Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Suami Menyebalkan


__ADS_3

Pukul empat sore Zidan sampai dikediaman Abdi. Dia disambut hangat oleh pasangan pasutri yang merupakan orang tua angkat Marsha.


Setelah mengobrol sebentar dengan Abdi dan Indah yang, Zidan meminta izin pada Indah ke kamar Marsha untuk menemui istri yang ia rindukan.


Melihat Marsha yang nyaman dalam tidurnya, Zidan ikut naik ke tempat tidur, dan ikut merebahkan diri dibelakang Marsha yang tidur miring ke kiri. Zidan melingkarkan tangan kekarnya di bawah perut Marsha yang sudah sangat besar, diusap-usapnya perut Marsha, seraya menempelkan hidungnya dibelakang leher Marsha, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Marsha yang sangat ia rindukan.


"Kita sering banget berantem, sayang. Aku rindu," bisiknya. "Maaf, aku udah sering bikin kamu marah." Zidan menghela nafas, sangat tahu jika dia menyakiti Marsha.


Tapi dia tak ada pilihan, saat ini dia sedang sangat membutuhkan Susan sebagai sekretarisnya.


Disisi lain, sebenarnya Marsha sudah bangun, dia dengar apa yang ucapkan Zidan. Tapi Marsha pura-pura memejamkan lagi matanya, malas untuk menyapa Zidan, dia masih sangat kesal.


Tanpa terasa matanya memanas, dan tak bisa menahan laju air yang asin itu untuk keluar dari sudut matanya yang jarang sekali bahkan tak pernah ia keluarkan untuk hal-hal receh. Dan setelah menikah, dia lebih banyak menangis dibanding tertawanya.


Dulu ia sangat pantang dekat dengan lelaki, baginya semua lelaki sama saja, hanya bisa menyakiti dan mempermainkan perasaan wanita. Tapi sayangnya dia merekrut Zidan menjadi sekretarisnya, membuat satu persatu masalah datang silih berganti, sampai akhirnya dia terjebak tidur bersama dengan Zidan. Zidan melamarnya, dan dimalam itu Zidan mengakui jika hanya dijadikan objek balas dendam sakit hati orang tuanya.


Padahal dari kejadian itu, dia bisa berkaca dan tak perlu menerima Zidan sebagai suaminya, tapi hatinya terlanjur terjebak oleh perangkap cinta Zidan.


Setengah jam berlalu, Marsha merasa lelah, dia bukan ratu drama yang bisa berlama-lama diam seperti ini.


Disingkirkanya tangan Zidan.


"Marsha, kamu sudah bangun?"


Marsha tak menyahut, perlahan dia mengangkat tubuhnya yang sudah mulai sulit ia gerakkan.

__ADS_1


"Pelan-pelan," Zidan memegangi kedua pundaknya, ingin membantu.


"Menyingkir," ditepisnya kasar tangan Zidan. "Ngapain kamu kesini? Sana, urus saja sekretaris gatel kamu."


"Dia sudah aku pecat, dan sudah mengundurkan diri."


"Aku nggak percaya."


"Sumpah sayang."


"Bagus, seharusnya dari dulu kamu pecat dia." Marsha berkata ketus tanpa melihat wajah Zidan, berjalan kearah pintu. Zidan cepat menyusulnya menghalangi.


"Mau kemana?"


"Keluar, sumpek liat muka suami nyebelin kayak kamu."


"Terlalu mudah memaafkan seseorang, akan membuat orang itu dengan mudahnya untuk berbuat kesalahan lagi."


"Artinya aku belum dimaafin?" Marsha hanya menghela nafas.


"Sayang, sudah. Kamu jangan marah-marah lagi, nggak kasihan sama anak kita? Aku rindu." didekapnya tubuh Marsha dari belakang.


Marsha membalikkan badan, melepas dekapan Zidan.


"Terus? Kamu sendiri nggak kasihan sama aku? Aku minta dari kemaren kamu buat pecat Susan, tapi kamu lebih mementingkan dia dibanding perasaan istri kamu sendiri."

__ADS_1


"Marsha, sudah. Aku lelah, bisa nggak kita hentikan perdebatan ini? Aku dan Susan nggak lebih dari rekan kerja biasa, dan sudah berkali-kali aku jelasin ke kamu kalau_"


"Susan sudah lebih dulu dan sudah lama menjadi rekan kerja kamu. Iya? Gitu?


"Tapi memang itu kenyataannya." Marsha membuang muka, tak habis pikir, disaat seperti ini Zidan masih membela wanita yang jelas-jelas tak ia sukai.


"Kalau begitu kamu lebih baik pergi dari sini, jangan temui aku jika masih terus membela wanita lajang itu."


Zidan mengambil kedua pergelangan tangan Marsha. "Hei, dengerin aku." Marsha masih enggan menatapnya.


"Percaya sama aku, aku suami kamu. Marsha, cuma kamu yang ada didalam hati aku, tidak akan tergantikan dengan siapapun, aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun diluaran sana. Jadi, jangan buang-buang waktu dan tenaga kamu, cemburu dengan hal-hal yang akan mengganggu mental kamu dan anak kita."


"Kamulah penyebabnya Zidan. Kamu sadar nggak sih sama yang kamu lakuin itu benar-benar buat aku marah, Hah? Bayangin kamu nggak perduli dengan kehamilan aku, suami lain sudah mengajak istrinya belanja, tapi kamu sibuk sama sekretaris kamu."


"Yakan aku kerja, aku sedang merintis karier aku, Marsha. Aku sedang berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu, dan anak kita, semua demi kita."


"Semua demi kita?" Marsha tertawa sumbang. "Bullshìt! demi wanita lajang itu bukan aku dan anakku. Kamu takut kehilangan dia, iya kan? Takut kalau dia tidak bisa makan kalau dua berhenti jadi sekretaris kamu. Awas terlalu lama bicara sama kamu bisa buat aku seperti ingin melahirkan sekarang juga."


"Kita selesaikan dirumah, ya. Jangan dirumah Bunda dan ayah."


"Minggir kataku. Zidan" Marsha meninggikan suaranya, hal yang tak disukai Zidan dari Marsha. Dia yang tak bisa menghargai dia sebagai seorang suami.


Zidan kembali menghela nafas, mau tak mau dia harus mengalah, membiarkan Marsha keluar, dia juga sudah sangat lelah, terlalu banyak beban pikiran yang ia pikul sendiri.


Pekerjaan, masalah bersama Marsha yang cemburu dengan Susan, dan juga masalahnya dengan sang sekretaris. Ingin sekali-kali Zidan dimengerti juga oleh Marsha, apalagi Marsha yang merupakan mantan pemimpin perusahaan, seharusnya paham yang sedang ia hadapi.

__ADS_1


Diluar sana, Mahesa yang baru pulang dan ingin masuk ke kamarnya mendengar perdebatan mereka, tapi saat dia mendengar suara derap kaki mendekat kearah pintu, cepat-cepat Mahesa masuk, dan mengintip dari celah pintu yang ia sengaja buka sedikit agar dapat melihat siapa yang keluar.


__ADS_2