
Disela-sela pagutann itu Mahesa kembali teringat Rasya yang telah mengetahui bahwa Marsha dan Zidan dijebak saat di Batam. Dan kini mereka akan memanggil Zidan untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya pada Marsha.
Semakin kecil saja kemungkinan dia bisa memiliki Marsha, Mahesa semakin merasakan sakit dan hancur hidupnya, selama ini Marsha lah yang menjadi semangat hidupnya, membuatnya menjadi pribadi lebih baik, dan semangat memegang kendali perusahaan milik Abdi.
Mahesa segera melepaskan pagutan itu saat dia tersadar jika yang nersamanya bukanlah Marsha, dia menjambak rambutnya kasar dan memukulkan tangannya diatas meja.
"Brengsekkk," umpatnya kesal dan membuat Misya terlonjak. Misya sangat tahu jika masalah yang dihadapi Mahesa cukup berat.
"Ada masalah apa? Jika ada masalah lebih baik dikeluarkan jangan dipendam sendiri, aku bisa membantu mu jika kamu butuh bantuan." Misya mencondongkan dadanya didepan Mahesa.
Mahesa meneliti wajah lawan bicaranya, tidak terlalu buruk, dan Misya memiliki tubuh yang seksi, jika dia mendijadikan Misya kekasihnya tidak memalukan "Siapa nama kamu?"
"Misya," Misya mengusap dada Mahesa menggoda.
Mahesa mengambil tangan Misya "Kamu mau jadi pacar ku?" pintanya setengah sadar.
Misya sadar jika dia hanya dijadikan kekasih pura-pura, tapi dia akan membuat Mahesa jatuh hingga Mahesa bertekuk lutut padanya "Apa dengan cara itu bisa membantu mu keluar dari masalah mu? Jika memang bisa aku tidak masalah."
Mahesa tersenyum mengejek, murah sekali wanita ini pikirnya, kemudian dia mengeluarkan ponselnya "Ketik nama kamu disini, aku akan membayar mu berapa saja, tenang, ini hanya sementara,"ujarnya "oh ya, apakah kamu sudah kekasih atau tunangan?"
Misya menggeleng sambil mengetik nomornya di ponsel Mahesa "Belum, aku masih sendiri, tenang saja, aku akan membantu mu dan aku tidak akan meminta bayaran sepersenpun dari kami," Misya mengembalikan ponsel milik Mahesa, disaat bersamaan Mahesa menariknya dalam pelukanya kembali meraup bibirnya, dan Misya membalas lagi dengan suka rela pergerakan bibir Mahesa.
"Apa kita lebih baik menyewa kamar?" bisik Mahesa di sela ciuman panas mereka, ini hal pertama yang dia lakukan.
"Ikuti aku, kita akan bersenang-senang." Misya turun dari kursi tingginya, berjalan menembus lautan manusia yang melepas penat dan masalah, mencari hiburan dengan bersenang-senang ditempat yang tidak seharusnya.
Berat sebenarnya, karena ini akan merupakan pengalaman pertama bagi Mahesa menjelajahi dunia hiburan malam dan bermain dengan wanita, padahal selama ini dia sangat menjaga diri dan sangat tidak ingin menginjakkan kaki ditempat terlaknat ini. Patah hati sebelum memulai hubungan itu sangat menyakitkan dari yang dia bayangkan.
Karena Mahesa yang sudah sedikit mabuk jadi Misya kembali dan menuntutn Mahesa untuk menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1
Saat telah berada didalam kamar, Misya langsung mendorong Mahesa hingga Mahesa jatuh terlentang diatas tempat tidur. Misya menjatuhkan beban tubuhnya diatas tubuh Mahesa, dan memulai mencumbu bibir Mahesa.
"Aku bisa membuatmu melupakan masalah mu, sayang," bisik Misya ditelinga Mahesa.
Prangggg ....
Indah yang sedang menuangkan air panas kedalam gelas tak sengaja menyenggol panci panas dan membuatnya terkejut hingga menjatuhkan gelas itu, membuat gelas berisi coklat itu jatuh berserakan tak terlihat bentuknya lagi bersamaan dengan coklat bubuk yang menyatu dengan lantai.
"Astagfirullah hal'adzim," Indah mengusap dada, beruntung pecahan gelas itu tak ada yang mengenai kakinya.
"Es teri ada apa?" Abdi yang mendengar itu langsung menghampiri istrinya, "astaga sayang kenapa nggak hati-hati sih?" Abdi jongkok ingin membersihkan pecahan kaca, "ada yang kena kaki kamu nggak?"
Indah terdiam, perasaanya sangat tak enak, dan pikirannya tertuju pada Mahesa yang pergi dengan raut marah setelah mendengar kabar Marsha dijebak bersama Zidan, selama ini dia diam tak ingin ikut campur urusan kedua anak angkatnya itu. Sudah lama dia tahu Mahesa memiliki rasa pada Marsha, saat mengantar Marsha ke bandara, Mahesa pura-pura sakit padahal dia tak kuasa untuk melepas kepergian Marsha.
"Mas, mending kamu cari Mahesa sekarang, perasaan aku nggak enak, bilang aku sakit biar dia pulang." Indah menunduk menghentikan Abdi yang sedang membersihkan pecahan kaca, tanganya bergetar dan terasa dingin saat memegang tangan istrinya itu.
"Ada apa?" Abdi berkerut dahi, dia membawa Indah keruang keluarga terlebih dahulu.
"Dia pergi membawa motor?" Indah mengangguk namun dia tak bisa menghentikan laju airmatanya.
"Cepat cari Mahesa mas, aku takut terjadi apa-apa sama dia."
Abdi berjalan menuju buffet mengambil handphonenya, dia langsung menekan tombol dua yang langsung terhubung nomor Mahesa, sudah panggilkan ketiga namun Mahesa tak juga menjawabnya, hingga panggilan kelima baru terdengar suara Mahesa dari disebrang.
"Iya ayah." Ujar suara serak sedikit tak jelas itu.
Abdi yang memiliki pengalaman buruk saat mudah sudah bisa menebak jika Mahesa tengah mabuk. Mahesa menjauh agar ucapannya tak didengar Indah.
"Mahesa kamu mabuk?" tanya langsung.
__ADS_1
"Ayah," suara Mahesa tercekat di seberang sana.
"Pulang sekarang atau ayah akan datang dan menyeret mu disana. Bunda sakit dia terus mencari mu, pesan lah taksi jangan memaksakan naik motor sendiri, sepuluh menit ayah harap kamu sudah sampai." Abdi mematikan ponselnya, dia bisa menebak kemana Mahesa berada.
Sebagai orang yang sudah mengalami hidup dalam lembah kesuraman dan jatuh dijalan yang salah Abdi tak ingin apa yang dulu terjadi padanya terjadi juga pada Mahesa.
Abdi kembali masuk kerumahnya menghampiri Indah yang duduk di sofa.
"Gimana Mas? Apa Mahesa baik-baik aja?" tanyanya khawatir, suara Indah bahkan masih terdengar gemetar.
Ya ampun Es teri, firasat kamu begitu kuat, Mahesa mabuk sayang, aku harap dia tidak tidur dengan sembarang wanita.
"Dia baik-baik aja sayang," Abdi menuangkan air putih untuk Indah minum "apa yang kamu khawatirkan? Mahesa sudah besar, walau dalam keadaan marah dia pasti akan berhati-hati dalam melakukan tindakan, tahu yang benar dan tahu yang salah," bohongnya, Abdi mengambil tangan Indah yang bahkan masih terasa dingin.
"Nggak tahu mas, aku cuma takut saja, perasaan ku benararan nggak enak."
"Aku tahu," Abdi membawa Indah dalam pelukanya, "kamu ibunya, kamu pasti memiliki kontak batin yang kuat terhadap anak-anak mu, beri kepercayaan pada mereka."
"Aku tahu Mas, aku tahu, tapi kamu ngerti nggak sih tentang firasat? Aku lagi ngerasain firasat yang nggak enak, pokoknya nggak enak, nggak bisa dijelasin sama kata-kata , kamu nggak tahu, jantung aku rasanya mau copot, dari tadi dag dig dug."
"Kamu tunggu aja dikamar ya," Abdi melihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, "biar aku yang nungguin Mahesa, nanti kamu sakit."
"Aku mau tunggu Mahesa pulang aja Mas."
"Nurut sama aku ya," Abdi tak ingin Indah melihat Mahesa pulang dalam keadaan mabuk, dia ingin menghadang Mahesa didepan, memberikan obat agar pengaruh obat itu cepat hilang "aku juga mau ke apotik dulu, obat ibu ada yang habis." sangat kebetulan obat Masnah ada yang habis, jadi Abdi bisa membeli obat untuk Mahesa.
"Tapi kamu jangan lama-lama ya Mas,"
"Ngapain lama-lama? Kamu ada yang ingin dibeli? Atau pengen sesuatu?"
__ADS_1
"Nggak Mas, aku mau ke kamar aja, kalau Mahesa belum sampe rumah, aku nggak ada pengen makan apa-apa."
Kurang lebih dua puluh menit Abdi keluar, dia sampai rumah bertepatan dengan Mahesa yang juga baru sampai rumah. Abdi segera membantu Mahesa turun, namun dia dibuat terkejut karena Mahesa tidak sendirian didalam taksi, melainkan bersama wanita cantik yang dia sendiri tak mengenalnya.