
Marsha memilih pura-pura tidur saat Axcel berbasa-basi pada Rasya, ternyata laki-laki itu merupakan ketua osis disekolahnya dulu, kedua orang tua mereka pun ternyata juga saling mengenal.
Sebagai laki-laki Mahesa pasti tahu jika Axcel memiliki rasa pada Marsha, dia juga ingat jika dulu Marsha menjadi incaran para lelaki di sekolah, namun Marsha memilih cuek, hingga dia tak memiliki teman sama sekali.
Jika saja Marsha bukan dari kalangan orang berada, pastilah dia sudah mengalami depresi berat.
"Kamu tidak ke kantor, Brow? Sepertinya ini sudah lewat jam kantor." Mahesa mengangkat arlojinya, menunjukkan waktu.
Axcel pun ikut turut melihat pada waktu, jika saja dia tidak ada janji pada papanya pasti dia akan memilih bolos, dan ikut menghantarkan Marsha pulang, pada akhirnya dia kalah pada waktu untuk saat ini.
Baiklah dia masih memiliki banyak alasan lagi untuk bisa bertemu Marsha.
"Saya pamit dulu Om," ujarnya pada Rasya "salam untuk Marsha, maaf tidak bisa ikut mengantar Marsha pulang. Semoga Marsha cepat pulih."
__ADS_1
"Tidak apa Axcel, pekerjaan lebih penting. Marsha juga sudah membaik, terima kasih doanya." Rasya menepuk lengan Axcel "salam buat papa mu, Om menunggu untuk golf bareng."
Axcel mengangguk kemudian berpamitan pada semua yang ada disana.
Siang harinya Marsha sudah diperbolehkan pulang. Karena kondisinya yang sudah membaik, Mahardika tak bisa mengulur waktu lebih lama, dia harus membuat keputusan, sebelum dia menjalankan rencananya.
Dia pun menanyakan kesediaan Marsha untuk menikah dengan Mahesa, agar anak yang dikandung Marsha memiliki ayah, dan Marsha tidak akan menaggung malu.
Semua diminta Mahardika untuk berkumpul di ruang aula khusus rapat keluarga yang ada dirumahnya. Semua anggota keluarga inti harus menjadi saksi atas keputusan Marsha.
Mahesa menunduk, dia sudah tahu Marsha pasti menolak ini, dia sudah pasrah.
"Aku tidak pernah membenci Mahesa, hanya saja untuk kami lebih dari saudara, aku tidak bisa. Aku sayang padanya, tapi tak lebih sayang seorang kakak kepada adiknya. Maaf, Apo, aku tidak mau."
__ADS_1
"Kami juga tidak akan mengizinkan kamu untuk kembali pada laki-laki itu sayang. Jadi bagaimana nasib anak mu kedepannya? Apap hanya akan menjagamu." Rasya memberikan penjelasan pada putrinya.
Marsha menunduk dalam, dia teringat orang tua dilampu merah tadi, laki-laki itu tak memiliki satu kaki. Dia pikir dirinya memiliki nasib yang sangat buruk, nayatanya dia bersyukur, memiliki hidup yang sempurna, keluarga yang utuh dan berkecukupan.
Masalah yang menimpanya saat ini belum lah seberapa dibanding masalah orang diluaran sana, masih banyak yang kurang beruntung darinya.
"Aku bisa mengurus anakku walau tanpa ayahnya, Pap. Aku tidak ingin membebankan orang lain dalam masalah ku." Pandangan Marsha berpindah pada Mahesa yang tertunduk.
"Tegakkan kepala mu Hes, lihat aku," Mahesa menurut, dia menegakkan kepalanya, matanya sudah berembun siap meluncurkan kristal putih itu, untuk pertama kalinya Marsha dan Mahesa saling tatap dalam waktu yang lama.
"Maaf Hes, aku tidak bisa membalas perasaan mu, kamu itu tidak lebih aku anggap seperti Maheswari dan Mahendra." Jujur Marsha
"Iya, aku tahu, tapi tidakkah kamu memikirkan nasib keluarga kita? Bagaimana nanti jika anakmu lahir tanpa seorang ayah?" Mahesa menjawab.
__ADS_1
"Aku tidak akan malu melahirkannya nanti, semua yang terjadi bukan karena di sengaja, aku tidak pernah menghiraukan kicauan orang lain terhadap ku, yang terpenting kalian tidak menganggap aku adalah aib." Tatap Marsha satu persatu keluarganya.