Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Penuh Kejutan


__ADS_3

"Asal kalian semua menganggap yang terjadi bukanlah aib, dan tetap mendukung ku, aku pasti akan baik-baik saja. Tapi jangan pernah meminta ku untuk menikah dengan siapapun untuk mempertanggung jawabkan yang bukan menjadi tanggung jawab mereka." Marsha mengulang kalimatnya. "Mahesa memiliki masa depan yang panjang, bukan hanya aku wanita di dunia ini. Wanita yang sudah rusak, masih banyak wanita baik diluaran sana yang lebih pantas untuknya."


"Tapi kamu masa depan aku, Sha." Mahesa menunjuk dirinya, "aku mencintai kamu tulus, mau seperti apa keadaan mu, aku menerima semua kekurangan ku, kamu bukan wanita rusak dimata ku, kamu tetap wanita sempurna yang aku sayang. Kamu lihat? Mau kamu memperlakukan aku seperti apa, aku tidak pernah meninggalkan mu." Mahesa mengungkapkan seluruh isi hatinya


Marsha tertawa hambar "Yang telah menjadi saudara tidak akan pernah berubah, Hes. Saudara tetap saudara, keadaan ini tidak bisa di paksakan, aku juga tidak mencintaimu, di mataku kamu adikku, tidak lain. Jangan keras kepala."


"Keras kepala katamu? Persetan apa itu saudara Marsha."


"MAHESA!" Bentak Abdi, Mahardika mengangkat tangan, membiarkan kedua anak muda ini menyelesaikan masalahnya dan meluapkan seluruh uneg-unegnya. Mereka sebagai orangtua cukup menjadi pendengar dan saksi, biar semua tuntas sampai disini tanpa ada rasa yang mengganjal, terlebih Mahesa yang selalu mengharapkan Marsha.


Dada Mahesa naik turun karena emosi atas bentakan Abdi.


"Aku sadar, disini aku hanya anak angkat. Tapi aku butuh dukungan penuh dari kalian semua." Mahesa bangkit dari sofa panjang yang di dudukinya bersama Abdi dan Indah. "Marsha butuh laki-laki yang mau menjadi suaminya agar kehamilannya tak menjadi gunjingan. Dengan kami menikah aku yakin keluarga laki-laki itu pasti akan menyesal."


"Aku tidak butuh itu Mahesa, pergilah dari sini, tidak ada dendam-dendam lagi. Aku harap semua berhenti cukup sampai disini, cukup aku yang merasakan."


"Terserah apapun itu, sekarang kamu mungkin belum membutuhkanku, tapi jangan terlalu lama, perut mu akan semakin membesar, Marsha. Hubungi aku jika kamu membutuhkan ayah untuk anak mu." Mahesa keluar dari aula itu tanpa berpamitan, dia tak bisa menutupi rasa kecewanya.


Indah yang akan menyusul Mahesa dicegah Abdi. "Biarkan dia menenangkan dirinya, nanti kita bicarakan baik-baik dirumah." Indah mengangguk patuh pada suaminya.


"Bun, maaf jika aku-"


"Tidak apa Marsha, maaf karena telah membuat keadaan menjadi kacau, seharusnya dari awal kami tidak menawarkan Mahesa untuk menjadi suami mu."


Marsha diam sejenak sebelum mengatakan keinginannya "Biarkan aku pergi dari sini."


Mawar terkejut atas permintaan anaknya. "Tidak!" tolaknya tegas,"memang kamu mau kemana? Amam tidak setuju, kamu tetap di sini, Amam akan mengurus mu."


Marsha yang masih duduk di kursi roda menunduk "Marsha butuh menenangkan diri, Mam." Tak kuasa melihat wajah wanita yang telah melahirkan kedunia itu.


Mawar yang kembali ingin menolak di potong oleh Mahardika. "Kamu mau kemana? Apo setuju saja, carilah tempat yang nyaman dan tenang untuk mu."

__ADS_1


"Pa!" Mawar masih menolak.


"Kami menyetujui permintaan mu, bukan berarti kami mengusir mu, sayang. Kami hanya mengikuti apa yang menurutmu bahagia, lakukan yang membuat kamu dan bayi mu tenang." Marsha mengangguk mengerti.


"Ini yang terbaik untuknya." Mahardika keluar sambil menepuk bahu Mawar yang kini menangis, dipelukan Indah.


"Ini yang terbaik untuknya, Mbak. Aku juga tak rela melihatnya sendirian saat dia tengah hamil muda, tapi percayalah, Marsha kita kuat."


Marsha mendekat pada Mawar dan Indah, kemudian mengambil tangan kedua wanita yang itu.


"Amam jangan sedih, Marsha bisa menjaga diri, setelah melahirkan Marsha akan kembali lagi. Amam dan Bunda siap kan mengurus bayi Indah?"


Mawar mengangkat kepalanya dari pelukan Indah "Kamu tidak sayang Amam?"


"Sayang Amam, makanya Marsha ingin hidup tenang dulu, Amam disini yang akur sama Apap, Bunda dengan ayah juga."


Mawar tak bisa membendung air matanya, dia rela berjauhan untuk sementara untuk kebaikan anaknya. Ketiganya berpelukan sebelum Marsha pergi bersama kakeknya.


Seminggu ini Zidan disibukkan mencari bukti tentang kebohongan kakek dan mamanya. Setelah dia menyelesaikan satu persatu, baru dia akan kembali pada Marsha, meminta maaf atas ketidak tegasan dan kelemahannya.


Dan dada Zidan bergemuruh saat mengetahui kenyataan yang dia ketahui, benar ucapan Mahesa yang mengatakan bahwa mamanya tidak sakit. Eh memang sakit, tapi tak selama ini, sampai berpuluh tahun, mamanya sudah sembuh setelah setahun dirumah aman.


Zidan merasa telak, dia dibohongi mentah-mentah, dia hanya dimanfaatkan. Tangan Zidan mengepal menahan emosi, tega sekali Nasyat dan Naima membohonginya, rasanya Zidan enggan lagi memanggil kakek pada Nasyat.


Jika menyerang Nasyat dan Naima butuh strategi, dan dia harus melakukan cara halus. Zidan akhirnya mencari kebusukan Misya. Beberapa hari terakhir dia meminta temannya yang sangat dia rahasiakan identitasnya untuk mengikuti Misya.


Dan kenyataan yang Zidan dapati, Misya pernah hampir tidur bersama Mahesa. Zidan begitu puas dengan hasil kerja temannya, jejak-jejak lama Misya terbongkar semua. Sampai masa lalu keluarga Misya yang ikut terkuak.


Zidan mengerutkan kening, dia membaca berkali-kali atas apa yang dilihatnya. Zidan sampai menggelengkan kepala karena tak percaya. Kemudian dai kembali menghubungi temannya, menyakinkan atas apa yang dia dapat. Dan temannya menjawab yakin semua keganjalanya.


Karena merasa sudah terbantu oleh ucapan Mahesa, Zidan akan membantu Mahesa agar tak masuk jerat Misya, dan mungkin hubungan yang terlalu jauh dengan Misya.

__ADS_1


Dan berkat kecerdasan temanya, Zidan bisa mengetahui keberadaanq Mahesa yang kini berkumpul bersama temanya di club malam.


Zidan menepuk bahu Mahesa. "Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


Karena rasa bencinya terhadap Zidan yang telah merebut hati Marsha, Mahesa tak menghiraukan Zidan.


Zidan menyentak nafas kasar. "Ini penting, demi masa depan kebaikanmu, Mahesa." Tetap Mahesa tak mengindahkan keberadaan Zidan. Mahesa terus menenggak minumannya.


Karena merasa kasihan, Zidan menarik paksa minuman Mahesa.


"An*ing," maki Mahesa karena kebahagiaannya diusik. "Apa mau lo?" Teriaknya tepat di depan wajah Zidan, wajahnya sudah memerah karena pengaruh alkohol dan juga amarah.


"Aku cuma mau-"


"Mau APA? Mau tertawa atas penderitaan yang udah lo beri buat Marsha. Iya?"


Penderitaan? Iya, dia sudah memberikan penderitaan pada wanita yang membuatnya tak bisa tidur belakangan ini.


"Bukan, bukan itu,"


Mahesa membuang muka mendengus, kemudian kembali memandang Mahesa "Oh iya, Marsha bukan urusan lo lagi kan? Lo udah nggak perduli lagi kan sama dia? Karena yang lo mau sudah tercapai, lo udah membalaskan dendam keluarga lo, udah berhasil buat dia hancur. Tapi tenang, dia bukan wanita lemah seperti yang kalian kira. Marsha ku kuat, Marsha ku wanita paling hebat."


Teman-teman Mahesa hanya diam mendengar perdebatan Zidan dan Mahesa.


Zidan menahan untuk tak menooonjok muka Mahesa saat ini juga, saat laki-laki tampan menyebalkan itu mengatakan 'Marsha ku'.


Dia harus lebih sabar lagi, lewat Mahesa dia bisa kembali bersama Marsha.


"Lebih baik kita keluar untuk membicarakan ini, Mahesa."


"Nggak perlu, nggak ada yang perlu dibahas lagi, keluarga gue nggak mau ada hubungan sama keluarga iblis kayak keluarga lo," Mahesa tertawa khas orang yang sudah hilang kesadaran. "Aku yakin setelah ini, Marsha mau nikah sama gue, dan lo?" tudingnya, "lo gigit jari karena keluarga kami sudah setuju untuk kami menikah."

__ADS_1


__ADS_2