
"Iya Kek," jawab Puma berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Akan ada tamu yang datang, kamu sambut dengan baik, dan beri jamuan teristimewa."
"Tamu istimewa? siapa?" Puma yang akan menuju ke kandang sapi perah memutar tubuhnya melihat kearah pintu masuk.
"Tamu Marsha, kamu pasti tahu itu."
"Dia sudah tahu Marsha disini?"
"Dia lelaki yang cukup cerdas, setelah tiga bulan pencairannya, dia berhasil menemukan tempat persembunyian Marsha."
"Kakek mau aku menjamunya seperti apa? dengan adonan donat, atau dengan memeras susu sapi murni?"
"Kasih yang terbaik." Puma mengangguk seolah Mahardika tau yang dia lakukan, "bagaimana kabar Marsha? Apa dia masih mengalami muntah?"
Pandangan Puma kini beralih menerawang dari jauh rumah yang ditempati Marsha.
"Keadaannya sebenarnya semakin memprihatinkan Kek, aku tidak tega melihatnya, makanan apapun yang dimasak koki tidak ada yang cocok dengan lidahnya. Sepertinya dia hanya menginginkan makanan yang dimasak oleh ayah dari bayinya," terdengar sentaan nafas dari seberang.
"Sambut dulu tamu kita dengan sajian yang lezat, dia bisa menelan makanan yang kita berikan atau tidak, baru izinkan dia bertemu dengan Marsha," ujar Mahardika lagi mengintrupsi. Lagi-lagi Puma mengangguk walau tak dilihat oleh Mahardika.
Setelah panggilan itu terputus, sebuah mobil datang, mobil yang Puma sudah paham betul milik siapa?
Axcel turun dari mobilnya seraya melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Senyum ia berikan saat Puma menghampirinya.
Kenapa dia yang dateng? Kan enggak ada janji? Dumel Puma dalam hati.
"Apa kabar, bro?" Axcel mengangkat tangannya yang mengepal untuk bersalaman dengan Puma.
Puma membalas kepalan tangan Axcel. "Baik, aku baru mau mengabarimu, kalau besok kami akan mengirim dua tangki ke pabrik mu."
"Aku senang saja berkunjung kesini, disini seperti tersimpan pemandangan yang menyejukkan mata." Ujung mata Puma melirik arah rumah yang ditinggali Marsha. Tau betul apa tujuan Axcel, kalau tidak ada maunya, mana mungkin mau datang jauh-jauh kesini. "Hamparan rumput hijau dengan segerombolan ribuan ternak sapi yang terjaga kesehatannya, udara yang masih sangat segar, dan ... yang menamabah tempat ini menjadi indah, keberadaan rumah itu. Apa rumah iti ada penghuninya? Ah maaf, maksud ku, selain kamu? Apa ada orang lain, sebab aku peenah melihat wanita cantik dirumah itu, apa dia istri kamu? Wh setahu ku, kamu belum memiliki istri kan?" tanyanya memancing, menunjuk rumah yang ditinggali Marsha.
"Tidak, aku sendiri. Mungkin kamu salah lihat, disini memang suka ada penampakan." Jawab Puma asal.
"Oh ya! Tapi kalau penampakanya secantik itu, aku mau dia menampakkan diri terus, dan aku akan melamarnya." Ujarnya terkekeh.
"Hmmm kamu bisa memilih, mana yang akan kau nikahi, tunjuk saja jika mereka mau padamu." tutur Puma mencoba agar tak terpancing ucapan Axcel.
"Tapi jujut, aku tertarik dengan pribadi mu itu, aku suka. Dari awal datang kesini aku sudah jatuh cinta dengan rumah itu, terlihat sangat elegan. Pasti di dalamnya berisisi barang-barang antik."
Puma memutar-mutar mulutnya lalu menutup mulutnya dengan tangan yang dikepalkan, menahan tawa, andai saja Marsha tahu, jika ada yang menganggapnya barang antik, dia pasti sangat marah besar.
"Jadi tujuan mu kesini, mau melihat rumah ku, atau mau melihat sapi-sapi ku?" tanya Puma menyelidik.
Jangan harap kamu bisa bertemu Marsha.
Axcel menggaruk pelipis, gugup. "Emm ... Dua- duanya kalau bisa. Puma, bisa kita room tour sebentar rumah kamu, aku rasa itu bisa menjadi referensi rumah baruku," ucapnya lagi, tetap berusaha agar bisa kerumah itu, dan bertemu Marsha.
Tawa Puma pecah, kemudian menepuk pundak Axcel. "Desain interiornya teman ku dari luar negeri, jadi kalau kamu mau tahu desainnya, kamu langsung hubungi saja dia, akan aku beri kontak nomornya, karena aku sangat pribadi untuk ruangan ku."
__ADS_1
Kenapa Mahesa belum datang juga sih? rutuk Puma melihat waktu dipergelangan tanganya.
"Sepertinya kamu sedang menunggu tamu, Puma?"
"Iya, aku ada janji dengan seseorang, ayo kita ke peternakan, melihat proses pemeraan sapi."
"Apa kedatangan ku mengganggu waktu mu?"
"Tidak sama sekali, santai saja."
Kemudian Puma merogoh ponselnya, sambil berjalan dia mengirim pesan pada penjaga, meminta jika ada mobil Mahesa datang, untuk ditahan dulu didepan. Karena memang sebelumnya, Mahesa sudah mengatakan akan datang, tapi tanpa disangka jika Axcel juga akan datang, karena sebenarnya mereka tak ada janji temu hari ini.
Dan didepan sana, Zidan yang disembunyikan Mahesa didalam bagasi mobil sudah merasa kemerahan, karena Mahesa menghentikan mobilnya, tapi tak menginstruksinya untuk keluar, Zidan geram, ingin menggedor dan keluar, takut keadaan sedang tak aman, karena saat mereka mendekati kawasan peternakan, mereka melihat ada banyak penjagaan didepan pintu gerbang.
Jantung Zidan berdebar tak menentu, dia sudah mempersiapkan kata-kata, atau senyum terbaik saat bertemu Marsha nanti, tubuhnya pun mengeluarkan keringat dingin, selain gugup ingin bertemu Marsha, juga merasakan mules ditambah kini dia dikurung Mahesa didalam bagasi mobil.
Hal yang sama juga tengah dirasakan Marsha, tiba-tiba saja jantungnya berdebar hebat, seperti akan bertemu seseorang yang spesial, di tengah dia menahan tubuhnya yang semakin lemah.
"Apa Amam dan Apap mau datang? Semalam aku bermimpi mereka datang." Marsha menyentuh dadanya yang masih berdebar, dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya, berusaha untuk keluar mencari udara segar, tapi sebelumnya dia mengintip terlebih dahulu, sebab pesan Puma berapa hari lalu yang memarahinya. Dan Marsha bisa melihat, Puma sedang bersama Axcel berkeliling menggunakan buggy carnya.
"Apa aku nggak salah lihat? Itu Axcel?" kembali Marsha menajamkan pandangannya, matanya menyipit, memastikan dia tak salah lihat. "Masa debar jantung ini pertanda mau bertemu Axcel sih? Enggak banget."
Dumel Marsha pada diri sendiri. Dia kembali merebahkan dirinya ditempat tidur, tak terisi apapun untuk beberapa hari ini, sebab apapun makanan yang coba ia makan, tetap kekuar, membuat tubuhnya tak kuat jika harus lama-lama berdiri, ini saja rasanya isi perutnya sudah bergejolak ingin menerobos dari mulutnya, penglihatannyapun mulai bekunang-kunang.
"Sampai kapan aku merasakan tersiksa seperti ini, ini bahkan sudah memasuki minggu kedelapan." Ujarnya mulai mengeluh.
Merasa bersalah pada Mawar, mungkin yang terjadi padanya karena durhaka terhadap sang mama karena tak memberi tahu keberadaannya, Marsha mencoba memulai panggilan video.
Baru juga deringan pertama, Mawar sudah mengangkat teleponnya, dan memberondong Marsha dengan banyak pertanyaan, sangat kentara wajah itu begitu khawatir dan penuh rindu. Marsha menjadi mengharu.
"Marsha baik, Mam. Kandungan Marsha juga baik, Amam dan Apap apa kabar?" tanyanya lirih.
"Baik sayang, kami semua baik. Nak pulanglah, jika tidak, beri tahu Amam, dimana kamu. Biar Amam yang kesana. Marsha Amam khawatir sama kamu, bunda dan ayah juga, semua merindukan kamu."
"Nanti Marsha pulang, Mam. Marsha janji pulang bulan depan, Marsha sudah berpikir untuk tinggal sama Amam saja. Tak apa kan Marsha tinggal dirumah? Marsha nggak bikin Amam dan Apap malu kan?"
"Tidak sayang, tidak sama sekali. Apapun yang terjadi padamu bukan salah kamu, dan lebih baik kita berkumpul dari pada berpisah jauh-jauhan seperti ini. Apapun masalah kita, kita hadapi sama-sama," ucap Mawar menghapus air yang mulai membasahi pipinya, hidungnya pun sampai memerah betapa dia begitu sedih bercampur senang, Marsha mau menghubunginya.
"Sayang, siapa itu?" Itu suara Rasya yang baru keluar dari kamar.
"Marsha, Pap." Jawab Mawar menoleh kearah suaminya yang mendekat. Mengetahui siapa peneleponya, Rasya mempercepat langkahnya. Dan langsung menyambar ponsel ditangan Mawar.
"Marsha, sayang. Ini kamu? Apa kabar sayang?" Rasya mengarahkan kamera didepan wajahnya, diapun tak jauh berbeda dari sang istri, terlihat begitu khawatir bercampur bahagia. Dan melalui panggilan video ini, dia dapat melihat wajah cantik putri satu-satunya, anak sulungnya yang terlihat pucat dan lemah.
"Marsha, kamu sakit? Apa Apo tidak memberi fasilitas yang mewah disana? Beri tahu Apap."
Marsha tersenyum, seraya menghapus air matanya, melihat wajah khawatir cinta pertamanya dia jadi merasa bersalah. Merasa egois menyakinkan mampu menjaga diri, egois mampu memegang perusahaan, nyatanya dia tak mampu melakukan itu, malah membuat banyak masalah.
"Apap baik-baik saja?"
"Apa sudah pasti baik, jangan khawatirkan Apap, Apap akan selalu sehat demi bisa bertemu kamu."
__ADS_1
Marsha mendongak, mendengar jawaban Rasya, kubangan iar itu berdesakan ingin keluar, dan nyatanya dia tak kuasa, juga. Tak bisa melawan kerasnya hati, sekuat tenaga dia mencoba untuk tak terlihat lemah didepan kedua orang tuanya, nyatanya itu sulit.
"Maafkan Marsha, Apap. Maaf Marsha sudah membuat Amam dan Apap khawatir."
"Sudah, jangan sedih. Pulanglah jika kamu rindu, susah jangan pikirkan apa-apa. Apap yang seharusnya minta maaf karena tak bisa menjaga kamu dengan baik."
Marsha mengangguk lemah dalam pembaringanya. "Iya Pap, Marsha akan pulang, Marsha nggak mau begini lagi. Marsha mau jadi anak penurut aja."
"Tetap jadi Marsha Apap yang dulu sayang, Apap tidak masalah dengan sikap kamu yang dulu. Jadilah seperti diri kamu sendiri. Kapanpun kamu siap pulang, pintu rumah Apap terbuka 24 jam untuk kamu, Sayang."
"Maksih Pap."
Dan panggilan video pun terputus, karena setelahnya Marsha menutup wajahnya dibantah, meluapkan rasa yang berkecamuk didalam dirinya, merasa egois, merasa bersalah, merasa tak berguna dan hanya bisa membuat malu. Tak pernah ia menangis seperti ini, seperih apapun yang ia hadapi, selalu ia tanggung sendiri, tapi ia lupa, jika orang tua merasa berguna dan merasa disayang, jika anaknya mau berbagi apapun yang dirasakan anaknya.
*
*
*
Kembali lagi ke perkebunan.
Setelah satu jam lebih Zidan merasa seperti dikerjai Mahesa, akhirnya ia pun bisa keluar dari dalam tempat sempit dan pengap itu.
"Kamu sengaja ya Hes, kurung aku didalam sini." Zidan merapikan rambut dan juga pakaiannya setelah keluar dari bagasi mobil.
Mahesa tertawa, membuat Zidan kesal. "Sekali-kali ngehukum elo, kapan lagi iyakan?" Mahesa masih tertawa. "Kan kamu tahu sendiri, tadi banyak pemeriksaan didepan, mobil kita juga disetop nggak boleh masuk, kan aku bawa orang yang sudah menyakiti hati cucu kesayangan Mahardika," ujarnya sambil menutup bagasi.
Zidan mendengus, mengalah, menerima kenyataan, menganggap jika ini hanya cobaan untuknya sebelum bertemu wanita pujaan hatinya.
"Katanya kamu sudah menghubungi sepupu kamu yang jaga disini, percuma donk kalau masih banyak pemeriksaan juga." Protesnya.
"Hai, Brow. Sampai sini juga akhirnya." Puma datang dari arah peternakan, berjabat tangan dengan Mahesa, dan berpelukan. Dia berhasil mengusir Axcel setelah satu jam mengalahkan keingin tahuan Axcel tentang rumah yang ditempati Marsha.
"What' up, Bro?"
"**Seperti yang lo lihat, aku bisa berada disini menemui Lo." Jawabnya, saling menepuk pundak. "Oh ya, kenalin, Zidan. Tadi nemu dijalan." Mahesa mengenalkan Zidan pada Puma.
Mata Zidan sudah mendelik atas ucapan Mahesa**.
"S1alan Mahesa. Bilang nemu dijalan."
Zidan mengulurkan tangan ingin berjabat dengan Puma, tapi Puma mengacuhkanya.
"Ayo, kita berkeliling, sudah lama kita nggak ketemu." Puma malah mengajak Mahesa pergi menuju buggy carnya yang terparkir tak jauh sari sana, mengabaikan keberadaan Zidan.
Zidan yang ingin menyusul, namun Mahesa melarangnya. "Kamu disini dulu ya, ada hal penting yang mau kami bicarakan hanya empat mata. Maklum sudah lama tidak bertemu seperti ini."
Zidan mendengus sekaligus kesal melihat kepergian Mahesa dan Puma pergi meninggalkannya, dan dia tak bisa berbuat apa-apa, karena hanya tamu diaini. Saat dia berbalik, ingin melihat-lihat, dia dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berpakaian serba hitam, bertubuh tegap tinggi, sambil memegang tongkat base ball ditangannya.
Zidan refleks mundur, kemudian melihat Mahesa yang sudah tak terlihat lagi, dia menduga jika ini sudah konspirasi Mahesa dan saudaranya itu.
__ADS_1