Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Zidan memasang kuda-kuda, saat lima orang bertubuh tegap itu ingin menyerangnya, jari telunjuknya bergoyang menunjuk salah satu diantara mereka untuk maju. Untung dia mengenakan sepatu sport, bukan sepatu pantopel yang biasa dia pakai untuk bertugas, jadi dia bisa bergerak bebas.


"Satu lawan satu kalau berani, jangan main keroyokan," pintanya sebelum acara menyenangkan bagi Mahesa dan Puma dimulai.


Zidan tak tahu, jika kini Mahesa dan Puma sedang menontonnya melalui ruang cctv. Ini semua sudah menjadi rencana Mahardika dan kedua lelaki tampan itu.


Zidan berdehem. "Kamu," tunjuknya salah satu dari mereka, yang dulu pernah menjadi bodyguard Marsha. "Kita sudah saling mengenalkan? Tolong, jangan buat mukaku hancur, nanti Marsha tidak bisa mengenaliku."


Lelaki yang dimaksud Zidan tak menggubris, dan dia mulai menyerang. Jika satu lawan satu, Zidan percaya diri bisa mengalahkan semuanya walau dengan tangan kosong, setidaknya lawanya tidak ada yang menggunakan senjata api.


Dan saat satu persatu diantara mereka maju dan menyerang Zidan, Zidan bisa mengalahkan mereka, dia bahkan bisa merebut satu tongkat baseball yang bisa ia jadikan senjata mempertahankan diri dan menyerang. Tepuk tangan ia dapatkan dari Mahesa dan Puma.


"Hebat juga sekretaris Marsha ini." Puji Puma. Mahesa mengangguk setuju, tak disangkanya Zidan memiliki ilmu bela diri yang lumayan.


Tak butuh waktu lama, Zidan berhasil mengalahkan para bodyguard suruhan Mahardika.


"Ayo, apa hanya batas disini kemampuan kalian?" tantang Zidan.

__ADS_1


Para bodyguard tadi saling pandang, membari kode untuk menyerang lagi. Tak lagi satu persatu yang maju, melainkan mereka menyerang Zidan bersamaan. Bermodalkan dua tongkat baseball, dikiri dan kanan tangannya, Zidan masih mampu mempertahankan diri, namun salah satu dari mereka ada yang menendangnya dari belakang, membuat Zidan terjungkal.


Saat dia akan bangun, dia kembali diserang, tak bisa menghindar lagi, wajah Zidan tak luput dari hantaman keras sepatu milik para bodyguard itu.


Penglihatan Zidan mulai menggelap, dia tak berdaya lagi, dalam hitamnya penglihatannya, Zidan masih mengingat senyum Marsha yang terkesan pelit, sifat judes dan marahnya Marsha.


Sekuat tenaga Zidan bangkit dan mencoba melawan,dia tak boleh kalah, jika dia kalah, maka Marsha akan bertambah marah padanya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zidan berdiri, satu tangannya masih memegang tongkat baseball sebagai penyanggah tubuhnya.


Akkhhh


Zidan berteriak keras untuk mengumpulkan tenaga, tak perduli lagi, Zidan membabi buta, menyerang tanpa ampun. Dan demi wanita yang ia cintai, Zidan berhasil mengalahkan semuanya.


Dia ingin memastikan apa yang terjadi, dia takut ada perampok yang tiba-tiba datang dan menyerang, dia tidak tahu, dan dia tidak bisa menyelamatkan diri. Bersusah payah Marsha menyeret kakinya menuju jendela kaca dari atas kamarnya, namun tak ada apapun.


Matanya terus menyusuri kawasan peternakan, semua terlihat aman, bahkan para pekerja bekerja seperti biasa.


Mungkin dia hanya salah dengar, pikirnya. Namun ketukan di pintu membuatnya mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Tok tok tok


"Dasar singa gunung, biasanya buka sendiri." Gerutunya menduga jika pelakunya adalah Puma.


Mulut yang siap mengumpat itu kini harus kerkatup rapat. Matanya menyorot tajam laki-laki yang penampilannya sudah terlihat sangat kacau itu. Kemeja biru yang dikenakanya sudah berganti warna, menjadi coklat dan banyak noda darah.


Marsha tak menyangka jika laki-laki yang sangat ia hindari kini berdiri dihadapanya. Laki-laki yang ia lihat dalam video kini nyata ada dihadapanya. Meskipun wajahnya terdapat banyak lebam, tapi dia masih begitu mengenali wajah tampan itu.


Apa ini mimpi?


Entah rasa apa yang sebenarnya sedang ia rasakan, rasa benci, kesal, muak, namun juga rasa senang hadir dalam waktu bersamaan.


"Kamu masih mengenali ku kan, Marsha?" ucap Zidan, padahal dia sendiri cukup terkejut dengan penampilan wanitanya yang mengalami begitu banyak perubahan. Tubuh kurus dengan wajah yang terlihat begitu pucat, namun tak mengurangi sedikitpun kecantikanya.


Tangan yang kembali ingin mendorong pintu itu ditahan oleh tangan Zidan, dan kaki Zidan menahan pintu bagian bawah.


"Aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan, sayang. Izinkan aku masuk." Zidan mengambil kesempatan saat Marsha tengah terperangah oleh kedatangannya, dia menerobos masuk, dan langsung mendorong pintu itu agar tertutup.

__ADS_1


"Aku hampir mati melawan para penjaga mu, tapi demi kamu, aku mencoba melawan," bisik Zidan tepat dihadapan wajahnya, Marsha meremang dibuatnya.


"Setelah sekian lama perjuangan ku mencari mu Marsha, kita dipertemukan lagi," ujar Zidan lagi, sambil menarik tubuh Marsha dalam pelukanya.


__ADS_2