
"Aku kangen, kangen banget sama kamu, Marsha. Maaf membuat mu harus pergi seperti ini, seharusnya kita sudah bahagia." Zidan mengeratkan pelukanya, mencium pucuk kepala Marsha. Marsha diam, tak menolak, tubuhnya merespon yang Zidan lakukan, dia merasa hangat dan nyaman.
Tapi, bukan Marsha jika harus menerima begitu saja orang yang telah menyakitinya dan keluarganya, masih ada rasa benci mengingat yang Zidan lakukan padanya, walaupun karena terpaksa, tapi menurutnya, Zidan laki-laki lemah.
Marsha mendorong tubuh Zidan hingga pelukan itu terlepas. "Awas, aku benci sama kamu, siapa yang mengizinkan kamu masuk, dan memeluk ku."
Zidan merekahkan senyumnya. "Kamu boleh benci aku, tapi jangan usir aku, atau pergi lagi. Aku mohon Marsha, Marsha aku menyesal, aku akui aku pengecut, tapi izinkan aku menebus kesalahanku." Zidan maju ingin mendekat, tapi Marsha mengangkat tangannya untuk Zidan berhenti.
"Jangan dekati aku, aku jijik sama kamu, kamu bekas wanita itu. Lagipula tak ada yang harus kamu tebus, kamu bukan membeli barang." Marsha menempel pada daun pintu, ingin membuka pintu, namun tak bisa dibuka.
Zidan mengangkat kunci ditanganya. "Kita selesaikan masalah kita, sayang. Tapi izinkan aku untuk membersihkan badan ku dulu. Marsha badan ku terasa sangat remuk, aku melawan semua bodyguard mu yang memiliki badan sebesar raksasa, apa kaki tidak kasihan? Tolonglah aku Marsha."
"Itu bukan urusan ku, Zidan. Kembalikan kuncinya, dan keluar dari kamar ku."
Zidan merintih sambil memegangi perutnya. "Awww, Marsha. Sepertinya tadi perut ku terkena hantaman yang cukup kuat." Zidan berlutut masih memegangi perutnya.
"Jangan berakting, aku tidak percaya. Cepat bangun, aku tidak akan kasihan."
Zidan malah merebahkan tubuhnya dilantai, dia tidak sedang bercanda, dia benar merasakan sakit diperutnya, selain memang belum makan, tendangan diperutnya yang cukup keras membuat perutnya terasa sakit, sejak tadi sebenarnya dia menhanan itu, namun sejak diserang dia sudah melihat bangunan rumah yang ia yakini itu tempat tinggal Marsha.
"ZIDAANN, bangun kataku, aku tidak percaya akting mu."
Zidan tak lagi merespon, dia sudah terkapar dengan mata yang terpejam. Marsha menamati wajah Zidan yang penuh lebam, jika dilihat dari fisiknya yang banyak luka, dia yakin Zidan sedang tidak berakting atau pura-pura. Perlahan Marsha melnagkah kalinya untuk mendekat, ingin memastikan keadaan Zidan. Bukan kurang ajar atau tidak sopan, Marsha terlebih dahulu menyenggol kaki Zidan menggunakan kakinya, Zidan bergeming membuat Marsha panik dan khawatir.
Marsha menyelipkan Sisi kanan kiri rambutnya yang menjuntai ke belakang telinga, dia jongkok, terlebih dahulu menyentuh tangan Zidan.
"Zidan bangun." goyangnya tangan Zidan perlahan, Zidan masih tak bangun, Marsha menggoyangkan tubuh Zidan, Zidan masih tak merespon membuat Marsha bertambah khawatir.
"Astaga Zidan, kamu tidak pura-pura?" Marsha meletakkan telunjuknya didepan hidung Zidan, masih bernafas, kemudian dia menepuk-nepuk Zidan membangunkan. "Zidan bangun, jangan membuat aku khawatir." Marsha menjadi sangat risau, dia kemudian berdiri, menghubungi penjaga diluar untuk memanggil tim medis.
* * *
"Katamu, apa Marsha akan memaafkan laki-laki itu?" Tanya Puma pada Mahesa, keduanya tengah makan malam di gazebo milik Puma.
"Marsha tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki, pada Zidan dia berbeda. Aku yakin dia pasti memaafkan Zidan." jawab Mahesa, kemudian dia memasukkan satu suapan nasi tutug oncom kedalam mulutnya, rasa pedas sambal dicampur lalap dan ikan goreng membuat mulut Mahesa menggelembung karena kepenuhan.
"Kakek menelepon, tunggu sebentar." ucap Puma merasakan ponselnya bergetar di saku celana polo pndeknya.
"Iya, Kek." Ujar Puma menjawab panggilan dari Mahardika.
"Bagaimana, apa Zidan menerima sajian lezat kita?"
"Dia melahapnya sampai habis, Kek. Ilmu bela dirinya cukup bagus. Nanti aku kirim copyan videoanya, Kakek pasti suka."
"Hemm, apa dia sudah menemui Marsha?"
"Iya, tadi Marsha juga sudah memanggil tim medis, sepertinya lukanya cukup parah, walau dia bisa mengalahkan semuanya," ucap Puma, "apa kita akan melakukan sesuatu lagi?"
"Tidak perlu, kota serahkan semuanya pada Marsha. Dia sudah terlalu tersiksa, Kakek tidak mau kehilangan cucu perempuan Kakek satu-satunya, apalagi makhluk menyebalkan sepertinya sangat langkah di muka bumi ini." Mahardika terkekeh diseberang sana. Puma ikut terkekeh. "Apa Mahesa baik-baik saja?" tanya Mahardika kemudian.
Puma melirik Mahesa yang duduk didepannya. "Kakek mau bicara padanya?" Mahardika menjawab dengan gumaman, kemudian Puma memberikan ponselnya pada Mahesa.
"Kakek mau bicara padamu." Mahesa menerima ponsel Puma, menempelkannya ditelinga.
"Iya Kek."
__ADS_1
"Kamu sudah ikhlas? Sepertinya Marsha menerima kehadiran ayah anak yang dikandungnya."
Mahesa menghela nafas. "Aku tidak bisa memaksakan takdir Kek. Aku ikhlas, Zidan laki-laki yang tepat untuknya."
"Kamu yakin itu? Aku akan merestiu jika kamu menginginkan Marsha?" ucapnya menguji Mahesa.
"Aku sudah iklas, Kek. Apalagi melihat kondisi Marsha yang memprihatinkan walau dia menutupinya, aku yakin bukan hanya dia yang membutuhkan Zidan, tapi bayi yang ada dalam kandungannya."
Mahardika mengangguk walau tidak bisa dilihat Mahesa. "Baiklah, kalau semua sudah ikhlas, semoga jalan Marsha akan lebih baik kedepannya."
"Iya Kek. Mahesa berharap juga seperti itu, dia pantas bahagia." Panggilan pun berakhir, Mahesa mengembalikan ponsel milik Puma.
"Apa yang membuatmu iklas Mahesa? Dulu kamu begitu menggebu, Marsha harus menjadi milik mu, apapun yang terjadi."
Mahesa mencuci tangannya didalam kobokan. "Melihat Marsha bahagia, aku sudah sangat bahagia."
"Alasan klasik, tapi aku harap kamu benar-benar ikhlas."
"Kamu meragukan aku? Ini kobokan bekas sambal, cukup membuat matamu perih." Puma terbawa, menangkupkan kedua tanganya didepan dada.
* * *
Marsha masih menunggu Zidan membuka matanya, dia sesekali membersihkan wajah Zidan yang terluka. Marsha seperti merasakan sebuah kedutan halus diperutnya.
"Kau bergerak nak? Apa kau menyukai ayah mu? Tapi tak boleh, dia bukan ayah yang baik. Dia begitu pengecut. Kau cukup punya ibu." ucapnya sendiri, Marsha memberenggutkan wajahnya, masih kesal pada Zidan. Marsha kembali memajukan tubuhnya, membersihkan luka dikening Zidan, hal itu membuat Zidan terbangun.
"Marsha!" panggilnya lirih.
Marsha yang sedang membersihkan luka didahi Zidan sontak menghentikan tangannya, Marsha menurunkan pandangannya, matanya bertubrukan dengan mata Zidan. Kembali debaran hebat muncul tanpa malu didadanya, Marsha menggigit bibir bawah menghilangkan rasa gugup. Kemudian dia menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Aku akan pulang jika kamu ikut."
"Anggap kita tidak pernah saling mengenal."
Zidan mengambil tangan Marsha, dibawanya ke dadanya. "Trima kasih sudah mengobatiku," kemudian dia mendesis merasakan perih diujung bibirnya yang terluka. "Kamu boleh membelah dadaku jika itu bisa membuktikan jika aku sangat mencintai dan membutuhkan mu, Marsha. Maaf, maafkan semua kesalahan ku, aku terpaksa-"
"Diam, aku tak mau dengar apa-apa."
"Tapi kamu harus kasih aku kesempatan, ada anak yang harus kota bahagiakan."
"Anak apa? Anak siapa? Jangan mengigau." Walau terkejut, Marsha cepat menyembunyikan itu.
Apa Zidan mendengar ucapan ku tadi? paniknya dalam hati.
Zidan merekahkan senyumnya. "Jangan disembunyikan, dia butuh kita berdua, kita akan pulang bersama, dan meresmikanya."
"Jangan menghayal," Marsha menarik tangannya, dia berdiri mengambil telepon menghubungi kokinya untuk membawakan makan. "Bawa makanan yang aku pesan tadi kekamar ku sekarang." ucapnya meletakkan kembali telepon itu.
"Kamu sudah aku obati, jangan senang, bukan aku perhatian, itu hanya rasa tanggung jawab ku," ucapnya, "cepat bangun, kamu sudah sembuh, makanlah dulu sebelum pulang." Marsha tak sadar, jika yang dilakukannya merupakan perhatian kecil yang mulai ia tunjukkan. Zidan senang bukan main, namun dia menahan iti, dia tak ingin melewatkan kesempatan ini.
Tak lama, para pelayan dan koki Marsha datang membawakan makanan yang Marsha minta. Tidak banyak makanan yang mereka bawa, hanya seiring nasi yang sudah berisis lauk, dan segelas air putih. Marsha mengambil nampan yang dibawa, memberikannya pada Zidan.
"Hanya satu? Kamu tidak makan, Marsha?" Marsha tidak menjawab, tapi diam-diam dia meneguk air liburnya sendiri, sepiring nasi dengan ayam goreng cukup membuatnya tergugah.
"Aku sudah makan?" bohongnya.
__ADS_1
"Tapi aku lihat kamu seperti lapar, kamu tadi nemenin air ludah loh, aku melihatnya."
Sial.
Umpat Marsha, kelihatan banget apa?
Ingin Zidan bilang, apa kamu mau kita makan sepiring berdua? Atau kamu mau aku suapi? Tapi Zidan menahan iti, dia akan menggoda Marsha.
"Baiklah, sepertinya kamu benar udah makan, aku makan ya, semenjak kamu pergi sampai sekarang, aku belum makan," ucapnya mulai memasukkan satu suapan kedalam mulutnya, melirik Marsha yang tidak beranjak dari duduknya disebelahnya.
"Kamu juga terlihat sangat kurus, apa kamu juga tidak makan seperti ku? Tapi itu nggak mungkin, mana mungkin Marsha melakukan itu." Zidan terus bercerita sampai isi peringnya tersisa sedikit. Zidan kembali melirik Marsha yang sejak tadi terlihat sangat ingin mencoba makanannya.
"Ini tinggal sedikit lagi, kamu yakin tidak mau? Aku suapin ya?"
"Aku bilang tidak, tidak. Jangan maksa deh."
"Sedikit aja, nanti anak kita ngences, kasihan. Masak nanti cakep-cakep ileran." Zidan masih terus merayu.
Marsha kembali meneguk air ludahnya, kemudahan dia memajukan tubuhnya membuka mulut. Zidan tersenyum, senang pastinya. Kemudian menyuapkan untuk Marsha.
Perlahan Marsha mengunyah nasi dan potongan ayam goreng yang dipotong dari tangan Zidan. Dia pikir seperti biasa, dia akan mengeluarkan apa yang dimakanya, tapi ini tidak, dia bahkan mau lagi. Refleks Marsha memajukan duduknya dan membuka mulut, Zidan yang peka pun dengan senang hati menyuapinya.
Sampai nasi itu habis, Marsha masih terlihat lapar. Dia bangkit dan menelepon minta dibawakan lagi makanan yang sama.
"Kamu terlihat sangat kurus, apa memang kamu jarang makan?"
"Bukan urusan mu." Zidan menurunkan kakinya, mendekati Marsha. Dan tanpa diduga, Zidan langsung menarik dagu Marsha, membari kecupan singkat, darah Marsha langsung berdesir hebat dibuatnya walau hanya sebuah kecupan singkat dan memberikan efek cukup besar ditubuhnya.
"Ken-"
Layangan protes yang ingin di ucapkan harus terputus saat Zidan kembali menciumnya, ciuman sungguhan. Seperti vakum, bibir Zidan begitu kuat menyedot bibir Marsha yang terasa manis dan memberi rasa tagih. Awalnya Marsha ingin marah, karena hatinya masih kesal, tapi tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar ciuman, akhirnya Marsha memejamkan matanya, mulai menikmati pergerakan bibir Zidan yang begitu memabukkan, hingga suara lenguhan kecil keluar dari bibirnya, dalam ciuman itu, Zidan tersenyum senang.
* * *
Disebuah hotel bintang lima sedang terjadi acara yang dihadiri para pengusaha. Tak terkecuali Rasya yang hadir bersama kedua putra kembarnya. Jarang sekali Mawar ikut dalam acara seperti ini, selain karena kebiasaannya yang jarang bertemu orang banyak, Rasya masih kerap cemburu karena banyak mata lelaki hidung belang yang melirik istrinya. Walau usia Mawar yang tak lagi muda, namun kecantikanya tak lekang termakan usia.
"Om." Sapaan seseorang membuat Rasya bersama Maheswari dan Mahendra menoleh kearah sumber suara.
"Axcel." Sapa Rasya. "Hai, Lex, lama kita tidak bertemu lagi." sapa Rasya pada papa Axcel.
"Benar, terakhir waktu bersama Axcel juga dikantor kamu."
"Bagaimana, Axcel. Siap produksi?"
"Mudah-mudahan minggu depan sudah mulai lounching produk, saya sedang mencari artis untuk membantu mengiklankan produk kita, Om." ujar Axcel.
"Andai saja masih ada Marsha, dia pasti akan mudah melakukan ini, belakangan dia yang menghendle program televisi, dan bertemu para artis."
"Kapan anak kamu kembali, sepertinya dia cocok dengan Axcel."
Rasya nampak terdiam, tak lama lagi anaknya memang akan kembali, tapi yang pasti perut Marsha sudah membesar.
"Rasya, apa kamu baik-baik saja?" tegur Alex saat mendapati Rasya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Aku hanya merindukan putri ku," jawab Rasya dengan memaksakan tersenyum. "Mungkin setahun lagi, dia baru kembali."
__ADS_1