
"Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa, bayinya juga sehat," kata seorang dokter yang biasa menangani Marsha. "Kram yang terjadi barusan, bisa terjadi karena beberapa faktor, terutama stress yang berlebihan," ia menambahi, Marsha menarik nafas meredam emosi, menbuat Zidan menoleh kearahnya, dia merasa bersalah.
"Miss Marsha jangan terlalu banyak pikiran ya, apalagi ini sudah mendekati hari kelahiran, dikhawatirkan membuat tekanan darah Miss naik."
Sedikit pesan dari dokter kandungan membuat Zidan merasa sangat bersalah. Di dalam mobil kini hening, Marsha yang biasanya berceloteh, tak membuka suara sedikitpun, niat hati membawa sang istri ke hotel untuk menyelesaikan masalah, namun karena tak bisa mengontrol emosi, malah menambah masalah baru.
Zidan menoleh kearah Marsha yang membuang muka keluar jendela, dia bingung harus memulai dari mana, dia merasa cangggung.
"Kamu belum makan siang, kita makan siang dulu ya?" tawarnya membuka obrolan.
"Aku mau pulang kerumah Bunda," jawab Marsha ketus tanpa menoleh.
"Tap-"
"Kataku, aku mau pulang kerumah, Bunda." Lanjutnya tegas tak ingin dibantah lagi.
Zidan menarik nafas. "Iya, aku antar kesana." Zisan memutar arah, rumah mereka sudah dekat, tapi dia harus putar balik demi menuruti keinginan istrinya yang sedang marah.
Tak berselang lama, mobil mereka telah sampai dirumah Abdi dan Indah. Suara mobil Zidan terdengar sampai dalam, karena kebetulan Indah dan Abdi sedang duduk bersantai diruang tamu setelah menyantap makan siang mereka.
"Mobil siapa, sayang?" tanya Abdi saat Indah mengintip dari balik tirai.
"Mobil Zidan, mas." Abdi dan Indah bergegas menyambut kedatangan keduanya.
Setelah mematikan mobilnya, Zidan berniat ingin turun, tapi Marsha mencegahnya.
"Kamu nggak usah turun, urus saja sekretaris kamu yang sedang sakit. Dia lebih membutuhkan kamu."
"Istri aku lebih penting."
"Tapi aku lagi nggak mau lihat kamu."
"Marsha aku minta maaf."
"Pulang sekarang atau aku akan tambah benci sama kamu, aku lagi mau sendiri."
"Oke, tapi izinin aku ketemu Bunda dan Ayah."
Keduanya keluar bersamaan, Indah dan Abdi sudah menunggu didepan teras dengan senyum bahagia.
"Senengnya kedatangan anak Bunda, tahu saja Bunda lagi kangen." Indah menyambut kedatangan Marsha dengan memeluknya.
"Marsha mau langsung ke kamar, Bun." ucap Marsha setelah bersalaman dengan Abdi dan Indah.
"Bunda antar ya?" Indah langsung menggandeng tangan Marsha membawanya masuk.
Zidan ingin ikut, tapi dia ingat pesan dokter tadi untuk tak memancing emosi Marsha yang akan membuat Marsha jadi kepikiran, dia ingin memberi waktu untuk Marsha sendiri.
"Masuk dulu Zidan." ajak Abdi.
"Zidan ke kantor dulu, Yah. Masih ada sedikit pekerjaan, setelah pekerjaan kantor selesai, Zidan kesini lagi." tolaknya.
"Oh, yasudah kalau begitu."
"Zidan titip Marsha juga. Kalau ada apa-apa, tolong langsung kabari Zidan, Zidan hanya sebentar ke kantor."
"Iya, kamu tenang saja. Ayah pasti kabari."
Abdi menepuk pundak Zidan memberi dukungan, "selesaikan apa yang harus diselesaikan, biar tidak menambah beban pikiran kamu."
"Yah." panggil Zidan ragu-ragu, dia gugup, tak pernah ia mencurahkan masalahnya pada siapapun. Zidan terlebih dahulu melipat bibirnya sebelum memberanikan diri mengatakan apa yang terjadi antara dirinya dan Marsha.
"Iya, ada apa? Katakan saja Zidan, jangan takut, biasa saja sama ayah. Andai kamu ingat, kamu dulu pernah jadi anak ayah dan bunda."
"Iya Zidan ingat, dulu juga Zidan pernah tidur disini, sebelum semua itu terjadi."
"Kamu tadi ingin mengatakan apa?" Ingatkan Abdi yang ingin Zidan katakan.
"Emm, sebenarnya ... Marsha juga belum makan siang, tolong tawarkan makan siang untuknya, tadi kami terlibat pertengkaran sedikit." Ada rasa takut saat dia mengatakan itu.
"Oh, beres, Ayah pasti akan mengingatkan Marsha untuk makan. Kamu yang sabar saja menghadapi Marsha, dia memang agak keras, tapi hatinya lembut."
__ADS_1
Abdi ikut berjalan kearah mobil Zidan sambil merangkul bahunya. mengakrabkan diri bersama Zidan, mencoba mengajak Zidan bisacar dari hati ke hati sesama lelaki, agar Zidan berani terbuka padanya. Abdi tahu, dari kecil Zidan tidak pernah merasakan kasih sayang seoarang ayah, untungnya dia tidak menjadi anak yang hancur.
Hanya saja ajang balas dendamnya terhasut oleh Naima dan Nasyat.
"Dalam rumah tangga pertengkaran kecil itu biasa terjadi, namanya juga bumbu rumah tangga, tapi jangan dibiarkan berlarut, cobalah untuk cepat menyelesaikannya," nasihatnya, Zidan mengangguk mengerti. "Dan yang terpenting, jangan kasar pada istri, seemosi apapun kita, sebagai kepala rumah tangga kita tidak boleh kasar, bicara tinggi sedikit saja dia pasti terluka, apalagi sampai memukul."
"Iya, Zidan tidak akan melakukan itu, Yah. Sebisa mungkin Zidan menghindarinya," Zidan berjanji, dia tak akan melakukan itu. "Terima kasih, yah."
Abdi mengangguk, lalu Zidan berpamitan padanya, setelah mobil Zidan pergi, barulah Abdi masuk.
Dari dalam kamarnya Marsha menitikkan air mata saat mendengar mobil Zidan menjauh, hatinya kembali terasa sakit, Zidan lebih mementingkan pekerjaan dari pada dirinya, padahal bukan itu yang ia mau. Meski dia mengusir Zidan, seharusnya Zidan tetap tinggal, dan menunggunya, jika Zidan kembali ke kantor, tidak menjamin jika Susan juga tidak kembali ke kantor, wanita ular itu memiliki seribu cara untuk menarik perhatian Zidan.
"Bun, kamu lagi apa?" tanya Abdi mendapati Indah sedang berada didapur.
"Buatin lemon tea hangat kesukaan Marsha, dia pengen itu katanya."
"Emm, sekalian bawain Marsha makan, kata Zidan dia belum makan."
"Sepertinya mereka lagi bertengkar."
"Iya, tadi Zidan bilang. Nanti Bunda coba pancing Marsha untuk cerita, biasanya kan, perempuan kalau sudah cerita, akan merasa lega."
Indah mengangguk, dia mengambilkan makan untuk Marsha dan meletakkannya di nampan, untung hari ini dia masak makanan kesukaan Marsha.
Didalam kamarnya, Marsha cepat-cepat menghapus air matanya saat Indah masuk membawakan lemon teh hangat untuknya dan makan siang.
"Hai sayang, lemon tea hangat kesukaan anak Bunda datang."
"Bunda kayak Marsha masih anak kecil aja," ujarnya mengambil minuman yang diberikan Indah dan langsung menyesapnya. "Seger, Bun." pujinya.
Sebisa mungkin dia memaksakan tersenyum, menyimpan permasalahannya. Bukan tanpa alasan dia memilih pulang kerumah Abdi, jika dia pulang kerumah Rasya, sudah pasti Rasya akan sangat marah pada Zidan jika tahu mereka sedang bertengkar.
"Dari kantor Zidan?"
"Iya."
"Gimana kandungan kamu, sehat?"
"Alhamdulillah, Bun."
"Kebetulan bangat donk, Bun." sahut Marsha sumringah, dia memang belum makan, saat Zidan menawarinya tadi, dia tak mau, dia masih merasa kesal dan marah.
Sambil menyuapi Marsha, Indah terus memancing Marsha dengan bertanya apapun agar Marsha ingin menceritakan masalahnya, namun, Marsha sepertinya belum ingin membagikan permasalahannya.
Hingga ia makanan habis, tapi Marsha tak ingin menceritakan masalahnya. Indah memutuskan keluar, karena Marsha butuh istirahat.
"Yasudah, kamu istirahat. Nanti Bunda bangunkan kalau Zidan sudah datang." Marsha mengangguk kecil, tapi dalam hatinya berkata dia tak ingin pulang ataupun bertemu Zidan.
* * *
Dalam perjalanan, Zidan nampak begitu frustasi. Dia telah menyakiti Marsha, bahkan nyaris membunuh kedua orang yang sangat begitu berarti untuknya itu, hingga membuat Marsha marah besar padanya.
"Kamu bersyukur Marsha pulang kesini, bagaimana kalau Marsha memutuskan pulang ke rumah Rasya? Ayah tak bisa menjamin Rasya mengizinkan kamu membawa Marsha pulang kembali."
Zidan mengusap wajahnya, sampai-sampai wajahnya memerah, mengingat dia yang tidak dewasa, tidak memahami yang Marsha inginkan.
Tak butuh waktu lama, mobil Zidan sampai di kantornya. Zidan langsung menaiki lift menuju ruangannya, dan alangkah terkejutnya Zidan saat mendapati Susan telah duduk di kursi kerjanya, menatap serius layar komputer yang menyala dihadapanya.
"Pak." Susan mendorong kursi berodanya saat menyadari kedatangan Zidan.
"Kenapa kamu ke kantor? Bukanya saya suruh kamu pulang? Kamu sedang sakit, kan?"
"Ternyata masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, Pak. Persiapan untuk kita melihat hotel yang ada di Bandung dan Surabaya. Sekaligus bertemu dengan pak Robert, dan investor lainnya."
Zidan melangkah mendekat, lalu berhenti tepat didepan meja Susan, Zidan memperhatikan wajah Susan dengan seksama. Susan jadi salah tingkah.
"Pak."
"Aku rasa kamu sudah sehat, Susan. Kamu bisa mengerjakan pekerjaan saya kan?"
"Hah, apa Pak?"
__ADS_1
Zidan tak menjawab, dia masuk kedalam ruanganya diikuti Susan dibelakangnya yang masih bertanya-tanya apa maksud perkataan Zidan.
"Kamu salin semua dokumen ini tanpa ada kesalahan, ini untuk pertemuan besok. Aku mau pulang sekarang."
"Tapi, Pak."
"Aku rasa kamu bisa mengerjakannya, Susan. Saya harus pulang sekarang, istri saya sangat membutuhkan saya."
Susan diam, mengerutkan keningnya, memahami perkataan Zidan.
"Kenapa sih, Bapak tuh kalau habis bertemu istrinya selalu ingin cepat-cepat pulang? Bapak kan punya tanggung jawab sama perusahaan. Bapak jangan takut sama istri Bapak. Seharusnya dia ngertiin, apa yang Bapak lakukan juga buat dia, buat calon anak Bapak. Ini saja saya paksain Pak untuk masuk, padahal lagi sakit, itu saya lakukan demi perusahaan Bapak. Kalau perusahaan Bapak maju, 'kan istri Bapak juga yang senang, tibang nunggu dirumah, dapet duit, bisa pesan ini pesan itu, tapi ribet."
"Sudah cukup Susan! Saya lagi pusing, kamu jangan marah-marah sama saya. Kalau kamu tidak suka saya perintah, kamu bisa mengajukan surat resign, dan letakkan di meja saya besok."
Bentak Zidan dengan mata memerah karena marah. Dia benar-benar pusing, melihat keadaan Marsha seperti itu, dia sulit bernafas, ditambah Susan yang marah padanya, dan menjelekkan Marsha, dia bertambah pusing.
"Oke, kalau mau Bapak begitu, nggak perlu nunggu besok, sekarang juga saya akan mengajukan resign. Percuma saya berjuang selama bertahun-tahun demi kemajuan perusahaan kalau tidak dihargai, apalagi karena orang baru yang masuk dalam kehidupan Bapak." Ucap Susan dengan berlinang air mata, dia merasakan sakit yang teramat atas bentakan Zidan.
Ditambah Zidan yang menyuruhnya membuat surat resign, padahal dia sedang memperjuangkan dua hotel yang sedang dibangun.
Zidan duduk dikursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut, hari ini dia sudah menyakiti dua wanita sekaligus. Antara Marsha dan Susan, mana yang harus dia bela.
Marsha tak sepenuhnya salah, begitu juga Susan yang tak salah, Susan mengatakan yang sebenarnya, seharusnya Marsha mengerti keadaannya yang sedang membangun usahanya.
Pintu ruangannya kembali terbuka, siapa lagi jika bukan Susan, sekretarisnya itu masuk dengan wajah yang ditekuk.
"Ini surat resign saya yang Bapak minta, saya doakan Bapak bisa mendapat pengganti saya yang baru, sesuai keinginan Bapak dan istri Bapak yang terhormat."
Zidan hanya memandangi kertas ketikan yang diberikan Susan.
"Jaga bicara mu, Susan. Dia istriku, yang berarti, dia atasan kamu juga."
Susan memutar bola mata malas, selalu tak suka, jika Zidan sudah membela Marsha. "Silahkan Bapak tanda tangani."
"Letakkan saja disana." jawab Zidan datar, Susan mengepalkan tangannya, Zidan tidak mempertahankan dia sams sekali, dan melepaskan dia begitu saja yang sudah mengorbankan waktunya, dan Zidan lebih memilih istrinya yang tidak tahu diri itu.
"Permisi," ucapnya berlalu meninggalkan Zidan diruanganya.
* * *
Sore hari di cafe Mahesa.
Derap kaki Mahesa melangkah menuruni anak tangga. Dia berjalan kearah kasir.
"Gue pulang ya, jangan lupa nanti tutup jam sembilan, dan sebelum pulang, pastiin semua terkunci."
Kasir itu mengangguk. "Siap Pak."
Mahesa berjalan menuju pintu keluar, dia melihat Dania, gadis yang tak sengaja ia tabrak tadi pagi.
"Gue lupa kalo ada dia," gumamnya. "Hei, kamu." panggilnya.
Dania yang habis membuang sampah menoleh.
"Saya?" tunjuk Dania dadanya.
"Bukan, kuntilanak."
"Oh." ujar Dania membulatkan bibirnya, dia lalu berjalan melewati Mahesa.
Mahesa memejam, belum 24 jam, gadis ini sudah membuatnya naik darah.
"Berhenti!" perintah Mahesa. Tapi Dania terus melangkah, tak menuruti titahnya. Mahesa berdecak, kemudian menyusul langkah Dania dengan langkah lebar.
"Lo nggak denger gue panggil," ditahanya pundak Dania.
Dania berbalik, "Bapak panggil saya?"
"Bukan, setan." Mahesa mulai kesal.
"Ya ampun Pak. Bapak serem amat dari tadi ngomong sama setan, terus kuntilanak. Apa Bapak pakai penglaris biar cafe Bapak rame?"
__ADS_1
Umppp
Mahesa membekap mulut Dania, untung sore ini tidak terlalu ramai, jadi mereka tak mendengar apa yang dikatakan Dania. Mahesa langsung membawa Dania menuju mobilnya, dan memaksa Dania untuk masuk kedalam mobil.