
"Turunkan aku disini." Pinta Zidan tiba-tiba saat mereka sedang dalam perjalanan.
Supir Zidan sontak menginjak rem, menepikan kendaraanya perlahan, dan berhenti mengikuti titah sang majikan.
"Apa maksud kamu Zidan? Kita harus ke hotel sekarang juga untuk melangsungkan pertunangan mu dengan Misya, kakek sudah menunggu kita," ujar Naima dengan mata mendelik tak percaya.
"Tetap jalan Pak," perintahnya pada sang supir. Supir itu mengangguk patuh, walau dia sebenarnya bingung harus mengikuti yang mana. Zidan dan mamanya berada dalam satu mobil, karena kakek memberi kesempatan pada Naima untuk dekat pada Zidan.
Jangankan untuk dekat, menyapa mamanya pun Zidan enggan, padahal ini pertemuan pertama mereka dengan keadaan Naima yang sudah normal setelah terpisah bertahun-tahun, namun tak ada debar ikatan ibu dan anak antara dirinya dengan sang mama.
"Aku sudah mengikuti kemauan kakek dan mama untuk membalas keluarga Abdi, sekarang aku tidak mau jika harus bertunangan dengan wanita yang tidak aku cintai." Sengit Zidan dengan tatapan mata lurus kedepan, bahkan nada bicaranya sedikit membentak Naima membuat Naima terlonjak kaget.
"Kamu barusan membentak Mama Zidan? Mama baru sembuh Zidan, dan ini kebersamaan kita yang pertama tapi kamu sudah membentak Mama," Naima memijit kening frustasi, "Mama tidak ingin ada perdebatan. Ingat, di dunia ini kamu hanya punya Kakek dan Mama. Sudah sewajarnya kamu membalaskan rasa sakit hati Mama selama ini, kamu bisa tumbuh besar dan bisa menikmati segalanya karena kerja keras kakek dan Mama yang tiada henti siang malam. Tapi terserah jika kamu mau kabur dari pertunangan ini, berarti kamu siap menerima kakek sakit dan mati."
Zidan diam dan menatap mamanya "Jadi Mama perhitungan pada Zidan?"
"Bu-bukan seperti itu Zidan," Naima menyadari kesalahannya "kamu jangan merusak yang telah dipersiapkan oleh kakek." Naima sedikit menurunkan emosinya. "Sayang, maafkan Mama, Zidan Mama sudah kembali, Mama ingin menebus waktu Mama yang hilang selama dua puluh tahun ini bersama kamu, tidak sepantasnya kita bertengkar seperti ini."
"Maka batalkan pertunangan ini Ma, kita pulang menikmati waktu kita bersama. Itu cara yang dilakukan keluarga normal setelah berpisah lama, atau melakukan hal-hal yang membuat kita bahagia, bukan dengan membuat kejutan seperti ini. Kalau perlu kita pergi jauh, mencari tempat yang tenang untuk kita berlibur."
"Setelah pertunangan kamu Zidan, kita akan berlibur bersama dengan keluarga Misya juga."
Zidan menggeleng tak percaya, seharusnya dia bahagia dengan kesembuhan total mamanya yang dianggap ganjil, mamanya sembuh disaat bersamaan dia akan melamar Marsha,
"Kamu memang laki-laki paling bodoh di dunia ini Zidan, karena telah dibohongi oleh kenyataan, nyatanya wanita yang mengaku telah melahirkan mu kedunia ini, dia tidak sakit seperti yang kamu lihat," Mahesa tertawa mengejek "aku bersimpati padamu, karena telah dibohongi oleh keluarga mu sendiri."
Ucapan Mahesa terus terngiang ditelinga Zidan, baik jika memang dia dipermainkan maka dia harus ikut dalam permainan ini.
Sekarang Zidan terpikirkan Marsha, bagaimana keadaan Marsha setelah yang ia lakukan?
__ADS_1
"Maafkan aku Marsha, maaf, karena lebih memilih keluargaku dari pada kamu." Lirihnya.
Pertunangan Zidan dan Misya digelar di hotel berbintang, keluarga keduanya terlihat sangat bahagia, ralat, tapi tidak dengan Zidan, tatapannya kosong dan dingin, Zidan tidak menginginkan ini, hati dan pikirannya terus tertuju pada Marsha. Semua yang dia lakukan karena kakek mengancamnya. Jika dia tidak melakukan balas dendam keluarganya, maka mamanya yang dikabarkan sudah sembuh, akan kembali sakit, dan kakeknya akan mengakhiri hidupnya karena penghianatan yang Zidan lakukan.
"Lebih baik Kakek mengakhiri hidup Kakek dari pada harus merasakan penghianatan yang dilakukan cucu sendiri."
"Zidan, pasangkan cincin ke jari Misya," Naima menyenggol bahu Zidan menyadarkan dari lamunannya.
"Cium keningnya sayang," perintah Naima lagi.
Zidan terdiam melihat Misya yang tersenyum bahagia, menunggunya melakukan itu. Dan hati Zidan bak disayat silettt tajam melakukan itu, tawa bahagia Misya, luka dalam untuk Marsha.
Dan tanpa Zidan duga, Misya menarik tengkuknya, menyatukan benda lembut mereka mesra, Misya begitu agresif menggerakkan dan menccecap lembut bibirnya lama.
Setelah acara pertunangannya selesai, Zidan mengguuyur tubuhnya dibawah kuburan deras air shower yang dingin, agar dapat mendinginkan kepalanya yang hampir pecah karena dia telah menorehkan luka dihati Marsha.
Air mata Zidan mengalir bercampur air yang membasahi wajahnya, dia bodoh, kenapa tidak bisa melawan kakek dan mamanya. Hidupnya kini hancur, tak akan ada Marsha yang menghiasi hari-harinya, tak ada yang bisa memarahinya lagi, tak akan ada kata-kata sombong yang akan dia dengar, tak ada lagi kata-kata random Marsha yang membuatnya tertawa lepas, dan tak ada yang menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang branded
Zidan memukul dinding didepannya dengan sangat keras membuat buku-buku jemarinya memar dan memerah. Luka ditanganya tak sebanding dengan luka dihati yang ia rasakan, Zidan benar-benar merasa hancur, bukan orang lain yang menghancurkan hidupnya, tapi keluarga yang dia harapkan bisa merangkulnya.
Kebahagiaan yang dia tunggu selama bertahun-tahun tak sesuai dengan yang diharapkannya. Naima menjadi sosok misterius setelah yang Mahesa katakan. Benak Zidan terus menerka, atas kebohongan yang dilakukan kakek dan mamanya, tidak mungkin mereka tega melakukan kebohongan itu padanya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Marsha, kini dia berendam didalam air dingin, menyamarkan air mata yang sejak tadi coba ia tahan, jika orang normal tak mungkin mampu bertahan berendam dengan air sedingin es dimalam buta, namun hati hancur tak membuat Marsha merasakan itu, kulitnya seakan mati rasa.
Hatinya dihancurkan sekejap oleh orang yang selalu menyakinkannya, andai waktu bisa diputar, tak akan dia tergoda oleh rayuan manis Zidan, walau malam itu mereka sudah tidur bersama, Marsha tak akan meminta pertanggungjawaban pada Zidan.
"Dasar Zidan brengsekkk, ternyata kamu memiliki niat terselubung." Marsha keluar dari buth up, melilitkan handuk ketubuhnya.
Marsha langsung menggunting semua pakaian yang diberikan Zidan, dan akan mengirimkannya kembali pada Zidan.
__ADS_1
"Aku akan membalas apa yang kamu lakukan Zidan, dasar laki-laki buaya."
Ponsel Marsha menyala, ada notif pesan masuk, walau ragu tapi Marsha akan membukanya.
Hati Marsha dibuat sesak saat nomor yang tak dikenal mengirimkan foto pertunangan Zidan bersama Misya, apalagi saat melihat sebuah video Zidan berciuman dengan Misya, hati Marsha seakan diremas, Zidan telah menyiram air garam pada luka yang baru ditorehkanya.
* * *
Dikediaman Rasya, semua belum terpejam sama sekali, Rasya masih belum percaya dengan yang terjadi pada putrinya, dan data yang didapat oleh David jauh melenceng, jika tahu dari awal siapa Zidan sebenarnya, tak akan ia izinkan Zidan menjadi sekretaris Marsha sama sekali.
"Apa yang kamu kerjakan selama ini David? Kenapa bisa salah seperti ini? Lihat kesalahan fatal yang kamu lakukan, Marsha harus menanggungnya." Rasya memarahi David.
"Kenapa kamu malah menyalahkan David Rasya?" Mahardika mengoreksi.
"Aku merasa kecolongan Pa, Marsha seperti ini karena kelalaian ku sebagai seorang ayah," kini dia menyalahkan dirinya sendiri, "seharusya dari awal aku percaya pada Mahesa, dia sudah memberi tahu itu, kenapa Mahesa lebih pintar dari kamu David? Apa kamu mau posisi mu aku gantikan dengan Mahesa, huh?" Urat leher dan kening Rasya sampai terlihat saat meneriaki David.
David diam sambil memikirkan kesalahannya.
Saat ini Rasya, David, Mahardika, Abdi dan juga Mahesa tengah berada diruang kerja Rasya.
"David, aku tidak pernah melihat kesalahan mu selama ini, aku yakin memang kamu tidak sepenuhnya salah, cari tahu lagi siapa itu Valent Xavier, nama belakang Zidan juga menggunakan nama itu bukan? Sedang nama kakeknya Nasyit, dia pasti masih ada kaitannya dengan Zidan." Mahardika masih mencoba bijak membaca situasi ini.
"Akan saya cari tahu lagi Pak, saya pastikan kali ini saya tidak akan salah lagi." David juga merasa bersalah karena kecerobohanya, keponakan wanita satu-satunya harus merasakan luka dihari pertunangannya.
"Marsha sudah pernah tidur bersama Zidan, bagaimana kalau Marsha kini sudah-" Abdi menggamit bibirnya, walau dia hanya sebatas ayah angkat, dia pun merasakan luka Marsha.
"Cari jalan keluarnya bodoh, ini semua gara-gara dendam cinta pertama mu." Rasya masih menyalahkan Abdi.
Mahardika geleng kepala atas sikap anaknya "Kamu bisa tenang Rasya? Dari tadi kamu menyalahkan orang lain saja." Mahardika bahkan sudah mengatasi semua koleganya agar berita mengenai pertunangan Marsha yang kacau tak menyebar sampai ke perusahaan.
__ADS_1
"Jika memang Marsha sudah mengandung benih dari laki-laki itu, aku ikhlas untuk menjadi pengganti ayahnya Pap." Mahesa menawarkan diri.
"Jika itu dibutuhkan, dan Marsha menyetujui, aku rasa itu ide bagus Mahesa, tapi pikirkan lagi keputusan mu, ini bukan hal yang bisa dibuat main-main, aku bisa menutup skandal ini dan menuntut orang yang melakukan penjebakan itu." Tutur Mahardika, karena dia tidak yakin Marsha tidak akan menerima ini.