Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Marsha mendorong kuat tubuh Zidan hingga Zidan nyaris terhuyung jika Zidan tidak bisa menyeimbangi tubuhnya, Marsha begitu murka setelah tahu apa yang terjadi padanya.


"Zidan, katakan apa yang terjadi? Kenapa aku tidak menggunakan apapun. Kenapa kita bisa bersamaku? Aku akan menuntut kamu Zidan, jelaskan apa yang terjadi? Kenapa kamu selalu memanfaatkan keadaan? Apa ini balasan kebaikan yang aku berikan?"


Hiks ... Marsha mulai menunjukkan titik lemahnya, dia menunduk, memegangi selimut menutupi bagian tubuh depannya, Marsha merasakan titik sensitifnya yang terasa ngilu, berarti benar telah terjadi sesuatu padanya, bagaimana hidup dia kedepanya? Bagaimana jika keluarganya tahu hal ini? Dia juga belum siap jika dinikahkan, baru saja dia merasa dekat dengan Zidan, dan ingin menguji keseriusan laki-laki ini, malah terjadi hal yang tak diinginkan, Marsha begitu malu pada dirinya sendiri, Marsha memukuli perut dan kepalanya kesal.


"Marsha, stop jangan sakiti diri kamu," Zidan mendekati Marsha, mengambil kadua tangan kecil yang memukuli diri sendiri itu dan menahananya "semua yang terjadi diluar kendali aku, apa kamu ingat kamu terakhir bersama siapa? Kita semalam bahkan tidak bertemu, aku juga tidak tahu apa yang terjadi?"


Marsha terdiam, dia mulai mengingat apa yang terjadi, Zidan benar, semalam dia keluar tidak mengajak Zidan karena dia memang ingin menghindari sekretarisnya itu. Lalu dia bertemu Matthew, keduanya terlibat perbincangan ringan, Matthew memperkenalkan dia pada temannya, hingga Matthew mengajaknya menepi dari keramaian. Laki-laki itu menyiapkan candle light dinner romantis di tepi pantai, walau tak nyaman Marsha mencoba menikmati itu.


Kemudian dia menyesap jus yang diberikan Matthew, dan dia mulai menyantap menu yang disajikan, hingga tak lama Marsha mulai merasakan terjadi sesuatu pada badannya, dia mencoba menahan rasa itu, tapi lama kelamaan dia merasakan tubuhnya yang semakin panas. Setelahnya Marsha tak tahu lagi, dia hanya mengingat jika dia begitu ingin disentuh dan berpamitan pada Matthew.


"Apa yang terjadi padaku Zidan? Apa yang terjadi?" Lirih Marsha begitu sedihnya, Marsha menjambaki keras rambutnya berharap semua ini hanya mimpi dan pergi bisa begitu saja.


Zidan menangkap tubuh Marsha, membiarkan bos kecilnya itu menumpahkan segala beban yang ada padanya.


"Kamu boleh marah padaku Marsha, maki aku atau apa? Tapi jangan tuduh aku menjebak mu. Aku sudah mencari tahu siapa dalang dari semua ini." Zidan mengusap bahu Marsha yang masih polos itu. "Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu."


Marsha mendongak, menatap pada wajah Zidan yang juga sedang menatapnya. Marsha kemudian menjauhkan dirinya, menatap nyalang pada Zidan.


"Kamu pikir semua mudah begitu saja Zidan? Aku ini masih muda, masih banyak hal yang harus aku raih. Aku ingin waktu ku diulang, aku tidak ingin ini terjadi, aku tidak ingin mengenal kamu. Aku merasa nasibku berubah setelah mengenalmu Zidan. Aku benci kamu, aku benci kehadiran kamu dalam hidup ku." Marsha memukul dada Zidan kuat.


Zidan membiarkan Marsha melakukan itu, menumpahkan segala kekesalanya, benar ini bukan permasalahan tanggung jawab atau tidak? Tapi ini tentang apa yang sudah terjadi, hal berharga yang sudah terenggut tak bisa dikembalikan lagi.


"Sekarang katakan, aku harus apa Marsha? Aku tahu ini tidak baik, tapi mungkin inilah yang terbaik dari semesta, bagaimana jika ini terjadi dengan laki-laki lain, aku tidak yakin dia akan bertanggung jawab."


"Aku benci kamu Zidan, kembalikan sesuatu yang telah kamu renggut, aku tahu kamu pasti menikmatinya."

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa mengembalikannya, aku juga tidak menikmatinya Marsha? Aku juga tidak bisa menikmati ini, sebab itu semua diluar kesadaranku, jika bisa diulang aku ingin melakukannya dengan kita sama-sama sadar."


Plakkkk


"Hentikan omong kosong mu, ini tidak lucu."


Tangan Marsha begitu ringan menampar keras pipi kiri Zidan menjalarkan panas yang teramat.


"Kenapa kamu tidak pergi dan menjauh, kenapa kamu tidak menghindar? Seharusnya kamu bisa menjaga ku ZIDAN, tugas kamu itu menjaga ku. Bukan memanfaatkan ku."


Pukul lagi Marsha Zidan, dia begitu kesalnya, menjadikan Zidan tempat pelampiasannya, Marsha membabi buta, ia melemparkan semua yang ada didekatnya, tanpa disadari selimut yang menutupi tubuhnya terlepas, kembali memperlihatkan tubuhnya putih mulus yang begitu banyak tanda maha karya Zidan yang begitu bagus, itu kembali terlihat oleh Zidan.


Mata Zidan tentu dibuat tak bisa berpaling, dia begitu mudah terhipnotis apapun tentang Marsha.


"Tutup mata kamu, dasar BRENGSEK," Marsha memukul wajah Zidan dengan bantal, membuat Zidan berpaling. Kembali Marsha menarik selimut itu menutupi tubuhnya dengan menggulung penuh tubuhnya, kembali Marsha menangis, akan apa dia memberi tahu keluarga besarnya, Rasya dan kakeknya pasti akan sangat marah dan kecewa jika tahu dia ceroboh dan bodoh.


Zidan bingung harus menjelaskan bagaimana? Dia sendiri tak tahu bagaimana ini bisa terjadi? Iya, dia memang bersyukur ini ia lakukan pada Marsha, bukan pada Misya.


Dan seharusya dia senang dengan apa yang terjadi, Marsha merasakan sakit yang mungkin dulu ibunya rasakan. Namun melihat Marsha yang rapuh dan terluka seperti dia jadi tak tega, dan hatinya ikut sakit. Apalagi dia begitu menikmati saat pergumulan kedua itu terjadi, jika dikatakan iya memang dia memanfaatkan keadaan yang ada.


Zidan memilih keluar saat ponselnya bergetar, dia sedikit menjauh dari kamar mereka.


"Apa yang terjadi, apa kamu sudah tahu?" Tanya Zidan pada temannya diseberang sana.


"Misya da kakek mu sebenarnya ingin menjebak mu, mereka juga menjebak Marsha bersama Matthew, tapi ada orang lain ikut campur disini, kami sedang mencari tahu itu. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan juga."


"Siapa?" Tanya Zidan ingin tahu, siapa lagi yang akan ikut campur dalam masalahnya.

__ADS_1


"Coba kamu ingat, siapa saja orang berpengaruh disekitar mu, mereka selalu melindungi dari jauh."


Kening Zidan berkerut, mencerna maksud ucapan temanya. "Jangan membuat teka-teki, jika kamu tahu sesuatu cepat katakan."


"Aku tidak tahu apa-apa, yang pasti apa yang terjadi semalam pada mu ada hubungannya dengan Misya dan kakek mu sendiri. Ingat Zidan, semua yang terjadi melibatkan orang berpengaruh, nasib perusahaan kakek mu diujung tanduk akibat ulahnya sendiri."


Zidan meremas ponselnya, benar, keluarga Marsha bukanlah keluarga biasa yang tidak bisa dianggap remeh, Marsha mungkin terlihat lemah karena dia seorang wanita, tapi kakeknya adalah orang yang sangat berpengaruh didunia bisnis.


Prannnnggggggg


Terdengar suara pecahan dari dalam kamar, Zidan terkesiap cepat dia berlari kedalam melihat apa yang terjadi. Saat sudah masuk kamar Zidan tak mendapati Marsha berada diranjangnya, pandangan Zidan berpindah pada kamar mandi yang tertutup, Zidan memutar handle pintu namun sepertinya dikunci dari dalam.


"Marsha! Kamu didalam cepat buka pintunya, apa yang terjadi?" Zidan begitu panik, terus memutar handle itu nyaris membuatnya terlepas dari tempatnya.


Tak terdengar sahutan apa-apa dari dalam, membuat Zidan bertambah panik.


"Marsha, jawab aku apa kamu didalam? Cepat buka pintunya, atau aku dobrak," teriak Zidan, dia begitu takut Marsha akan mengakhiri hidupnya, yang padahal inilah tujuannya mendekati dan masuk dalam hidup Marsha, tapi justru kini rasa takut kehilangan lah yang menyelimuti hati Zidan. Zidan menempelkan telinganya didaun pintu, mencoba mendengar apa yang terjadi didalam.


* * *


Sementara Misya menuju kamar Matthew, dia ingin mencari tahu apakah Marsha bersama laki-laki itu, jika tidak dia takut Zidan justru bersama Marsha. Saat sudah didepan kamar Matthew, dia justru mendengar Matthew berteriak marah.


"Ini ambil uangnya, aku tahu kamu menjebak ku supaya mendapat uang. Sekretaris semua sama saja rela menjual diri dan memanfaatkan atasan agar bisa hidup enak agar mendapatkan suami tampan dan mapan. Dasar wanita ******."


"Stop anda menghina saya Pak, padahal anda yang melecehkan saya, tapi anda menghina saya. Apa anda lupa anda menarik paksa saya dan melakukan semuanya. Jika memang tidak mau bertanggung jawab tidak perlu menghina. Anda pikir saya mau ini terjadi?"


Misya mengepalkan tangannya, sial, benar berarti Marsha tidak bersama Matthew. Lalu dimana mereka? Misya melihat pada ponselnya, dia terus menghubungi Zidan, namun laki-laki itu tidak meresponnya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2