnya bingung mereka akan pulang kemana?


"Miss, kita pulang kemana?"


'Haduh' Supir Marsha semakin dibuat bingung, suasana hati majikannya sedang tidak baik.


"Miss, itu seperti saudara Miss yang bernama Mahesa."


Marsha menegakkan duduknya. "Mana?"


"Itu, di halte." Marsha mencari halte yang dimaksud. Dan dia melihat Mahesa nampak sedang berdebat dengan seoarang wanita, Marsha tak terima perlakuan Mahesa, diapun meminta pak supir untuk memutar arah, menghampiri Mahesa.


"Gara-gara kamu, motor saya jadi lecet semua." ucap Mahesa marah.


"Kok kamu yang jadi marah-marah. Kamu yang nabrak, seharusnya aku yang marah sama kamu."


"Ya wajarlah, kamu jalan sambil bengong."


"Kamu tuh nggak tahu nasib aku hari ini, jangan marah-marah deh. Aku lihat kamu orang kaya, motor cuma lecet mah gampang, tinggal bawa bengkel, beres. Orang kaya kok ribet."


"Aku nggak perduli sama nasib kamu, aku mau kamu ganti rugi."


"Eh, mas, atau bang, atau pakde. Tas saya Itu habis di jambret, dompet, hape, sama segala macam keperluan saya itu ada didalam tas. Jadi saya sekarang hanya punya nyawa. Kalo mas kekeh minta ganti rugi, ya tinggal ambil nyawa saya, gampang kan. Situ meringankan pekerjaan malaikat Izroil."


Marsha hanya bersedekap dada mendengar pertengkaran itu, seru juga, pikirnya.

__ADS_1


"Berarti emang kamu niat bunuh diri ya, oh ... atau emang kamu komplotan penipu, pura-pura ditabrak, minta pertanggungjawaban gitu? Ayo panggil semua komplotan kamu."


Astaga, si wanita yang berdebat dengan Mahesa menggaruk kepalanya. "Mas, saya itu laper banget, berangkat mau ngelamar kerja, jadi buru-buru, nggak sempat sarapan. Jadi mas, debatnya bisa nggak ditunda dulu? Nanti kalo mas udah kasih saya makan, jujur buat buka mulut aja saya susah, lapar mas," gadis itu memegangi perutnya. "Berdebat juga butuh tenaga."


Hahaha Marsha tertawa. Gadis yang berdebat dengan Mahesa ini terlihat masih lugu, dan polos. Jika dilihat dari penampilannya yang memakai kemeja putih, rok span hitam bawah lutut, dia memang mau melamar kerja.


"Kamu benar juga, berdebat memang butuh tenaga." Mahesa dan gadis itu menoleh kearah Marsha.


"Hes, kamu nggak dengar? tadi dia bilang butuh makan. Kamu harus kasih dia makan."


"Marsha." Mahesa terkejut atas kehadiran Marsha.


"Kalau kamu nggak mau kasih makan, biar aku aja yang ajak dia makan." tanpa menunggu jawaban Mahesa, Marsha merangkul pundak gadis itu, memaksakannya masuk ke mobil.


Dan didalam mobil, Marsha baru tahu nama gadis itu, Dania.


Marsha meminta supirnya untuk membawa mereka ke restoran terdekat, Marsha sedang butuh teman untuk menemaninya makan siang.


Mobil mereka berhenti disepan pintu masuk restoran.


"Miss, bukanya itu mobil pak Zidan?"


Marsha menegakkan duduknya melihat kedepan, dia menajamkan mata memastikan jika plat mobil tesebut milik suaminya. Benar, itu mobil Zidan, bibir Marsha mengembang, sebuah kebetulan yang sangat tidak sengaja. Namun sayang, kebahagiaan Marsha hanya sekejap, karena tak lama, Zidan keluar dari restoran seraya memapah Susan yang sedang memegangi kepalanya.


Tangan Marsha mengepal, sungguh hatinya begitu sakit melihat pemandangan itu. Bukankah katanya Susan libur? Lalu apa ini? Zidan membohonginya?


Hati Marsha rasanya seperti tercabik-cabik, Zidan membatalkan acara belanjanya, mengatakan jika sekretarisnya tidak masuk, namun kenyataan yang ia lihat justru sebaliknya.


"Pak, klakson yang kencang." pintanya pada supir.


Marsha tidak bisa menahan untuk tak melabrak Zidan langsung, dadanya sudah bergemuruh, tak mungkin jika dia harus menunggu dan membuntuti, waktunya tidak akan ia habiskan untuk hal yang tidak penting, bisa-bisa dia melahirkan mendadak didalam mobil.


Zidan menoleh kebelakang, ingin memaki si pemilik kendaraan yang tak sabaran, namun dia terkejut, saat ia melihat mobil itu ternyata mobil istrinya.


Zidan berlari kecil menghampiri mobil Marsha, dan membuka pintu belakang.


"Sayang, kamu disini?"


Marsha diam tak menjawab, wajahnya sudah sangat emosi. Zidan menyadari kesalahannya, dia menggaruk kepalanya.


"Sayang, aku bisa jelasin semuanya, yang kamu lihat, bukan seperti yang kamu lihat."


Marsha mendengus. "Bukan seperti yang kamu lihat? Terus aku harus melihat apa?"


Zidan memilih masuk kedalam mobil Marsha, menelepon supirnya untuk mengantarkan Susan ke rumahnya. Didalam mobil sana, Susan menjadi lesu, dia sudah berakting, tapi kembali gagal karena kehadiran Marsha.


Akhhh sial, kenapa sih nenek sihir itu harus datang?

__ADS_1


__ADS_2