
"Misya, kamu dimana?" Burhan menelepon Misya saat sudah berada dirumah.
"Lagi di jalan mengikuti Zidan Pa," jawab Misya sambil mengendarai mobilnya mengikuti Zidan dari jarak yang lumayan jauh.
"Pulang dulu, urusan Zidan bisa nanti, Papa nggak tahu apa yang terjadi Misya, tapi tadi Papa dengar ada suara tembakan dari dalam, Papa tidak tahu siapa yang melukai dan siapa yang terluka."
"Apa Pa?"
"Makanya kamu cepat pulang, kita harus bersembunyi untuk sementara waktu, sambil menunggu kabar dari pak Nasyat dan bu Naima. Walau Papa yakin tidak terjadi apa-apa padanya, tapi kita tidak bisa tanpa beliau."
Misya berdecak mematikan telepon papanya, benar sih, pertambangan papanya adalah pertambangan ilegal, mereka mendekati Nasyat karena kakek Zidan mempunyai kenalan yang sangat berpengaruh untuk menutupi buruknya pertambangan mereka saat ini, karena dana yang dimiliki Misya dan papanya tidak bisa menutup pajak yang menumpuk.
Misya segera memutar stir menuju rumahnya, padahal dia ingin tahu kemana Zidan pergi, agar bisa mengetahui keberadaan Marsha.
* * *
Zidan bukan tak tahu tentang kejadian di kantor kakeknya, tapi dia tak perduli itu. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri, fokusnya kini mencari keberadaan Marsha, Zidan sampai membayar beberapa orang untuk membuntuti orang-orang terdekat Marsha, saatnya dia menggunakan kekuasaan untuk mencari belahan jiwanya yang kini entah dimana.
Mawar, Rasya, Indah dan Abdi, Mahesa hingga apo dan amo-nya juga tak luput dari intaian Zidan.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar bagus?" tanya Zidan pada seseorang diseberang telepon.
"Belum brow, tapi sepertinya yang tahu diantara mereka hanya kakeknya saja."
Zidan mengerutkan keningnya "Maksud mu, mama Marsha bahkan tidak mengetahui keberadaan anaknya?"
"Kami sudah memasang alat penyadap dirumah maupun diponsel keluarganya, dan dari percakapan mereka, mereka tidak tahu keberadaan Marsha sama sekali."
"Mahesa! bagaimana Mahesa? apa tidak ada hal yang mencurigakan dari anak itu?"
"Sepertinya dia juga sedang mencari keberadaan wanita anda. Dia tampak beberapa kali mendatangi Mahardika."
Zidan menekan-nekan kepalanya pening, Mahardika bukanlah lawan yang mudah baginya. "Baiklah, terima kasih, tolong terus awasi mereka, mungkin saja nanti ada yang mengetahui keberadaan Marsha." Zidan menyender dikursinya, hidupnya kacau dan tahu arah.
Kedatangan Valent membuatnya bertambah pusing, tak tahu Valent bisa dipercaya atau tidak? Jika Naima dan Nasyat saja jelas-jelas memanfaatkannya, kini dia tak ingin percaya begitu saja pada siapapun yang mengaku keluarganya. Apalagi dia yang tak tahu apa-apa tentang keberadaan keluarga dari papanya.
"Marsha, sehat dan jagalah diri, serta jaga hati, aku pasti menemukan kamu, tunggu, aku pasti menjemput mu." Usap Zidan wajah Marsha diponselnya yang ia jadikan walpaper, potret saat Marsha makan malam bersamanya saat mentraktir karyawan kantor yang Zidan ambil secara diam-diam.
__ADS_1
* * *
Sudah beberapa hari Marsha tinggal dipeternakan, dan sudah beberapa hari juga perutnya tidak terisi apapun, dia maunya hanya mi instan, tapi mi instan buatan para koki tidak ada yang sesuai lidahnya.
Tubuh Marsha benar-benar habis, setiap pagi dia mengeluarkan semua isi perutnya.
Ceklek, pintu kamarnya terbuka, Puma masuk membawa nampan berisi mangkuk bubur dan vitamin milik Marsha. Puma meletakkan di meja disisi ranjang deluxe milik Marsha.
Para koki tidak ada yang berani masuk lagi karena dimarahi, Marsha tidak suka bau makanan.
"Paksakan makan Marsha, kasihan anak yang ada didalam perut kamu jika tidak dapat gizi dan nutrisi yang cukup."
Puma berdiri sambil bersedekap, memandang nanar Marsha yang terlihat sangat kurus dan pucat.
"Aku nggak mau, kalau dipaksa makan, pasti keluar lagi, perutku sakit."
Marsha yang sedang berbaring berbalik membelakangi Puma.
"Walau keluar lagi setidaknya kamu sudah mencoba mengisinya, ada sedikit nutrisi yang masuk, dan kamu bisa minum obat dan vitamin yang dokter kasih."
"Kenapa harus bersembunyi disini? percuma kamu bawa ratusan koki terbaik, kalau yang kamu butuhkan cuka ayah dari anak yang lo kandung."
Puma mulai kesal, bukan kesal pada Marsha, tapi kesal kalau sampai terjadi apa-apa pada Marsha.
Marsha berbalik mendengar suara Puma yang meninggi, tak terima dibentak, dia duduk memandang nyalang Puma.
"Mending kamu keluar deh, kamu mana tahu keinginan wanita hamil, kumpul manusia aja nggak pernah sok-sokan tahu yang dimau wanita hamil."
Menyadari Marsha yang mulai tak terima dengan omongannya, Puma menarik nafas, merendahkan suaranya.
"Oke, sorry. tapi aku memang tahu, karena aku sudah ratusan kali mengurusi sapi hamil dan melahirkan disini."
Mulut Marsha menganga, dia sampai tak bisa berkata-kata "Singa gunung," tuding Marsha wajah Puma, "astaga ... kamu samain aku sama cow? Gila kamu ya! cow mana ada rasa ngidam, ini namanya ngidam singa gunung. Udah deh mending kamu keluar, kamu itu primitif, nggak akan tahu manusia ngidam, dan satu lagi, kamu pasti belum mandi, aroma-aroma cow yang melekat dibadan mu mencemari udara kamar ku. Wuekkk," Marsha menutup mulutnya berlari menuju kamar mandi.
"Perasaan gue udah mandi deh," Puma menciumi keteknya sendiri, "wangi juga," gumamnya yang memang benar dia sudah mandi bahkan bukan hanya mandi air, tapi juga mandi parfum, dia sudah mengpriper semua sebelum menemui Marsha.
Pandangan Puma kini berpindah ke kamar mandi, terdengar suara Marsha yang terus mengeluarkan isi perutnya, lalu terdengar suara kran air dinyalakan. Ingin rasanya Puma membantu Marsha, walau sekedar memijat tengkuk wanita itu, atau memijiti kakinya saat akan tidur dengan minyak kayu putih yang biasanya disukai wanita hamil.
__ADS_1
"Singa gunung, keluarlah aku mau rebahan, kamu bisa membunvh aku dan anakku kalau masih disitu," teriak Marsha masih dalam kamar mandi, "jangan lupa bawa bubur kamu, baunya bikin kepala ku pusing."
"Aku keluar, tapi nggak sama buburnya. Kamu harus makan dan minum obat kalau sayang sama anak dan diri kamu sendiri." balas puma sama berteriak.
"Jangan ngatur, cepat bawa keluar," Marsha sudah tak kuat berdiri sebenarnya, tapi dia benci melihat orang lain selain_ Zidan, Marsha benci ngidam anaknya, kenapa harus Zidan yang anaknya rindukan dan harapkan ada disampingnya.
"Baik aku keluar Marsha, nanti aku datang lagi membawa mi instan yang kamu mau."
Marsha sudah kesal sekali, Puma terlalu berusaha membuatnya makan, dan terlalu banyak omong, dia sudah sangat lemah, perutnya terus bergejolak dan kepalanya sudah terasa sangat pusing, ingin sekali dia pingsan atau tidak sudah berpindah alam agar tidak merasakan ngidam aneh ini.
Namun apalah daya, jiwa wiro sableng sudah sangat melekat dijiwanya, ditambah ilmu nyi pelet yang membuatnya menjadi wanita tegar mengalahkan jiwa Indah si pemeran utama tersanjung.
Setelah dipastikan Puma keluar, Marsha membuka pintu kamar mandi menuju tempat tidurnya, dia merebahkan diri, ini tempat yang paling nyaman untuknya saat ini.
Kepalanya terasa sangat pusing, pandangannya juga sudah mulai berkunang-kunang, satu rahasia yang tidak orang ketahui, jika Marsha menyimpan satu jaket milik Zidan.
Marsha memejam memeluk jaket Zidan menciumi sisa aroma tubuh Zidan di jaket itu, membuatnya sedikit nyaman dan tenang.
Siang menjelang, Puma menyambut Axcel, lelaki itu mengenakan kaca mata hitam untuk menghalau sinar matahari yang sedang tinggi-tingginya.
"Selamat siang Pak Axcel," Puma mengulurkan tangan.
Axcel membuka kaca matanya, tidak sopan jika bertemu kolega masih mengenakan kaca mata.
"Selamat siang," balas Axcel uluran tangan Puma, "kamu Puma kan?" Puma mengangguk, "kayaknya kita seumuran, kalo gitu nggak usah formal-formal amatlah, kita ngobrol santai lebih enak."
"Oh oke, aku seneng kalo ketemu patner kerja begini, gayamu juga santai. Nggak kayak exmud biasanya," ucap Puma mengajak Axcel berkeliling melihat kandang sapinya.
Axcel melihat sekumpulan ratusan sapi didepanya.
"Ini yang sebelah kiri kanan beda ya?" tanyanya.
"Iya, kalau yang kiri khusus sapi potong, kalau yang sebelah kanan khusus sapi perah."
Axcel mengangguk. "Aku kesini nggak bawa dokter, aku percaya kalau keluarga kalian pasti mengutamakan kualitas dan kesehatan peternakan disini."
Puma kemudian mengajak Axcel menaiki buggy car untuk mengelilingi kawasan peternakan yang sangat luas itu. Setelah hampir setengah perjalanan mereka berkeliling, Puma melihat Marsha yang duduk di luar bersama kedua kokinya.
__ADS_1