Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Tidak Ingin Dia


__ADS_3

Zidan mencoba menghubungi Marsha berkali-kali, namun sekarang ponsel Marsha sudah tidak aktif lagi. Zidan meremas ponselnya kesal, karena saat Marsha menghubunginya, dia malah tak bisa menjawab sebab Misya sedang bersamanya.


"Akhhhh," Zidan berteriak frustasi, keadaan ini sangat mencekiknya, dia tak bisa melakukan apa-apa saat Marsha mungkin saja membutuhkanya.


Zidan menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia malas untuk pulang kerumahnya, namun bingung akan kemana. Pikiranyan kembali diingatkan saat Marsha memuntahkan seluruh isi perutnya, dan hal itu membuat kakeknya tahu jika dia masih menemui Marsha.


"Kakek akan membuat pernikahan mu lebih cepat jika kamu terus menemui wanita itu. Urusan kita pada keluarganya sudah selesai Zidan. Tapi jika kamu tetap nekat menemui gadis ingusan itu, maka saat kamu pulang, kamu hanya melihat tubuh kakek yang sudah kaku."


Jika boleh memilih dilahirkan kembali, Zidan lebih memilih dilahirkan dari keluarga yang biasa saja asal mendapat perhatian dan kasih sayang lebih seperti yang dia inginkan, dan bisa hidup tenang bersama Marsha.


* * *


Dilain tempat, Mawar, Indah dan Abdi berlari-lari di koridor rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa Marsha dilarikan kerumah sakit, berbagai pikiran muncul dikepalan mereka.


Rasya yang sedang di Bandung sebab ada pekerjaan sekaligus mengantar si kembarpun segera pulang malam itu juga, sebab kabar yang ia dapat dari sang istri jika Marsha hampir hangeover, tak pernah Marsha menyentuh minuman terlarang itu, namun jika putrinya sampai melakukan hal itu, berarti Marsha sedang menghadapi masalah yang sangat berat.


"Kurang ajar Zidan, dia yang membuat anakku menjadi seperti ini." Usap Rasya wajah tuanya yang masih terlihat tampan itu, sangat tak rela jika terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya.


Indah dan Abdi segera melihat keadaan Marsha yang belum sadarkan diri, Marsha ditemani seorang laki-laki yang membawanya kerumah sakit.


Sedang Mawar di minta untuk langsung menemui dokter yang menangani Marsha.


"Putri anda terlalu banyak minum alkohol, beruntung bayi yang ada didalam kandungannya masih bisa diselamatkan," Jelas sang dokter "sangat jarang jika orang yang meminum banyak alkohol bayi mereka akan selamat, apalagi ini masih diusia yang sangat rentan."

__ADS_1


Mawar menutup mulutnya tak percaya, dia tak tahu Marsha sengaja melakukannya atau tidak, namun setahunya, sekeras-kerasnya Marsha, anak gadisnya itu tak pernah terlibat pergaulan bebas ataupun meminum alkohol. Jika memang Marsha sudah tahu, berarti Marsha berniat untuk menghilangkan nyawa yang tak berdosa itu.


"Tapi, apakah bayinya baik-baik saja kedepannya Dok?" Mawar harus memastikan itu.


"Sejauh ini masih bagus Bu, kita lihat pertumbuhannya kedepan."


Mawar mengucapkan alhamdulillah "Berapa usia kandungannya sekarang Dok?"


"Memasuki minggu ke tujuh."


Mawar berjalan menuju ruangan Marsha dirawat, pandangannya kosong, tak pernah terpikirkan anaknya akan hamil tanpa suami. Marsha yang selama ini terlihat kuat dan tidak pernah bersedih dalam keadaan apapun, namun sekarang anaknya sedang diberikan cobaan yang begitu berat. Mawar sampai tak menyadari jika suaminya sudah berada didepanya. Rasya terheran melihat istrinya, pasti ada suatu hal besar yang sedang terjadi, sampai Mawar tak menyadari keberadaannya.


Rasya menarik pergelangan tangan Mawar dan seketika membawa ke dadanya.


"Apa yang terjadi dengan putri kita, dia baik-baik saja bukan?" Rasya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Marsha hamil, dia mengandung cucu kita." Mawar langsung mengatakan yang sebenarnya.


Rasya berdesir mendengar kata cucu, tak disangka dia secepat ini akan mendapat cucu. Raya tak tahu harus senang atau sedih mendengar berita itu, seharusnya ini jadi kabar bahagia untuk keluarga mereka, tapi ini bagai musibah besar sebeb dalam keadaan yang tak seharusnya. Rasya memejamkan mata meredam gemuruh didadanya, giginya sampai gemeretak geram pada Zidan dan keluarganya.


"Kita bisa membahagiakannya walau tanpa laki-laki itu." Ucapnya menenangkan, Rasya mengecup puncak kepala Mawar dan mengusap lembut pundak istrinya, dan Mawar mengangguk setuju akan hal itu.


Mereka masuk ruang Marsha bersama, namun laki-laki yang membawa Marsha tadi sudah tidak ada.

__ADS_1


"Kemana orang yang membawa Marsha?" tanya Mawar pada Indah, mereka duduk di sisi kiri kanan ranjang Marsha, sedang Abdi dan Rasya duduk di sofa, menunggu Marsha sadar.


"Dia sudah pulang, tapi besok dia akan datang lagi menjenguk Marsha. Dia mengenal Marsha."


"Malang sekali nasib putri kita Indah."


"Dia anak yang kuat, aku yakin dia bisa melewati semua ini." Indah belum tahu kenyataan yang sebenarnya. Hingga Mawar menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Astaga Mba, bagaimana dengan bayinya?"


"Alhamdulillah dia sehat, dia kuat dan ingin hidup bersama ibunya, kita akan segera memiliki cucu."


Samar Marsha mendengar obrolan kedua wanita itu.


"Amam, Apap," panggilnya dengan suara serak "Bunda, Ayah," Abdi dan Rasya segera menghampirinya, bulir kristal Marsha tak dapat lagi dibendung melihat wajah khawatir orang tuanya.


"Kamu sudah bangun sayang," Rasya yang terlihat begitu khawatir. "Apa yang kamu rasakan? Pusing? Mual?" Rasya langsung memberondong pertanyaan.


Marsha menggeleng, jika saja yang menanyakan ini Zidan, dia pasti akan sangat senang.


"Kamu mau Apa? Makan? Minum? atau kamu pengen sesuatu?" Abdi yang bertanya.


"Marsha tidak ingin dia ada," semua terkejut atas ucapan Marsha.

__ADS_1


__ADS_2