
Hari dimana setelah Zidan mengatakan ingin melamarnya, Marsha, terus memikirkan itu, setiap hari mereka lewati dengan profesional, namun Zidan yang lebih menunjukkan perhatiannya lebih dari biasanya.
Seperti hari ini Zidan kembali membawakan setangkai bunga untuknya, dan membawakan sendiri lemontea hangat dan kue untuk Marsha. Marsha menaikkan pandangannya saat Zidan berdiri tepat didepanya.
"Apa?" tanyanya ketus.
Bukannya menjawab Zidan malah menatapnya intens, kemudian dia menundukkan badannya mengecup sekilas bibir ranum Marsha. "Morning kiss," ujarnya.
Marsha mungkin bisa menahan senyum bahagianya, tapi dia tak bisa menyembunyikan rona merah dipipinya membuat Zidan semakin gemas, dan tangannya terulur menekan repot yang tergeletak di atas meja kerja Marsha, menggelapkan kaca jendela ruangan Marsha secara otomatis.
Kemudian Zidan menarik dagu Marsha, langsung memagutt bibir Marsha, selama tiga hari dia bisa menahan karena Marsha meminta untuk tak mengganggunya dulu, karena wanita itu butuh waktu untuk berpikir menjawab permintaannya, tapi tidak untuk hari ini, karena Marsha hari ini tampil beda, rambut yang biasanya dia buat keriting dan tergerai, kini dia mengikatnya tinggi dan meluruskan rambutnya, Marsha terlihat sangat cantik, dan leher putih yang tak pernah terekspos itu begitu menggoda Zidan.
Awalnya Marsha ingin menolak dan mendorong tubuh Zidan, tapi lama kelamaan dia ikut terbuai dan terlena oleh permainan bibir Zidan yang terus bergerak menuntut, laki-laki itu sangat mendominasi pergerakanya, hingga Marsha memejam, ikut membalas pagutann lembut itu, perlahan tapi pasti ciuman mereka semakin panas, satu tangan Zidan menopang tubuhnya di pegangan kursi Marsha, dan tangan satunya bergerak menahan tengkuk Marsha sambil mengusap lembut bagian belakang leher Marsha menggunakan ibu jarinya, membuat Marsha semakin terlena dan terbuai.
Nafas keduanya terengah saat ciuman mereka terhenti sejenak untuk meraup oksigen sebanyak mungkin, dada keduanya naik turun dengan pandangan berkabut, kemudian Marsha memanjangkan lehernya, kali ini lebih dulu kembali menempelkan bibirnya pada bibir Zidan. Tentu Zidan sangat senang, Marsha berani memulainya, itu berarti Marsha sudah memberikan lampu hijau padanya, kini tangan wanita itu semakin kuat mencengkram bagian depan jasnya, menarik agar Zidan semakin memperdalam ciuman mereka, Marsha sangat menikmati ini, sebuah rasa yang baru pertama kali ia rasakan, bertukar saliva dengan lawan jenis ternyata bisa semenyenangkan ini.
Dengan sekali tarikan tubuh Marsha yang tadi setengah berdiri diangkat Zidan, dan mendudukkannya diatas meja kerja Marsha, kini meja kerja itu tak sesuci dulu, dia mulai ternoda melihat ciuman panas sang pemiliknya. Zidan terlebih dahulu menarik diri, dan Marsha membuka matanya, dia merasa begitu malu, masih pagi tapi sudah menerima dengan sukarela ciuman dari sekretaris yang selalu memintanya untuk menjadi kekasih sungguhannya.
"Kamu cantik sekali pagi ini," bisiknya ditelinga Marsha, kemudian mengecup telinga Marsha sekilas, Marsha hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah Zidan, menyelipkan sendiri rambutnya kebelakang telinga dengan mengulum senyum.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi cium aku?"
"Aku nggak kuat liat ini," tangan Zidan menelusuri leher putihnya menggunakan jari telunjuk, membuat Marsha merinding, selama ini belum pernah yang ada menyentuhnya seintens ini, kemudian Zidan menarik ikut rambutnya.
Marsha mendongak " Zidan, kenapa dibuka?"
"Aku tidak mau leher putih ini dilihat laki-laki lain, hanya aku yang boleh melihatnya."
Wajah Marsha kembali bersemu merah "Apaan sih, nggak jelas," tepuknya bahu Zidan.
Zidan tersenyum senang melihat wajah tersipu Marsha"Jadi, hari ini kita resmi jadian kan?"
__ADS_1
"Hah?"
Zidan tersenyum "Kamu ternyata lola ya kalau masalah begini," Zidan mengangkat dagu Marsha "kita jadian kan? Kamu tadi balas ciuman aku, berarti kamu terima cinta aku, dan jika ia, berarti kamu juga siap menerima lamaran aku."
"Zidan, ini bukan hal mudah buat aku, aku harap kamu nggak akan pernah nyakitin aku, hal yang sangat aku hindari sebenarnya jatuh cinta dan menjalin hubungan, mungkin jika malam itu tidak terjadi apa-apa, aku pasti menolak mu Zidan," ucap Marsha yang membuat Zidan menelan salivanya, dia takut akan hal ini, tapi dia berharap bisa melawan kakeknya, dia laki-laki, tak butuh restu dari siapapun.
"Sebisa mungkin aku menghindari itu, Honey," Zidan membiarkan Marsha menatap matanya, agar Marsha bisa melihat ketulusan dalam ucapannya, dan gadis itu sangat senang dengan panggilan Zidan untuknya.
"Aku akan jujur sama kamu, kamu adalah wanita pertama yang aku sentuh, wanita pertama yang bisa membuat hatiku memberontak," Zidan kemudian menunduk, dia akan menceritakan sedikit tentang keluarganya, ada banyak hal yang harus dia lakukan, jika kedepannya terjadi sesuatu, setidaknya dia sudah mencoba jujur.
Tak lama Zidan kembali menatap Marsha dengan matanya yang sudah memerah menahan tangis "Dan wanita pertama yang akan tahu ceritakan tentang keluarga ku dari mulutku sendiri," Marsha diam, jujur hatinya terenyuh mendengar penuturan Zidan, tapi Marsha tetap diam menunggu cerita Zidan selanjutnya "Marsha- mamaku bukan wanita normal seperti wanita lainya, mamaku berada dirumah aman sejak aku berusia sepuluh tahun. Aku besar seorang diri dan dirawat oleh pengasuh ku," Zidan menarik nafas, sedang Marsha tetap diam, menjadi pendengar yang baik untuk Zidan, dia begitu ibah dengan nasib laki-laki yang tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatinya.
Zidan benar-benar menceritakan tentang keluarganya pada Marsha, mulai kakeknya yang sakit, hingga dia harus berjuang membesarkan perusahaan kakeknya, hanya saja dia tak secara gamblang menceritakan penyebab mamanya bisa sampai ke rumah aman, dan jika mereka sangat mengenal Abdi.
Setelah menceritakan semuanya, Zidan mengambil kedua tangan Marsha, "hotel Horse ditempat kamu menaiki jet pribadi itu, milik aku." Lagi, Zidan membuka satu-persatu jati dirinya.
"What? Seriously?" Marsha tak percaya.
"Jadi apa maksud kamu mau jadi sekretaris aku?" Hal pertama yang ingin Marsha ketahui alasannya.
Zidan tersenyum "Karena aku begitu penasaran dengan sosok Marsha yang terkenal itu, aku ingin mendekatinya, Marsha yang terkenal dengan segala skandal-skandalnya, tapi sangat pintar menggaet pengusaha luar untuk menjalin kerjasama dengan perusahaannya, aku ingin belajar dari cara kamu menarik banyak investor, " untuk kali ini Zidan tak bisa jujur.
"Zidan!"
"Iya Marsha sayang," oh tidak, Marsha kembali dibuat tersipu, "aku sempat berpikir kalau kamu tuh dulu jual-" Zidan melihat tubuh Marsha atas bawah "itu kamu buat menarik para investor asing buat gabung sama aku."
Marsha bukan tak tahu maksud ucapan Zidan "Zidan kamu jahat! Kamu kira aku jual diri gitu?"
Zidan terkekeh "Iya, aku minta maaf."
"Tapi kamu bukan berbohong hanya agar aku bisa nerima kamu kan? Zidan kamu tahu aku bisa mencari tahu identitas orang kurang dari 24 jam."
__ADS_1
"Aku harus jujur sayang, tidak mungkin Apap dan Ayah kamu bisa nerima aku begitu saja kalau aku tidak jujur. Mereka pasti menginginkan putri mereka dengan pasangan yang sepadan."
"Mereka bukan orang yang seperti itu Zidan."
"Setidaknya mereka harus tahu dulu bibit, beberapa, bobot calon menantu mereka."
Marsha terdiam, Zidan memang benar, tidak mungkin keluarganya, terutama kakeknya akan membiarkan dia menikah dengan orang yang sembarangan.
Terlalu terbawa suasana, mereka sampai tak menyadari jika diluar sana, para pegawai Marsha sudah menunggu sambil bergunjing dibelakang mereka, Melati sampai menempelkan telinganya didaun pintu ruang kerja Marsha.
"Tapi nggak ada suara kepedesan atau suara plak-plak," ujar Melati pada tiga karyawan lain, diantaranya adalah Rosa, salah satu penggemar Zidan yang kini matanya sudah banjir karena dia membayangkan jika dua insan didalam sana sedang melakukan aktifitas panas seperti cerita di novel-novel.
"Masa Bu, coba sini aku yang dengerin, Ibu kan udah tuir, pendengaran Ibu sudah berkurang." Vera dari divisi keuangan menarik Melati, kini berganti dia yang berada posisi memguping.
"Dasar vangke." Melati tak terima.
"Mungkin nggak sih, didalam ada ruang khusus Miss Marsha, jadi nggak kedengeran." Kali ini Rosa berkomentar.
"Ruang lain emang ada, tapi kalau mereka diruang Miss Marsha, nggak mungkin kacanya sampai digelapin." Melati memberitahu. Dan makin banjir saja airmata Rosa.
"Aku nggak nyangka, kalau pak Zidan akan bertindak sejauh ini," makin banjir saja airmata Rosa.
"Ada apa ini? Kenapa kalian pada berdiri diluar?" Rasya, Abdi dan Mahesa dibuat heran.
"Eh Pak," keempat orang itu dibuat terkejut, dan menyingkir dari depan pintu.
Mahesa menyadari kaca Marsha yang gelap "Ada apa siapa didalam?" tanyanya langsung.
"I-itu," baru kali ini Melati dibuat gugup.
"Apa sekretarisnya?" Mahesa langsung menebak, semuanya diam dan menunduk "nggak beres."
__ADS_1
Mahesa langsung saja mengetuk kuat pintu itu, membuat Abdi dan Rasya terperangah.