Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Wanita Langka


__ADS_3

Dengan nafas yang memburu, Zidan menghentikan aksinya, dipandanginya wajah Marsha yang masih terpejam, lalu mengusap bibir Marsha yang sedikit bengkak dan basah karenanya. Marsha membuka matanya.


"Apa aku terlalu terburu-buru melakukannya, Marsha?" bisik Zidan tepat diwajah Marsha, hembusan nafas hangatnya dapat Marsha rasakan.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Marsha menjadi malu, wajahnya sampai memerah diterangnya pencahayaan lampu kamar hotel. Zidan yang melihat itu menjadi gemas, tak pernah Zidan melihat Marsha bersemu malu seperti ini, Marsha terlihat sepuluh kali lipat lebih cantik di matanya.


Diperhatikan Zidan seintens ini, Marsha semakin bersemu malu, sampai dia harus memalingkan wajahnya. Diapun enggan menjawab pertanyaan Zidan.


"Kamu cantik banget malam ini." pujinya kemudian, ditelusurinya pipi Marsha dengan jari tengah, dari atas hingga turun ke dagunya, turun lagi ke leher. Zidan memperhatikan wajah Marsha yang bereaksi dengan yang dilakukanya, kemudian Zidan meneruskan jemarinya turun hingga ke belahan dada Marsha.


"Aku izin buka gaun kamu, ya?" pintanya dengan suara parau.


Marsha diam.


*K*enapa harus izin sih?


Zidan tersenyum, Marsha tak menjawab, tapi anggota tubuhnya yang menjawab. Perlahan dia membalikkan tubuh Marsha, membuat Marsha membelakanginya, menempel ke daun pintu seperti cicak. Dengan hati-hati dia menurunkan reseleting gaun Marsha, dan saat reseleting itu sudah sampai diujungnya, tubuh Zidan membeku melihat punggung mulus Marsha.


Dengan tangan bergetar, Zidan mengusap punggung Marsha dengan sangat lembut, lalu mengecupnya, membuat tubuh Marsha meremang dan menegang, lenguhan halus pun keluar dari bibir Marsha hanya dikecup tubuh belakangnya.


"Ahhhhh Zidan."


"Kenapa sayang?" bisik Zidan sensual, menggigit kecil Marsha, Marsha merasakan sesuatu aneh yang keluar dari dalam dirinya.


"Kamu menggoda ku." Suara Marsha terdengar parau dan seksi ditelinga Zidan, semakin membangunkan sisi kelakian Zidan.


"Oh ya?"


Dengan sangat perlahan Zidan menurunkan gaun istrinya hingga gaun mewah itu tak berharga lagi teronggok begitu saja di lantai. Jantung keduanya berdetak tak beraturan, karena meski ini bukan yang pertama kali terjadi diantara mereka, tapi ini pertama kali mereka melakukannya dalam keadaan sadar, terlebih, dengan status yang sudah sah.


Sulit rasanya bagi Zidan meneguk air liurnya, melihat tubuh bagian belakang Marsha yang polos terpampang didepannya, begitu mulus tanpa cela sudah membuat celananya sangat sesak.


Tangannya kembali mengusap lembut permukaan kulit Marsha yang begitu halus bak sutra itu, membiat Marsha semakin gila dibuatnya seperti ini, kini badanya polos, tersisa kain segitiga yang membungkus harta berharganya.


Ingin Marsha membalikkan badan dan menyerang Zidan, karena ingin Zidan menyentuh bagian tubuhnya yang lain, terutama ujung dadanya yang sudah tegang minta disentuh secara langsung. Tapi Marsha menahan untuk tak berbalik, dia ingin Zidan yang memulai lebih awal semuanya.


Hingga kemudian Zidan membalikkan badannya, dan terlihatlah bagian depan tubuh Marsha yang sudah polos. Mereka saling pandang dengan mata yang sama-sama sudah dipenuhi kabut hasrat.


"Sekarang giliran aku yang buka jas kamu." ujar Marsha kemudian. Zidan mengangguk, membiarkan jari lentik Marsha membuka satu persatu kancing jasnya, lalu mendorongnya kebelakang, dan melepaskan dari tubuh Zidan. Setelah itu, kemeja putih Zidan juga berhasil Marsha tanggalkan, tersisa kaos dalam yang masih menempel membungkus tubuh Zidan yang menyimpan roti sobek didalamnya.


Ini cobaan sebenarnya untuk Zidan, dia harus bersabar membiarkan Marsha menaggalkan segala yang menempel ditubuhnya dengan gerakan lambat, menggoda dengan keadaan Marsha yang sudah polos.


Setelah Marsha berhasil melepaskan kaos dalamnya, Zidan kembali hasrus bersabar saat jemari lentik nan lembut itu meraba bagian dadanya yang keras, Zidan harus menahan nafasnya, sentuhan lembut jari Marsha membuat seluruh tubuhnya meremang. Telapak tangan Marsha terus menelusuri dada Zidan hingga kebawah, dan menyentuh bagian kotak-kotak perutnya.


"Kamu suka, Marsha?" tanya Zidan. Marsha diam, hanya menatap perut berkotak-kotak itu, kemudian memandang Zidan. "Aku rajin olahraga sebelum aku berhasil menemukan kamu, aku lakukan semua demi kamu." jelasnya.


"Iya, aku suka." Zidan tak tahan lagi, dia kembali mem4gut bibir Marsha yang sejak tadi ia tahan. Marsha sampai berjinjit karena tubuh Zidan yanh lebih tinggi darinya, kali ini ciuman mereka sangat panas dibanding yang tadi. Dengan tangan Zidan yang terus bermain didada Marsha, hingga lenguhan terus keluar dari bibir keduanya.


Zidan mengangkat tubuh Marsha, menggendongnya, dan Marsha melilitkan kakinya dipinggang Zidan. Zidan membawa Marsha ke ranjang deluxe itu, membaringkan tubuh Marsha perlahan. Sebelum naik, Zidan menanggalkan terlebih dahulu celana bahan yang tadi lupa Marsha buka, dan terakhir kain penutup miliknya, hingga memperlihatkan tugu monas milik Zidan yang sudah tegak sempurna.

__ADS_1


"Zidan." Marsha tersentak tak sengaja melihat itu, dia sampai bergidik ngeri, tak menyangka monas Zidan bisa sebesar itu.


"Aku yakin kamu akan suka, aku akan melakukannya perlahan, apalagi ada anak kita didalamnya."


"Tapi aku takut, ini lebih besar dari yang aku kira."


Zidan tertawa. "Memang seperti apa yang kamu bayangkan, hem?" kemudian Zidan menunduk, kembali meraup bibir Marsha, tangannya tak lupa juga mampir ke danau milik Marsha.


"Kamu sudah banjir Marsha, tapi monas akan kebanjiran." Lagi-lagi ucapan Zidan membuat Marsha bersemu malu. "Boleh ya, monas langsung masuk aja?" tanyanya karena monasnya sudah tak tahan lagi.


Marsha mengangguk kecil. Dan dengan senang hati Zidan melebarkan kedua kayu yang menjadi penutup danau itu, Zidan mulai mengarahkan monasnya masuk.


"Sakit Zidan." rengek Marsha.


"Maaf," ucap Zidan, menghentikan sejenak percobaan monas menerobos pertahanan danau. Kemudian kembali memulai lagi, sangat perlahan, dia melihat wajah Marsha yang meringis, padahal monasnya pernah masuk danau, tapi masih sulit menerobosnya lagi. Tapi Zidan tak mau menyerah, hingga monas miliknya berhasil masuk kedalam danau milik Marsha.


Zidan menunduk menghapus sudut mata Marsha yang berair dengan menciumnya.


"Maaf, apa sakit sekali?" Marsha mengangguk. Zidan menggerakkan kembali monasnya perlahan. "Masih sakit?" Marsha mengangguk, tapi sejurus kemudian menggeleng. Zidan jadi tertawa. Kemudian dia kembali mendorong, memasukkan dan mengeluarkan monas Marsha.


Suara merdu yang keluar dari bibir Marsha membuat gerakan Zidan yang tadinya pelan, kini berubah kecepatan, sampai pada akhirnya teriakan keduanya menggema saat banjir bandang menyerang.


Zidan pun ambruk di samping Marsha, nafas mereka terengah dan saling memburu. Kemudian Zidan menarik kepala Marsha, mengecup keningnya, dan membuat kepala Marsha berbantalkan lengannya.


"Dia baik-baik saja, kan?" ucap Zidan perut Marsha.


"Aku mau nambah lagi, boleh." Tak menolak Marsha pun mengangguk, karena memang sejujurnya dia sama, ingin mengulang lagi, membuat mobas dan danau kebanjiran bandang. Marsha kali ini lebih agresif, dan dia yang memimpin percintaan mereka yang kedua kali.


Entah memang bawaan hamil atau apa, Marsha merasa tak lelah, hingga saat mereka akan mandiri, aktivitas itu kembali berlanjut di kamar mandi.


*


*


*


"Mam, kira-kira apa yang sedang Marsha lakukan, ya?" Tanya Rasya pada sang istri. Mereka sedang makan malam berdua, karena kedua anak kembarnya belum pulang, bermain bersama Puma dan Mahesa.


"Emang apa yang sedang Apap pikir?"


"Entahlah, begini ya rasanya jadi ayah yang harus melepaskan anak perempuannya. Apap masih tak rela. Dia digauli suaminya."


"Ini hukum alam Pap. Sudah jangan dipikirkan lagi. Yakin anak kita bahagia."


Rasya menunduk, tak terasa air matanya keluar begitu saja, Marshanya kini benar-benar sudah menjadi milik suaminya, dalam hati Rasya berdoa, agar Zidan tak menyakiti Marsha.


"Pap." Mawar menyentuh punggung tangan suaminya, Rasya mendongak. "Apa menangis?" Mawar berdiri, memeluk Rasya dari belakang.


"Aku hanya sedih."

__ADS_1


"Bukan karena takdir anak kita bersama Zidan kan?"


"Itu salah satunya, aku pikir anak kita akan menikah diusia 30an, dan menikah dengan laki-laki yang lebih baik, dan semua ini terjadi lebih cepat. Marshapun bukan tipe wanita centil yang suka gonta-ganti pacaran."


"Dia sudah menemukan jodohnya. Yuk kita kekamar."


"Apa Amam akan mengabulkan ucapan Apap pada Alex?" Mawar mengangguk. Rasya kemudian menggendongnya membawanya masuk ke kamar. "Amam masih kuat hamil?"


"Kuat, tapi tak kuat mendengar amarah anak-anak." Keduanya kemudian tertawa, dan malam ini, mereka melakukan hal yang sama seperti Zidan dan Marsha.


* * *


"Maaf Marsha, mungkin kita tidak akan bulan madu untuk sementara, karena kehamilan kamu, nggak apa kan?" ucap Zidan, keduanya baru saja selesai makan, dan kini mereka bersandar di headboar ranjang.


"Nggak apa, hem kamu hari ini menipuku?"


"Aku nggak tipu, cuma memberi kejutan. Tapi kamu suka kan?" ujar Zidan mengusap perut Marsha, kemudian tanganya mendapat kepuasan saat akan menyentuh puncak gunung kembarnya.


"Hm, walau aku sempat kesal sama kamu, kamu menunda pernikahan kita, lalu nggak ada kabar sama sekali hari ini."


Zidan tertawa. "Maaf, aku sengaja."


"Bagaimana kamu mempersiapkan semuanya?"


"Amam, Bunda, dan yang lainnya yang membantu ku."


"Termasuk mi instan pagi tadi?"


"Iya, terima kasih sudah memilih gaun yang aku persiapkan, dan menolak gaun pilihan Amam dan Bunda."


"Sesuatu yang telah berjodoh tidak akan menukar apapun, seperti pertemuan kita. Aku berbelok dari tujuanku, dan harus berjuang mendapatkan mu."


"Aku benci niatmu." cebik Marsha bibirnya. "Lalu Apap?"


"Aku meminta Apap dan mendatangi kantornya sejak awal Apap menolak ku, aku berjuang untuk mendapat restunya."


Marsha jadi mengharu, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih sudah memperjuangkan aku."


"Karena kamu memang patut diperjuangkan, kamu langka dan makhluk wanita sejenis mu harus dikembangbiakkan."


"Ucapan apa itu, seharusnya kamu memuji."


"Zidan, tapi apa kita tidak mau menjenguk ibu mu?" Marsha yang sedang menyandar di bahu Zidan mendongak untuk dapat melihat wajah suaminya.


"Tidak perlu." Jawab Zidan ketus, tanpa melihat wajah istrinya, entahlah, sesuatu yang berhubungan dengan mamanya dia menjadi benci.


"Tapi aku mau menjenguknya." Zidan menunduk, melihat wajah Marsha.


"Jangan cari masalah." Marsha mengerucutkan bibirnya, tapi dia bertekad, walau Zidan melarangnya, dia tetap akan menjenguk ibu mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2