Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Suara Berisik Nyamuk


__ADS_3

Setelah lama Marsha dan Zidan saling diam, Marsha memilih terlebih dahulu memutus pandangan mereka, nayatanya hatinya tak kuat harus memandang Zidan terlalu lama. Rasa sakit, rindu, benci menjadi satu membuat mata Marsha memanas. Dia membuka pintu belakang mobil, mengambil kotak kardus yang dibawanya tadi.


Dilemparnya kotak itu dihadapan Zidan, "dasar pembohong, munafik, ternyata kamu cuma manfaatin aku."


Zidan diam menatap potongan gaun yang dikirimkannya kemarin, bukan masalah gaunya, tapi potongan gaun itu menggambarkan hatinya dan Marsha yang sama hancur.


Melihat Zidan hanya diam, Marsha bertambah murka. Marsha maju mendekati Zidan, semua harus tersampaikan, dia harus menyelesaikannya secara langsung pada Zidan, setelah ini mungkin dia akan puas.


Plakkkk


Wajah Zidan sampai tertoleh oleh tamparan keras Marsha "PUAS! Puas kamu udah permaluin keluarga ku?"


Misya dan Mahesa terperangah melihat itu, Misya mendengus tak percaya "aku tidak akan mungkin bertahan dengan mu Zidan, laki-laki bodoh hanya karena cinta rela mendapat perlakuan kasar seperti itu."


Beruntung dia telah mengenal Mahesa, bisa dijadikannya sebagai cadangan jika dia sudah mendapatkan Zidan dan hartanya.


Kembali pada Marsha.


Air mata itu sudah tak bisa ditahan lagi, jika semalam Marsha bisa menahan dan pura-pura kuat menutupi dari keluarganya, tapi sekarang Marsha meluapkan didepan Zidan.


Marsha menghapus kasar airmatanya menggunakan lengan, sial sekali dia terlihat lemah dihadapan Zidan. Zidan membiarkan Marsha meluapkan segala kekesalanya, dia pasrah, bahkan jika Marsha akan membuunuhnya pun dia rela, itu akan lebih baik.


"Andai aku tahu dari awal niat kamu, aku nggak akan biarin kamu masuk dalam hidupku." Marsha tertawa kemudian, namun air matanya tetap tak bisa dibendung membuat Zidan semakin sakit melihatnya "sampai kamu bisa memalsukan data keluarga kamu ya Zidan, buat nipu aku dan keluarga ku."


Untuk ini Zidan tak tahu "Menipu seperti apa maksud kamu Marsha?"


Marsha kembali tertawa mengejek "Oh sekarang sudah mau mengelak, kamu memang pintar bersandiwara Zidan, kenapa nggak sekalian jadi aktor saja, sekalian sama seluruh anggota keluarga kamu."


"MARSHA apa maksud kamu menipu dan memalsukan data keluarga?"


"Kamu bertanya pada ku Zidan?" Marsha membuang nafas dari mulut "kamu memang keluarga giila, psssikopat, penipu, aku benci kamu Zidan, aku benci kamu." Marsha memukuli dan mendorong dada Zidan hingga tenaganya habis, dan pada akhirnya dia tak kuat menahan gejolak didalam perutnya, mungkin disebabkan dia yang belum makan sejak kemarin.


Uwwwekk


Uwwwekk


Marsha memuntahkan isi perutnya dipakaian Zidan, hingga pakaian Zidan menjadi sangat kotor, Zidan begitu panik, segera Zidan memeriksa Marsha, menempelkan tangan dikening Marsha mengecek suhu tubuhnya dengan penuh perhatian, tak bisa dibohongi jika dia begitu menyayangi Marsha.


Begitu juga Mahesa, dia sudah ingin membuka pintu mobilnya untuk menghampiri Marsha, namun ia urungkan, dia tahu Marsha butuh waktu menyelesaikan masalahnya bersama Zidan.

__ADS_1


"Apa Marsha benar sudah hamil?" Misya dan Mahesa menebak secara bersamaan masih menyoroti keduanya dari jauh.


"Apa kamu sudah makan?" Zidan bertanya, bahkan dia sendiri belum makan setelah Naima dan kakek menemuinya kemarin.


Marsha menepis tangan Zidan "Apa peduli mu?"


"Tentu aku perduli, mungkin saja dia sudah ada didalam sana Marsha, aku mohon jangan siksa dirimu."


"Bahkan jika dia ada aku akan membuunuhnya, aku tidak sudi memiliki anak dari seorang laki-laki brenggsek seperti mu."


"Dia tidak bersalah Marsha, kamu bisa membunuhh ku asal jangan dia, jaga dan rawat dia sepenuh hati kamu, dia juga tak ingin ada "


Sakit sekali Marsha mendengar itu, jaga dan rawat dia "Mudah sekali kamu mengatakan itu, Zidan. Karena memang ini tujuan kamu bukan? Membuatnya ada didalam sini, setelahnya kau meninggalkannya." Tak tahu janin itu sudah ada atau belum Marsha memukuli perutnya.


"Hentikan Marsha." Zidan ikut meneteskan air matanya, kenapa semua terjadi disaat seperti ini, jika dia bisa memilih dia akan membawa Marsha pergi jauh, namun dia akan menyesal seumur hidupnya karena pasti kakek tidak main-main dengan ancamnya jika dia memilih Marsha.


"Aku mohon bertahanlah Marsha, tunggu aku menyelesaikan masalah ku," akhirnya Zidan mengambil keputusan ini, dia yakin pasti bisa menyelesaikan masalah dengan kakeknya, Zidan tak mungkin membiarkan anaknya hidup tanpa seorang ayah disisinya, cukup dia yang tak merasakan kasih sayang dari ayah.


"Masalah apa? Kamu itu pengecut Zidan, laki-laki tidak butuh restu dari keluarga jika kamu memang mencintai ku tulus, aku tidak akan percaya dengan dongeng cintamu lagi, semua palsu, semua yang kamu katakan palsu. Padahal Apap memberi mu kesempatan, tapi apa? Kamu tidak mempertahankan aku."


Marsha mendorong kuat tubuh Zidan hingga Zidan terduduk, dia lalu masuk ke mobilnya, mengapa rasanya begitu sakit mengeluarkan segala unek-unek yang sejak kemarin ditahanya, sampai semua kata tak pantas pun akhirnya terucap.


"Kamu pengecut Zidan, kamu pengecut, aku membencimu." Marsha menginjak gas dan melajukan kencang mobilnya, takbia perdulikan Zidan berantakan masih diam ditempatnya.


*


*


*


Walau dengan hati yang kacau, Marsha tetap bekerja seperti biasa, namun semua karyawanya dibuat terheran karena tak biasanya Marsha datang terlambat, kini jam bahkan sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.


"Miss,Pak Zidan juga belum sampai." Melati mengikuti hingga ke ruang Marsha.


Hati Marsha berdenyut, nyatanya kehadiran Zidan membuat perubahan yang besar dalam hidupnya, Marsha mendongak menahan perih, jangan sampai dia menitipkan air matanya didepan Melati.


"Dia sudah dipecat Bu Melati, jangan lagi menanyakan dia, hapus namanya dari data karyawan, dan transfer sisa gajinya." Ujar Marsha panjang lebar, jangan sampai Melati mengulang pertanyaannya, dia begitu pusing jika harus membahas Zidan.


Melati mengatupkan bibirnya membentuk O tanpa suara, perasaan baru kemaren dia mendapat PJ (pajak jadian) sekarang mereka sudah berpisah. Kisah Marsha dan Zidan memang memusingkan.

__ADS_1


"Cari pengganti buat Bu Melati, karena anda yang akan menggantikan Zidan, saya tidak mau cari yang baru."


"Saya Miss?" Melati menunjuk dirinya.


"Kurang jelas yang saya katakan?" Marsha kini menatap i-macnya yang telah menyala.


Bahu Melati melemah, memang menjadi sekretaris Marsha gajinya begitu menggiurkan, namun tidak dengan jam kerjanya.


"Hot news, hot news," Melati menghampiri meja meja Rosa dan yang lainya.


Rosa yang sedang mengtouch up bedaknya sontak menghentikan itu.


"Ada apa Bu?" tanya Rosa penasaran.


"Pak Zidan sudah dipecat sana Miss Marsha?"


Rosa memutar matanya "Kirain apaan, bukannya Miss Marsha pernah ngelakuin itu, dasar bos labil, entar juga dipanggil lagi."


"Tapi yang sekarang kayaknya beneran, mata Miss Marsha kelihatan sembab walau ditutup pakai make-up, kayaknya mereka udah putus."


"What?" mulut Rosa menganga tak percaya "seriusan nih Bu?"


"Jangan pura-pura kaget deh loh Ros, bilang aja seneng."


"Ya gimana ya Bu? Ini tuh tamparan buat Miss Marsha sebenarnya, jangan mentang-mentang dia muka good, dompet good kisah percintaannya juga good, kasian donk sama kalian yang pada dari remahan rempeyek harus menyaksikan ke uwwuan pasangan sempurna itu. Bisa sakit mata kita." Rosa menjerengkan matanya


Melati geleng kepala "Bilang aja kamu iri sama Miss Marsha, ehh Miss Marsha juga duitnya nggak dihabisin buat beli bedak."


Marsha mendongak saat pintu ruanganya dibuka, tak disangka nyatanya Misya yang datang, Marsha coba mengingat, ternyata Misya yang menjadi tunangan Zidan.


"Selamat pagi hai wanita sok cantik dan sempurna." Marsha hanya mengangkat alisnya dengan tangan bersedekap, "kasihan sekali ya nggak punya sekretaris sekarang, sampai ada tamu datang nggak ada yang kasih tau."


Marsha tak menaggapi, tapi dia memandang Misya meremehkan, dari atas hingga bawah memang branded, tapi terlihat norak dikenakan Misya.


"Kenapa pagi-pagi menemui tunangan orang, huh? Ngajak balikan? Tapi sayang, Zidan kayaknya nggak akan mau balikan sama kamu," Misya memajukan wajahnya mendekat wajah Marsha, lalu tersenyum mengejek "sudah lihat foto dan video yang aku kirim kan? Tapi kamu harus mendengar kejutan selanjutnya, Miss."


Misya kembali memundurkan tubuhnya, mengambil ponsel didalam tasnya, lalu memutar suara Zidan yang sedang berkata lancang.


Sakit sekali Marsha mendengarnya, tapi bukan Marsha jika tidak bisa menyembunyikan perasaannya, Marsha menekan interkom diruanganya.

__ADS_1


"Bu Melati, bawa semprotan nyamuk, diruangan saya berisik suara nyamuk."


Mendengar itu Misya menarik kembali ponselnya, lalu dia keluar dengan perasaan kesal.


__ADS_2