
Selama Zidan meeting bersama Susan, Marsha mendatangi ruang cctv, dia ingin tahu apa saja yang dilakukan Zidan bersama Susan. Untuk wanita berkuasa seperti Marsha, bukan hal sulit melakukan itu.
Siapapun akan patuh dan tunduk jika sudah diberi beberapa lembar uang pecahan merah.
Sambil menyilangkan tangan didepan dada, Marsha asyik melihat apa saja yang dilakukan Zidan dan Susan selama dikantor, tak ada yang mencurigakan dari Zidan, tapi dari Susan lah yang sangat memperlihatkan jika dia menarik perhatian Zidan.
Tak ada ruginya dia mendengarkan nasihat Indah dan Mawar jika zaman sekarang kita harus berhati-hati dengan yang namanya pelakor, sekuat apapun iman seorang laki-laki akan runtuh jika setiap hari dikikis dengan rayuan dan perhatian wanita ular.
"Kamu mengenal Susan?" tanyanya pada penjaga ruang cctv.
"Sangat kenal, Bu."
"Bagaimana sikapnya selama ini?"
"Bu Susan baik, beliau juga bekerja secara profesional. Selama Pak Zidan tidak datang ke kantor, beliau yang bertugas mengehadle segala pekerjaan Pak Zidan."
Marsha hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar pujian dari penjaga cctv tersebut.
"Jika kamu mau melaporkan pada Zidan, laporkan saja, kalau aku melihat rekaman cctv ruanganya, uang yang aku berikan cukup untuk makan kamu sebulan," ucap Marsha berbisik dibelakang ditelinga penjaga itu, walau dia sedang hamil, aura menakutkannya sangat terasa, sampai bulu kuduk penjaga itu berdiri, Marsha memutar kursi penjaga, menatap tajam penjaga, matanya menukik membuat nyali penjaga semakin menciut, "tapi jika kamu berani bermain dibelakang ku, siap-siap kamu akan tinggal nama," ancamnya mematikan, tangan penjaga itu sampai bergetar dibuatnya, dia tahu siapa Marsha, dan siapa keluarganya, jika dia bersembunyi kelubang semut sekalipun, dia akan tertangkap oleh Mahardika jika berani berkhianat.
* * *
Berdiri menyender di dinding lift, sambil memainkan kukunya yang cantik, Marsha berdendang, ada kelegaan didalam hatinya mengetahui jika Zidan tidak macam-macam dibelakangnya, tapi tak bisa dipungkiri, dia harus berhati-hati dengan Susan. Pintu lift yang akan tertutup kembali terbuka, seseorang masuk dan Marsha tak mempedulikan siapa yang masuk dan berdiri tepat didepannya ini.
"Wanita hamil bukannya diam-diam dirumah malah keluyuran, kenapa? Takut suaminya terpikat wanita perawan."
Mengenal suara yang berbicara, Marsha mendongakkan wajahnya, dia tersenyum mencibir, walau hanya melihat bagian punggung wanita yang berdiri membelakanginya ini dia tahu jika dia sekretaris suaminya, dilihat dari pakaiannya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang molek dan menantang.
Susan dari mengambil dokumen yang dititipkan di meja resepsionis.
"Dunia sempit ya, nggak nyangka ulet nangka sekolah jadi sekretaris suami aku."
Susan tertawa kecil, tanpa menoleh. "Kamu nggak pernah masak ya dirumah, Zidan senang loh masakan aku," ucapnya coba memanasi, mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tahu," sahut Marsha cepat dan terlihat santai, dia tahu Susan coba memanasinya, tapi dia tak boleh terpancing, "kalau kamu tiap hari menyiapkan makanan untuk Zidan, dari sarapan, makan siang, dan malam juga, makasih loh, kamu tuh meringankan tugas aku. Zidan terlalu bucin sama aku, takut kalau sampai kuku-kuku aku yang cantik dan perawatan mahal ini rusak."
Tekankan Marsha kalimat terakhirnya. "Kalau tahu kamu punya keahlian jadi koki, kenapa nggak ngelamar jadi pembòkat aja sih dirumah ku? Aku bisa bayar gaji kamu lebih besar dari seorang sekretaris Zidan," ucapnya lagi menskak mat Susan.
__ADS_1
Susan sudah mulai terpancing, tanganya meremas map yang ia letakkan didadanya, dia membalikkan badan menghadap Marsha, ingin sekali dia mendorong Marsha agar wanita hamil itu merasakan akibat atas ucapannya, tapi dia harus mengontrol dirinya, dia berada di lift ini yang memiliki cctv yang bisa merekam apa yang dia lakukan.
Marsha kembali memperhatikan penampilan Susan, dan memberikan tatapan meremehkannya.
"Kamu tuh miskinya abadi yah Susan, dari jaman sekolah mampunya kebeli baju anak TK, emang Zidan gaji kamu kecil ya? katanya kamu yang selama ini bantu Zidan mengembangkan hotelnya, kok beli baju size besar aja nggak mampu," gatal sekali sejak datang tadi Marsha ingin mengatakan itu. "Gatel? Mau coba goda suami orang? perawan kok nggak mampu nyari perjaka, bilang aja segelnya udah kebuka, kamu telanjang sekalipun, Zidan nggak akan tergoda sama barang yang udah dilalerin."
"Jaga omongan kamu, Marsha. Walau kamu orang berada dan terpandang, aku nggak takut sama kamu." tunjuknya wajah Marsha, Susan benar-benar sudah terpancing.
"Upsss, aku salah ngomong ya, maaf ya, orang miskin," Marsha semakin menyirami api yang membakar dengan bensin. "Kamu yang harus jaga bicara kamu. Sama istri bos masa berani ngebentak, aku laporin ke Zidan, kamu bisa dipecat loh."
Susan menyeringai, tak gentar terhadap Marsha, bibirnya sampai berkedut saking emosinya, ingin meluapkan amarahnya, sejak dulu Marsha selalu membulinya, saatnya dia membalas apa yang Marsha lakukan padanya dulu, selalu menghinanya orang susah.
"Yakin Zidan percaya sama omongan kamu?" Susan memajukan wajahnya berhadapan dengan Marsha, ternyata Susan masih cukup percaya diri.
"Kamu sengaja kan tadi ngerjain aku nyuruh bolak-balik ke pasar? aku yakin setelah ini kamu bakal ditegur Zidan," karena sebelum meeting dimulai Susan sudah melayangkan protesnya pada Zidan.
"Maaf Pak, gara-gara istri Bapak nyuruh ini itu, dokumen laporan keuangan belum sempat saya rapikan, lain kali kalau istri Bapak cuma nyusahin aja, mending jangan suruh datang ke kantor."
Dan ternyata itu mampu membuat Zidan luluh, Zidan pun meminta maaf pada Susan. Zidan tahu kinerja Susan selama ini tak pernah salah dan selalu membuatnya puas, cara kerja Susan juga cekatan, Zidan percaya itu.
Hanya saja, Susan mengurang-ngurangi apa yang Zidan ucapkan. Diapun semakin dibuat kesal, untuk apa Zidan meminta maaf jika masih membela Marsha istrinya yang sombong dan angkuh setinggi langit itu.
Tak habis akal, Susan kembali ingin memancing Marsha, kali ini dia tak akan mengalah.
"Zidan tuh pernah cerita nggak sih, kalau setiap pulang malam dia itu antar aku pulang dulu, dia khawatir aku kenapa-napa, makanya dia mengantar aku sampe rumah, mampir dulu, lanjut makan malam dirumah aku, kasihan dia, katanya istrinya nggak pernah masak dirumah, makanya dia selalu makan malam dirumah aku, dia suka sama masakan aku. Zidan juga cerita, kalau dia yang selalu masakin istrinya, padahal sia udah capek kerja, pusing, masih harus masakin buat istrinya yang manja."
Sayangnya Marsha tak bisa membalas kata-kata Susan karena pintu lift terbuka, dan wanita itu berjalan cepat menuju ruang meeting. Marsha pun harus kembali keruangan Zidan.
Marsha pikir rumah tangganya akan baik-baik saja, dia Zidan hidup bahagia setelah apa yang telah mereka lewati, tinggal menunggu kebebasan Naima. Nyatanya dia harus menghadapi batu besar dalam rumah tangganya. Kali ini dia harus berhati-hati, dan tetap mempertahankan rumah tangganya apapun yang terjadi.
* * *
Tak berbohong, Zidan memang sedang sangat sibuk dikantor, apalagi kini Zidan sedang menghadapi masalah besar, pengembang yang sudah dia bayar 80 persen itu bermain curang, dengan membelikan material murah agar mendapat keuntungan besar. Padahal dia dan pengembang itu sudah bekerja sama sejak awal dia membangun hotelnya yang pertama.
Marsha masih setia menunggui suaminya itu, Zidan menyuruhnya pulang terlebih dahulu, tapi Marsha menolak. Bisa saja Marsha dan Valent membantu Zidan, tapi Marsha sangat menghargai suaminya itu dalam usahanya, biarkan Zidan mencari jalan keluarnya sendiri, jika Zidan sudah menyerah dan meminta bantuannya, baru dia akan membantu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Susan sudah mengganti pakaiannya yang dibelikan Marsha, kemeja kerja kebesaran, dan rok span sebetis, sebenarnya Susan terlihat lebih cantik, anggun dan berkelas dengan pakaian sopan seperti ini, heran saja kenapa dia lebih memilih baju kurang bahan yang malah membuatnya seperti wanita muràhan.
__ADS_1
Walau kesal Susan mau mengganti pakaiannya.
"Kamu tadi dapat salam dari manager Susan," Marsha masih belum puas ternyata mengerjai Susan. Dia duduk di sofa sambil makan mie cup buatan Zidan.
"Dia suka katanya lihat kamu pakai baju yang aku pilihin. Kamu kelihatan lebih manis, dan cantik, manager kamu masih single kan sayang?" tanyanya pada Zidan.
"Dia duda sayang."
"Wow, so hot."
"Sayang aku lebih hot." Ucap Zidan tak terima istrinya memuji laki-laki lain, Marsha tertawa.
"Terima kasih, Bu. Waalaikumsalam," sahut Susan dengan suara dibuat selembut mungkin seraya tersenyum manis. Tapi dalam hatinya memaki Marsha.
Marsha tahu itu, dia semakin ingin mùntah mendengarnya.
"Aku tahu selera kamu, Sayang. Apapun yang kamu pilih pasti bagus," timpal Zidan semakin membuat Susan dongkol. "Kamu juga nyaman kan Susan, benar kata Marsha, kamu manis jika berpakaian tertutup seperti ini."
"Kalau ada pertemuan dengan para kolega, kamu boleh kasih tahu aku Susan. Minta nomor aku sama Zidan," ucap Marsha lagi pada Susan. "Aku akan bantu kamu carikan pakaian yang cocok untuk kamu."
"Kalau nggak kamu kasih tahu aku sayang, nanti aku pilihin baju yang cocok buat Susan. Aku yakin para kolega kamu pasti tertarik sama Susan, aku perhatiiin Susan ini cantik banget loh, inner beauty-nya itu terpancar. Kamu pasti bisa dapet pasangan seorang ceo atau pengusaha muda, tapi yang belum beristri loh ya, masak cantik-cantik mau jadi yang kedua, jangan mau. RUGI."
Sekuat mungkin Susan untuk tidak meledak saat ini juga, dia berjanji akan membalas perbuatan Marsha padanya yang seenak hati.
.
.
.
.
Siapa Susan sebenarnya? Akan dijelaskan di bab berikutnya ya. Enjoy reading, semoga nggak bosan sama kisah Marsha.
Terima kasih yang selalu setia baca Marsha, dan makasih atas dukungan kalian selalu, walau aku up-nya jarang-jarang.
Love you all 😘 😘
__ADS_1