Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bab 36. Marsha Hamil


__ADS_3

Tak butuh lama, Marsha sudah mendapatkan semua identitas Zidan dan keluarganya, yang ia dapat sama seperti yang didapat Rasya, jika Zidan merupakan cucu tunggal seorang pengusaha yang banyak memilkki usaha di luar negeri. Itu artinya Zidan tidak memiliki keluarga besar,


Marsha sedikit lega karena hubungannya dengan Zidan semakin hari semakin dekat, dan Zidan juga sudah memberanikan diri meminta izin pada Rasya untuk merestui hubungan mereka, sudah pasti Rasya mengizinkanya karena sudah mengetahui asal usul keluarga Zidan, hanya saja Rasya meminta di kantor keduanya harus bersikap profesional seperti biasanya, tak boleh mencampurkan urusan pribadi dalam lingkup pekerjaan.


Marsha menyandarkan lelah tubuhnya di kursi kebesarannya, belakangan ini dia mudah sekali merasakan lelah dan pusing, pandangannya bertemu dengan pandangan Zidan, mereka saling melempar senyum, sesuatu berbeda yang Marsha rasakan, namun sayang tiba-tiba saja dia merasakan perutnya seperti diaduk didalam sana, Marsha mencoba menahananya, namun dia tak tahan, akhirnya dia berlari kekamar mandi yang ada di ruang kerjanya untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Melihat itu, Zidanpun sigap bangkit dari duduknya, ingin tahu apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Kenapa?" dari raut wajahnya Zidan begitu khawatir, dia menangkap tubuh Marsha yang menggeleng lemah, kemudian menarik tissu untuk mengelap bibir kekasihnya.


"Sudah berapa hari ini kamu telat makan Marsha, jangan bekerja terlalu keras. Jika seperti ini aku ingin segera menjadi suami mu, agar kamu tetap dirumah, tanpa harus bekerja keras seperti ini." Zidan membantu Marsha kembali ketempat duduknya.


"Dan aku dirumah lelah nungguin kamu pulang, terus aku nyusulin kamu ke kantor, dan menangkap basah kamu sedang berselingkuh dengan sekretaris mu, oh big no Zidan."


Zidan tertawa, Marsha sosok wanita humoris yang dibalut dengan sikap galaknya.


"Cerita macam apa itu? Pasti kamu terlalu banyak membaca novel sampai otak kamu terkena virus negatif dari cerita yang sering kamu baca." Zidan memberikan lemontea hangat namun Marsha menolaknya.


"Aku sedang tidak ingin minum itu Zidan, perut ku bertambah mual." Marsha menyingkirkan gelas ditangan Zidan.


Zidan mengerutkan keningnya "Ini bisa mengurangi rasa mual kamu, Marsha."


Marsha menggeleng "Aku mau minuman lain, kopi yang biasa kamu minum kayaknya enak."


Pikiran Zidan langsung menebak sesuatu dan teringat akan perkataan Mahesa jika Marsha mendapat tamu bulanannya di tanggal sepuluh, sekarang sudah hampir akhir bulan , seketika dia mengengbangkan senyumnya mengingat jika memang sebagian dirinya telah tumbuh didalam diri Marsha.


"Apa anakku sudah ada di dalam sini?" Zidan menyentuh perut Marsha, "dia tumbuh? Dari tanda-tandanya sepertinya dia memang sudah ada disini."


Marsha menyingkirkan tangan Zidan, kemudian menegakkan duduknya "Zidan jangan bercanda," marahnya "tapi apa benar begitu?"


"Mungkin saja, coba ingat kapan terakhir kamu halangan?"


Marsha sebenarnya malu ditanyakan hal pribadi dari lawan jenisnya, seketika dia diam, mencoba mengingat kapan terakhir dia kedatangan tamu bulanannya. Tapi jika diingat-ingat lagi, beberapa hari lalu dia sempat mengeluarkan bercak cokelat pada celananya.


"Beberapa hari lalu, aku- ahh jangan diceritakan." Dia malu untuk jujur.

__ADS_1


Bahu Zidan melemah mendengar kabar itu, jika saja Marsha memang benar mengandung anaknya kakeknya pasti berubah pikiran dan pasti akan merestui hubungan mereka tanpa embel-embel balas dendam.


"Tapi aku harus cepat-cepat melamar kamu Marsha, jangan sampai sesuatu sudah terjadi dan membuat semua orang tahu jika kamu hamil diluar nikah."


Marsha menangkup wajah tampan Zidan "Semua akan ada waktunya, jangan terlalu terburu-buru, jangan sampai keluarga ku curiga."


Zidan mengangguk, kemudian mengambil tangan Marsha "Kita ajak para karyawan kamu makan diluar, aku sudah berjanji dengan bu Melati akan mentraktirnya jika ada kabar baik tentang hubungan kita."


"Sepertinya seru, tapi aku yang menentukan tempatnya," Marsha begitu bersemangat "eh tapi ini kamu yang bayar kan?"


Zidan tak dapat lagi menahan tawanya, keabsurtan Marsha yang apa adanya semakin membuatnya suka.


"Kamu takut bangkrut?" tanyanya kemudian.


Marsha memajukan bibirnya "Memberi mereka makan selama satu tahun juga tidak akan membuat perusahaanku bangkrut,"


Para karyawan yang terdiri dari kepala hrd, manager, kepala bagian keuangan, kepala pemasaran, dan lain sebagainya sebagai perwakilan tentu sangat senang bisa makan direstoran mahal secara gratis, tidak hanya itu, mereka juga bisa memesankan untuk anak istri mereka yang ada dirumah yang dikirim saat itu juga.


Tak hanya itu, mereka juga akan diberikan bonus satu parfum yang dipesan khusus dari pabrik milik


Sedang karyawan lain yang tak bisa ikut bergabung, mereka diberi voucher dan bisa makan saat mereka pulang nanti.


"Iya Miss, sering-sering ya Miss." sambung yang lainya.


Marsha mendengus "Kalian ini muka-muka gratisan ya?"


Bukannya tersinggung, semua tertawa mendengar candaan Marsha.


"Miss Marsha sama Pak Zidan nggak ikutan makan nih?" tanya salah seorang dari mereka.


"Kita makan ditempat Vip," jawab Marsha cepat "nanti nggak bisa romantis kalau bareng kalian," sombongnya, membuat Melati mengatupkan bibirnya, dan yang lain hanya ber oh ria tanpa suara, di sini tidak ada Rosa, karena Marsha sangat cemburu pada karyawan berpenampilan nyentrik yang suka memdekati Zidan.


Zidan terkekeh senang ketika Marsha mengatakan itu, sambil mengusap rambut Marsha yang kembali dibuat keriting atas permintaannya, dan siapapun yang melihat perlakuan Zidan pada Marsha pasti dibuat iri, mereka benar-benar merupakan couple goals idaman semua orang. Zidan juga senang Marsha tak malu untuk mengakui hubungan mereka didepan karyawanya, karena mereka tak tahu status Zidan yang sebenarnya, setelah memastika makanan untuk para karyawanya lengkap semua, barulah Marsha dan Zidan memisahkan diri, Zidan membawa Marsha menuju lantai atas yang ia pesankan khusus untuk Marsha.


"Kamu ngajak aku kesini bukan buat moduskan Zidan?" Marsha memasuki ruangan serba putih bergaya eropa yang sudah Zidan bukakan pintunya.

__ADS_1


Zidan tak menjawab, dia berjalan terlebih dahulu dan duduk dikursi single yang ada didepan meja mereka. Ingat ya, hanya ada satu kursi, dan belum juga Marsha menyadari itu, Zidan langsung menarik tangan Marsha untuk duduk dipangkuanya.


"Zidannn," pekik Marsha terkejut, Zidan tak menjawab, dia langsung mengunci erat pinggang Marsha, Zidan meletakkan kepalanya di ceruk leher Marsha dan menghirup dalam-dalam aroma wangi lembut bunga mawar dari tubuh Marsha sambil memejamkan mata, seolah-olah dia tidak akan lagi bisa merasakan wangi itu.


"Ini kursinya cuma satu?" Marsha baru menyadarinya.


"Sengaja, kata kamu tadi mau yang romantis,"


"Hemm, tapi bukan seperti ini." Jujur saja Marsha merasa tak nyaman, walau dia senang, kemudian dia melihat makanan didepanya, steak yang di oven dan ditaburi jamur champignon yang diiris tipis, Marsha sampai menelan air ludahnya.


"Zidan, aku mau makan itu, pasti enak." Zidan mengangkat kepalanya, melihat steak yang ditunjuk Marsha yang memang menggugah selera itu.


"Baik, aku suapin,"


"Aku mau makan sendiri," Zidan tak mengizinkan itu, dia tetap memaksa mau menyuapi Marsha walau posisinya sedikit sulit.


"Lagian, aneh-aneh saja restoran semewah ini cuma menyediakan satu kursi."


"Ini restoran terbaik sayang, mereka bisa membuat suasana romantis lain dari yang lain." Zidan memotongkan steak lalu menyuapkannya pada Marsha.


"Enak, aku suka, tapi pulang nanti aku juga mau dimasakin mi instan di kontrakan kamu kayak waktu itu, enak, terus pakai cabe yang banyak,"


"Dengan senang hati Nyonya Xavier."


*


*


*


Disisi lain, malam menjelang, Mahesa begitu kecewa dengan keputusan yang diambil Rasya, mereka berdebat jika keluarga yang ditemukan Rasya bukanlah keluarga Zidan sesungguhnya, baru kali ini dia berani melawan Rasya dan Abdi. Dengan pikiran kalut Mahesa mengarahkan sepeda motornya menuju ke sebuah tempat hiburan malam.


Dan disinilah dia, duduk dengan wanita yang belakangan ini mengejarnya, siapa lagi jika bukan Misya, dengan bantuan temanya, akhirnya Misya bisa tau kemana saja Mahesa pergi.


"Sepertinya masalah kamu begitu berat?" Misya menuangkan segelas wine dengan kadar alkohol tinggi kedalam gelas milik Mahesa.

__ADS_1


Mahesa tak menjawab, dia kembali menenggak minumannya, waktu dalam keadaan mabuk dia masih begitu waras untuk tidak menceritakan masalah keluarganya kepada orang lain, namun dia tak dapat menolak saat Misya mendekatkan wajahnya, dan Mahesa langsung menyerang bibir lawan bicaranya yang entah Mahesa tak tahu dia berkata apa.


Misya menyambut baik pertemuan bibir itu, dia bahkan mengabadikannya lewat kamera pintar miliknya, sebagai bukti jika dia telah berhasil meluluhkan hati Mahesa.


__ADS_2